5.1 Menulis Cerpen, Apa Susahnya?

28 January 2007 | Ditulis oleh: |

BAB V BIAS CANDA ABAD XXIII

5.1 Menulis Cerpen, Apa Susahnya?

Keinginan menulis, apalagi keinginan menjadi penulis, hanya  mungkin menjadi kenyataan apabila apa yang hendak ditulis, benar-benar ditulis. Tulis apa yang hendak ditulis, pasti jadi tulisan. Kalau apa yang hendak di tulis dihentikan pada tingkat ingin, pada gagasan, atau ‘lamunan, pada ujaran, apalagi diomongkan, Sampeyan tidak akan pernah menjadi penulis, tulisan tidak akan menjadi kenyataan. Seorang kawan punya gagasan tentang banyak hal. Hebatnya pula, gagasan tersebut diomongkannya dengan sangat menarik. Dijamin, siapa pun yang mendengar akan kagum betapa hebatnya kawan yang satu  ini. Ibarat dongengan tukang obat pinggir jalan. Sangat menarik.
 
Lebih hebat lagi, apa yang diomongkan, katanya, akan ditulis. Bak peramal  meyakinkan, pasti laku keras kalau sudah jadi buku. Pada lain ketika, dia mengomongkan topik lebih menarik. Begitu seterusnya. Pertanyaannya, kalau kemampuan omong yang diperhebat, lalu kapan latihan menulis? Kapan menulis? Kapan menjadi tulisan. Apa kapan-kapan, kapan lagi, atau menunggu dikafani?
 
Tipe manusia seperti itu tidak akan pernah menjadi penulis. Dipastikan dia ‘mengidap’ penyakit puas kalau sudah bicara yang hebat-hebat. Kira-kira, dia berpikir, apa yang dibicarakan itulah kenyataan. Kalau tidak ‘penyakitan’, menulis apa yang diomongkan kan sangat mudah. Karena itu saya menganjurkan ‘mengobati’ banyak omong dengan menulis. Caranya? Mudah.
 
Masuk kamar kerja, hidupkan komputer, ambil nafas dalam-dalam, isolatip mulut, mulai dengan Bismillah, menulislah. Tulis apa yang hendak diomongkan. Sampeyan kan tidak bisa ngomong lagi karena mulut diisolatip. Mudah kan? Kekeliruan besar peanggan menulis adalah ketika berkehendak menjadi penulis, tetapi yang diasah kemampuan ngomong, bicara yang hebat-hebat. Bukan latihan menulis dengan menulis. Dasar munafik.

‘Menyatakan’ Renungan
Jujur saja, saya tidak terlalu banyak menulis sastra. Tetapi,  kalau membaca karya sastra memang doyan, bahkan dapat dikatakan sampai tingkat pecandu. Buku kumpulan pusi baru satu, Surat Buat Kekasih. Menghimpun karya puisi sastrawan Nusantara dalam antologi puisi Kolaborasi Nusantara dari Banjarbaru dan Tajuk Bunga. Beberapa puisi diikutkan dalam beberapa antologi puisi dan menulis ratusan puisi yang belum diterbitkan. Banyak puisi ditulis tidak sampai lima menit. Surat Buat Kekasih mendapat apresiasi banyak orang. Bagaimana novel? Baru menulis satu. Cerita pendek? Lumayan.

Bagaimana menulis Cerpen akan kita diskusikan pada halaman-halaman berikut. Satu hal yang ingin ditandaskan, menulis cerpen ternyata mengasyikkan, membuaikan pikiran ke alam fantasi luas nan terbetang, tanpa ‘halangan’, dan lebih mudah. Lebih mudah?
 
Ya, iyalah. Asal tidak bicara kualitas. Lagi pula, soal kualitas terkadang lebih kepada selera. Karya sastra tidak sama dengan karya ilmiah. Kita fokus pada bagaimana menulis cerpen, bukan lainnya.

Simpulan saya menulis cerpen lebih ringan. Mudah, sangat mudah, teramat mudah malahan. Ketika menulis artikel, makalah, atau laporan, ada kalanya membolak-balik referensi untuk mencari data, mematangkan konsep, melakukan komparasi, metapkan alur tulisan dan sebagainya agar tulisan tidak gawur. Menulis cerpen? Tidak perlu. Langsung saja menulis, dan … jadilah cerpen.
 
Sampeyan jangan bandingkan dengan bagaimana Don Brwon atau Paramudya Ananta Tour menulis novel ya, itu terlalu hebat. Jangan pula bermimpi menandingi Hamsad Rangkuti atau Anton Chekov. Konteks kita menulis bagi pemula, mereka yang berkeinginan menjadi penulis. Kalau yang beginian cukup punya kemampuan melamun. Melamun? Ya, melamun.
 
Melamun, tepatnya mengembangkan imajinasi, dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Apabila melihat satu fenomena, bisa pula tiba-tiba muncul ‘sesuatu’ di pikiran, tinggal ikuti atau kembangkan. Buat konstruksi di otak. Terserah mau secara liar atau terstruktur. Setelah dianggap matang, alihkan menjadi tulisan.  Bukankah kita hidup dalam masyarakat pelamun, dalam budaya dimana orang lebih aman berimajinasi dari pada berbuat? Sebagian hidup kita tergadai di alam imajinasi.

Tuangkan dalam tulisan, tulis. Kehebatan imajinasi adalah kekuatan utama novel. Kenapa Hary Potter digandrungi masyarakat dunia? Imajinasi liar dan kuat diramu sedemikian rupa hingga kita ‘seolah-olah’ menjelajahnya. Padahal jauh dari kenyataan, bahkan cenderung dibodohi. Tapi, asyik. Itulah imajinasi. Mari mengembangkan imajinasi, mari menuliskan imajinasi.

Kerusakan Lingkungan
Cerpen Guvurnur Banzharbharo (Radar Banjarmasin, 15 Agustus 2004), Pimpinan Proyek (RB, 12 September 2004), Tsunami Banjar (RB, 9 Januari 2005) Pengadilan Oemar Bakry (RB, 13 November 2005) Mahkamah Tak Berbias (RB, 24 September 2006) saya tulis sesuai dengan ‘keinginan’ dalam relasi respon terhadap hal-hal saat itu. Saya tidak tahu persis, apakah karena tidak lagi in menulis artikel, takut menulis artikel karena susana hati sebal, imajinasi sedang melayang jauh, atau sedang mengalihkan jenuh menulis hal-hal sebagaimana mana biasanya, atau semuanya, entahlah. Pokoknya, begitu ingin menulis cerpen atau puisi, tulis saja. Pertimbangan utamanya, ingin menulis, tulis, jadilah tulisan, jadilah cerpen.
 
Pada cerpen Guvurnur Banzharbharo terindu seorang pemimpin berpendidikan, cerdas, kaya, berkrepibadian kuat, tangguh prinsip, dan berpengalaman global untuk mengubah keadaan. Kalau tidak, eksploitasi SDA membabi buta tidak akan pernah menjadikan bangsa ini makmur. Kuncinya penanganan pendidikan, lingkungan, dan keberpihakan ekpsloitasi pada masyarakat. Pada cerpen  Tsunami Banjar sampai-sampai Kalimantan Selatan ditenglamkan dalam ‘banjir Nabi Nuh’. Pesan yang diapungkan, kita harus waspada penuh atas lingkungan. Banjir di musim hujan, kebakaran dan deraan asap hingga susah bernafas di musim kemarau, barulah peringatan awal. Kalau penanganan lingkungan seadanya, pada dasarnya kita menggali wilayah kematian bersama.
 
Pendidikan, lingkungan, dan perilaku korup adalah sendi-sendi kehancuran bangsa. Pada cerpen  Pimpinan Proyek,  Pengadilan Oemar Bakry dan Mahkamah Tak Berbias, seperti hampir semua warga bangsa tercinta ini, kita sangat tidak berkenan. Tergambar betapa buruk akibat perilaku korup, tidak saja pada kehidupan di dunia, tetapi sampai ke alam baka. Korupsi berarti menggali lubang kesengsaraan, terutama buat pelaku.  
 
Pada pilahan lain, mungkin di pikiran dan hati Sampeyan tercuat kegeraman atas perilaku tidak cerdas sebagian ‘elite’ bangsa ini. Berbagai hal silih berganti terjadi seputar kekuasaan, keserakahan, tidak memihak kepentingan rakyat dengan penanganan pembangunan awut-awutan. Kemana risau akan dilabuhkan? Tulis saja cerpen.
 
Setidaknya hal tersebut menjadikan kita dapat saluran memuntahkan kegeramaman. Anggap saja menciptakan katarsis. Berbagai ketidakberesan adalah bagian hidup dan berkehidupan, yang saling kait-mengkait, rumit, dan pelik. Daripada  dipasung hal-hal demikian lebih baik muntahkan melalui cerpen. Pikiran jadi fresh dan kita mengutarakan gagasan. Tidak mungkinlah kita memperbaiki keadaan demikian mudah. Kalau melalui cerpen bisa, he … he …

Menulis Cerpen, Monggo
Kalau ‘perjalanan’ cerpen-cerpen saya dapat ‘ditangkap’, sebenarnya hal-hal demikian ada juga dalam pikiran Sampeyan dan dapat menulisnya. Tidak ada yang hebat-hebat, yang sulit-sulit. Buktinya ada gelitik hati: ‘Oh iya ya’.
 
Bedanya saya menuliskannya, Sampeyan belum. Saya memasukan hal-hal baru. Misalnya, menulis dari ‘Abad XXII’. Artinya, yang digunakan adalah imajinasi, dan dengan imajinasi tersebut bisa bebas dari kaidah-kaidah ‘konvensional’  saat ini. Bagi ‘kami’ yang hidup di ‘Abad XXIII’ kehidupan Abad Informasi saat ini tentu saja sangat kuno. Kehidupan dengan teknologi sederhana, teknologi apa adanya. Dari ‘Abad XXIII’ malahan dapat mengolok-olok (maulu-ulu) kehidupan zaman jahiliyah saat ini dengan bebas. Sebab, siapa yang telah berkelana ke abad mendatang? Saya, tepatnya imajinasi saya. Dengan imajinasi kita bisa menembus ruang dan waktu. Hal itu mungkin tidak ada dalam alam nyata, tapi sangat mudah dalam imajinasi.
 
Pada gilirannya, cerpen-cerpen tersebut, apabila cukup ragamnya, bukan tidak mungkin menjadi novel. Paling tidak, cerita bersambung lepas. Minimal jadi cerpen sebagimana adanya. Bagaimana dengan nilai kesastraannya? Bukan urusan saya. Maunya saya menulis cerpen, dan sudah ditulis. Kalau dianggap bagus, silahkan saja. Dianggap jelek, silahkan pula. Itu urusan dan kerjaan orang lain, bukan kerjaan saya. Ngapain memikirkan kerjaan orang lain. Tidak punya kerjaan apa. Tanya kenapa?
 
Oh ya, ada yang mengatakn cerpen-cerpen saya seperti artikel. Memang saya penulis artikel dan kalau demikian malah bagus. Sebab, menciptakan gaya baru dalam menulis cerpen, cerpen artikel. Hayo, berarti saya menciptakan satu cabang gaya penulisan cerpen. Hebat bukan? 
Maksud saya, pada tahap sekarang baru belajar menulis cerpen, dan itu sudah dilakukan dengan menulisnya. Anjurannya, kalau Sampeyan punya ide, ilham, atau apa pun namanya, tulis. Jangan biarkan berkeliaran di ruang kepala, berkelana kemana-mana yang bisa berakibat menganggu pikiran. Keluarkan. Tulis. Sampeyan tidak mau kan berakibat otak hang?

Kalau terjadi berbahaya, bisa gila bo. Mari menulis cerpen karena menulis cerpen mudah, sangat mudah malahan.    

Bagaimana menurut Sampeyan?

Catatan: Cerpen Guvurnur Banzharbaro, Tsunani Banjar, Pimpinan Proyek,   Pengadilan Oemar Bakry, dan Pengadilan Tak Berbias simak di  www.webersis.com.,www.radarbanjarmasin.com.

 

  1. 4 Responses to “5.1 Menulis Cerpen, Apa Susahnya?”

  2. By ian on May 19, 2008 | Reply

    aku tu pengin banget tuangkan isi otakku dan pengalamanku semua ke dalam tulisan,….
    bila aku coba untuk menulis kenapa yang ada di otakku dulit untuk dituangkan dalam tulisan..
    mohon…
    tip dan tripnya agar aku juga bisa mengembangkan hobbiku

  3. By ERIK on Mar 4, 2009 | Reply

    .q suka bgt mbaca, satu hr g mbaca rasax pusing.tp klu nulis malesx minta ampun,but tiba2 skarang q pngen bgt nulis tapi kalau pux ide2 trus pas megang bolpoin tu ko smua jadi buyar g terarah.mang jalanny nulis biar enak dibaca tu gimana.ksh saranx ya kawan.makaciiiih

  4. By usman, guru SMAN 15 TNG on Apr 15, 2009 | Reply

    banyak judul cerpen yang saya buat. sesuai ide yang mundul. Baru beberapa paragraf lantas saya tersesat. kemana arah cerita… bingung, tak ada jalan. saya minta tolong kepada seorang kenalan yang berpengalaman menulis agar dibuatkan kerangka alur. jawabnya: bapak tulis aja! (tak usah pakai kerangka). orang saya tersesat, nau nulis apa?
    Tanggapannya dong!

    ***Yap dapat dipastkan idenya belum matang, main tulis karena semangat … begitu memang kebiasaan kita. Kini, tinggal matangkan ide, tulis. Saya menulis tanpa kerangka-kerangaan, itu bisa jadi kerangkeng … tulis saja. Novel saja ditulis mengalir saja … Salam.

  5. By rimba on Feb 6, 2010 | Reply

    tulisan ini memberiku semangat lagi setelah lama terhenti. salam silaturahmi. mohon izinnya blog anda saya link.trmakasih

    ***Semangat, semangat … jangan dibuanglah semangatnya

Post a Comment