3.1 Dilecehkan, Alhamdulillah
28 January 2007 | Ditulis oleh:BAB III
MELAWAN DIRI MENUAI KARYA
3.1 Dilecehkan, Alhamdulillah
Kalau diingat-ingat, satu pemicu ‘kesuburan’ saya menulis ratusan tulisan di media cetak dan beberapa buku karena hal sepele; dilecehkan dan dihina. Akibatnya menjadi tertantang. Awalnya sebel juga, kenapa orang yang menulis payah, kog bisa-bisanya ‘menilai’ karya yang nyata-nyata ada. Ada saja yang dicerca; salah ini, salah itu, salah ite, salah ita, dan seterusnya. Pokoknya salah terus.Alhamdulillah, akhirnya justru bersyukur, masih ada orang berperilaku demikian. Kalau tidak, barangkali tidak akan merasa ditantang begitu merangsang. Saya jadi paham, kenapa Iblis diciptakan Allah SWT agar kita paham mana yang baik mana yang buruk. Seperti saya, Sampeyan tidak mau kan dikalahkan Iblis?
Soal dilecehkan, dihina, atau timpaan hal-hal negatif lainnya, perlu dipahami, sebenarnya dapat dijadikan sebagai hal pendorong. Ada orang yang gagal menjadi penulis, setidaknya mandeg karya karena dilecehkan dan dihujat. Seorang teman, sebut saja Fa Loen I, berkeluh-kesah melalui email, dia tidak mampu memahami, kog bisa-bisa orang yang menulis sangat payah mencela dan menghujat. Fa Loen I pada sangat bersemangat menulis. Sering mendiskusikan perihal menulis.
Pada awalnya saya ‘menemukan’ Fa Loen I dalam diskusi kecil-kecilan di kampus. Katanya menulis susah dan menyusahkan, minimal membutuhkan konsentrasi. Kata saya, menulis itu mudah. Siapa saja yang berkeinginan menjadi menulis pasti bisa. Sebab, orang yang berkeinginan menulis pastilah orang cerdas. Keinginan adalah modal menulis.
Setelah sering berdiskusi, tahulah saya, Fa Loen I kurang handal dikritik, apalagi dilecehkan. Saya motivasi dia. Sampeyan menulis, Si Peleceh tidak menulis, bukankah lebih unggul? Jangan sampai dihambat orang bodoh. Terus menulis. Dalam lima tahun akan mempunyai ratusan tulisan dan beberapa buku, sementara Si Peleceh akan matang dengan profesi utamanya sebagai peleceh.
Pendek kisah, saya ‘paksa’ Fa’in menulis. Tulisannya saya edit, dan menolong mengirimkan ke media cetak. Begitu juga beberapa teman lainnya. Tentu tidak lupa membicarakan dengan pemred suatu media, kita memerlukan penulis yang banyak, tolong jangan dulu dikenakan aturan ketat. Alhamdulillah, teman-teman diberi tempat. Saya puas sebagai motivator.
Menulis Membuktikan Diri
Dicela, dilecehkan, dicaci atau ditimpakan hal-hal negatif, sudah energi saja. Lucunya, yang berperilaku demikian, ya seputar itu-itu saja. Sebaliknya, justru mendapatkan hal terbalik. Terkenal dan dikagumui. Bahkan, ditawari berbagai pekerjaan, khusunys tentang menulis. Beberapa kali menolak jabatan formal. Ada yang menilai, tulisan saya nyaman dibaca, kali aja, he … he …
Kalau sapaan seperti ini: “Pak Ersis, ya? Saya sudah lama ingin berkenalan dengan Sampeyan. Saya pengemar tulisan Sampeyan”. Sapaan perkenalan semacam itu sudah sampai tingkat membosankan. Tetapi, ada saja yang bertindak demikian. Begitu pula kalau makan dibayarkan, atau dapat diskon apabila membeli sesuatu tanpa diminta.
Di kota saya, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, ketika isteri hamil, dr. Bima tidak mau menerima ongkos pemeriksaan. Kalau anak-anak sakit, dr. Parlin berlaku sama. Begitu juga dr. Suciati direktur RSUD Martapura atau dr. Leny direktur RSUD Banjarbaru, dan teman-teman dokter lainnya. Kalau tidak percaya, tanyakan pada mereka, mereka masih segar bugar. Masalah saya, adalah ketika mencari dokter di Banjarbaru yang mau menerima uang berobat. Aneh ya? Tapi, begitulah ‘nasib’ seorang penulis.
Yang ingin saya tandaskan, sebenarnya hanya sedikit orang yang tidak suka dengan kreativitas menulis ‘kita’. Banyak, jauh lebih banyak, bahkan sangat-sangat banyak yang suka, kagum, dan menghargai. Pertanyaannya, kenapa demikian?Harap disadari, banyak orang berkeinginan menulis. Yakini itu. Tidak sedikit orang berkonsultasi sebagai pembenarnya. Hanya saja, begitu mau menulis, tangannya tidak mau digerakkan, otaknya mandeg, kalaupun mampu menulis, begitu dipublikasi, diejek, diledek, atau dilecehkan (apalagi kalau teman, sebenarnya musuh he … he …), maka jadilah menulis angan-angan belaka.
Bagi Si Peleceh, karena libido menulis tinggi sementara ‘Si Buyung’ loyo, mengambil posisi jalan pintas, menjadi peleceh. Mana tahu sebagai pantulan iri, cemburu, dan hasat yang bersarang di dirinya. Apalagi kalau gagah berani memproklamasikan diri kritikus. Barangkali, Si Peleceh melandaskan pikiran pada kerangka negative thinking. Logikanya, kalau tidak tentu melakukan self-correction.
Sebaliknya, bagi yang positive thinking, berperilaku sebaliknya, bersyukur ada saudaranya yang ‘mewakili’ keinginnya. Untuk itu perlu disuport. Entah iya entah tidak, ini bukan teori, lho. Tapi, coba renungkan, kira-kira di mana posisi Sampeyan. Maksud saya, jangan sampai kalah dengan sikap manusia-manusia jahanam, Si Peleceh. Penulis, apa dan bagaimana pun rendah kualitasnya, jelas sejelasnya lebih baik daripada tidak menulis.
Minimal ‘kita’ berprinsip, pada awalnya bolehlah tulisan dibaluti berbagai kekurangan. Tetapi, apabila terus menerus-menulis, melatih menulis dengan menulis, lama-kelamaan akan menjadi habit, dan … menjadi mudah. Jadi, latihan menulis dengan menulis itu sendiri. Itu kunci menjadi penulis sukses.
Rahasianya, jangan pernah menjadikan lontaran miring dari siapa saja mengalahkan kemauan untuk menulis. Sebaliknya, jadikan motivasi untuk menulis, menulis, dan menulis lebih baik. Lagi pula, kenapa pula risau dicela orang.
Coba renungkan. Para nabi dan rasul Allah, bahkan Allah Sang Pencipta, dicela oleh orang-orang tertentu. Emangnya Sampeyan siapa? Masak sih dicela saja tidak boleh sementara Allah SWT membiarkan iblis hidup dengan tugas khusus menjerumuskan manusia. Lagi pula, kalau baru menjadi penulis pemula, kenapa tidak boleh ada orang yang melecehkan. Yang benar, adanya berbagai hal miring tersebut dijadikan pemicu dan pemacu untuk menulis lebih baik. Jadikan enteng saja.
Lecehan Cambuk Kreativitas
Mengakhiri diskusi bagian ini, saya ingin menekankan, menulislah karena Sampeyan memang ingin menulis. Untuk itu, penuhi berbagai hal yang memungkinkan subur menulis. Kiatnya, tulis, tulis, dan tulis. Ibarat petinju, latihan terus-menerus. Respon negatif, apalagi yang positif, jadikan bahan bakar untuk menulis lebih baik.
Menulis tidak berhubung kait-mengait langsung dengan celaan, lecehan, atau apa pun namanya. Menulis adalah pantulan nyata gagasan untuk disambungsampaikan kepada orang lain, bahkan dalam kategori massal.
Adalah orang-orang berpotensi tetapi bodoh yang mau kalah dengan pendapat orang-orang bodoh, apalagi orang-orang yang bodoh menulis.
Menulis adalah kecerdasan, sebab lahir dari orang-orang cerdas. Selamat menjadi orang cerdas. Selamat menulis dan menjadi penulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?









One Response to “3.1 Dilecehkan, Alhamdulillah”
By winerwin on Feb 11, 2007 | Reply
Menarik!
“Musuh tebesar anda adalah teman terbaik anda” adalah pandangan yang tidak salah.
Teman, biasanya orang yang dekat dengan kita, karena dekat ia tidak ingin menyakiti hati. Teman biasanya tidak berani mengomentari kekurangan kita. Ibarat orang naik sepeda, kalau mau jatuh eh dibantu, akhirnya kita tidak jatuh dari sepedah, alhasil kita tidak berani naik sepeda sendiri kalau tidak ada teman yang membantu menahan ketika kita jatuh.
Musuh, biasanya orang yang benci dengan kita. Ia selalu saja mencari cara untuk melecehkan, menjatuhkan, menjelek-jelekkan kita. Karena sering di ejek ini itu, jatuh sana jatuh sini, justru kita malah ngerti salah kita apa dan gimana benerinnya. Ibarat naik sepeda, ketika sedang enak-enaknya jalan, musuh mendorong kita dari belakang, dari samping sampai kita jatuh terus. Karena diganggu terus dan terluka dimana-mana, alhasil kita berusaha mencari cara gimana caranya biar gak jatuh meski diganggu sana ganggu sini. Hasilnya mau diganggu sehebat apapun tetep kita gak jatuh, apalagi kalau tidak ada gangguan?