Ruang Dosen
24 December 2006 | Ditulis oleh:TULISAN saya perihal perlunya FKIP Unlam menyediakan meja-kursi untuk dosen (Radar Banjarmasin, 14/11/06) mendapat tanggapan beragam. Yang mengagetkan, ada yang menuduh, Ersis mengada-ada dan ‘menjelekkan’ FKIP Unlam, mana mungkin dosen tidak memiliki sekedar meja-kursi. Saya mau bilang apa, kenyataannya selama mendosen 22 tahun begitulah. Di FKIP dosen-dosen hanya punya ruangan bersama dengan meja-kursi bersama. Titik.
Padahal, pada tingkat guru SD saja hal tersebut tidak masuk akal, tidak mungkin. Tapi ini bukan soal mungkin-mungkinan, ini kenyataan. Kalau dianggap lancang dan tidak ‘mencintai’ FKIP Unlam, apa boleh buat. Menurut saya justeru karena mencintai, sangat logis dosen mempunyai meja-kursi dengan kunci sendiri. Apa menunggu pensiun dulu baru berkeinginan?
Di kalangan teman-teman beragam komentar dikedepankan. Ada yang maulu-ulu kalau disediakan meja-kursi nanti tidak bebas lagi atau ada yang bertaruh, justeru Ersis nanti semakin tidak disenangi. Ah, yang benar saja. Menulis kenyataan tidak dilarang UUD. Paling rasional pendapat mahasiswa yang berkomentar melalui www.webersis.com. Ada puluhan komentar tentang itu.
Mahasiswa rikuh dan risih berkonsultasi yang terkadang malu didengar dosen lain atau mahasiswa lain. Apalagi kalau salah atau dimarari dosen. Mereka rata-rata prihatin soal meja-kursi dosen. Ada yang ketus, seperti pasar ikan suasananya. Tentunya, mahasiswa memerlukan suasana kondusif kondisi konsultasi yang nyaman dan menyamankan.
Jurusan Bahasa FKIP
Kantor Jurusan Bahasa FKIP Unlam, kini dipasang AC. Buku-buku baru dibeli, sekitar 500 judul, dan ini yang lebih penting, bisa menjadi tempat diskusi terbatas. Kalau soal ‘kehebatan’ saya tidak tertarik, tetapi di jurusan bahasa berdiskusi tentang buku, tentang IT, tentang inovasi dan sebagainya. Menulis dijdikan menu harian. Teman-teman jurusan bahasa menerbitkan enam buku semester ini. ‘Embrio’ suasana kampus sesunguhnya?
Oh ya, saya ‘diculik’ Wakil Ketua KPK, Komisi Pemberantasan Korupsi, Syahruddin Rasul, dan diminta meyiapkan silabus mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi dalam sebulan untuk dijadikan buku tahun 2007. Saya menawarkan kalau ada yang tertarik, khususnya mengenai kebiasaan lokal, baik yang memberi ‘peluang’ atau ‘melawan’ tindak korupsi, silahkan kontak melalui email. Dari jurusan bahasa, minimal saya akan minta bantuan prihal kebahasaannya.
Dalam konteks pokok tulisan ini, tiba-tiba Sainul Hermawan memberikan foto pembangunan gedung Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) UPI Bandung. Disitu tertulis, gedung akan selesai dibangun bulan Juli 2007. Apa saja pilahan peruntukkannya?
240 ruang dosen, sekali lagi, 240 ruang dosen, 66 ruang kantor, 63 ruang kuliah, 43 unit service area, 34 laboratorium, 10 ruang rapat, 5 workshop expo, 2 auditorium, dan basemet parkir. Gedungnya, hanya 6 lantai. Harap diingat, itu FPBS, belum lagi fakultas lainnya. Selebihnya Sainul yang baru-baru ini magang ke UPI bicara banyak hal. Dia mungkin lupa, saya alumni UPI.
Kalau ada yang disayangkan, banyak sudah kunjungan dilakukan dosen atau pejabat ke kampus bagus. Banyak sudah yang bersekolah di kampus-kampus terbaik di dalam dan luar negri, tetapi melihat kampus sendiri, masih jauh dari yang diidamkan. Saya sengaja menulis hal ini, karena teman-teman dari jurusan bahasa ‘melakukan’ hasil kunjungan mereka dalam praktek, berbuat sekalipun kecil. Bravo jurusan bahasa FKIP Unlam. Apa pesan Sainul?
Tangkapan saya, Sainul mengamini urgensi pentingnya dosen mempunyai ruangan sendiri. Di kampus lain bisa, kenapa kita tidak? Hanya saja, Sainul tersenyum kecut dibarengi seutas kalimat: “Pak Ersis tolong tulis ya”. Saya maklum arahnya. Maaf, Sainul takut menulisnya kali ya. Soal nanti dimaknai orang macam-macam, terserah saja. Sampeyan pikir sendiri, kenapa orang-orang UPI mengutamakan ruang dosen dari ruang apapun ketika membangun kampus. Pasti bukan karena ketidakberdayaan atau ketidaktahuan betapa pentingnya ruang dosen.
Buku, Buku, dan Buku
Satu hal paling mendasar, Jurusan Bahasa FKIP Unlam membeli buku-buku terbaru. Ini nampaknya genre baru. Ada apa dibalik peristiwa langka tersebut? Apa hal-hal yang membuat kesadaran dan tindak nyata yang sangat cerdas dan solutif tersebut? Entahlah. Mana tahu suatu saat kelak mereka melakukan konferensi pers agar bisa ditiru jurusan lain. Kalaulah seorang diantara mereka mengajukan diri jadi Dekan FKIP Unlam, kalau saya punya hak pilih, pasti memilih. Tidak salah lagi.
Saya tidak memperdulikan ada yang bercerita buku-buku ‘terbeli’ sangat mahal, ter-mark up sampai 40%. Konon pula nanti bakalan mencapai 60%. Mungkin itu cerita mengada-ada. Kalau saya membeli buku di TB Gramedia, di jalan Veteran atau Duta Mall, diberi diskon 10%. Kalau ke distributor persennya bisa berkali-kali lipat. Bila ke Jogja, lebih murah. Kenapa? Teman-teman banyak yang bergelut dalam perbukuan.
Rindu saya adalah rindu kampus yang buku-bukunya mampu memenuhi kebutuhan pokok mahasiswa. Saya yakin, buku saya berkali lipat dibanding buku jurusan bahasa, tetapi apabila setiap jurusan meniru gaya jurusan bahasa Indonesia, akan sangat membantu mahasiswa. Apalagi, kalau perpustakaan fakultas dan perpustakaan Unlam serius dibenahi. Kita tunggu saja.
Ketika Makrupul Kahri menghadiahkan buku karya Habibie yang sudah lama saya inden di TB Gramedia, sungguh sangat terenyuh. Lebih terenyuh lagi karena bangga, perasaan serasa melayang ketika teman-teman jurusan bahasa menghadiahkan buku karya mereka. Ini fenomena baru.
Sekalipun demikian, saya bertekad, mudah-mudahan Allah SWT mengabulkan, akan menjadi orang paling banyak memberi hadiah buku buat perpustakaan dari karya sendiri. Iseng berdoa, mudah-mudahan ada ‘musuh’ dalam menerbitkan buku, kalau kalah tidak akan kecewa. Mari menulis buku, dan … kalau melupakan meja-kursi dosen tidak mengapa. Kata pepatah kuno, tidak satu jalan ke Roma.
Bagaimana menurut Sampeyan?









5 Responses to “Ruang Dosen”
By Taufik Rozana Rahman on Jan 15, 2007 | Reply
memang sangat menyedihkan kampus kita tidak memiliki ruang untuk dosen-dosennya..yang kalang kabut nantinya dalah mahasiswa jika ada keperluan dengan dosen yang dimaksud..masa harus mondar-mandir ke sana ke sini ga’karuan..apalagi ada yang sampai ke luar kota padahal hanya pengen konsultasi doang..gimana ni..ga efektif jadinya..mudahan para petinggi kampus dapat memikirkan hal ini
mengenai buku-buku..patut juga pihak kampus memikirkannya..bagaimana tidak..apalagi pada sekarang buku-bbuku pada mahal..ya rata-rata berkisar di atas budget mahasiswa..gimana mo hidup klo duitnya habis buat beli buku..ya terpaksa deh main fotocopy doang bisanya..walau dicap tukang ga’ apa2 yang penting ada bahan buat kuliah..tolong ya pak disampaikan ke pihak fakultas..thanx a lot
wassalam
By Muhammad Rizky Adha on Jan 15, 2007 | Reply
Assalamualaikum…
Duh,… Kayaknya sering banget tuh kita dengar keluhan-keluhan dosen yang membahas mengenai ketersediaan adanya ruangan khusus ato tempat pribadinya… Sekarang ini pada kenyataannya memang benar adanya, untuk itu hendaknya kita memperjuangkan apa yang menjadi hak milik kita. Lihat saja tuh banyak dosen yang gak bernafsu lama-lama berada di ruang dosen… Hal ini mungkin jadi polemik bagi si doden sendiri, disatu sisi ia harus melengkapi sarana penunjang perkuliahannya, namun disatu sisi lainnya mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa banyak mahasiswanya yang membutuhkan si dosen untuk berkonsultasi mengenai perkuliahan yang diberikannya…
Truz, kita juga melihat fakta bahwa banyak mahasiswa FKIP yang sering kebingungan pada saat semester baru, yang rata2 kesulitan dalam menemui si dosen persis kaya ayam kehilangan induknya….
untuk itu kita perlu merenungkan solusi yang terbaik untuk meningkatkan kinerja belajar mengajar antara dosen dan mahasiswanya….jadi saatnya untuk memperjuangkan hak kita!!!!!
pada masalah pengadaan buku kayanya makin ancur aja..banyak buku2 yang kadaluarsa terdapat di perpustakaan FKIP…saya khususnya sebagai mahasiswa sejarah dengan jujur mengatakan bahwa buku2 sejarah kayanya tidak mendukung lagi ama perkembangan zaman sekarang…selain itu buku sejarah yang menjadsi acuan mahasiswa kebanyakan berasal dari zaman bahuela yang tahun terbitnya sama dengan zaman kemerdekaan….
dari masalah di atas saya menghimbau agar prodi sejarah juga memiliki perpustakaan khusus seperti PBSID baru2 ini dll…
thank you….
wassalam…
By Adi Fitriansyah Rizqoni on Jan 15, 2007 | Reply
met sore pa’
umpat nimbrung ya
saya sungguh prihatin FKIP yang merupakan salah satu fakultas di Unlam tidak memiliki ruang dosen..kalau boleh saya bilang sangat memalukan sekali..padahal ruang dosen itu sangat penting untuk kinerja dosen..mungkin ada beberapa alasan yang tidak diketahui dengan tidak adanya ruang dosen di kampus ini..tapi tentunya itu akan berdampak pada proses belajar mengajar..misalnya kalo dosennya ga’ ada semangat ngajar karena terbelenggu oleh masalah ruangan tempat ia bekerja..mahasiswanya yang terkena imbasnya..kasian donk mahasiswanya..hehehehe
masa udah bayar mahal2 tapi belajar ga’ beres
na tentunya ini harusnya menjadi perhatian petinggi2 FKIP…untuk segera mewujudkan pengadaan ruang dosen…
untuk masalah buku2..terus terang sebagai mahasiswa sejarah saya sangat kesulitan sekali mendapatkan buku2 sejarah diperpustakaan..apalagi yang berkaitan dengan prasasti “semangka”, “melon”, “jambu” dlllll
bagaimana mau maju mahasiswa sejarah kalo buku2nya aja ga’ ada..mohon deh kepada petinggi2 prodi sejarah..tolongin donk perbanyak buku2 khususnya sejarah di perpus..trus terang pa’ saya kalo utk beli buku nyerah pa’..duit cuma untuk sesuap nasi..hiks-hiks-hiks.. (T_T)
maklum pa’ dari kampung anak petani lagi..
sekali lagi mohon banget pa’ yaaa..buku2nya diperbanyak..please bgt pa’ ya..ya..ya
By Suratno on Apr 29, 2007 | Reply
Assalamu ‘alaikum wr.wb.
Yth. Sdr. Ersis W.
Membaca, menyimak dan merenungi tulisan anda dan komentar kawan sejawat hati juga ikut tersentuh untuk ikut bicara. Fakta tak bisa dipungkiri sejak kita menginjakkan kaki di Bumi Lambung Mangkurat, nuansa kampus memang beda dengan almamater tempat kita ditempa dan dibentuk. Nawaitu kita tentu ingin hadir dan mampu ikut berkontribusi bagi nuansa habitat keseharian kampus kita, tetapi harapan demi harapan ternyata kita harus sadar bahwa kita hanya bagian dari sistem. Sistem budaya kampus yang terus bergulir dari kebiasaan rutin tak mengubah visi dan misi dalam realita. Kita harus bangga bahwa selama dua dasa warsa kampus sudah tampak memadai dibanding jaman di Veteran, tetapi masih saja terasa tertinggal mainset dalam berpikir dan bertindak dalam mengejar ketertinggalan.
Lima tahun lewat apa yang Pak Ersis keluhkan tiadanya perencanaan, sebenarnya sudah dibuat oleh Profesor kita Bapak Prof. Abdul Jebar Hapip dan telah dibukukan dalam renstra Unlam. Dalam renstra yang beliau rancang dan telah diundangkan keseantero kampus bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dikerjakan. Pada tahapan dan kurun waktu tertentu seharusnya dapat dievaluasi sebagai tolok ukur kiprah pimpinan jika memang hal itu telah digunakan sebagai landasan kerja operasional pembinaan dan pengembangan kampus dalam arti seutuhnya. Tetapi apa daya semua yang telah dicurahkan oleh Prof. Abdul Jebar Hapip sepertinya hanya dilirik sebelah mata oleh para pengambil kebijakan di kampus kita. Oleh sebab itu pada wacana implementasi perencanaan ke depan perlu ketegasan kembali komitmen untuk melaksanakan program sesuai dengan renstra kampus itu.Jika semua lini bekerja dalam kerangka komitmen bersama, saya yakin tidak ada adanya kesenjangan yang terjadi di antara kita, karena kerja kita dibangun oleh rasa tanggungjawab bersama dan dengan demikian juga berakibat pada konsekuensi yang harus ditanggung bersama. Orang bilang bangunlah cara kerja yang kolaboratif. Jangan risih untuk mengajak orang lain (mumpuni) untuk menjadi mitra kerja dalam semua aspek kegiatan. Bukalah transparansi komunikasi sehingga ada rasa saling memiliki. Kondisi sekarang menurut hemat saya belum ada nuansa ini di tengah galaunya hati ingin sepadannya Unlam dengan kampus lain.
Pertanyaan mendasar perlu diajukan, siapakah yang harus memulai mengubah kondisi ini? Pertanyaan ini terpulang kepada diri kita masing-masing. Jika kita menyadari substansi diri kita dalam sistem kampus kita, maka cara terbaik hanyalah berbuatlah maksimal demi kampus kita. Untuk bisa berbuat tentu dibutuhkan situasi dan kondisi yang kondusif. Lingkungan kampus dengan prasarana dan sarana yang cukup memadai merupakan sesuatu yang mutlak harus ada. Siapa yang harus memikirkan hal ini. Tugas Senat yang didukung oleh kita-kita merupakan prasyarat untuk mengubah trait dan behavior kita. Hadirnya kampus baru di samping kampus lama semoga memberi angin segar kepada nuansa kehidupan di kampus kita. Tetapi kembali saya ingatkan, bahwa hadirnya sarana tak akan ada manfaatnya jika tidak dibarengi dengan upaya implementasi perencanaan dengan matang dan terarah. Mutu pendidikan dalam arti luas hanya akan didapat jika semua pihak berdharma bhakti tanpa pamrih yang melebihi batas-batas kewajaran.Bagi sejawat yang telah tampil menjadi pahlawan kampus (sebutan Pak Ersis) janganlah anda menciptakan kompetisi untuk mencari kursi jabatan, karena jika ini yang anda tuntut di dalam kampus maka boleh saya sebut telah terjadi anomali berpikir para pemikir. Para pahlawan kampus hendaknya memikirkan aspek pengembangan keilmuan, teknologi, rekayasa yang produknya mampu mengangkat derajad almamateri kita. Biarkan beri kesempatan sejawat yang tak menjadi pahlawan untuk juga menjadi pahlawan lain dalam memanage kampus. Dari dua kubu pahlawan inilah harus dibangun komunikasi transparansi yang sinergis, satu pihak memikir dunia sarana dan prasarana penunjang kebutuhan kampus dan satu pihak lagi yang memikir isi dari kemajuan keilmuan, teknologi dan produk rekayasa kampus. Jika keduanya berjalan sinergis maka kita baru akan dapat menjual jasa demi pengembangan masyarakat melalui jalur dharma pengabdian. Bravo Sdr. Ersis anda adalah aset kita yang mampu menggelitik pemikiran semua.Ingat pro dan kontra adalah wajar. Itulah kedamaian yang harus diinsyafi oleh semua civitas akademika kita. Do’a saya semoga kampus baru nanti diisi dengan cara kerja yang lebih produktif, trait dan behavior yang lebih mumpuni. Amin ya rabbal al-amin.