Menulis Mari Menulis: Hantaran Pembuka
28 January 2007 | Ditulis oleh:Buku Menulis Mari Menulis mulai disusun, Senin, 8 Januari 2007 dan selesai, Minggu, 14 Januari 2007. Bukan apa-apa. Penyelesaian dikebut karena harus mengerjakan beberapa buku yang harus selesai pada bulan April 2007.
Terbitnya buku Menulis Sangat Mudah, dalam sebulan dicetak ulang penerbit Mata Kahatrulistiwa, membuahkan beban mental. Buku ini adalah bukti menulis sangat mudah, seminggu selesai. Menulis sangat mudah memang.
Karena Sampeyan mengapresiasi dengan membacanya, pertama-tama penghargaan saya tuangkan buat Sampeyan. Mudah-mudahan dengan menbaca buku hebat ini, Sampeyan termotivasi menulis, menulis, dan terus menulis.Isteri saya, Risna Warnidah Ersis, anak saya Antragama EWA Ersis, Aprivisi EWA Ersis, dan Aztaraneta EWA Ersis, adalah labuhan terima kasih dan maaf. Tanpa pengertian dan kerelaan mereka membiarkan asik memainkan tuts komputer, tidak mungkinlah buku ini menjadi. Trim’s Yayang.
Buku ini diperuntukkan buat Bapak Ibnu Abbas, adik-adik Faidillah Abbas, Hasnawati Abbas, Yulmina Hadrahdewi Abbas, dan Eva Abbas. Disela-sela menjaga Ibu, Nurbainar, di RSUD Solok selama dua minggu, gagasan menulis buku ini mengemuka saat kita bersama.
Terima kasih khusus buat Erwin Dede Nugroho, Pemimpin Umum dan GM Radar Banjarmasin, sahabat yang tidak bosan menemani puluhan malam dalam cengkerama mengelola website, bahkan ‘berkelana’ ke kampung kelahiran saya, Muaralabuh, Solok Selatan, Sumatera Barat,
Sobat Jumadi, Bambang Subiyakto, Abdurrahman Hakim, Syaharuddin, Daud Pamungkas, Fatchul Muin, Yudha Isharyuana, Ma’krupul Kahri, Sandy Firly, dan yang tidak mungkin satu persatu ditulis, terima kasih atas inspirasi dan motivasi kalian. Kita jangan lagi banyak bicara, lebih afdhol menulis. Menulis mari menulis.
Akhirnya, semoga Allah SWT selalu memberikan yang terbaik buat kita semua. Amin.
Banjarbaru, 14 Januari 2004
Ersis Warmansyah Abbas
Motivator Penulisan













One Response to “Menulis Mari Menulis: Hantaran Pembuka”
By tok on Dec 29, 2007 | Reply
Sebenarnya, saya ingin sekali seperti pak Ersis, yang menjadi “raja tega” terhadap anak istri demi “istri” keduanya, menulis. Namun, ketika saya berkonsentrasi menulis, dan baby saya yang berumur 8 bulan menangis, konsentrasi menjadi buyar, dan terpaksa dech…menggendongnya. Atau, ketika saya ingin membeli Leptop, istri tercinta melarangnya. ya…..terpaksa juga, niat itu diurungkan. Bahkan, membeli buku saja, saya harus mengakali (memundurkan) tanggal pembelian yang selalu saya tuliskan di halaman kedua. Mungkin karena alasan ekonomi, yang uangnya boro-boro pas-pasan, malahan kurang. he…he…Kapan yah… bisa seperti pak Ersis……