3.3 Dituntut Kenapa Risau?

28 January 2007 | Ditulis oleh: |

Kalau Sampeyan menulis, tidak dapat tidak, berbagai hal akan ‘menimpa’. Terkadang tidak berhubungan dengan inti tulisan. Dikait-kaitkan, entah dengan maksud apa.  Pengalaman paling sering ketika dipertanyakan, menulis memang enak, tetapi bagaimana Sampeyan melakukan? Email seseorang lengkap dengan cemooh dan sengatan bahasa menghujam ke ulu hati.
 
Perlu Sampeyan camkan, menulis bukan karena atau berdasar penilaian seseorang atau segerobak orang. Penilaian, apalagi yang bernada tuntutan, datang belakangan, setelah kita menulis. Ada atau tidak ada penilaian atau tuntutan tidak berpengaruh apa-apa terhadap tulisan yang telah ditulis. Sebab, tulisan telah menjadi.
 
Persoalan tinggal pada Sampeyan, Si Penulis. Apabila penilaian orang, hujatan, lecehan, atau berbagai tuntutan sampai membuat uring-uringan, kesal, pusing tujuh keliling memikirkan kenapa orang tidak sepakat, sampai berkesimpulan, kalau begitu stop menulis, sungguh ambilan sikap yang aneh dan tidak konstruktif.
 
Orang menilai atau menuntut bukan urusan kita. Itu urusan mereka. Kecuali, kalau secara pribadi menghina atau menghujat, jelas harus bertanggung jawab. Tapi, kalau yang ditulis hal-hal umum, yang standar, ada yang resah, biarkan saja. Apa sangkut-pautnya. Bodoh namanya kalau sampai terjerembab keresahan. Biarkan saja resah menjadi milik peresah, kita menulis saja.
 
Pada kadar tertentu, saya punya sikap, dari pada memikirkan orang lebih bagus orang yang memikirkan kita. Secara bercanda sering mengatakan: “Susah bagi saya mengingat begitu banyak orang. Murid ada ribuan, belum yang ikut penataran ini-itu, berbagai seminar, pertemuan, persuaan sesaat, dan sebagainya. Tapi, … kalau tidak ingat saya sungguh suatu keteledoran”. Tepatnya, jangan habiskan energi memikirkan orang, apalagi sampai mumet. Pekerjaan tidak bermanfaat.
 
Lebih bijak energi ditumpahkan untuk hal-hal yang bermanfaat, menulis, menulis, dan menulis. Setelah tulisan dipublikasi, itu urusan orang. Kita mengambil manfaat dari apa yang ditulis. Sederhana dan tidak membeban.

Berpikir Positif, Menulislah
Kembali ke apungan di awal tulisan ini, misalkan ketika menulis tentang perlunya anggaran pendidikan 20-30% di APBN dan APBD. Kita kan hanya menulis, menggugah, merenggut sikap kepedulian atau penyadaran  aparat eksekutif dan legislatif agar pendidikan lebih terperhatikan. Soal dilaksanakan apa urusannya dengan kita. Kalau kita yang memperjuangankan dan melakukan, apa tidak masuk kamar orang namanya?

Lagi pula, betapa bodohnya cara berpikir demikian. Eksekutif dan legislatif digaji dari uang rakyat untuk mengurusnya, lalu kenapa kita yang harus melakukan. Logika apaan yang begitu. Atau, Sampeyan menulis perlunya kota ditata baik, bersih, aman, dan nyaman. Sampeyan bermain pada tataran gagasan, ya sudah manakala ditulis. Syukur kalau terlibat langsung. Kalau tidak?
 
Ya, tidak apa-apa. Menata kota adalah urusan Dinas Tata Kota, kebersihan urusan Dinas Kebersihan pada tataran tugas. Sebagai anggota masyarakat kita harus mendukung, berpartisipasi. Pada tingkat paling sederhana mengajukan gagasan, misalnya dengan menulis. Kalaulah DinasTata Kota melibatkan, ya dukung dan berpartisipasi. Tapi, tanggung jawab tugas urusan Dinas Tata Kota. Itu pekerjaan mereka, mereka digaji untuk itu. Kalau kita yang bertanggung jawab, dari mana kamusnya. Untuk apa Kadinas menjabat dan digaji kalau tidak mengurus pekerjaan mereka.
 
Pada bagian ini saya ingin mengarisbawahi, tugas penulis lebih kepada gagasan, ide, pemikiran, atau ususl-usul konstruktif. Mengkritik sekeras apa pun boleh saja asal berdasarkan fakta demi untuk perbaikan. Hindarkan hal-hal mencela membabi buta, menulis berdasarkan iri atau kepentingan pribadi. Tulisan lebih afdol didayung demi kepentingan publik.
 
Jadi, sadari posisi. Kalau sudah paham tidak perlu goyah dicemooh atau dituntut, semisal, menulis saja yang bisa, mengerjakan tidak. Memang begitu. Kalau penulis harus mengerjakan apa yang ideal, yang ditulis, ya nggak mungkinlah yaw.

Tulis, Sadari, Tulis Lagi
 
Begini saja. Bagaimanapun tidak semua hal diketahui penulis. Pasti ada hal-hal yang tidak diketahui persis. Idealnya memang hal-hal tertentu ditulis oleh ahli di bidangnya. Masalah kita, banyak orang yang mengaku ahli, atau ahli benaran, tapi tidak mampu menulis. Sebagai orang yang gatal tangan menulis, tentu tidak dilarang menulis hal-hal demikian.
 
Apabila ada kekurangan dan ‘dibetulkan’ oleh yang ahli, ya Alhamdulillah. Kalau tulisan tidak ideal, ya belajar lagi, tulis lagi. Kalau ada kekurangan di sana-sini, perbaiki, tulis lagi. Kalau tergelincir menyakitkan orang atau lembaga, kalau benar demikian, minta maaf, perbaiki, tulis lagi. Bukankah dengan proses demikian kemampuan jadi terasah? Pengetahuan menjadi semakin luas?
 
Pengalaman menunjukkan, ketika menulis dengan tajam tentang satu instansi dipanggil  bos instansi tersebut. Dimarahi? Jarang, tu. Lebih banyak diajak diskusi, diberi bahan-bahan atau pandangan baru dengan tinjauan sudut lain. Kalau sudah begitu, menulis lebih berwawasan. Saya malahan menjadi dikenal banyak orang karena hal seperti itu. Di mana salah dan ruginya?
 
Cermin yang muncul, dari tulisan yang kita buat, bisa mengukur tingkat pengetahuan dan kemampuan, apabila direspon orang, asal diterima dengan lapang dada dan sikap terbuka, bukannya merugikan atau merasa terhina, justru semakin matang. Pengetahuan bertambah, informasi semakin lengkap, dan dapat menulis lebih bagus.
 
Adalah kekeliruan besar manakala orang menuntut-ini itu menjadikan kita resah. Jadikan sebaliknya agar konstruktif bagi pekerjaan sebagai penulis. Kalau segala hal itu dimaksudkan oleh Si Penuntut atau Si Peleceh untuk ‘menghabisi’, ya jangan mau terjerembab. Ambil sikap terbalik, biar saja dia sibuk melecehkan, dari lecehan tersebut kita menantang diri menulis lebih baik. Biarkan Si Peleceh makin matang dan bangga dengan profesi sebagai peleceh, kita menjadi penulis saja.
 
Percaya atau tidak, hal demikian saya praktikkan. Mereka yang sibuk menghujat, menuntut ini-itu, masih seperti itu. Saya, maaf bukan sombong, semoga Allah SWT tetap melindungi, semakin banyak yang menyoal semakin kreatif menulis. Celaka besar, kalau orang bermaksud mempermalukan kita kita betul-betul memalukan. Sungguh bodoh.
 
Allah SWT menciptakan banyak hal di dunia berpasang-pasangan, mungkin, dengan maksud apabila pasangan tersebut, hitam-putih, baik-buruk, agar terjelas bedanya. Kelirulah apabila memaknai hanya ada yang baik saja. Kita tahu ada yang baik karena ada pembanding yang buruk.
 
Bersyukurlah apabila orang  memperlihatkan ‘kekurangan’ agar kita bisa memperbaiki. Biarkan saja orang-orang berburuk sangka, iri, dengki, dan sifat-sifat jahat sejenis, itu urusan dia. Toh, dia yang akan merasakan akibatnya. Kita, sekali lagi, mengambil manfaat positifnya. Ya, seperti tadi, maksudnya membunuh, justru kita belajar dan tentu berpeluang lebih baik.
 
Oh ya, pernah melihat gambar Menara Pisa atau langsung melihatnya di Itali? Menara Pisa yang  miring, karena salah apakah, bukan menjadi objek caci-maki, tetapi menjadi ladang pendulangan lira bagi Itali. Kesalahan adalah hal wajar, penilaian atau tuntutan orang pun demikian.

Ambillah manfaatnya, tulis, tulis, dan teruslah menulis. Dari ‘kesalahan’ Menara Pisa, Itali mengambil manfaat, masak sih kita mempurukkan jiwa dalam kesalahan.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?

Post a Comment