2.4 Jalan Lurus Melupakan Teori

28 January 2007 | Ditulis oleh: |

Hujan mengguyur deras, bak dicurahkan dari langit. Saya terpaksa ekstra hati-hati menyetir karena jalan licin seolah digemuki air. Harap maklum, pada bulan Januari, Bumi Intan Khatulistiwa memang selalu disimbah hujan. Hujan dan banjir ayunan rutin irama kehidupan. 

Pengakuan Banbang Subiyakto, seorang kawan, mengagetkan ketika berbincang di mobil. “Saya terkadang terbelenggu menulis oleh hal-hal sepele. Semisal, boleh apa tidak, memakai kata ‘saya’. Setelah membaca tulisan Sampeyan, kini berani memakai kata ‘aku’. Lebih lempang mengekspresikan pikiran. Berani sudah ‘melupakan’ teori-teori menulis dan kebahasaan. E … ternyata lebih enak dan lancar menulis. Bebas. Tanpa teori”.

Syaharudin, seorang kawan yang tengah S2 di UGM membawa buku Menulis Sangat Mudah ke asrama mahasisawa Kalsel di bilangan Samirono, Jogjakarta. Katanya, banyak yang tertarik membacanya. Lalu apa? Besok paginya seorang penghuni membawa tulisannya  minta dikoreksikan. Rupanya, keberanian ‘calon’ penulis hebat tersebut terangsang, dan … langsung menulis. Kalau hal demikian berlanjut bak efek bola salju, Alhamdulillah, tujuan memotivasi berbagai kalangan untuk menulis dan menulis mulai menampakkan hasil. Kalau Sampeyan berkeinginan menulis, yakinlah, buku ini diperuntukkan khusus buat Sampeyan. Baca terus dan ambil manfaat muatannya.

Lupakan Sajalah Teori
Kalau membaca seri buku saya perihal menulis secara serampangan, kesalahpahaman tentang perlu atau tidak menguasai teori, akan menjadi perdebatan. Apalagi, kalau memakai pedang emosi. Saya tidak anti teori. Tidak, sekali-kali tidak. Tapi, apabila teori menghambat, membelenggu, atau menjadikan kita mandeg menulis, buat apa teori. Buang saja. Itu belenggu.
 
Terlalu banyak korban ‘bergelimpangan’, dihajar teori. Tepatnya, oleh orang-orang yang menganggap teori itu di atas segalanya. Apalagi kalau teori digunakan untuk ‘membunuh’ kreativitas oleh orang yang mengaku menguasai atau ahli teori. Bukankah sejak SD sudah belajar teori?
 
Kini, saatnya mencampakkan teori atau mengenyahkan orang-orang yang selalu bicara teori, teori, dan teori lagi. Kalau belajar menulis, menulis saja. Tidak semua orang harus menjadi ahli teori, tidak semua orang harus jadi ahli bahasa. Teori adalah alat. Saatnya belajar menulis dengan menulis.
 
Tidak dipungkiri, teori itu penting. Teori lebih dibangun berdasarkan ‘kenyataan’. Lupakan teori ketika menulis. Kalau kemampuan teori dipahami masih kurang, pelajari setelah menulis, setelah ada tulisan. Jadi jangan dibalik, sampai mati mempelajari teori, lalu kapan menulisnya, he … he …
 
Jangankan tergelincir belenggu teori, hal sederhana seperti mengoreksi tulisan saja, saya tidak mau. Kalau sudah jadi tulisan baru membaca dan terkadang tidak dibaca. Risikonya banyak salah ketik. Yang terakhir jangan ditiru. Mengingat teori, apalagi sampai melihat kamus ketika menulis, sebaiknya tidak dilakukan. Kenapa?
 
Pada buku Menulis Sangat Mudah telah saya tulis, di tubuh kita, dalam batok kepala, otak dibekali 1 triliun sel neuron terdiri dari 100 miliar sel aktif dan 900 miliar sel pendukung.  Sel-sel tersebut mampu berkoneksi 20.00 yang kalau dikoneksikan semuanya, waduh … pusing menghitungnya.
 
Ibarat komputer ketika dioperasikan —kapasitas otak dan sistem operasinya apabila  dibandingkan, komputer itu ibarat satu titik saja, bo —cukup piawai ‘melayani’ kemauan. Kesalahan kita, ketika dioperasikan ‘diganggu’ dengan mengingat teori, apakah yang ditulis salah apa benar, apakah ejaan betul, dan sebagainya. Sampeyan itu bagaimana, sudah  jelas sedang menulis kenapa diganggu secara sadar dengan mengingat hal-hal yang menghalangi laju kerja otak. Apa-apaan. Campakkan saja hal-hal tersebut.
 
Kini, saya beri resep jitu, menulis ya menulis saja. Tuangkan apa yang ada di benak melalui tuts komputer. Konsentrasi hanya menuangkan apa yang hendak dituangkan, ‘lupakan yang lain’. Tumpahkan, tuangkan, tuliskan, jangan memikir selain itu. Bisa-bisa akan susah menghentikannya. Bagaimana kalau salah? Emangnya Sampeyan siapa?  Kalau salah pertanda Sampeyan masih manusia.
 
Jangan pernah takut salah, jangan musuhi salah, emang apa sih salahnya salah? Logika Sampeyan gimana sih? Karena salah, karena pernah melakukan kesalahan, akan lebih mantap memahami yang benar, dan kebenaran sejati. Allah menciptakan banyak hal berpasang-pasangan, baik buruk, laki-laki-perempuan, siang-malam, salah-benar agar jelas bedanya, dan agar manusia mampu memilih yang baik. Kalau baik, kalau benar melulu, memangnya Sampeyan mau jadi Malaikat?
 
Misalkan dalam menulis, rujukannya adalah teori, ya gunakan saja nanti sebagai patokan setelah tulisan menjadi. Jangan, sekali-kali jangan, digunakan saat menulis. Bukan saja konsentrasi terpecah, tetapi akan menganggu jalan mulus kerja otak sebagai konstruk pikiran yang akan ditulis. Jadikan teori sesuatu yang melekat. Kekeliruan semacam ini dipelihara banyak orang. Hingga, menulis sealinia, lalu … wassalam. Kalau demikian kapan mau jadi penulis?
 
Ekstremnya, lupakan teori. Tinggalkan teori. Jauhkan mereka yang berkoak-koak teori adalah segalanya. Dalam hal ini melawan petuah guru mungkin tidak mengapa, sebab kita sedang menulis. Sedang latihan menulis dengan menulis.

Merenung, Menulislah 
Para pembaca yang cerdas.  Apabila Sampeyan berkeinginan menulis, bisa jadi telah memilih ‘jalan yang lurus’. Keinginan itu adalah modal. Ingat teori menagapa penjahat melakukan kejahatan, NK; niat dan kesempatan? Penjahat saja bisa mengapa calon penulis tidak berani mencari modus-modus ‘baru’ menulis?
 
Niat sudah melekat di diri, kesempatan terbuka. Bagi penjahat, kesempatan lebih banyak ‘diciptakan’ secara kreatif yang dalam bahasa hukumnya modus operandi. Polisi ‘belajar’ dari penjahat, penjahat ‘mempelajari’ posisi, lho. Terciptanya modus baru karena otak, Si Sleeping giant dibangunkan. Nah, tiru saja ‘teori’ sederhana  yang mungkin kadar ilmiahnya dipertanyakan.
 
Kini, calon penulis tinggal memanfaatkan kesempatan. Dalam sejarah republik ini belum pernah mengalami era dimana publikasi terbuka lempang, kesempatan menulis luar biasa lebarnya, pembaca bertambah tiap detik seiring makin hausnya dahaga baca. Apalagi kalau dikait-kaitan dengam era informasi. Jangan terjebak dengan jargonnya, namun ambil peran sebagai pemasok infomasi (tulisan)? Jangan jadi penonton saja, to.
 
Jangan ragu, jangan bimbang, jangan takut, jangan mau ditakut-takuti, menulis sajalah. Bisa jadi Sampeyan  tidak berkemampuan memberi sesuatu terhadap bangsa ini yang dilanda petaka di mana-mana, nah menulis mana tahu akan menjadi ladang amal. Tidak mungkinlah kalau Sampeyan menulis 1000 kata satu diantaranya tidak bermanfaat. Menulis juga berarti memberi melalui pikiran, from brain to brain. Insya Allah.
 
Pesan utama diskusi kita kali ini adalah, berbahagialah yang mempunyai keinginan menulis sebab itu sudah masuk wilayah ‘jalan lurus’. Kini tinggal meaplikasikan kiat-kiat melawan belenggu, mengenyahkan iblis-iblis yang bergentayangan di mana-mana, dengan berbagai modus  berusha  membelenggu (calon) penulis.
 
Mari menulis, lupakan teori. Begitu tertulis, tulisan menjadi hal nyata. Teori biarlah menjadi lahan pakar, bagi para teoritikus, ahli-ahli teori. Saya tidak bisa hidup dengan teori.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 

  1. 4 Responses to “2.4 Jalan Lurus Melupakan Teori”

  2. By kurt. zainudin on May 1, 2007 | Reply

    ahh teori……..

    ujarmu teori adalah milik para ahli
    ku bilang biarlah ia milik para peri
    saya, dan para pemerhati biarlah berhenti berlari-lari
    enakan menyendiri bersama hening nan sepi
    ternyata tak berteori lebih mandiri
    menjadi diri sendiri berarti meneliti

    aku ingin sendiri sajalah
    bersama sepi bersama angin
    berdiri berselimut hangat berhawa dingin
    meski gigil menyesap ke tulang berbalut daging
    tarian penaku terus berputar berpusing-pusing
    tak terasa tlah menghasilkan nasi berpiring-piring

    aku mulai suka bersandirwara
    bertatap muka bersama kata
    menderas ayat bersama kalam
    menjiwa himah bersama Dia

    —-
    salam kenal bang, nalurimu nulariku makasih….

  3. By teguh on Nov 8, 2007 | Reply

    ada yang bisa bantu memberikan informasi ttg alamat yang bisa dihubungi untuk mencari contoh-contoh penelitian tindakan kelas?

  4. By Mega on Nov 8, 2007 | Reply

    KALO TAKUT SALAH DALAM MENULIS RUGI SENDIRI DECH,,EHHE DAH BERANI SONGONG AKU DISINI SEKARANG..LoL..
    AKU MALAH SENANG BELAJAR DARI KESALAHAN..JADI DLM MENULISPUN SALAH AKU GA TAKUT,,YANG TAKUT CUMAN JIKALA GA ADA BAHAN NTUK YG DITULIS AJA,,gmn TUH?

  5. By bayu arya on Apr 10, 2008 | Reply

    weeeh.. kasiiii daaaa.. aspiratif sekali mbah Ersis.. kesimpulan, saya setuju banget.. tuangkan pikiran kedalam tulisan, let it flow, no worries for no boundaries..

    cuma mbah, sekarang saya lagi buat tesis untuk s2.. jadi kembali ke orde baru deh..

Post a Comment