3.4 Nikmatnya Tidak Diakui

28 January 2007 | Ditulis oleh: |

Motif atau tujuan seseorang menulis, tentu saja bermacam-macam. Di kampus, terutama di kalangan dosen, satu (bukan salah satu lho, memangnya salah apa?) di antaranya, apabila dimuat di media cetak dimaksudkan untuk mendapatkan poin angka kredit kenaikan pangkat.  
Konon, maklum saya jarang naik pangkat, bahkan yang terakhir setelah 11 tahun, tulisan di jurnal terakreditasi dinilai 25, di jurnal tidakterakreditasi 5, di media cetak 1. Bandingkan dengan penelitian yang sangat rumit, hanya dihargai 2,5. Ketika naik pangkat ke golongan IVabutuh kredit 100. Sebagai tenaga edukatif, baik bidang pengajaran, penelitian, pengabdian pada masyarakat maupun kegiatan lainnya, tidak kurang-kurang.Hanya saja, malas mengurusnya. Malas bukan karena orang lain tapi diri sendiri. Seorang rekan dosen, mantan mahasiswa saya, sebut saja Syaharuddin, nampaknya iba pangkat saya jalan di tempat. Normalnya sudah golongan IVd atau IVe alias profesor. Kasihanlah dia. 
Lalu dikumpulkannya karya dan tugas-tugas akademik saya. Yang membuat dia terperangah ada lebih 200 artikel di media cetak, 100 lebih kredit pengajaran, 2 tulisan di jurnal terakreditasi, 12 buku, dan puluhan kegiatan lainnya. Kalau semuanya diajukan, dinilai, dan kemudian diakui, cukup untuk diusulkan guna meraih pangkat IVa sembari loncat fungsional setara IVb. Hebat kan?
Tetapi kenyataan berbicara lain yang mengakibatkan diolok-olok teman.

Tidak satu pun artikel di media cetak yang diakui. Padahal teman yang maulu-ulu tulisannya diakui semua. Oh ya, ketika awal menulis tulisannya sering mita dikoreksikan. Lebih hebat lagi, sebagai editor beberapa buku bersama teman-teman, kalau tulisan mereka di buku tersebut dihargai 5 kredit, saya yang membidani justru tidak medapatkannya alias tidak diakui. Karya sastra malahan dilirik pun tidak. Tidak cocok dengan disiplin keilmuan, kali ya.
 
Pendek kisah, naik pangkat satu tingkat. Pertanyaannya, putus asakah saya? Saudara-saudara sekalian, sekalipun berperilaku seolah-olah resah, sebenarnya sudah mengambil kesimpulan lain yang jauh dari pikiran banyak orang. Apa itu?

Menulis, Menulis Buku
Ketika menulis tak ada betikan di otak akan digunakan untuk naik pangkat. Saya terbiasa bekerja, meneliti, atau menulis, ya karena meneliti dan menulis. Kalau hal itu diakui sebagai kredit poin untuk naik pangkat, Alhamdulillah. Bonus namanya. Jadi, tidak terbebani dengan segala tetek-bengek kenaikan pangkat. Ketika tidak diakui, ya biar saja. Semangat menulis bukannya runtuh, malahan makin bergelora. Seorang teman mencandai: “Ngapain menulis toh tidak diakui jua”. Saya senyum simpul saja. Tidak perlu ditandaskan lagi, menulis ya karena ingin menulis. Titik.

Bagi saya, begitu apa-apa yang ada di kepala tercurah, merasa plong. Itu suatu hal yang luar biasa. Membaca, mengamati, atau pikiran yang ‘bermain’ di kepala tersalurkan nikmat rasanya. Kata orang sih katarsis namanya. 

Saya tidak terlalu peduli dengan teori psikologi dalam kaitan ini, sebab setelah menulis apa-apa yang terpikirkan tersalurkan. Otak jadi fresh. Mungkin ini satu jalan bagi penyelamatan pikiran dari stres, gratis dan tidak terteori macam-macam. Degan demikian, tidak jenuh membaca, mendengar, atau memperhatikan fenomena. Begitu masuk ke otak, terproses, tulis, legaaaaaaaaaa. Lagi pula, saya menulis memakai metode tanpa teori, mengalir begitu saja. Apa yang hendak ditulis, ya tertulis, mengalir bak air bah dari kepala ke jari yang menekan tuts komputer, pante rae. Hasilnya jelek? Kata siapa? 

Ambil misal, tulisan saya di media cetak tentang ESQ dikumpulkan menjadi buku Nyaman Memahmi ESQ, belum dicetak dan dijual telah ‘dibeli’ erlebih dahulu oleh beberapa kawan kira-kira seharga satu city car. Buku Menulis Sangat Mudah, setelah diterbitkan penerbit Mata Khatulistiwa, dicetak lagi  3.000 eksemplar karena langsung dipesan pihak distributor. Kontrak perjanjian ditandatangani tanpa dibaca detail. Sebab, bagi saya hal tersebut adalah bonus belaka.

Mudah-mudahan penerbitnya jujur. Dapat bonus saja sudah melebihi tujuan awal penulisan. Sudah begitu kog cerewet. Lebih penting dari itu, kemahiran menulis semakin terasa. Ide-ide mengalir tanpa diundang, koneksi dan relasi berbagai entry behavior di kepala terjalin menjadi tulisan. Mana tahu kelak mampu menulis lebih piawai dan diakui untuk segala keperluan. Kalau sekarang, lebih tertarik menulis populer ketimbang akademik. Itu jalan pilihan, bukan soal mampu atau tidak menulis akademik. Jenjang pendidikan tempuhan S2 adalah buktinya. Saya kan bukan pembeli gelar. Enteng saja.
 
Intinya, jangan pernah merasa rendah diri, panik, atau hamuk tulisan tidak diakui. Penilaian itu berdasarkan kebutuhan tertentu, dan sang penilai punya kriteria tertentu atau pemahaman tertentu untuk sesuatu. Dus, mengapa pula memasuki wilayah yang bukan hunian kita. Lebih positif gencar melakukan hal yang kita yakini. Tul nggak?
 
Betul atau tidak, berdasarkan penalaran demikian tulisan semakin mengalir. Tahun ini Saudara-saudara, 2007, memasang target gila-gilaan, menerbitkan 20 buku, apa pun bentuknya. Buku yang Sampeyan baca ini, ditarget dalam seminggu menjadi buku. Soal tercapai atau tidak, soal lain lagi. Paling-paling ‘jatuh’  ke angka 10-15. Tahun 2006 sebanyak itu buku yang berhasil ditulis.

Menulis, Mari Menulis
Menulis, sekali lagi, bukanlah menyangkut dengan kebutuhan di luar diri. Dasar pijak paling baik dari dalam diri sendiri. Artinya, menulis karena memang mau dan manpu menulis. Mendapatkan popularitas, keuntungan finansial, penghargaan, kenaikan pangkat, pujian atau cacian adalah akibat belaka dari tulisan. Bukan intinya.
 
Jadi, kita harus pandai memilah motif. Bisa saja dimulai karena ingin mendapatkan uang, ingin naik pangkat, ingin populer, dan seterusnya, tetapi lebih dianjurkan menulislah karena memang berkehendak menulis. Hal-hal terpapar sebagai pantulan kehendak, anggap saja dampak dari menulis. Dus, tidak akan ada beban manakala tulisan tidak mencapai sasaran.
 
Menurut pengamatan saya, banyak orang kecewa mendaki karir sebagai penulis karena memasang target tertentu. Hal tersebut wajar saja. Tapi, jangan sampai karena target tidak tercapai berakibat kecewa di hati. Kalau demikian yang akan rugi, ya siapa lagi kalau bukan kita sendiri. Bak kata pepatah (ciptaan belokan saya): gayutkan cita-cita ke ruang angkasa namun bila kamu sadar masih hidup di bumi,  pertanda kamu masih waras.
 
Akhirnya, marilah menulis karena menulis akan membebaskan diri dari berbagai kerumitan berbagai pikiran yang bergelora di otak. Lupakan ragam kekecewaan pengalaman menulis secepat dia datang. Biarlah menjadi kenangan yang dilupakan.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?

 

Post a Comment