2.3 Mengakrabi Keterbatasan Menjinakkan Kekurangan

28 January 2007 | Ditulis oleh: |

Seorang kawan, sebut saja Si Pemimpi, suatu kali medatangi saya. Katanya, akan menulis tentang kenapa masyarakat negeri tercinta ini terperangkap berperilaku ‘brengsek’ sampai-sampai dipersepsikan sebagai jawara korupsi tigkat dunia. Jujur saja, kagum akan ide dan ungkapan semangatnya untuk menulis. Sekalipun telah puluhan orang yang mengutarakan keinginan menulis, biasanya terhenti pada gagasan dan omongan.Sebenarnya itu belum seberapa. Kawan yang lain, pernah menasihati habis-habisan sembari mengumbar ide menulis secara komprehensif tentang budaya satu daerah. Lincah dia mengurai bagaimana mendapatkan bahan, mengorganisasi isi, mencetak, kiat-kiat pemasaran sampai mencari sumber dana. Pokoknya hebatlah.
 
Suatu kali, didatangi seorang mantan pejabat yang berkeinginan menulis pengalamannya sembari merelasikan dengan kondisi objektif. Naga-naganya betul-betul tinggal menuangkan saja. Tapi, semua itu berakhir pada tingkat omongan. Lalu, hilang ditelan waktu. Tidak berbekas.

Menulis, Kenapa Khianat?
Tiga contoh sengaja dikedepankan sekadar untuk bahan renungan betapa banyak orang berkehendak menulis. Gagasan, bahan, peluang menerbitkan dan ‘menjual’ sudah terpetakan. Satu-satunya hal yang belum dilakukan menulis itu sendiri. Kalau demikian ceritanya, kalau Sampeyan juga berprilaku demikian, dipastikan akan mengalami nasib yang sama.
 
Anjuran saya tinggalkan pola demikian. Mari berpikir dengan ‘cara baru’, memulai dari hal-hal kecil dan sederhana. Tegasnya, sadari dulu siapa kita, ukur bayang-bayang diri. Cita-cita boleh setinggi langit, tapi ingat, kaki  jangan-jangan bertumpu di tanah nan labil. Bagaimana mungkin menulis hal-hal besar dengan sasaran besar kalau menulis yang sederhana saja belum fasih. Yang benar aja dong.
 
Saya mengawali menulis di diari atau catatan-catatan sederhana. Begitu menjadi mahasiswa di IKIP Padang, kini UNP, tahun 1976, oleh Pak Amir B, pada kuliah pertama Pengantar Antropologi diberi tugas membuat ringkasan buku Pengantar Antropologi Koenjaraningrat. Saya baca buku tersebut, meringkasnya dengan kreasi sendiri berdasarkan pemahaman isi buku. Alhamdulillah mendapat nilai A.
 
Membaca berarti memahami dan menulis ulang untuk tugas dengan bahasa sendiri. Rupanya hal itu melatih, bukan saja memengerti kandungan buku, tetapi sekaligus menulis. Artinya, memulai dari keperluan yang paling dibutuhkan. Maaf, ketika kuliah di Pascasarjana IKIP Bandung, pernah ‘tergelincir’  menolong tugas teman-teman.
 
Saya tidak ingat apa tulisan pertama di media cetak. Yang pasti ketika kuliah di Jogja, Anharuddin menulis tentang Asal-Usul Manusia, ikut-ikutan berpolemik yang kemudian dibukukan dua penerbit. Ketika Kredit Mahasiswa Indonesia (KMI) ramai dibicarakan, menulisnya, dan entah apalagi. Menulis hal sederhana sesuai pengetahuan dan  kemampuan. Tidak bermimpi seperti Max Weber, Pramudia Ananta Tour, atau Branislow Malanowski. 

Bukan apa-apa. Sadar saja keterbatasan diri. Saya masih ingat, setiap habis Jumat sering berkumpul di gang Sambu, Mrican, Jogya berdiskusi. Ketika Amien Rais pulang dari Amerika, ketika dia berdiskusi pikiran jadi terbuka. Apalagi Koentowijoyo. Pikiran jadi begitu terbuka. Saya sadar harus membaca banyak hal. Akibatnya, keinginan menulis semakin menjadi-jadi. Sayang bacaan belum mendukung.
 
Maksud saya, kita harus sadar keterbatasan diri. Obatnya membaca banyak buku, banyak hal. Apa saja. Menulis akan menjadi mudah. Kini, begitu ingin menulis sesuatu bahan-bahan seolah-olah telah tersedia. Setidaknya untuk merespon sesuatu lebih mudah. Bahkan, untuk menulis yang jauh dari pengetahuan dasar tidak masalah. Misalnya tentang perbankan. Baca bahan, dan tulisan jadi begitu saja. Sandi Firly, redaktur Radar Banjarmasin pernah ‘meledek’, Ersis penulis serba bisa.
 
Dalam pada itu, kalau bertekad menjadi penulis, jangan pernah berkhianat. Resep saya, dalam kondisi apa pun, membaca dan menulis adalah hal yang tidak mungkin ditinggalkan. Apalagi kalau diberikan pekerjaan yang berhubungan dengan tulis-menulis, wow semangat makin mengebu-ngebu.
 
Tip saya, sadarilah keterbatasan, jangan sok mengetahui segala hal. Jangan pernah bosan mendengar masukan atau  kritikan. Semua itu tidak akan mengurangi potensi dan kemampuan diri. Kecuali, ya kecuali, apabila Sampeyan jadikan untuk ‘bunuh diri’. Misalnya, memelihara kesal, sakit hati, sampai dengki. Biarkan deraan sedemikian berlalu, jangan pernah dipikir. Sebaliknya, latih dan latih  kemampuan menulis. Belajar dan terus belajar, latihan dan terus berlatih, menulis dan terus menulis, agar lebih baik. Jadi, ambil sikap positif dari tindakan negatif orang.
 
Menikmati Kekurangan
Kenapa saya selalu menganjurkan melatih menulis dengan menulis, belajar menulis dengan menulis, dan selalu menulis? Ingat pesan orang tua ketika masih kecil, fasih jalan karena ditempuh. Cerminan pengakuan kekurangan. Sadar akan kekurangan itulah yang menolong.
 
Coba kalau merasa hebat atau memiliki semua hal, lalu bagaimana akan menggenjot semangat. Hidup ini untuk berbuat, bukan sekadar bermimpiatau berkehendak saja. Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit,  kata pepatah.
 
Kalau semua hal telah terpenuhi, atau kita merasa hebat, lalu apa yang akan diraih? Hidup akan jadi enak manakala berjuang untuk memenuhi kehidupan. Ibarat lomba lari, apabila lambat berlari jangan memulai sama dengan orang yang larinya cepat. Apabila ingin sampai di suatu tempat pukul 10, orang lain mungkin berangkat pukul 9, kita yang berlari sedang-sedang saja, mulailah pukul8. Insya Allah tidak akan ketinggalan sampai di tujuan.
 
Sebaliknya, jangan menjadi orang dungu. Sudah jelas kemampuan terbatas, mengapa pula memaksa diri seola-olah hebat. Sadari saja dan kuatkan tekad, lakukan latihan lebih keras agar kemampuan terasah. Hidup bukan untuk orang pemalas, atau malas-malasan. Hidup adalah perjuangan, milik para pejuang tangguh.
 
Dalam hal menulis sama saja. Siapa sih yang dilahirkan dengan pakaian lengkap? Semua telanjang. Kita belajar berpakaian, memilih pakaian, terus mencari bagaimana agar dapat membeli pakaian. Tidak masuk akal langsung jadi dan menjadi. Bukankah hidup ini ada tahap-tahapannya? Lalui saja secara normal sembari belajar memicu dan memacunya. Kalau kemampuan sudah mencukupi bolehlah melakukan manuver atau jalan cepat.
 
Ingat, wahai Saudaraku. Dulu betapa sulitnya ketika guru mengajarkan mengeja huruf a sampai z. Dua puluh enam huruf itu kini sudah kita ‘miliki’. Dari 26 itu berkesempatan membuat kata, paragraf, kalimat, sesuka kita. Jangankan kata, berjuta buku bisa ditulis hanya dengan 26 huruf. Siapa pun Sampeyan bisa mengutak-atik huruf sesukanya untuk berkereasi, mengemukakan apa yang hendak dikemukakan. 
Huruf tercipta untuk dimanfaatkan, sesuai kemauan manusia, tidak terbatas. Tinggal bagaimana kemampuan merakitnya. Itulah menulis.

Menulis  akan menjadi berkembang dan bermakna kalau dilatih. Latihannya, ya dengan menulis, dan terus menulis. Begitu mudahnya. Tidak diperlukan modal lain lagi. Mudah, sangat mudah.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?

Post a Comment