2.5 Menulis Kata Membelah Rasa
28 January 2007 | Ditulis oleh:Keresahan penulis pemula yang berkonsultasi, sering saya respon dengan senyum gimana gitu, adalah soal respon bermuatan caci maki. Respon atas tulisan terjadi setelah adanya tulisan. Pada posisi demikian, apa yang ‘terjadi’ sudah terjadi. Apa kita hidup bisa surut ke belakang? Hidup tertambat di masa depan. Anjuran saya, respon yang pantas direspon adalah respon positif. Respon negatif biarkan lewat tanpa disapa. Apalagi, yang mengakibatkan semangat, kemauan, kreativitas, dan kelincahan menulis jadi terganggu. Setidaknya, ambil hal-hal bermanfaat di balik respon negatif. Ringkasnya, kalau tulisan dicaci orang, jadikan pemotivasi agar menulis lebih yahud. Kalau lecehan menjadikan kita mandeg menulis, bodoh namanya. Apa pun alasannya, kita harus memberikan tempat kepada siapa saja, memberi ruang kehidupan. Kebodohan yang dipagut adalah ‘memaksa’ orang sependapat, semua orang harus mengakui karya kita, kita minta diakui.
Di situlah pangkal persoalannya. Coba berpikir mengalir, biarlah orang menjadi dirinya, kita menjadi (belajar) menulis. Aman di jiwa, nyaman di pikiran. Ketahuilah, dalam diri seseorang tersimpan sifat dan sikap negatif. Apa-apa yang keluar dari diri, dari pikiran mencerminkan apa yang ada di dalam. Misalkan tulisan saya ini, pantulan pikiran yang dituangkan menjadi buku. Kalau belum baik, ya kemampuan proses atau bahannya memang belum memadai. Minimal, bertekad selalu belajar, dan belajar lebih baik lagi. Memperbaiki.
Dalam qalbu ada titipan berbagai sifat, baik atau buruk. Manakala yang dipupuk yang positif arah pemikiran cenderung positif. Kalau yang disemai dan dibesarkan pikiran negataif, dia akan berkembang pesat. Terserah mau mengembangkan yang mana. Setiap orang bebas memilih jalannya sendiri. Jadi, kalau menemukan orang yang selalu melakukan respon negatif terhadap kita, kasihan dia sebenarnya. Jangan dibalik, justru kita yang kalang kabut.
Menulis saja dengan niat baik, misalnya seperti saya menulis buku Menulis Sangat Mudah dan Menulis Mari Menulis. Kandungan isi buku merupakan apa yang terpikirkan dalam relasi pengalaman pribadi dan keprihatinan banyak orang yang kesulitan menulis. Saya ingin berbagi pengalaman agar pikiran semakin banyak ditulis. Niat berbagi hidayah dengan banyak orang. Kalau direspon positif, apalagi dapat masukan finansial, itu bonus, he … he …
Menulis Berbagi Rasa
Kalau kita menulis harus siap mental menerima respon, positif atau negatif. Berharap apa yang ditulis ditangapi baik, wajar saja. Sebaliknya ditanggapi negatif, juga tidak apa-apa. Tanggapan atau penilaian positif-negatif, terkadang soal selera, soal rasa. Baik bagi kita belum tentu baik bagi orang. Yang celaka, bagimu tak boleh bagiku sah-sah saja. Itu culas Bung.
Dengan dasar berpikir demikian, kalaulah buku ini direspon, diambil manfaat oleh banyak orang, Alhamdulillah. Saya tidak mimpi disenangi semua orang. Dasar menulis sederhana saja, berbagi pengalaman. Syukur ada yang mengambil manfaat.
Prinsip saya sederhana saja. Berniat baik membagi pengalaman agar banyak orang termotivasi. Menulis bermanfaat manakala dimulai dari niat baik, cara baik, dan untuk kebaikan. Sebaliknya, berbuah neraka manakala diniatkan, misalnya, untuk character assanation. Tinggal memilih. Pilihan ‘ditentukan’ oleh apa-apa yang bersemayam dalam diri.
Jadi, kenapa cemas dengan respon orang? Ambil baiknya saja. Apa yang diutarakan orang, melecehkan sekali pun, jadikan pemotivasi untuk lebih baik lagi menulis. Iblis dibiarkan hidup, kira-kira nih, agar manusia mampu membedakan yang baik dengan yang buruk. Artinya, pada kadar tertentu kita perlu bersyukur ada orang iri, dengki, hasat dan tidak senang orang berkarya. Sebenarnya kasihan dia tenggelam dengan perilaku negatif, bisa-bisa jadi ahli ‘pembantai’. Biar saja, kita pakai prinsip, kalau ada baiknya ambil, kalau salah perbaiki, kalau menyakiti orang, minta maaf. Jadikan ringan saja.
Bahkan, dalam memompa motivasi pribadi, kalau perlu, anggap orang beperilaku demikian sebagai sampah, garbage. Jadikan musuh setingkat iblis. Tapi, jangan dendam. Dendam merusak diri sendiri, dan … merugikan kreativitas menulis. Pakai gaya anjing mengonggong kafilah berlalu.
Dari Hati ke Rasa
Mengakhiri bab ini menganjurkan, sedari dini biasakan menulis dengan cerdas berbasis pikiran dengan logika yang baik. Menulis dengan baik dan benar yang berawal dari hati nan bening dalam kalimat bermuatan rasa bermutu tinggi. Hingga, tulisan tidak saja enak dibaca dan perlu, tetapi bermanfaat maksimal.
Persoalannya, saya belum mampu. Jadi, anjuran hanya sekadar memuaskan gagasan. Yah, minimal bercanda. Wong belum mampu melakukan. Tidak lucu menganjurkan. Itu sama dengan orang yang melatih kemampuan menulis, dia tidak menulis. Sama dengan pemeriksa buku dia tidak pernah menulis.
Mari kita kurangi hal-hal lucu-lucu dan mari, sekali-kali, kita berlucu-lucuan. Lucu dan kelucuan menyegarkan. Menulislah bila berkehendak. Menulis mari menulis. Semoga perjumpaan kita nantinya sebagai sesama penulis, penulis yang baik, penulis yang diridhoi Allah SWT. Amin,
Bagaimana menurut Sampeyan.









One Response to “2.5 Menulis Kata Membelah Rasa”
By asep on Jul 9, 2008 | Reply
Terima kasih Mas, tulisannya bagus sekali, bikin saya termotivasi dan segera take action!, saya mau nanya yang mas tulis character assanation = pembunuhan karakter ya?, saya cari di kamus ketemunya “assassinations=pembunuhan” saya cuma mau koreksi itu aja, maaf kalau ada yang salah, sekali lagi terima kasih artikelnya bagus.
***Siiip. Makasih koreksiannya. Biasa, saya menulisnya sangat cepat, dan punya penyakit malas ngoreksi, itulah jadinya. Makasih ya. Oh ya, malas bukan malas dalam arti sesungguhnya, tapi takut buang waktu. Apa perlu punya korektor ya he he