2.1 Menulis Kata Melumat Takut
28 January 2007 | Ditulis oleh:BAB II
MEMAHAMI DIRI MENULIS JIWA
2.1 Menulis Kata Melumat Takut
Takut dan ketakutan, seperti juga berani dan keberanian, adalah bagian ‘diri’ sesorang. Tidak ada orang yang tidak mempunyai rasa takut, betapa pun kecilnya. Rasa takut dan ketakutan adalah hal wajar. Pertanda kita masih manusia. Yang perlu dihindarkan adalah takut dan ketakutan yang berlebihan, yang tidak berdasar. Takut dan ketakutan sangat tidak kontributif dalam menulis.
Betapa tidak. Banyak orang gagal menulis karena takut. Takut pada diri sendiri, atau ketakutan tulisan ‘direspon’. Harap maklum, sekali pun kita hidup di era keterbukaan infomasi, ada saja ‘orang berkuasa’ yang menakut-nakuti dan menakutkan. Kog masih ada orang yang berpikir, ditakuti penting agar terlihat berkuasa. Ih … serem deh. Takut Ketahuan ‘Jeroan’
Suatu kali, seorang yang suka mengomentari tulisan saya di media cetak berkata ketus-ketus lembut: “Aku suka membaca tulisan Anda. Tapi, tolong pilihan diksinya dipertajam agar lebih terkesan serius”. Lalu, kami terlibat diskusi tentang menulis. Kawan yang satu ini, dengan pilihan kata-kata menggurui terkesan hebat amat.
Karena bicaranya sudah pongah, saya bertanya: “Kenapa yang dianjurkan tidak ditulis sendiri. Kalau sudah ditulis nanti saya tiru. Kemampuan menulis saya, ya segitu-gitunya. Tapi, suka baca tulisan saya kan?”. Diskusi terhenti ketika dari mulut saya keluar kata-kata: “Saya jadi curiga. Banyak orang berilmu, menguasai beragam teori, justru takut menulis. Sebab akan ketahuan, akan kelihatan ‘jeroan’ sesungguhnya”.
Tiba-tiba Si Kawan pamit karena ada acara lain. Bisa dimaklumi. Kalau kita berteori, bicara, omong doang, semua hal terasa gampang, dan begitu selesai hilang ditelan ruang. Kalau menulis akan kelihatan dan tidak bisa berkelit, sebenarnya pintar atau sejatinya bodohkah akan ketahuan.
Saya pernah bertanya pada dosen. “Sampeyan mendosen puluhan tahun, puluhan buku teks hafal dengan segudang teori, kenapa tidak dibukukan?”, tanya saya kagum, bukan bermaksud menghina. Rupanya dia tersinggung. Saya minta maaf.
Setelah menjadi dosen baru paham. Banyak alasan dapat dijadikan penyebab untuk tidak menulis. Pikiran bergayut nun jauh di ranah ideal, pada hal-hal sempurna, sementara kemampuan Senin-Kamis. Bagaimana mau menulis untuk dibaca publik, wong diri sendiri malu membacanya. Ah … lebih baik jadi komentator, kritikus. Tidak menulis, tetapi bisa bergaya seolah-olah menjadi orang terhebat di dunia.
Jujur saja, saya masih jahiliyah menulis. Angan menggoda menjadi penulis bagus, tapi apa daya kemampuan terbatas. Karena itu belajar menulis dengan menulis. Melatih diri, mendenda jiwa agar sadar, ‘kemampuanmu seujung jari’. Menulis adalah samudera tak bertepi. Jadi, melawan diri, melawan takut akan kekurangan diri. Melawan takut menulis dengan menulis, menulis kata, merangkai kata-kata melumat takut. Menulis urusan pribadi. Itu yang pertama.
Takut Dihajar Kritikus
Kalau Sampeyan berhasil melawan ketakutan pada diri sendiri, telah menghadang takut yang tidak kalah ganas. Takut dikritik, dihina, dilecehkan, dan saudara-saudaranya. Ada kritikus yang hobi ‘menghajar’ karya orang, tidak tanggung-tanggung, kalau perlu ‘bunuh’. Tulisan dan penulisnya sekalian. Bersyukurlah kalau dikritik oleh kritikus berpikir konstruktif. Sampeyan dapat mengambil manfaat.
Sekalipun begitu, karena saya suka memakai logika terbalik, kritikus desktruktif dimanfaatkan menjadi konstruktif. Peduli amat dengan kritiknya, yang penting menulis, selalu memperbaiki karya tulis. Jadikan pemotivasi, habis perkara. Ada satu kunci, kalau konsisten menulis, karya akan terus mengalir. Kalau perlu perbanyak orang seperti itu agar kita lebih terpacu menulis. Biarkan dia sibuk dengan kritiknya.
Menurut hemat saya, siapa saja, apa pun isi kepala dan niat seseorang, dia pantas mendapat tempat. Iblis saja dibiarkan hidup oleh Allah SWT, apalagi pengkritik. Yang penting, dari kondisi dan situasi seburuk apa pun, selalu tersedia hikmah. Kalau mau menjadi penulis, jangan sekali-kali abai menulis.
Dengan kata lain, takut akan kekurangan diri jangan sampai berbuah minderhight complex (MC). Sadar akan kekurangan diri merupakan langkah awal untuk mengimbuhnya, menjadi lebih baik. Obat mujarabnya, dalam kaitan menulis, ya menulis dan menulis, terus menulis. Dalam menulis dan menulis itulah sesungguhnya kita belajar. Insya Allah, lama-lama menjadi baik.
Resep menjauhi takut dari respon-respon tulisan dengan memahami, siapa saja berhak berpendapat. Adalah keliru besar jika berharap apa yang ditulis diamini, disetujui, dihargai, atau dipuji semua orang. Edan opo. Biarlah angin berhembus mengaluri iramanya, menulis tidak memerlukan angin lembut maupun puting beliung. Bilik rindu menulis adalah istana pelajar.
Ungkapan Sunda, kumaha engke wae terkadang perlu diterapkan agar kemauan menulis tetap terjaga. Lumatkan takut menulis dengan menulis. Apabila takut diterjang peluru berdirilah di belakang senjata. Napoleon Bonaparte konon lebih takut kepada penulis daripada senjata. Benar atau tidak, apa urusan kita. Mari kita lumat ketakutan dengan menulis.
Bagaimana Menurut Sampeyan?













5 Responses to “2.1 Menulis Kata Melumat Takut”
By riza on May 25, 2007 | Reply
Selama kita yakin kita benar, kenapa harus takut? klo tidak ada yang mengkritik, kapan kita bisa tahu kalau yang kita anggap benar adalah salah, atau yang sebaliknya. Tapi… emang sih kadang ‘Takut Ketahuan ‘Jeroan’’ :p . Mana ada orang yg suka dunia privatnya diusik. Cuma… ya… tetep nulis ajalah
By Death Berry Ille-Bellisima on May 25, 2007 | Reply
“Hanya orang bodohlah yang tidak takut apapun. Karena dia tidak mengetahui resiko dan ketakutan di dalamnya.”
Justru karena pesan inilah saya mampu menulis tanpa rasa takut.
By -tikabanget- on Jun 7, 2007 | Reply
wah.. ^^
meneduhkan sekali..
By mc on Jun 19, 2008 | Reply
Menulis adalah salah satu sarana untuk mengenal diri kita lebih baik. Dengan menulis, kita bercakap-cakap dengan pribadi sendiri. Lebih baik lagi jika brolan tadi memberi manfaat bagi yang dengar (pembaca), seperti posting di atas. Terima kasih buat tulisannya:)
***Menulis dari dalm diri, berarti menyelami diri untuk luaran, ya lebih mengenal diri.