Guru, UN, dan Korupsi
5 February 2007 | Ditulis oleh:PRAKTEK korupsi dikatakan sudah sangat parah di Indonesia. Bangsa besar kaya raya sumberdaya alam (SDA) dengan sumberdaya manusia (SDM) yang masih jauh dari memuaskan ini dikategorikan sangat maju dalam praktek korupsi. Betapa tidak. Dipersepsikan sebagai negara di jajaran terdepan korupsi, bahkan untuk tingkat Asia menjadi jawaranya. Sangat memprihatinkan hampir tidak ada yang ‘merasa’, apalagi ‘mengaku’ sebagai koruptor. Kehidupan dijalankan terasa lurus-lurus saja. Lagi pula, bukankah sangat jarang para koruptor mendapat imbalan yang layak di kuala hukum? Sekalipun penegakan hukum umurnya lebih tua dari republik tercinta ini, kini baru gregetan pemberantasan korupsi bahananya mengelegar. Pemberantasan korupsi dijadikan tantangan serius.
Padahal tidak sedikit aturan hukum sebagai landasan, tidak kurang-kurang penegak hukum, tidak sunyi-sunyi berita yang diberitakn wartawan, petuah-petuah kiai di mimbar pengajian, atau ajaran dan ujaran kehidupan ‘bersih’ didendangkan. Banjir korupsi surutnya tidak secepat banjir sesungguhnya.
Ambil bagian kecil, kalaulah illegal logging dapat dikatakan bagian praktek korupsi. Rata-rata kayu di tebang beratus-ratus kilo di dalam hutan, di seret melalui sungai atau dibawa dengah truk melalui jalan raya. Secara akal sehat, mungkinkah tidak ketahuan aparat penegak hukum, tidak dilihat oleh jutaan pasang mata rakyat? Itu belum seberapa.
Kayu-kayu itu di ‘kirim’ (ekspor?) melalui pelabuhan ke negara tetangga atau antar pulau. Sejak sebatang kayu di tebang di tengah hutan di bawah ke pelabuhan dikirim ke tujuan tentu memakan waktu berbulan-bulan dan ‘ditangani’ berpuluh-puluh orang, kog ya bisa lolos sebagai Si Ilegal.
Yang pasti, praktek tersebut bukanlah salah Si Kayu, atau alat pengangkutnya, atau uang yang dihasilkan. Faktor manusia yang menentukan, the man behind the gun. Syukurlah, alam sudah menampakkan kemarahan dengan menghadiahkan banjir sebagai peringatan keras bagi kita semua. Jangan sampai, kita dibabat habis oleh banjir hingga tidak sempat sadar lagi. Lalu, ada apa dengan korupsi?
Guru Curang
Dapat dipastikan, semua kita punya tahi hidung. Tapi, pernahkan resah dengan bau tahi hidung? Kalau upil tahi hidung diciumkan ke kucing, bisa jadi kucing langsung pingsan. Tiap helaan nafas kita melalui hidung yang bertahi, tetapi tidak ada yang terganggu, apalagi resah, sebab sudah menyatu dengan kehidupan. Jangan-jangan korupsi juga demikian.
Pada tahun lalu, 2006, gegap gempita kelulusan peserta ujian nasional (UN) di segala jenjang pendidikan nasional tidak kalah heboh dari ketidaklulusannya. Di suatu daerah, ‘nun jauh’ di sana, guru-guru berkrepribadian tangguh menyoal kecurangan praktek UN. Ada apa?
Konon, ada kepala daerah dan dinas pendidikan yang menginginkan seluruh peserta UN lulus. Lalu, dibuatkan Tim Sukses. Ringkasnya, peserta UN tidak usah khawatir. Soal-soal ‘diselesaikan’ oleh tim dan peserta tahu beres saja. Ada pula yang, konon, jawaban ‘diperbaiki’ di ruang khusus sebelum dikirim ke tim pemeriksa.
Niat mulia dilakukan dengan curang. Pelaku utamanya, guru. Guru yang profesinya sangat mulia, pendidik nuarani bangsa. Guru yang idealnya ditiru dan digugu. Kalaulah terpaksa diperintah kepala dinas pendidikan atau kepala daerah mungkin masih lumayan. Tapi, kalau demi menaikkan gengsi sekolah, demi menutupi kebodohan mengajar dengan ‘membantu’ anak didik agar lulus, apakah tidak garam yang berulat?
Alhamdulillah, lebih banyak guru yang tidak melakukan. Lebih heroik ada yang resah, bathinnya terdenda, jiwanya terguncang, dan … melaporkan kejadian ke pihak berwenang. Ingatan kolektif tidak mungkin dihapus, bagaimana guru-guru sejati tersebut, mengadu sampai ke DPR RI. Bersasksi di depan sorotan kamera TV-TV nasional, berani menanggung resiko demi kejujuran, kemuliaan, kesucian profesi guru. Hasilnya?
Kisah berakhir happy ending (?). Tidak ‘terbukti’ sebab ‘terbukti’ tidak ada yang ‘terbukti’ bersalah. Jadi, keberanian bersaksi guru-guru berkrepribadian tangguh, murid-murid yang berjiwa satria, tidak mendapat tempat di ‘mahkamah’ kebenaran. Kehidupan berlangsung sebagaimana sedia kala.
Guru yang Guru
Bagi mereka yang beragama, yang sadar, yang sholat atau ke gereja memuja Sang Pencipta, yang sadar mendidik adalah invetasi membangun watak demi generasi lebih baik, praktek curang pendidikan tidak mungkin dilakukan. Menolong bukan dengan curang, curang sesaat yang bisa berakibat kecurangan menjadi bagian perjalanan kehidupan anak didik.
Saya yakin, guru-guru lebih banyak pada posisi demikian. Guru-guru yang sadar akan posisi dan perannya, tidak mengentuti ajaran agama. Guru yang tidak mempertontonkan praktek curang, praktek korupsi.
Hidup dengan gaji kecil, sarana dan prasana pendidikan minim, fasilitas yang mengundang air mata, terkadang dicaci maki dan disumpahserapahi kalau ada apa-apa dengan pendidikan. Pokoknya derita guru adalah tumpukkan kesedihan. Tetapi, tetap tegar berjuang demi profesi mulia. Terlalu murah bila digadaikan dengan kecurangan demi UN. Di akhirat nantinya akan diadili pula karena curang. Naauzubillahi min zaliq.
Lebih parah lagi tanaman psikologis. Bila anak didik berhasil karena curang, UN lulus dengan curang, masuk perguruan tinggi pakai joki, mendapatkan pekerjaan dengan menjogok dan cara-cara culas lainnya, bagaimana kalau dia menjabat posisi strategis?
Bisa jadi, curang, korupsi, mencari harta dengan culas. Bak tahi hidung tidak akan berbau karena sudah ‘dididik’ guru-guru, diberi contoh korupsi dengan baik oleh guru. Lagi pula, praktek yang dilakukan toh akan berjalan dengan mulus. Bak illegal logging dalam rantai perjalanan begitu panjang dan rumit toh tidak terlihat siapa pun. Niat ada kesempatan terbuka. Apa lagi. Dan, … saham guru sangat besar.
Wahai para guru. Kalau Sampeyan pada UN sekarang (2007) berniat, apalagi melakukan, lebih apalagi, mengancang-ancang membentuk Tim Sukses berjamaah bercurang ria, korupsi di kampung pendidikan dengan riang gembira, Insya Allah, Penguasa dunia akhirat, tidak akan mengampuni.
Merencanakan korupsi pendidikan, ibarat pembunuhan berencana, hukumnya lebih berat. Tidak perlu menunggu sampai di akhirat, di dunia saja pasti terdenda. Bukankah ketika malam datang, ketika hati mendekat Allah SWT ada gelitik hati, … wah saya sudah melakukan kekeliruan, melakukan kecurangan, korupsi. Itulah denda yang bisa berakibat stres dan lalu stroke. Mudahan tidak.
Jadi, mari tinggalkan korupsi pendidikan, mendidik peserta didik korupsi sejak dini. Yang kita kampanyekan justru pendidikan antikorupsi. Selayaknya guru di barisan terdepan pendidikan antikorupsi, pendidikan anti curang.
Sekalupun demikian, saya yakin tidak banyak guru yang berprilaku curang. Kalau tahun dulu ada gelegar memprihatinkan seputar UN, mudah-mudahan hanyalah ‘peringatan’. Kini di sekolah-sekolah, terlepas UN masih perdebatan akademis, berbagai usaha dan upaya telah dilakukan. Kalau yang demikian jelas halal dan di jalan lurus.
Selamat menyonsong UN guru-guru Indonesia. Guru yang menanamkan sikap antikorupsi, pendidikan antikorupsi.
Bagimana menurut Sampeyan?









4 Responses to “Guru, UN, dan Korupsi”
By helgeduelbek on Feb 6, 2007 | Reply
Yah demikianlah setiap menjelang ujian, ada potret burem yang semetinya tidak terjadi, Tim Sukses dalam artian miring. Bahkan saya perah menuliskan log obrolan saya dengan rekan saya yang juga guru di suatu SMP swasta terkenal di Jawa Barat. Ini log aslinya, mengenaskan kondisinya. Kesalahan pengartian untuk meningkatkan mutu pendidikan.
By Kang Kombor on Feb 7, 2007 | Reply
Kalau saya jadi guru (untungnya tidak) maka saya tidak akan pernah membantu murid-murid saya pada saat ujian. Saya akan bantu dia semampu saya pada saat sebelum ujian. Begitu ujian, saya akan bilang kepada murid-murid saya, “You are on your own.”
Memang menyedihkan potret pendidikan (kalau boleh disebut begitu) di negeri ini. UN yang hanya butuh nilai rata-rata kurang dari 5 saja pakai direkayasa agar lulus semua. Standard kok di bawah 5, harusnya passing grade-nya itu 6,00. Barulah dikatakan moncer pendidikan kita.
Terhadap guru-guru yang mencurangi UN, mereka itu tidak pantas lagi disebut orang yang patut digugu dan ditiru. Mungkin lebih tepat dikatakan wagu dan saru! Kepada guru-guru yang lurus, hormat saya kepada Anda!
By jt on Feb 15, 2007 | Reply
lucunya lagi, bila kita tidak nyontek, kita malah dijauhi teman. yang ndak kasih contekan, bakal jadi musuh bersama.
By sofyan on May 12, 2007 | Reply
Ya saya sebagai seorang pendidik juga sangat sedih kog tega2nya para pendidik mau aja dijadikan tim sukses oleh sang kepala sekolah.Padahal waktu zaman saya dulu saya termasuk yang lulus dengan sistim ujian negara namanya dulu yah biasa aja orang g lulus artinya mereka sadar sesadarnya bahwa itulah kemampuan mereka .Nah kita tak perlu lagi cari kambing hitam ,yang semua orang yang terlibat dalam dunia pendidikan mari sama2 duduk semeja bicarakan secara tuntas bagaimana kurikulumnya,bgmn proses pembelajarannya bagaimana cara mengevaluasinya , nah semuanya itu sudah dirancang dan didesain dari awal2 sehingga pembelajaran itu bukan hanya sesaat untuk mencari ijazah tok tapikan untuk membekali anak didik dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan lainnya, jadi pendidikan itu adalah proses pembelajaran sepanjang hayat.Ok Bravo