6.1 Berkelana Menulis Puisi
28 January 2007 | Ditulis oleh:BAB VI MNEMBAK JIWA HEMAT KATA
6.1 Berkelana Menulis Puisi
Catatan Khusus: Bila ingin membaca yang lengkap sila disimak buku puisi Surat Buat Kekasih (Gama Media,Jogja, 2006) atau www.webersis.com (puisi), www.radarbanjarmasin.com (Cakrawala Budaya dan Seni).
Menulis puisi sebagai bagian kreativitas menulis bisa mengasyikkan. Penyair senior Kalsel, Hamami Adaby membawa saya,Rudy Resnawan, Dewa Pahuluan, dan Arsyad Indradi menulis puisi berbahasa Banjar untuk antologi Garunum. Disela-selanya saya menulis Surat Buat Kekasih dalam seminggu yang dicetak bersamaan dengan Garunum.
Surat Buat Kekasih diterbitkan Gama Media Jogjakarta. Saya bukan sastrawan jadi menulis suka-suka saja. Anehnya, mendapat sambutan hangat dan laku di pasaran. Sampeyan menilai bagaimana, terserah saja. Dalam kaitan gagasan ‘menulis mari menulis’ menulis puisi termasuk di dalamnya. Nikmati saja nukilan karya puisi saya dalam kelana pencarian makna. Mari membaca dan menulis puisi.
Surat Buat Kekasih
Malam ini, kasih!
janji tuntaskan harap
rampasmu sempurna lumatkan jiwa
….
Jika kau tahu putihnya kapas
kerasnya cadas
kentalnya aspal
liatnya baja
tingginya gunung
dalamnya samudera,
begitulah cintaku padamu
Jika kau tahu inginku
kan ku robohkan Himalaya
kan ku datarkan Grand Canyon
kan ku tanami hutan kerikil Kalimantan
kan ku tangguk semua ikan di lautan
kan ku tuliskan seluruh kisah
lalu …
kuberikan padamu
hanya untukmu
hanya buatmu
hanya bagimu
hanya padamu,
seluruh inginku
…
Surat Buat Matakasih
Malam ini,
air sajadah meluluh
bola mata berlindung isian mimpi
…
Kau di dada Bapak
Bapak entah di mimpimu
kau tak apa-apa tidak menyapa
Bapak berdosa bila tak menegur
kau tak apa-apa bila mengumbar marah
Bapak tersalah bila pasrah, apalagi amarah
bathinmu milik Yang Mahapemberi
…
tubuhmu seputih salju
batin sebersih air syurga
datang melalui Bapak
bukan milik Bapak,
milikmu milik,
Yang Mahapemilik
…
mencari diri pada diri
mencari kasih mencari sayang
mencari Sang Khalik pada diri
mencari diri ya di diri
di dirimu itu segalanya
be yourself,
be The Abdi of Allah
Ampumu Wahai Wanita Syurga
Wahai wanita titipan surga
ketika ubun merah muda
teriak durjana kumandang kelelawar
lancung teriak belum kupaham, lakum dinnukum
masihkah kau ingat
Di rantau hati berjarak sesal tak mengampun
kemana kapal maaf kan ku kirim
kalau Dia Yang Disana tak sanggup memberi
rahimmu ku rampas sesak raga
darah cinta mengiring tangis gembira
terkulai letih badanmu sekokoh cadas
tanpa tangis keluh di danau kasih,
hadirku buah rindumu
Elus lembut jari hatimu dinginkan air mata
air kasih basuh dari titik ke titik
gembira mengisap sumsum tulang nafas
tak biarkan luka mengores celah
nyanyikan lagu-lagu syurga
kisahkan Kekasih Allah
hausku menahan laparmu
bajumu yang robek tak kau jahit
tak sedebu risau terkirim ke mata jalang,
senyum syurgamu menimbun dada
Tangan riang menguat raga
helaan sabar kau tumpahkan ke ulu hati
kirim ke hamparan tak terbatas
siangi ilalang ke sudut-sudut sepi
tak ada beban dititip,
bibirmu seyum abadi
Mak, lalu ketika hidup menjadi
kenapa nasib melempar jarak
rambutmu yang putih kakimu yang tertegun
terlalu jauhkah aku mengayun
ingin ku usap rambutmu
dendam rindu peluk jiwa
rapihkan meja makan kita,
seperti kau lakukan dulu,
untukku
Biarlah, Mak
katamu: “Allah menggariskan nasib”
jarak bukanlah garis
garis adalah titik-titik penghubung
pesawat pengirim kasih
menumpang doa membawa sapa
pangkuanmu asal masa
penyambung kawat baja ke asal segala asal
dalam kasih tiada ruang tak ada jarak,
asalku berawal
Jari-jari menoreh salam ke haribaan
doa-doa perangko patas
tiada lautan tiada samudra
tiada ruang tiada padang
tambatan labuhan tali maaf
pada buhul kembali kasih dalam rindu
rindu serindu-rindu
padamu pada Kekasih Alllah pada Yang Mahatahu
bersatu dalam pinta,
mohon maaf lahir bathin
pada hari kemenangan ini,
ampun segalanya.
Lelaki Adam
Selamat malam, wahai lelaki Adam!
tiga puluh enam purnama dada kutekan
kiriman suara menyayat teja
malam-malam makin merenung,
kemana rindu kan dihempas
Lehermu yang kokoh anggun menopang kepala
hamburkan semangat di ubun asa
kepalan tangan melecut tali jiwa
hidup tak pernah surut
padang cadas bukan ujung buntu
tembok-tembok bukan pemisah,
hidup adalah pedang
Kakimu kokoh menajak bumi
gelegar suara cambuk semangat
tiada gunung tinggi
tiada laut dalam
tiada padang luas
bila tangan digerakkan
bila mata ditajamkan
bila telinga dinganga
batok kepala diguncang-guncang,
mencari bukan dicari
Titipan kepala kugandakan
semangat ditanam berakar dalam
kacamata bukan penjara pandang,
makin jauh makin nikmat
Kau buang takut ke dasar danau
campakkan ragu ke awang-awang
tajak tanam harap kokoh-kokoh
amanah dalam dada,
hidup adalah pertempuran
Wahai lelaki Adam
gerbong perjalanan berkhabar pasti
resep-resep tak hambarkan langkah
pinjaman darah pusat diri,
simponi hidup irama hidup
Ujian kata pada ucapan
ujian sayang pada rindu
ujian amal pada sadaqah
ujian hidup pada hati,
pada tali-tali yang diikatkan-Nya
Tatap mata tajammu sumur harapan
lincah mata kaki pedoman langkah
mata hati suar perjalanan
dalam hidup berkehidupan
dunia makin mengasyikkan
menuju dunia sesungguhnya,
sebagaimana kau petuahkan.
Surat Buat Yang Mahapengasih
Malam ini, Ya Allah
asma-Mu bahana puncak-puncak gunung
lampaui pucuk langit menaik ke arasy-Mu
dari julang menara-menara gema
berirama melayang lampaui lembah-lembah
dari relung hati hati menggapai fitrah
menyapu awan
menghalau hujan
membunuh sepi,
hanya nama-Mu, Ya
Al-Rahman, Al-Rahim, Al-Malik
Menuai ujian, wahai Yang Mahaterkasih!
dalam kalah dalam menang
qalbu terguncang damai dalam renung pada sujud
pada dahaga uji asih-Mu
bersimpuh nyaman di bulan penuh berkah,
Ramadhan ya Ramadhan, Ya
Al-Quddus, Al-Salam, Al-Mui’min
Pada pertempuran akbar limpahan rahmat, maaf
perjuangan belum seujung rambut dibelah seribu
ujian-Mu pada penyadaran
agar mantap kuala jiwa pada tatapan danau rindu
hanya pada-Mu, hanya untuk-Mu, Ya
Al-Muhaymin, Al-Azis, Al-Jabbar, Almutakabbir, Al-Khaliq, Al-Bari’,
Al-Muhawwir, Al-Ghaffar, Al-Qhohhar
Langkah belum lurus, ya Al-Wahab
tangan belum menggapai
anggukkan belum sempurna
niat belum berbaris
bibir-bibir tersalah abai mampir tak tertendang,
kasih-Mu tak putus, ya
Al-Razzaq, Al-Fatah, Al-Alim
Cibir-cibir enggan ke laut lepas, ya Al-Qabidh
sayang-Mu tak henti
lihatlah, juang tak lelah
selama firman-Mu ke dada
kesempatan jangan dipalang
biarlah matahari tetap berkhabar
bulan merindu mengirim pertanda
kirim pesan menuju persuaan abadi
di rumah-Mu yang di atas segalanya, ya
Al-Basyith, Al-Khafidh, Al-Rafi’, Al-Mu’iz
Ya Al-Mudzil
kalau ada pongah menggoda
sombong hadir tanpa diminta
beraja diri pada buhul tali imam-Mu, tersalah
maaf kirimkan pengingat
agar terpana diam dan terhenti, ya
Al-Sami’, Al-Bashir, Al-Hakam, Al-Adl
Bagaimana lagi, ya Al-Latif ya Al-Halim
durjana bersarang laba-laba menjerat laku
Si Pungguk rindukan bulan
Petruk mimpi dadi raja, lancung hina
maaf dipinta
kuasa kerajaan-Mu yang tidak berbatas, ya
Al-Azhim, Al-Ghafur, Al-Syakur, Al-Aliy
Hati ini tergadai luluh, Ya Al-Kabir
walau tangan masih berlumpur
telinga belum bening
qalbu bersandar
mata mengelana ke dimensi tak terbatas
pelajaran jangan dihentikan
rindu jangan dicabut
kesempatan bukalah lempang
hari-hari biarlah menyapa
agar ada waktu untuk bercumbu
dalam asih-Mu yang tak putus,
wahai, penentu segala yang baik, ya
Al-Hafizdh, Al-Muqid, Al-Hasib
Kemana-mana langkah diayun, Ya Al-Jalil
jangan kikirkan percaya
pikir dibentuk dan dibentuk, ya Al-Karim
limpahkan rasa aman di dada, ya Al-Raqib
pelihara, lindungi raga dan jiwa, ya Al-Mujib
Ya Al-Wasi’
kuatkan bathin tegarkan semangat
dunia fana bukan tujuan
agar perjalanan tak bernoda berbuah petaka
jalan lurus sebagaimana telah Engkau berikan
perkasakan rona tegarkan jiwa, ya
Al-Hakim, Al-Wadud, Al-Majid, Al-Bai’it
Ya Al-Syahid, Al-Haq, Al-Wakil, Al-Qawi
petuah disambut sudah
gerak terbata-bata
rimbun petunjuk limpahkan sempurna
jangan turunkan kehendak-Mu pada nestapa
seperti Kau janjikan ketika roh ditiup
seperti Kau vonis ketika nyawa dicabut
impian baru bermula nyata dalam lingdungan-Mu, ya
Ya Al-Matin, Al-Wali, Al-Hamid, Al-Muhshi
Wahai Kekasih, Yang Memilki Kebesaran
permainan ini ciptaan-Mu
kedunguan milik kami
Iblis Kau biarkan bersenda gurau, berkeliaran
mengoda jiwa-jiwa rapuh
disitu kami berjuang tidak berpaling
dada kami tidak dibedah Rasulullah
ketidaktahuan dari keterbatasan, penyebab alfa
Kebesaran dan Keangungan-Mu, pengampunnya, ya Al-Mubdi-u, Al-Mu’id, Al-Muhyi
Ya, Al-Mumit
sajadah dihampar tangan memanjat hati berhikmad
nama-Mu dalam bisik dalam bunyi dalam terang
hamba belahan titik di ciptaan tak terhingga,
dari tiada menjadi ada, ya
Al-Hayy, Al-Qoyyum. Al-Wajid, Al-Majid
Wahai, Yang Mahaesa, ya Al-Ahad
kesendirian berkelana mencari sua
Kau datang dalam rasa
lebih banyak hilang dalam dunia
helaan nafas aliran darah kendali pikir bisik hati
masih bergelombang
ku rindu, bersatu dalam genggam, ya
Al-Shamud, Al-Qodirt, Al-Muqtadir
Maafkan, Ya Al-Muqaddim
usaha ditancap memancang harap
upaya tak henti dikibar dari pagi ke sore
dari senja ke Subuh, sepanjang udara ada
agar titik-titik menyatu pada garis-Mu
perjuangan panjang,
selama hayat bersama roh, ya
Al-Mua’akhir, Al-Awwal, Al-Akhir, Al-Zhahir, Al-Bathin, Al-Wali, Al-Muhta’ali, Al-Barr,
Al-Tawwab, Al-Muntaqim, Al-Afuww, Al-Rauf, Al-Malik Al-Muluk, Dzu Al-Jalal wa Al-Ikram
Janji atas nama-Mu, ya Al-Muqsith
takkan pernah tercabut, firman-Mu ladang hidup
padang merdeka kiprah
tercatat di tangan malaikat-malaikat,
menjadi bekal kelak saatnya tiba, menemui-MU
ya Al-Jami’, Al-Ghaniyy, Al-Mughni, Al-Mani’
Ya Al-Dharr, Al-Nafi’, Al-Nur, Al-Hadi
kemanakah lagi tangis kan dikirim
rintihan sayat-sayat kerinduan simponi jiwa
derai kelopak mata rindu buah pikir
rindu serindu-rindu dendam asal bermula
ikhlas berserah lautan cinta samudera ingin
kalau bukan ke haribaan-Mu,
di sorga, rumah yang kau janjikan
Ya Al-Badi
Ya Al-Baqi, Al-Warits, Al-Rasyid
riak riuh tawa bukanlah nafsu
senyum menang madah-madah gembira
syukur diucap senang dipangku
ketika tugas membawa ke medan arti
saat petuah menjadi nyata
serpihan tugas baru tertunai,
intinya di dalam angan di awal juang,
sabar ku pulangkan pada-Mu,
Ya Al-Sahbur
Ya Allah Ya Allah
sumber terang segala terang, pohon ampun maaf
sumber energi sumber sukses sumber bahagia
dari hati yang tenang
awal aman di lubuk batin,
ya Yang Mahatahu
Jauhkan hempasan bosan, Ya Yang Mahapenyayang
fatwa Rasulullah memelihara-Mu
nebula rindu inti jiwa
hanya pada-Mu
hanya untuk-Mu
ampun mohon berlabuh
cengkerama damai abadi bersama-Mu
Ya Allah
Yang Mahapengasih.









