Inovasi, Transparansi, dan IT
6 January 2007 | Ditulis oleh:BUKU The Google Story (2005) karya David A. Vise dan Mark Malseed sungguh menghentak bagaimana inovasi dipraktekkan dalam (persaingan) kemajuan. Setidaknya memberi keyakinan, minimal dalam tataran pemikiran, pemimpin inovatif tidak lahir dari proses pemilihan. Pemimpin kreatif-inovatif lahir dari diri Sang Pemimpin.
Tersebutlah Sergey Brin dan Larry Page, mahasiswa program doktor studi komputer Stanford University yang hengkang dari bangku kuliah untuk melakukan inovasi mesin pencarian web. Pada penghujung Abad 20, dari beberapa mesin pencari web yang lahir dari rahim Silikon Valley, Alta Vista tergolong unggul.
Tapi, bagi kedua mahasiswa tersebut dianggap lambat, jauh dari memuaskan.
Mereka menyewa sebuah garasi mobil di kawasan Menlo Park, membeli beberapa PC, merakitnya, dan ‘menciptakan’ mesin pencari web lebih unggul. Setelah diperesentasikan di Stanford University, kehebatannya ‘terpasar’ dari mulut ke mulut. Dalam waktu sangat mengangumkan cepatnya, populer di lingkungan pemakai internet.
Setelah kedua anak muda ini membuat perusahaan dan launching di bursa saham, nilai sahamnya langsung meroket. Pada tahun 2005 nilai saham Google mencapai 79,6 miliar U$D. Inovasi tiada henti Sergey dan Larry dari ‘kampusnya’ Googleplex menggusur Yahoo (48,5 miliar U$D), dan konon diramalkan akan melampaui Microsoft Bill Gates (287 miliar U$D). Sebab, varian produk Google makin berbiak yang membuat Yahoo dan Microsoft semakin was-was.
Sergey dan Larry dalam usia 31 tahun menjadi miliader top dunia. Produk inovatif dari Googleplex, naga-naganya akan merambah produk software IT tanpa henti. Harap maklum, kalau produk Microsoft ‘harus bayar’, Google datang dengan ‘serba gratis’. Mereka meraup fulus dari iklan.
IT dan Calon Dekan
Membaca The Google Story mengingatkan gurauan, atau bisa jadi keseriusan Bambang Subiyakto, dalam konteks pemilihan Dekan FKIP Unlam, selayaknya calon dekan, kalau perlu, diuji kemampuannya dalam mengoperasikan komputer. Pada awalnya menganggap lontaran ‘Si Pemikir’ tersebut sekedar guyonan.
Tapi, saudara, tersebab harus menjaga Mama yang sakit di usianya ke 76, Alhamdulillah sudah sembuh, selama dua minggu di Solok, membaca kisah sukses Google beberapa kali. Rupanya pikiran Bambang bukan sesederhana yang dibayangkan. Dia tidak sekedar mengolok-olok, sangat serius rupanya.
Tarikannya, kampus yang konon digadang-gadang sebagai ladang pemanfaatan dan persemaian IT, sangat tidak lucu manakala dipimpin mereka yang jahiliyah IT. Kita, barangkali jangan mimpi memproduk hasilan IT, cukup memanfaatkan saja. Untuk itu diperlukan pejabat kampus melek IT. Simplistisnya begini. Siapa yang konsen terhadap sesuatu dia akan mengembangkan, setidaknya memanfaatklan sesuatu itu maksimal.
Pada harian ini agak emosional Daud Pamungkas menulis, pentingnya ruang kuliah nyaman. Kenyamanan jangan sampai berhenti pada pimpinan saja. Apa sih susahnya melengkapi ruang belajar mahasiwa dengan AC, toh mereka yang bayar uang kuliah. Saya tahu persis Daud adalah pekerja keras dan serius, dan kantornya memang dibuat nyaman. Orang cenderung memperhatikan sesuai dengan pandangan dan sikapnya. Lebih elok manakala prioritas publik didahulukan.
Sebagai illustrasi tambahan, saya memang belum IT minded. Sekedar tertarik mungkin ya. Isteri agak mengeluh ketika tagihan telepon kamar kerja Rp700an ribu. Anak-anak bebas berinternetria. Lagi pula, bersama seorang kawan, membuatkan lebih 10 web yang kami bayarkan, buatkan kerangkanya, dengan maksud makin mahir memanfaatkan IT.
Kami bukanlah orang kaya, atau pejabat yang punya otoritas, tapi puas manakala sedikit berbuat. Koneksinya, seperti dikatakan Heru Puji Winarso, teman yang sedang S3 di dua universitas di Malang, dia bosan dengan Visi-Misi IT, tapi pemanfaatakn sederhana saja uyuh. Saya SMS dia, buktikan bahwa Sampeyan berbuat. Ya, yang kita perlukan berbuat, minimal untuk keperluan diri sendiri dan … anak-anak kita. Kalau soal komitmen semua orang pasti deh punya.
Di Kerangkeng
Saya pernah diketawakan ketika menerbitkan beberapa buku sastra. Harap maklum, hanya pecandu sastra bukan sastrawan. Tentu saja karya saya tidak monumental, dan kenapa tidak boleh? Dengan segala keterbatasan nekat ‘bersastra’. Alhamdulillah, beberapa sastrawan Nusantara berkomunikasi dengan baik dan dipercaya sebagai pemulung karya mereka. Insya Allah, tahun 2007 akan membuat kejutan.
Simpulnya sedehana saja, kalalu memang tertarik, kita akan berkontribusi. Sekalipun kaya raya atau menjadi pejabat setinggi langit, kalau tidak konsern, pastilah akan beragam hitungannya. Seorang teman mendebat, buat yang sesuai bidang ilmu. Saya memilih diam sekalipun telah menulis beberapa buku sejarah dan pendidikan. Tapi, katanya, mana buku kurikulum? Ya, saya termotivasi dan sedang menyusun. Hanya saja karya pertamanya kapan lahir he … he …
Sebagai orang yang dilengkapi dengan berbagai keterbatasan, apalagi soal kekuasaan dan kemampuan finansial, hanya berbuat hal-hal kecil. Dalam perkuliahan sering menggoda mahasiswa, saya tidak dapat berbuat banyak untuk pendidikan. Nah, menyambut era kalian “berkuasa”, sejak dini jangan pernah ditanamkan di otak mencari harta berlimpa dari pendidikan.
Pendidikan memerlukan kontribusi karena sedang dan selalu didera derita. Dosa besar kalau mendulang kemewahan dari pendidikan. Jangan berpikir proyek selain untuk memperbaiki pendidikan. Kuliah ‘ngawur’ tersebut dipahami atau ditertawakan silahkan saja. Kemampuan hanya menyampaikan. Kesimpulannya urusan masing-masing.
Suatu kali, dalam diskusi di tangga FKIP Unlam, seorang teman bercerita tentang pengalamannya nun jauh disana sembari terheran-heran akan proteksi peralatan IT. Agak aneh memang, IT lahir dari filosofi keterbukaan. Memudahkan untuk dimanfaatkan demi memudahkan kehidupan. Tapi, kog diproteksi sedemikian rupa. Bagi saya sederhana saja, itu permulaan. Kalau barangnya sudah ada kan tinggal modifikasi. Artinya, ada kemajuan. Jangan terlalu meminta dan mengeluh. Hargai juga usaha pemrakarsa.
Tapi, ketika seorang teman yang lain mengajak ke beberapa ‘wilayah’ melihat secara nyata bagaimana pengamanan pakai steinless segala, saya menolak. Bagi saya, peralatan IT perlu dijaga, tapi kalau diprotek, sampai-sampai biaya proteknya begitu mahal, sungguh kontrovesial. Lebih baik tidak tahu daripada mengetahui.
Itu soal sikap. Keterbukaan bermakna segala hal dalam gerak institusi, dari perencanaan, pelaksanaan, sampai evaluasi didayung dan dikawal bersama-sama, bukan bersunyi-sunyi. Pola-pola sedemikian sudah tidak zamannya lagi. Akan celaka kalau pratek sedemikian masih dominam dalam kehidupan. Pesannya, pilihan transparansi sebaiknya menjadi bagian gerak kehidupan.
Kembali ke introdusir tulisan ini, supaya kita jangan bergelimang kontroversi, ya dalam memilih pimpinan, harus berani memilih yang terunggul dari yang ungggul. Semakin banyak seorang pemimpin unggul dalam berbagai hal semakin baik bagi inovasi di banyak hal.
Ada kisah di suatu film, proyek IT digagas, dibeli, dioperasikan, dirawat, oleh yang kurang paham. Akibatnya, setelah bertahun-tahun warga hanya mendapatkan angin sorga, tidak pernah menikmatinya. Dimana salahnya? Ya, masyarakatnya yang tidak peduli, kog dibiarkan saja. Praktek-praktek sedemikian yang harus kita hindarkan.
Tidak mudah memilih pimpinan ideal dalam kerangka inovasi, tetapi setidaknya kita harus cerdas memilih. Sebagai dosen FKIP Unlam tidak terlalu peduli siapa (orangnya) yang menjadi dekan, sebab lebih tertarik pada bangun dan membangun sistem. Mimpi saya malahan tergolong sederhana, ada meja kursi dosen dan buku-buku perpustakaan memadai. Dan, …. berani mengusung transparansi dalam praktek.
Bagaimana menurut Sampeyan?









7 Responses to “Inovasi, Transparansi, dan IT”
By Tri Juarningsih on Jan 10, 2007 | Reply
1.Praktek korupsi di pandang dari kaca pendidikan,hal ini sungguh tidak menceminkan sikap bangsa timur,hal ini akan memperburuk pandangan bangsa lain tentang pendidikan kita,tetapi praktek korupsi sangat sulit untuk di berantas karena kebanyakan yang melakukan korupsiadalah tokoh masyarakat yang sehrusnya menjadi panutan bagi rakyatnya seperti anggota DPR,MPR,dan dewan lainnya.hal ini yang membuatnya bangsa lain menganggap rendah dunia pendidikan kita,dan kita juga sangat sulit untuk menaikkan standar mutu pendidikan.
2.Para pelajar harus di berikan pemahaman tentang korupsi dan dampaknya baik dalam kehidupan sosial bermasyarakat dan agama.Tidak perlu melajirkan mata pelajaran yang khusus cukup di integrasikan dengan mata pelajaran yang telah ada.
3.a.Pokok bahasan tentang korupsi dan dampaknya di masyarakat.
b.Tujuan yang ingin di capai dalam proses pembelajaran.
c.Materi penunjang.
d.Evaluasi
By yudiyannor on Jan 12, 2007 | Reply
1. Dalam kaca mata pendidikan jelas yang inggin di robah adalah pemikirannya dan akhlaknya. Pemikiran akan mempengaruhi persepsi seseorang dan akan terimplementasi dalam perbuatannya. Patut di pertannyakannya apakah sistem pendidikan Indonesia ingin membentuk manusia yang berfikir jernih dengan akhlak mulia atau pendidikan hanya melahirkan manusia kapitalis. Korupsi di Indonesia terjadi karena lemahnya pembentukan akhlak akibat dikuranginginya jam pendidikan agama Islam di tambah sistem pendidikan kapitalis yang salah satunya mahalnya biaya pendidikan.
2. Perlu, karena selama ini pelajar kurang diberikan pemahaman tentang korupsi itu sendiri. Sedangkan apakah di integrasikan dengan mata pelajaran lain atau tidak tentunya yang sangat bisa dilakukan yaitu diintegrasikan dengan mata pelajaran lain terutama pelajaran agama Islam dan PPKn bisa di integrasikan dengan pemahaman korupsi itu sendiri, karena bila membentuk mata pelajaran baru maka yang menjadi kendala adalah waktu yang terbatas.
3.
SATUAN ACARA PELAJARAN
Mata Pelajaran : PPKn dan Sejarah
Sekolah : SMK
Kelas/Semester : I / I
Alokasi Waktu : 6 Jam Pelajaran ( 3 X pertemuan )
PROSES BELAJAR MENGAJAR
Guru : Menerangkan (dengan contoh, terutama contoh faktual ) ,diskusi, memberi materi
siswa : Mendengar, Mencatat, diskusi, mengerjakan tugas
Media : Papan Tulis dan OHV
Evaluasi : , Ulangan bulanan, Ulangan Semester, Tugas
Pertemuan Ke Pokok Bahasan dan TIU Sub Pokok Bahasan
dan TIK Teknik pembelajaran Media Pembelajaran Tugas Referensi
1 Cinta Tanah Air dan Bangsa 1. Pengertian Cinta tanah Air
2. Wujud sikap Cinta Tanah Air
3. Kepahlawanan sebagai bukti Cinta Tanah Air.
4. Perbuatan Kongkrit Cinta Tanah Air bagi siswa
5. Contoh tindakan tidak Cinta Tanah Air.
Sasaran Belajar
Siswa dapat menjelaskan arti cinta tanah air.
Siswa dapat menyebutkan pahlawan-pahlawan yang berjuang demi tanah air.
Siswa dapat menyebutkan dan menjelaskan perbuatan yang faktual saat ini yaitu perbuatan yang cinta air dan tindakan yang menunjukan ketidak cintaannya terhadap tanah air.
Guru :
Menerangkan (dengan contoh faktual ), diskusi, pemberian tugas
Siswa :
Mendengarkan, Mencatat, mengerjakan tugas mengimplemtasikan sikap dalam perbuatan. Papan Tulis dan OHV
Mencari contoh perbuatan yang mencerminkan cinta tanah air lewat berbagai media Buku teks
Pertemuan Ke Pokok Bahasan dan TIU Sub Pokok Bahasan
dan TIK Teknik pembelajaran Media Pembelajaran Tugas Referensi
2 Bekerja Keras
TIU
Siswa dapat menjelaskan secara singkat peristiwa-peristiwa di tanah air yang mencerminkan sikap kerja keras dan mampu menjelaskan secara singkat perbuatan saat ini yang mencerminkan kerja keras tersebut. 1. pengertian kerja keras
2. pentingnya kerja keras dalam mencapai cita-cita.
3. contoh peristiwa sejarah yang menunjukan kerja keras dalam menempati kemerdekaan Indonesia.
4. ciri-ciri sikapa kerja keras
5. contoh sikap tidak menunjukan kerja keras dan sebaliknya.
Sasaran belajar
siswa mampu menjelaskan secara singkat pengertian
siswa dapat menyebutkan perbuatan saat ini yang tidak mencerminkan tidak mau bekerja keras. Guru :
Menerangkan (dengan contoh faktual), Pemberian tugas
Siswa :
Mendengar, Mencatat, mengerjakan tugas
Papan Tulis dan OHV Membuat makalah tentang peristiwa-peristiwa sejarah yang mencerminkan kerja keras dan cita-cita kemerdekaan oleh para pahlawan Buku teks dan berbagai media.
Pertemuan Ke Pokok Bahasan dan TIU Sub Pokok Bahasan
dan TIK Teknik pembelajaran Media Pembelajaran Tugas Referensi
3 Hidup sederna
TIU
Pengertian sederhana 1. Pengertian sederhana
2. korupsi merupakan tindakan tidak mau hidup sederhana.
3. sikap sederhana oleh para tokoh-tokoh didunia.
Sesaran Belajar
siswa dapat menjelaskan pengertian hidup sederhana dan dampaknya bagi masyarakat dan diri sendiri.
menjelaskan tindakan korupsi dapat merugikan tindakan tindakan hanya diri sendiri dan masyarakat juga menunjukannya sikap tidak mau hidup sederhana. Guru :
Menerangkan (dengan contoh faktual), pemberian tugas
Siswa :
Mendengar, Mencatat, mengerjakan tugas Papan Tulis dan OHV Membuat kliping di koran maupun, mencarinya lewat Internet Buku teks,dan berbagai sumber belajar.
Catatan : maaf ulu mengirim tugas sumalam di I- Mail pian Yudiyannor A1A104038
By edi bustami arifin on Jan 12, 2007 | Reply
1. Korupsi dalam kaca pandang pendidikan adalah merupakan suatu yang harus dicari jalan keluarnya. Karena perbuatan korupsi menyalahi norma dan aturan yang berlaku di negara kita. Korupsi timbul di akibatkan karena lemahnya iman dan takwa seseorang, sehingga terjadi korupsi yang diakibatkan karena kurangnya pendalaman pendidikan agama. Bagi keluarga yang ekonominya menengah ke bawah maka akan melakukan jalan pintas yaitu dengan melakukan korupsi agar perekonomian mereka jadi lebih baik dari sebelumnya.
2. Para pelajar perlu di berikan suatu pemahaman tentang apa itu korupsi agar mereka mengetahui bahwa korupsi itu adalah suatu sifat sosiopolitik atau menyimpang dari norma-norma atau aturan-aturan yang berlaku baik di masyarakat atau negara dan itu sangat merugikan. Sebaiknya pelajaran tentang korupsi itu tidak usah melahirkan mata pelajaran terutama mata pelajaran masalah sosial yang termasuk di dalam materi perilaku penyimpang dan pengendalian sosial.
SATUAN ACARA PELAJARAN
Mata Pelajaran : PPKn
Sekolah : SMA
Kelas/Semester : 2 / I
Alokasi Waktu : 4 Jam Pelajaran ( 2 X pertemuan )
PROSES BELAJAR MENGAJAR
Guru : Menerangkan, Diskusi, Pemberian materi.
Siswa : Mendengarkan, Mencatat, Diskusi, Mengerjakan tugas
Media : Papan Tulis dan OHV
Evaluasi : Ulangan bulanan, Tugas dan Ulangan Semester.
Pertemuan Ke Pokok Bahasan dan TIU Sub Pokok Bahasan
dan TIK Teknik pembelajaran Media Pembelajaran Tugas Referensi
1 Norma-Norma Hukum 1. Pengertian norma-norma hukum
2. Wujud norma-norma hukum
3. Contoh tindakan norma-norma hukum
Sasaran Belajar
Siswa dapat menjelaskan norma-norma hukum
Siswa dapat menyebutkan dan menjelaskan perbuatan yang berdasarkan norma hukum di negara kita
Guru :
Menerangkan (dengan contoh faktual ), diskusi, pemberian tugas
Siswa :
Mendengarkan, Mencatat, mengerjakan tugas mengimplemtasikan sikap dalam perbuatan. Papan Tulis dan OHV
Mencari contoh perbuatan yang mencerminkan cinta tanah air lewat berbagai media Buku teks
Pertemuan Ke Pokok Bahasan dan TIU Sub Pokok Bahasan
dan TIK Teknik pembelajaran Media Pembelajaran Tugas Referensi
2 Pengendalian sosial 1. pengertian Pengendalian sosial
2. pentingnya pengandilan sosial
3. ciri-ciri pengendalian sosial
4. contoh sikap pengandallian sosial
Sasaran belajar
siswa mampu menjelaskan secara singkat pengertian
siswa dapat menyebutkan perbuatan saat ini yang tidak mencerminkan sikap pengendalian sosial Guru :
Menerangkan (dengan contoh faktual), Pemberian tugas
Siswa :
Mendengar, Mencatat, mengerjakan tugas
Papan Tulis dan OHV Membuat makalah tentang peristiwa-peristiwa sejarah yang mencerminkan kerja keras dan cita-cita kemerdekaan oleh para pahlawan Buku teks dan berbagai media.
By ridha nurilhami on Jan 12, 2007 | Reply
1.Menurut pandangan dari kacamata pendidikan yang harus di benahi ialah struktur standar pendidikan di indonesia seharusnya di tingkatkan dan dikembangkan seperti layaknya pendidikan yang ada di negara lain, melalui pendidikan yang berkualitas dan bermutu maka akan tercipta anak didik yang mempunyai daya intelektual dan kepribadian yang lurus tidak bertentangan dengan pancasila serta melalui pendidikan ini kita dapat membentuk sebuah karakter siswa yang memiliki moral atau budi pekerti yang luhur mencerminkan nilai-nilai pancasila bukan hanya dalam pelajaran tetapi juga terwujud dalam perbuatan kehidupan sehari-hari. Tingginya praktek korupsi di indonesia disebabkan antara lain kurangnya pemahaman kita terhadap nilai-nilai yang telah tertuang dalam pancasila. Dengan fakta yang ada pelajaran PPKn di sekolah-sekolah seharusnya jam pelajarannya di tambah sehingga pemasukkan nilai-nilai moral pada siswa lebih efektik dan tepat guna. Dan dapat berguna pada wujud perbuatan kehidupan sehari-hari, bukan hanya sebagai pelajaran yang dihafal saja. Menurut pendapat saya kegiatan menghafal itu merupakan tindakan pembodohan, pada intinya setiap pelajaran yang disampaikan ditiap-tiap sekolah, hanya di hafal saja untuk mendapatkan nilai rapot yang baik, tetapi tidak dipahami pesan moral yang terkandung dalam pelajaran tersebut, sehingga dari sini terlihat suatu penyimpangan pendidikan di indonesia yang salah dan terus berjalan sampai masa sekarang ini.
2. Sangat perlu, Pemahaman tentang korupsi seharusnya lebih kita tekankan lagi sejak dini pada anak-anak didik kita, sebab mereka adalah gen-gen generasi penerus bangsa kita. Jadi dengan mata pelajaran yang ada kita dapat menghubungkan pelajaran PPKn dengan pemahaman terhadap korupsi. Menurut pendapat saya kita tidak perlu membuat pelajaran baru, tetapi kita lebih meningkatkan lagi kualitas dan mutu mata pelajaran yang ada dengan efektif dan tepat guna.
3.
SATUAN ACARA PELAJARAN
Mata Pelajaran : PPKn
Sekolah : SMA
Kelas/Semester : I / I
Alokasi Waktu : 3 x 45 Menit ( 3 x Pertemuan )
PROSES BELAJAR MENGAJAR
Guru : Menerangkan (dengan contoh) ,diskusi, memberi materi
siswa : Mendengar, Mencatat, diskusi, mengerjakan tugas
Media : Papan Tulis dan OHV
Evaluasi : , ulangan bulanan, ulangan semester
Pertemuan Ke Pokok Bahasan dan TIU Sub Pokok Bahasan
dan TIK Teknik pembelajaran Media Pembelajaran Tugas Referensi
I Nilai-nilai pancasila
tiu : siswa dapat Memahami perlunya nilai-nilai Pancasila serta dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-sehari 1. Pengertian pancasila
2. Contoh nyata sikap yang mencerminkan, moral dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila
3. Perbuatan yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila
Sasaran Belajar
Siswa dapat menyebutkan contoh-contoh yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila
Siswa dapat menjelaskan perbuatan-perbuatan yang mencerminkan Nilai-nilai pancasila
Siswa dapat memahami arti dan hakikat nilai-nilai pancasila
Guru :
Menerangkan (dengan contoh), diskusi, memberi tugas
Siswa :
Mendengar, Mencatat, diskusi, mengerjakan tugas Papan Tulis dan OHV
Mencari
contoh tindakan yang mencerminkan terhadap nilai-nilai pancasila lewat koran Buku teks
Pertemuan Ke Pokok Bahasan dan TIU Sub Pokok Bahasan
dan TIK Teknik pembelajaran Media Pembelajaran Tugas Referensi
2 Sikap yang mencerminkan jiwa Pancasila
Tiu : siswa dapat memahami dan mengerti akan pentingnya sikap yang mencerminkan jiwa pancasil dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara 1. Pengertian jiwa pancasila
2. Perbuatan yang mencerminkan jiwa pancasila
3. Contoh sikap yang mencerminkan jiwa pancasila
4. Perbuatan yang bertentangan dengan jiwa pancasila
Sasaran Belajar
Siswa dapat menjelaskan pengertian sikap yang mencerminkan jiwa Pancasila
Siswa dapat menyebutkan dan menjelaskan contoh-contoh yang mencerminkan jiwa Pancasila
Siswa dapat memahami dan mengerti maksud dari sikap yang mencerminkan jiwa pancasila
Guru :
Menerangkan (dengan contoh), diskusi, memberi tugas
Siswa :
Mendengar, Mencatat, diskusi, mengerjakan tugas Papan Tulis dan OHV Menjawab soal yang telah diberikan oleh Guru Buku teks
Pertemuan Ke Pokok Bahasan dan TIU Sub Pokok Bahasan
dan TIK Teknik pembelajaran Media Pembelajaran Tugas Referensi
3 Pengabdian terhadap Pancasila
Tiu : siswa dapat memahami akan makna dan hakikat pegabdian terhadap pancasila 1. Pengertian Pengabdian Terhadap Pancasila
2. Sikap-sikap yang mencerminkan Pengabdian terhadap Pancasila
3. Contoh perbuatan yang Mencerminkan Pengabdian
Terhadap Pancasila
Sasaran Belajar
Siswa dapat menjelaskan pengertian tentang pengabdian terhadap Pancasila
Siswa dapat menyebutkan dan menjelaskan contoh-cntoh yang mencerminkan terhadap sikap pengabdian Pancasila
Siswa dapat memahami dan mengerti makna dari nilai-nilai yang terkandung dalam sikap pengabdian Pancasila
Guru :
Menerangkan (dengan contoh), diskusi, memberi tugas
Siswa :
Mendengar, Mencatat, diskusi, mengerjakan tugas Papan Tulis dan OHV Menjawab soal yang diberikan oleh Guru Buku teks
Saya Ridha Nurilhami A1A104022, maaf kemarin saya mengirim melalui I mail, jadi hari ini saya kirim melalui webs, terimakasih banyak atas pengertiannya pak, sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya….wassalammu’alaikum Wr. Wb.
By srie daniyanti on Jan 12, 2007 | Reply
1. Pendidikan yang baik adalah menciptakan manusia yang berkarakteristik terbaik. Namun bila yang terjadi adalah sebaliknya yaitu terciptanya para koruptor tentu ada kesalahan pada sistem pendidikan kita. Untuk itu perlu dilakukan perbaikan pada sistem pendidikan kita
2. 95% pendidikan yang efektif adalah tauladan, karena dengan melihat, mendengar, dan mencontoh maka terjadinya transper pengetahuan akan cepat nda efektif terjadi. Begitupun dalam hal pendidikan korupsi, maka pendidikan yang paling tepat dimulai dari keluarga, sekolah dasar, hingga beranjak dewasa. Dan pendidikan kurikulum itu bisa diintegrasikan dengan mata pelajaran lain.
3.
SATUAN ACARA PELAJARAN
Mata Pelajaran : Agama Islam
Sekolah : SMA
Kelas/Semester : III / II
Alokasi Waktu : 3 x 45 Menit ( 3 x Pertemuan )
By nida adreawati on Jan 12, 2007 | Reply
. pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam pembentukan akhlak manusia, namun bila sistem pendidikan itu sendiri tidak mampu merubahnya maka sistem itu sendiri gagal dalam kerjanya. Korupsi itu merupakan impelentasi dari gagalnya sistem pendididkan di Indonesia, dan itu harus dirubah bersama.
2. tentunya perubahan sistem akan merobah pula pada kurikulum yang merupakan bagian dari sistem pendidikan Indonesia itu sendiri. Dan pelajaran korupsi bisa diintegrasikan dengan mata pelajaran yang lain.
3.
SATUAN ACARA PELAJARAN
Mata Pelajaran : Agama Islam
Sekolah : SMA
Kelas/Semester : II / II
Alokasi Waktu : 3 x 40 Menit ( 3 x Pertemuan )
By yulia rohiyati on Jan 12, 2007 | Reply
1. Korupsi tidak meuncul begitu saja, namun yang jelas ada sistem yang menggerakannya. Contoh kongkritnya dimulai dari membuat KTP dengan pemberian 5000 perak, yang kemudian berujung pada jutaan bahkan triliyunan. Pendidikan dimulai dari yang kecul hingga yang besar. Begitupun korupsi dimulai dari yang kecil hingga yang besar. Sehingga begitu pun upaya pencegahannya harus dimulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
2. Sangat perlu karena pendidikan korupsi saat ini terutama pada pendidikan sangat jarang diajarkan, walaupun ada namun itu hanya dikaitkan dengan materi lain. Dan tentunya pengintegrasian dengan mata pelajaran lain bisa dilakukan karena tindakan korupsi bisa dikaitkan dengan mata pelajaran lain.
3.
SATUAN ACARA PELAJARAN
Mata Pelajaran : Agama Islam
Sekolah : SMA
Kelas/Semester : I / I
Alokasi Waktu : 3 x 60 Menit ( 2x Pertemuan )