4.1 Menulis Menangkap Fenomena

28 January 2007 | Ditulis oleh: |

BAB IV
MENGUNYAH SEJARAH MENANGGUK MAKNA

4.1 Menulis Menangkap Fenomena

Keinginan orang menulis biasa tertuju untuk hal-hal besar, hal-hal hebat, spektakular, dan kalau perlu ‘mengguncang dunia’. Begitu menulis langsung menarik perhatian dan mendapatkan manfaat besar. Boleh sih boleh, emang siapa yang melarang. Begitu menulis langsung populer. Bagusnya memang begitu.

Tetapi, tidak bagi saya. Sadar kemampuan terbatas, pengalaman belum seberapa, dan masih belajar menulis. Karena itu mengambil posisi sederhana, menulis hal-hal kecil, kalau perlu yang dialami, tidak membaban, menjadi perhatian dan pengalaman umum. Anehnya, mendapatkan hal-hal melampaui harapan. Yah sudah biarlah yang lain menulis yang  akbar, saya cukup yang cilik mentik.  Bukankah small  is  beautifull? Kecil tetapi bermakna.
Pendidikan Bohong

Dalam perjalanan kehidupan tidak jarang kita ‘menerima’ hal-hal yang sebenarnya tidak edukatif. Sesuatu yang bisa saja menjadi salah satu pembentuk kepribadian. Tangkapan ke masa lampau dalam komparasi kekinian perihal praktik pendidikan saya tulis menjadi Pendidikan Curang (Radar Banjarmasin, 1 November 2006), Pendidikan Bohong (RB, 14 November 2006), Pendidikan Takut (RB, November 2006), dan Pendidikan KontroverSIAL yang tidak sempat dikirim ke Radar Banjarmasin.

Saya mencoba menarik garis merah dalam kaitan dengan perilaku korup di segala lini kehidupan berbangsa dan bernegara. Jangan-jangan praktik tersebut berawal dari perjalanan kehidupan individual anak bangsa, dari kecil sampai memegang posisi. Masak sih ngak punya malu. Padahal bangsa ini konon bangsa berkehidupan agamis. Dalam diskusi dengan teman-teman dekat, kita-kita mau membahasnya karena tidak punya jabatan, tidak punya kekuasaan. Kalau memegang posisi, jangan-jangan kelakuan tidak beda, he … he …

Tapi sudahlah, muaranya ya itu tadi, berkelana ke masa lalu sembari mencari relasi koneksitas dengan pengalaman kehidupan bersama. Dalam bentuk kecilnya seperti ini. Kenapa kita tidak pernah merasa tahi hidung berbau? Bisa jadi kalau upil tahi hidung diciumkan ke kucing akan pingsan saking baunya. Karena hari-hari menghirup udara melalui hidung yang ada tahinya, jadi sangat familiar dengan baunya hingga tidak mengganggu. Dalam kehidupan, sadar atau tidak, disengaja atau bukan, apabila terperangkap tindak tidak benar, ya tidak bisa lagi membedakan mana yang salah mana yang tidak. Sudah biasa.

Coba bayangkan kecurangan dalam pendidikan. Kalau Sampeyan punya pengalaman nyata, misalnya ketika ujian negara dalam jenjang apa pun, pernah curang, dibantu guru menjawab soal, tindak curang bukan hal asing lagi. Kalau ujian menyiapkan contekan, menilap uang hal biasa saja. Kalau mendapatkan pekerjaan menyogok, bagaimana mungkin menegakkan aturan dalam rekrutmen pegawai.

Kalau mengalami hal-hal demikian, satu-satunya cara, bertobat, dan … jangan lagi memberi peluang untuk itu. Kalau terbiasa mencontek, membayar joki menjawabkan soal-soal ujian, menyogok aparat, bagaimana mungkin ketika menjadi pejabat berani membasminya. Mungkin, sekali lagi mungkin lho, pejabat-pejabat, pemegang otoritas lembaga korup, mana tahu sejak awal memang tidak bisa membedakan mana cara benar mana yang melanggar. Tidak malu membeli gelar, tidak malu menyogok atasan —atasan juga sama— demi mendapat jabatan.

Tapi sudahlah, latar belakang tersebut sebagai antaran dalam hal-hal negatif praktik pendidikan sejak dini. Berseloroh, kepada mahasiswa pernah menganjurkan agar bertanya kepada orang tua masing-masing, apakah kelahiran dulu diinginkan. Jangan-jangan karena sepasang manusia mengumbar nafsu, lahirlah Sampeyan.  Lahir akibat dua pilahan nafsu berpacu menjadi satu, bukan karena diniatkan sebagaimana dikehendaki ajaran agama. Auzubillah min zaliq.

Teori Perlu, Tapi Lupakan
Apa yang diantarkan di atas dan dicontohkan pada empat sesudah tulisan ini merupakan petikan tulisan dalam kerangka mencari tahu, kira-kira kekeliruan dalam pendidikan kita. Semoga nantinya berkesempatan melakukan survey akademnik. Atau, Sampeyan memperkaya. Jangan menganggap enteng dulu ya. Bagaimana pun ketika suatu kali Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi ke Banjarmasin meminta saya merancang kurikulum antikorupsi. Seminggu selesai dikerjakan. Ketika bertemu kedua kali plus dengan orang-orang KPK yang membidangi pencegahan korupsi, terutama melalui pendidikan sangat terkesan.

Rupanya ada yang mengintip artikel-artikel saya di website, www.webersis.com. Artikel Pendidikan Curang rupanya menarik perhatian. Saya menganjurkan, memilih tema kecil dalam menulis tidak ada ruginya. Ingat yang kecil-kecil kalau memang tepat dan bermakna merupakana awal untuk besar. Saya memulai dengan hal-hal kecil.

Bagaiman menurut Sampeyan.

Catatan: Artikel Pendidikan Curang, Pendidikan Takut, Pendidikan Bohon, dan Pendidikan KontroverSIAL simak di www.webersis.com.,    

 www.radarbanjarmasin.com.

 

Post a Comment