Semoga Tidak Bergeser Makna
27 November 2006 | Ditulis oleh:Allah akan memberi limpahan rahmat dan hidayah kepada setiap manusia apabila dia mampu memaknai dan mensyukurinya.
Ersis Warmansyah Abbas
Di Jakarta, ketika mengikuti ESQ Training, saya sempatkan bicara dengan A. Rohim Agustjik, ayah Ary Ginanjar Agustian. “Pak”, kata saya, “Ary diberi hidayah kemampuan oleh Allah SWT yang begitu luar biasa. Apakah sejak kecil sudah ada tanda-tanda ia mendapatkan karomah Allah SWT?”.Jawabnya, cukup mengagetkan. Sejak kecil, secara agamis, Ary biasa-biasa saja dalam arti sangat taat dan menghayati. Malahan, adiknya, Rienaldi, tak kalah menonjol. Tapi, Ary kemauannya luar biasa dan gigih untuk segala hal. Ia pekerja keras dan ketika berguru kepada Habib Adnan, kematangan makin menjadi-jadi. Karena usaha kerasnya, Allah SWT, Alhamdulillah, memberi hidayah.
Subhanallah. Ary diberi kemampuan luar biasa karena ketulusannya mendalami Islam hingga bisa ditularkan pada orang lain. Sampai-sampai, cukup lama saya berbincang dengan Mayjen TNI Syamsul Mappareppa, Kastaf Kostrad. Menurut Syamsul yang familiar, metode pelatihan Ary menyentuh qalbu, membuat kita tahu siapa kita, siapa Allah SWT, dan apa tugas kita sebagai ciptaan Allah SWT.
Komentar ‘kawan baru’ ini, tidak mampu saya tuliskan. Soalnya, dia bisa merangkum materi ESQ Training dan diaplikasikannya. Bagaimana tidak tertegun, seorang Jenderal mau-maunya mengangkat kursi, membagi kertas, dan mempraktekkan ajaran Islam dalam hablumminannash. Jenderal yang sedang mendaki di puncak itu tidak sombong. Celaka besar kalau seorang Ersis berlagak. Ya, Allah, ampunilah hamba-Mu.
Dan, tidak sedikit orang seperti Syamsul. Dalam kadar tertentu, di arena pelatihan saya seolah dibawa ke ‘suasana’ masyarakat Islam zaman Nabi Muhammad SAW. Bahkan, dengan Prof. DR. Komaruddin Hidayat, Ketua KPU Pusat, sempat bicara agak panjang lebar.
Seperti komentar umum lainnya, Komaruddin melihat metode Ary sangat fenomenal dan sangat Islamis. Kesan saya, tidak ada komentar cacat dari profesor yang rajin menulis artikel dan buku tersebut. Tapi, kami sepakat untuk satu hal. Apa itu?
Jangan ke Ranah Politis
Dalam perbincangan, ESQ Training ini perlu selalu dijaga track-nya. Ini adalah pelatihan dalam membantu bagaimana manusia, terutama Muslim, mengenal siapa dirinya, sedang dimana, dan hendak kemana dalam kerangka di bawah naungan Allah SWT. Dengan sedikit memancing, saya tanya: “Adakah sinyal akan dijadikan satu kelompok yang ujung-ujungnya mengarah ke politis, prof?”
“Sejauh ini tidak. Pikiran Anda sangat bagus. Saya pernah membicarakan dengan Ary, sejauh ini tidak ada sama sekali. Murni ‘pencerahan’. Murni untuk membantu umat dalam mencari dirinya dalam kandungan Allah SWT. Saya setuju”, katanya tanpa ragu-ragu, “kita harus menjaganya, mengawalnya agar ESQ Training selalu dalam track seperti saat ini”.
Adalah kewajiban kita menjaganya sembari memberi masukan-masukan positif agar lebih bermakna lagi. Terlalu berharga kalau metode Ary yang begitu dahsyat dan bermanfaat ke luar dari jalur aslinya.
Ucapan Komaruddin dibarengi asumsi, semua kalangan Islam —bahkan non-Islam— mengambil manfaat dari metode Ary. Tidak ada sekat-sekat organisasi, partai, suku, golongan atau agama. Ini ‘milik’ kita semua.
Sungguh luar biasa keterangan guru besar ini, hingga ‘kecurigaan’ saya karena sangat berharap pada metode ESQ Training, terbang entah kemana. Jujur saya, saya punya hak untuk was-was dan bertanya. Saya tidak takut mengutarakannya, karena sebelumnya sempat mengkritik dan berjanji memberi masukan. Jawaban Ary: “ Alhamdulillah. Tidak ada manusia yang sempurna, termasuk saya (Ary)”. Saya sungguh lega. Saya menggenggam tangannya erat-erat dan dibalasnya dengan hal serupa.
PP ESQ Kalsel
Pada hari ini, Sabtu 17 Januari 2004, atas ‘permintaan’ TP PKK Kalsel yang dikomandoi Herlinawaty Sjahriel Darham, oleh Pusat Pengembangan ESQ Kalsel, dimulai ESQ Reguler Basic Training selama dua hari. Tentu saja ini hal menggembirakan.
Bagi mereka yang sibuk, ini kesempatan emas. Ketika dibawa bagawi, OK saja dan cukup bersemangat. Melalui tulisan ini menghimbau, jangan terlalu over estimate. Laksanakan dan jangan terlalu berharap maksimal. Soalnya, ini pengalaman baru. Lakukan sambil belajar untuk disempurnakan pada training berikutnya di banua.
Sebagai alumnus, seperti juga teman-teman lain, semoga pelatihan ini memberi manfaat. Percayalah, metode ESQ Training sungguh tak pelak lagi merupakan wahana agar kita mampu melihat jauh ke dalam diri, tentang hakikat diri itu sendiri.
Sesuai pengalaman dalam mengadakan even-even lainnya, tentu akan ada kritikan, masukan, dan bahkan keluhan, apalagi kekurangan. Semoga hal ini dijadikan masukan untuk perbaikan masa datang. Satu hal kata Ary yang sangat melekat di sanubari: Pelatihan sesungguhnya baru dimulai ketika Anda melakukan secara pribadi seusai ESQ Training.
Manfaatkan Kesempatan
Perlu diingatkan, pelatihan ini adalah bagaimana membangkitkan jati diri dalam pemahaman makhluk ciptaan Allah SWT. Saya yakin, semua kita sudah paham hal itu. Tapi, barangkali, sebagai manusia, kita dibelenggu oleh berbagai hal yag menutup fitrah kita sebagai makhluk ciptaan Allah SWT.
Hal-hal sedemikian yang harus dipupus habis dengan menghancurkan segala belenggu hati. Kita harus berjuang terus dalam ZMP. Dalam proses ZMP inilah ‘dibantu’ ESQ Training. Jangan sia-siakan. Mengikuti pelatihan dengan sepenuh hati, Insya Allah, mendapatkan hidayah. Amin.
Artinya, semuanya terpulang kepada diri kita masing-masing. Manfaat terbesar pelatihan adalah ketika kita mampu memaknai, siapa, dimana, dan hendak kemana kita dalam kandungan makhluk ciptaan Allah SWT.
Karena itu, sekali lagi, semuanya terpulang pada Anda masing-masing. Allah SWT menurunkan petunjuk-Nya melalui Nabi Muhammad SAW tanpa paksaan apapun. Masing-masing kitalah yang ‘membelajarkan’ diri kita, dan salah satu jalannya, metodenya ‘ditemukan’ Ary Ginanjar. Akankah dapat mengambil manfaat maksimal, tentu terserah Anda. Selamat ‘menikmati’.
Bagaimana menurut Sampeyan?









