1.1 Menulis Belajarlah Bak Sholat
28 January 2007 | Ditulis oleh:BAB I:
MERAIH HIDAYAH BUAH HIKMAH
1.1 Menulis Belajarlah Bak Sholat
Wahai para pembaca sekalian. Saya haqul yaqin, Sampeyan membaca buku ini pastilah karena sangat berkeinginan menulis. Bukan tidak ungkin, libido sangat tinggi, bahkan telah memuncak ke ubun-ubun. Berbagai usaha dan upaya telah dicoba dan dilakukan, tetapi serasa ada ganjalan, menulis kog susah dan menyusahkan.Membaca buku ini, yakini seyakinnya, pengendala akan hilang ke ruang tak bertepi. Hambatan, ganjalan, rasa takut, minder, menyalahkan diri, atau apa pun namanya, tidak akan berbekas lagi. Akan diraih penyadaran, menulis sangat mudah, mudah dan memudahkan. Menulis tak lebih bak ‘bersenda gurau’ belaka. Begitu entengnya, begitu mudahnya. Sampeyan telah memilih buku yang tepat untuk dibaca. Selamat.
Saya berharap Sampeyan telah membaca buku Menulis Sangat Mudah, terbitan Mata Khatuliswa, Desember 2006 yang pada Januari 2007 dicetak ulang. Begitu cepatnya respon positif masuk. Buku Menulis Mari Menulis ditulis dalam tujuh hari. Sekali lagi, dalam tujuh hari. Bukankah pertanda menulis sangat mudah?
Keinginan menulis adalah modal menulis. Sejak SD sudah belajar tata bahasa, disadari atau bukan, pengetahuan dan pengalaman sudah numpuk di benak, lalu apa yang menjadi kendala. Hayo, apa lagi? Syarat-syarat untuk menulis sudah dipunyai, namun kenapa menulis terpahami bak jihad fisabilillah?
Kuncinya adalah ketidakpercayaan diri, tidak yakin dengan kemampuan. Padahal, sejatinya lebih dari mampu. Coba ingat-ingat ketika menulis surat cinta semasa remaja, surat-surat ‘cinta monyet’. Baca dan baca ulang, Sampeyan akan terkagum-kagum, betapa indah rangkaian kata-katanya. Itu ketika ingusan. Logikanya, apalagi ketika segala sesuatu telah jauh berkembang maju. Lalu apa rahasianya? Semasa ‘ingusan’, menuliskannya. Sekarang? Tidak melakukan. Sekalipun demikian, ada yang lebih penting dari itu. Apa itu?
Semasa ‘cinta monyet’ ada gelora kemauan besar menampakkan diri kepada calon pacar, ‘Oi, saya mencintaimu teramat sangat yang terefleksi dalam kata-kata indah surat ini’, kira -kira begitu. Berbalas kata-kata nan tersusun indah adalah dunia renyah menawan korespondensi berpacaran era belia. Tidak ada yang ditakuti. Tidak takut salah, tidak takut salah kata, tidak takut salah konsep, tidak takut akan ditertawakan. Hanya ada satu tekad, menulis sebagus mungkin demi menundukkan Si Dia. Kini?
Setelah belajar tata bahasa lebih dalam, teori menulis dari beragam sumber, nasihat guru tentang menulis yang bagus itu begini-begitu, ujaran ahli bahasa tentang struktur dan filsafat pemikiran, apa yang terjadi? Takut, takut, dan takut. Diri seolah-olah dikurung ancaman berbagai hal ‘aturan’ menulis yang benar.
Lucunya, para penasihat itu, mereka yang mengaku ahli dan jago teori, adakalanya tidak produktif. Ada yang sampai mati tidak menulis satu buku pun. Orang cerdaskah Sampeyan manakala berhasil ditakut-takuti oleh orang yang penakut menulis? Jangan-jangan Si Raja Teori menyebarkan virus ketidakmampuan. Kira-kira dia takut tidak punya teman di akhirat nanti.
Keinginan menulis adalah modal dan takut musuhnya. Bebaskan diri dari belenggu-belenggu takut. Kalau tidak berani melawan ketakutan diri, tidak usah melanjutkan membaca buku ini. Saya menulis bukanlah untuk orang semacam itu. Buku ini dirancang khusus agar Sampeyan berani menulis, bukan sekadar ingin menulis.
Gurui Diri Sendiri
Kalau boleh memberi nasihat, Sampeyan tidak usah lagi menambah ilmu menulis, belajar tata bahasa, membuka kamus mengeja kosakata, mempelajari gramatika, sosiolinguistik, sampai herneutika dan semantik. Tidak berguna?
Bukan di situ pokok soalnya. Persoalannya, apabila ingin mengasah kemampuan menulis, caranya dengan menulis, bukan belajar teori bahasa atau teori menulis. Jangan sampai, kepala gatal yang digaruk pantat. Belajar tata bahasa dan aturan kebahasaan ‘sebelum’ atau ‘sesudah’ menulis. Kini ketika memasuki wilayah menulis, akan menjadi hal melekat. Jangan sok tau, sok pintar. Kalau belum terbiasa dengan dual core, cukup bekerja mono core saja. Jadi, kalau mau menulis, menulis saja.
Sekali lagi, kalau mau menulis menulis saja. Pengalaman menunjukkan, untuk menulis cukup pengetahuan bahasa yang dipelajari di SD. Berbekal ‘ilmu’ SD banyak orang punya kemampuan menulis luar biasa. Sebaliknya, banyak sarjana, magister, bahkan doktor yang profesor, mengaku ahli bahasa pula, tidak piawai menulis. Tidak produktif menulis, karyanya uyuh, payah. Apa sebab?
Ahli tidak harus menjadi penulis. Sarjana, magister, doktor yang profesor kan tidak diwajibkan menjadi penulis. Tetapi, mereka pasti tahulah perihal teori, namanya saja ahli teori. Sampeyan berkeinginan menjadi penulis, bukan menjadi ahli teori atau ahli bahasa to. Jangan pula menyoal kenapa mereka tidak produktif. Ahli teori dengan penulis, apa hubungannya? Wilayah jelajahnya berbeda. Idealnya yang ahli teori produktif menulis agar dapat dicontoh. Tapi, kita bukan bicara soal ideal atau tidak, kita bicara tentang menulis.
Karena itu, biasakan menulis. Latih kemampuan menulis dengan menulis, menulis dan menulis again. Ketika belajar tertawa, berdiri, bicara, dan seterusnya memangnya ada guru khusus, guru ahli? Yang ada, mama, papa, kakek-nenek, kakak dan atau saudara yang menuntun.
Pelajar adalah kita, diri sendiri. Perhatikan anak-anak autis yang membuat hiba, merenggut empati, dibimbing ahli paling hebat sekalipun, tidak mudah ‘memulihkan’ kemampuan. Perlu perjuangan Si Anak. Menulis pun demikian, bergaul hari-hari dengan ahli-ahli teori, sekalipun ada, tidak berkorelasi signifikans dengan menjadi penulis. Yang menjadikan berkemampuan, diri sendiri.
Intinya, kemampuan menulis didapat dari latihan terus-menerus, bukan terus-menerus belajar teori menulis. Tepatnya, menulis dan menulis. Keliru besar, berkeinginan menulis dengan terus-menerus belajar teori.
Ada ahli teori, kemampuan menulisnya memalukan. Kalau begitu … gunakan ahli-ahli untuk ‘memperbaiki’ karya kita. Kita semakin terampil menulis mereka makin hebat dengan ilmunya. Bedanya, hasil karya kita nyata, mereka berteori.
Menunaikan Sholat, Menulislah
Terus terang, sebagai Muslim, saya belumlah pesholat yang baik. Paham manfaat dan mudharatnya, pastilah. Belajar agama dari ingusan, telah selalu berniat dengan berbagai cara. Ada apa sebenarnya?
Kata seorang teman setelah berdiskusi, belum diberi karunia, belum mendapat hidayah Allah SWT. Wah … gawat nih cara berpikir kawan. Sementara dia tertib dan khusuk. Rindu menyelinap di bilik dada meniru Sang Kawan.Lalu, mulai mentransfer hidayah menulis. Menulis adalah habit yang didapat dari latihan terus-menerus. Sang Kawan kalau terlambat sholat dirudung resah, saya kalau tidak membaca dan menulis sumpek. Oh, inilah hidayah. Sang Kawan dihidayai sholat, saya kemampuan menulis. Ada ‘pesan besar’ di dalamnya. Alhamdulillah.
Kini, tengah malam ketika rehat menulis, mulai sholat malam. Sebelum dan sesudah menulis membiasakan sholat, berusaha sholat sesuai waktu. Ternyata, rahasia sholat bukan hanya dengan belajar tentang sholat, tetapi terlebih dengan melakukan. Ya Allah, tanamkan sholat di qalbu hamba sebagai kebutuhan utama dalam menghadap-MU, habit pelekat jalan kehidupan. Kabulkan Ya Rabb.
Menulis, seperti sholat, tidak cukup dengan dipelajari saja, afdhol dengan melakukan.
Bagaimana menurut Sampeyan?










One Response to “1.1 Menulis Belajarlah Bak Sholat”
By winerwin on Feb 11, 2007 | Reply
wah, sangat menarik!
jadi ingin mencari buku anda, apakah tersedia di toko buku gramedia atau gunung agung?