2.2 Mengakui Kebodohan Menuliskan Gagasan

28 January 2007 | Ditulis oleh: |

Menulis tentang apa dan bagaimana caranya sebenarnya tidak terlalu penting dalam kaitan menulis, belajar menulis. Paling utama menulis itu sendiri dengan hasil berupa tulisan. Sekali lagi, yang penting hasil menulis berupa tulisan. Bagaimana proses atau pun akibat setelah tulisan menjadi, itu soal lain. Lain ranahnya.Saya sengaja mengemukakannya karena banyak orang berpikir berlarut-larut akan menulis apa dan bagaimana caranya. Di pikiran bergayut skenario bagaimana setelah tulisan menjadi, akan dikirim ke media mana, pantaskan menjadi buku, bagaimana tanggapan membaca, dan seterusnya. Kalau ‘permainan’ kalkulasi otak tidak masuk, keinginan menulis layu sebelum berkembang.

Ringkasnya begini. Kalau ada ide, ada gagasan, tulis habis perkara. Setiap saat, pada setiap helaan nafas, pada ayun langkah, pada respon terhadap material, pada fenomema, atau pada relasi dengan dunia di luar diri, pasti ada respon yang bagaimanapun prosesnya, menjadikan kita berpikir. Nah, yang terpikirkan itu ditulis. Mudahkan?
 
Kebiasaan buruk penulis (pemula), titik perhatian bukan pada tindakan menulis. Tetapi, ke luar hal-hal intinya. Misalnya, seperti yang di kemukakan terdahulu. Akibatnya, berbagai pertimbangan, kalaulah tidak dapat dikatakan takut dan ketakutan, segera bergabung. Akhirnya menulis tergelincir menjadi angan-angan belaka.
 
Lawan cara berpikir demikian. Tulis apa yang dipikirkan dan terpikirkan. Setelah menjadi tulisan, baru koreksi, timbang pantas apa tidak dilepas ke wilayah publik, diskusikan, atau kalau tidak percaya diri bolehlah minta saran ahli atau penulis senior (saya tidak menganjurkan sama sekali).
 
Jangan jadi orang bodoh. Selalu mengikuti anjuran ahli teori; harus jelas kepada siapa sasaran tulisan, kalangan mana, dengan metode begini-begitu, bahasa begini-begitu, dan seterusnya. Hasilnya apakah selama ini Sampeyan kreatif?

Membuang-Buang Energi
Resep saya, tulis dulu. Percayalah. Ini pengalaman pribadi. Jangankan kalau berhasil di lempar ke wilayah publik, dibaca sendiri bisa menimbulkan gelegar sensasional, membuat jiwa berbunga-bunga, bangga, percaya diri. Sediakan waktu khusus untuk menikmati, meimbang-nimbang sembari memperbaiki. Dalam kondisi demikian kita belajar menulis, memperbaiki tulisan dengan menulis, dan menulis.
 
Intinya, tulis dulu. Tinggalkan kebiasaan diskusi, baik dengan diri sendiri, apalagi orang lain. Kita yang punya ide kita yang menulis. Ide ada di kepala. Apabila diomongkan atau didiskusikan bukankah sama dengan menulis itu sendiri. Ngapain menghabis-habiskan energi membicarakan dengan orang lain. Dasar bodoh.
 
Setelah menyadari ‘kebodohan’ demikian saya tidak mau mendiskusikan apa yang akan ditulis. Ada ide tulis. Files komputer berisi ide-ide tertulis bukan yang terpikirkan. Saya terbebas dari dongeng menulis yang baik dengan mendapatkan cara menulis sendiri. Buktinya, tulisan mengalir lancar, mudah, mudah sekali menulis, bo. Pelan tapi pasti akhirnya menjadi habit.
 
Maaf sekali lagi, setelah berkali-kali, saya ingatkan. Kita dibekali otak dengan seperangkat pendukung berkapasitas tidak terhingga. Bayangkan, otak kita seberat 1,5 kg didukung satu trilun sel neuron, 100 miliar sel aktif, 900 miliar sel pendukung. Setiap sel bisa berkoneksi 20.000. Hingga, dikatakan setiap manusia born to be a genius. Ya, manusia Si Manusia Genius.
 
Menggunakan otak untuk menulis ternyata tidak sulit-sulit amat. Sarana pokoknya sangat ringan, yaitu 26 huruf, a-z,  dan 10 angka, 0-9. Dari dua puluh enam huruf yang paling banyak digunakan hanya beberapa huruf. Tinggal, kreasi mengagbungkan huruf menjadi kata, menggabungkan kata jadi kalimat, dan seterusnya, jadilah tulisan. Kita punya kapasitas kemampuan tak terbatas yang dalam kaitan menulis tinggal memilih beberapa huruf untuk dikreasii. Mudah kan?
 
Sadar atau tidak, kita tidak jeli melatih diri menggabung-gabungkan huruf yang sedikit itu. Tidak sadar, komunikasi dijalin, buku ditulis dengan beberapa huruf saja. Tidak rumit. Soal setiap kata, setiap term mengandung konsep, pastilah itu. Sejatinya, dunia kita bukanlah dunia nyata, tetapi dunia konsep. Konsep bersarang di kepala.
 
Itu pulalah sebabnya, kita harus membaca sebanyak mungkin. Membaca buku, membaca alam, membaca tanda-tanda kebesaran Allah. Kesemuanya itu akan terekam di memori otak dalam bentuk konsep. Konsep-konsep itulah yang saling dikoneksikan dalam bentuk baru menjadi kata. Kata menjadi kalimat, dan seterusnya menjadi tulisan.
 
Maaf, saya bukan memberi kuliah logika atau filsafat, tetapi mari kita renungkan cara berpikir selama ini. Kehidupan sebaiknya didayung atas prinsip the life is change, change in progress. Kemajuan digapai melalui proses kreatif, inovasi. Bukan meniru apa yang telah berlalu. Kata pepatah, no new under the sun. Artinya, kalau memanah kemajuan harus selalu melakukan inovasi. Apa kaitannya dengan menulis?
 
Menulis pada hakikatnya adalah kegiatan inovasi, dilakukan para inovator. Betapa tidak. Setiap rangkaian kata tercipta dari pikiran penulis adalah hal baru, mengandung makna baru. Bukankah hal-hal sedemikian terkategori discovery, atau malahan invention? Kalau tidak, kalau meniru makna konsep (memang ada yang aksiomatik, dogmatik, dan sebagainya) apalagi sama persis, namanya menjiplak. Penulis adalah pencipta. Hebat?
 
Terserah Sampeyan. Tulisan bagian ini terkesan mensimplifikasikan hal hakiki, ya terserah. Maksud saya untuk memotivasi agar tersadar bahwa semua kita berpotensi menjadi penulis, menulis apa saja. Untuk itu enyahkan dongeng-dongeng tentang susahnya menulis. Menulis adalah pekerjaan individual yang dilakukan oleh otak sendiri, bukan otak orang lain.
 
Anjuran saya, carilah metode baru dalam menulis sesuai ‘diri’ sendiri. Jadikan dasar-dasar milik melekat, tersimpan di memori, apabila dipanggil di layar otak untuk dipindahkan ke layar komputer dia siap dimanfaatkan. Jangan, sekali-kali jangan, mengoperasikan komputer bersamaan dengan menginstalnya. Bisa hang, bo.
 
Menulis sebagai kelanjutan membaca pada hakikatnya adalah kegiatan mencari hal-hal baru, mencari yang belum kita ketahui. Buat apa mencari yang sudah ada, iya kalo? Pada proses mengolah pikir, yang sebenarnya otomatis, di situlah kita merajut formula-formula baru, hal-hal baru. Hasil proses yang terjadi di otak itulah yang dituliskan. Artinya, hal tersebut pekerjaan biasa-biasa saja bagi otak. Biasa kita lakukan sehari-hari, tanpa memandang tempat dan waktu.
 
Jadi, kalau Sampeyan yakin masih punya otak, mampu berpikir, kalau ingin menulis, menjadi hal sangat mudah. Kecuali, Sampeyan tidak punya otak, tidak mampu berpikir, ya tidak usah menjadi penulis. Bahaya bo kalau orang berpikirnya tidak jelas, majnun, menjadi penulis, he … he … Kalau Sampeyan pasti waras. Buktinya membaca buku hebat ini.
 
Mengakhiri bagian ini, camkan kata-kata berikut. Tindakan bodoh atau cerdas adalah pilihan masing-masing. Mari kita telusuri tindakan bodoh dan kebodohan diri untuk ‘diobati’ guna diambil manfaatnya, baik untuk pribadi maupun khalayak. Kita orang cerdas, kog. Tanya kenapa?
 
Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. One Response to “2.2 Mengakui Kebodohan Menuliskan Gagasan”

  2. By ispriyahadi on Feb 22, 2008 | Reply

    Tulisan Bung Ersis ini betul-betul menjadi mesin motivator yang dasyat. Benar apa yang dikatakan bung Ersis, hambatan menulis berada pada diri kita. Takut tulisan tidak bermutu, tidak nyambung, nggak jelas, tidak punya alur yang runtut, dangkal analisis, alasan-alasan ini yang jadi tembok penghalang. Semangat menggebu untuk menulis luruh begitu aja karena ketakutan-ketakutan seperti. Saat sudah di hadapan komputer otak menjadi macet karena ekspektasi kita untuk menghasilkan tulisan-tulisan yang hebat. Bahkan satu alinea pun tak selesai.
    Setelah membaca tulisan Bung Ersis, saya terus terang jadi termontovasi bahwa sebenarnya untuk jadi penulis yang kondang. ya dimulai dari menulis. Tidak peduli, apapun masalah yang ingin kita tulis, tulis aja. Baru nanti diperbaiki sesuai dengan format yang kita inginkan.
    Setuju,…bung atas resepnya. Mulai sekarang saya akan menulis dan menulis apapun tema yang akan saya tulis.

    Satu hal lagi untuk menulis ya harus didukung dengan banyak membaca. Tentu seperti anjuran Bung Ersis, saya juga akan memperbanyak bahan bacaan. Apapun judul buku, surat kabar, majalah. Yang terpenting adalah memperkaya horison cakrawala berpikir kita. Saya yakin dan percaya, bekal rajin membaca menjadi peluru yang berharga bagi seorang penulis.

    Terima kasih Bang Ersis.

    ***Wow gembiranya saya membaca komen ini … ya … jadikan membaca peluru menulis.

Post a Comment