Secuil Tentang Menulis Sangat Mudah
27 November 2006 | Ditulis oleh:Bab 2 Menulis Sangat Mudah
2.1 Secuil Tentang Menulis Sangat Mudah
Manusia dilahirkan dengan potensi bawaan, manusialah orang yang membodohi diri, memperbodohi diri, dan … mau diperbodoh.
Siapkan diri Sampeyan terlebih dahulu sebelum membaca bab ini. Dipastikan, akan ditemukan kejutan yang bisa jadi berakibat memaki diri karena akan punya penyadaran, betapa selama ini memperbodoh diri dengan beranggapan, menulis itu sulit. Menulis itu susah dan menyusahkan.Padahal, hal tersebut sangat jauh dari kenyataan. Jauh, … jauh sekali. Bahkan ‘menghina’ Sang Khalik, pencipta manusia, yang memberikan potensi kepada kita semua. Pendapat-pendapat tersebut bukan tidak mungkin menjadi biang kesulitan bagi banyak orang untuk menjadi penulis. Karena itu, buang pendapat tersebut dari pikiran Sampeyan. Kini, kembalilah ke ‘fitrah’, menulis itu mudah, sangat mudah malahan.
Betapa tidak. Setiap orang dilahirkan dengan bekal setriliun sel neuron. Sekali lagi, satu triliun sel neuron terdiri dari seratus miliar (100.000.000.000) sel aktif dan sembilan ratus miliar (900.000.000.000) sel pendukung. Padahal, otak itu hanya seberat 1,5 kg. Ruar biasa khan? Baru tahu, ya.
Itu belum apa-apa. Kalau dipakai, kalau digunakan, setiap sel bisa berkoneksi 20.000. Nah, susah sudah mencari kalkulator yang mampu menghitungnya. Hingga, setiap manusia yang lahir pada hakekatnya, born to be a genius. Sejak membaca tulisan ini, jangan ada lagi kata-kata tudingan bodoh untuk siapa pun. Itu menghina Allah SWT. Yang ada itu adalah mereka yang tidak menyadari betapa potensi pintarnya, betapa sayangnya Allah pada manusia, pada kita.
Sampeyan, pembaca tulisan saya, adalah orang cerdas yang ‘akan’ mampu memanfaatkan berian Yang Maha Kuasa. Jangan lagi memperbodoh diri. Tidak ada manusia dilahirkan bodoh, yang ada, orang yang membodohi diri, memperbodohi diri dan … mau diperbodohi.
Saya akan meneror terlebih dulu. Saudara ‘sepupu’ Sampeyan yang paling dekat, monyet, hanyalah dibekali 10 juta sel otak. Tikus 5 juta, lalat hanya 100 ribu dan lebah 7 ribu saja. Nah, menghadapi lebah yang secara potensi bodoh saja terkadang kita tidak mampu. Kenapa? Karena kita tidak mengembangkan potensi.
The Sleeping Giant
Kalau baru tahu apa yang saya tulis tersebut, merenunglah, sadarlah, betapa selama ini ‘membodohi’ diri. Mana pula, belajar dari mereka yang tidak memintarkan, tidak membantu mengembangkan potensi (mudah-mudahan tidak, bo). Saya tunjukkan ‘metode’ memperbodoh yang tidak disadari selama ini.
Sampeyan sekolah, belajar untuk mengembangkan potensi. Kalau menurut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) agar mempunyai kompetensi. Hal tersebut sangat berkaitan erat dengan pikiran, otak, kemampuan, dan keterampilan. Pasti itu. Masalahnya, akan ‘mempekerjakan’ otak, apakah sudah paham apa itu otak? Bagaimana sistem kerjanya, sistem stimulasi, cara menggunakan, memanfaatkan, dan seterusnya. Kalau belum itulah keteledoran mendasar.
Bagaimana mungkin mendayagunakan sesuatu (otak) kalau tidak paham sesuatu itu. Keblinger namanya. Bertobatlah dengan mempelajarinya mulai sekarang. Banyak buku-buku tentang otak hingga otak tidak terjerembab menjadi sleeping giant, raksasa tidur di tubuh kita. Berpikirlah, merenunglah untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain dengan memahami otak.
Menginstal Otak
Sebagai berian Allah SWT, pada dasarnya otak sudah diinstal sejak dari sononya. Misalnya, kita punya rasa kasih sayang, belas asih, cerdas, kreatif, dan seterusnya. Dalam bahasa agamanya, dibekali Asmaul Husna. Sifat-sifat keilahian. Tidak peduli penganut Islam atau Kristen, Budha atau Shinto, bahkan atheis sekali pun. Semua diberi merata.
Untuk mengembangkan potensi tersebut, perlu diinstal dengan berbagai software. Terserah manusia. Allah tidak mengurus tataran ini. Cara paling mudah dengan belajar. Tepatnya, membaca, membaca, dan membaca.
Kira-kira, itulah sebabnya Allah tidak memerintahkan manusia (yang beriman) untuk sholat terlebih dahulu. Tetapi, ya tetapi, iqra’, iqra’, iqra’, membaca, membaca, dan membaca. Bagaimana mungkin sholat kalau tidak bisa membaca. Ingat, untuk sholat Allah memperjalankan Nabi Muhammad SAW ke Sidratul Muntaha ‘menegosiasikan’ (dalam tanda kutip) sesuai ‘kemampuan’ umat Rasulullah. Yang pertama, membaca dulu. Lainnya menyusul.
Kalau perintah Allah pada ayat pertama yang diturunkan Sampeyan praktekkan, Insya Allah akan mudah memahami apa-apa yang ‘ada’ pada diri manusia dan apa-apa yang di luar dirinya, berkomunikasi sesama makhluk dan alam semesta, apalagi dengan Sang Khalik. Begitu logikanya. Nah, kini kita lanjutkan ke pemahaman menulis itu sangat mudah.
Membaca Kuncinya
Merujuk kepada firman pertama Allah kepada umat Muhammad SAW, kewajiban kita membaca. Bisa juga dielaborasi dalam pengertian belajar, menuntut ilmu (tapi hati-hati, apa sih salah ilmu kog sampai dituntut?). Sudahkah hal tersebut menjadi prioritas, menjadi kebiasaan.
Agar jangan terjadi salah pemahaman, membaca itu bukan terpatok pada membaca buku saja. Membaca alam dengan segala isinya adalah membaca dalam pengertian sesungguhnya sebab disitu tersimpan tanda-tanda kebesaran Allah, ilmu Allah. Saya punya contoh satire yang sering disambungsampaikan kepada mahasiswa.
Mahasiswa, entah siapa pencipta istilah tersebut, secara harfiah ‘mencuri’ sifat Allah yangMaha. Dalam tradisi negara-negara Barat, tidak ada. Semua pelajar, dari pendidikan dasar sampai tertinggi disebut students. Di Indonesia, lain. Sifat Allah yang 99 ‘dilengkapi’ menjadi 100 oleh ‘siswa’ yang ‘maha’, mahasiswa. Opo ora huibat.
Saya katakan, sebagai penyandang sifat Allah, coba kalkulasi budgetting time hidup sehari-hari. Dari 24 jam berapa jam untuk membaca, untuk belajar? Sebagai penyandang predikat mahasiswa kalau separoh saja dipakai untuk belajar cukup bagus. Bagaimana kalau hanya 4 jam, 2 jam, atau blong sama sekali. Terserah Sampeyan. Mau menjadi pemunafik firman Allah, menjadi mahasiswa hipokrit, terserah. Its not my bussines.
Maksud saya, kalau apa yang diperintah Allah paling awal saja tidak dipraktekkan, ya bagaimana akan mengharungi Bumi Allah dengan enjoy. Lalu, apa sih hubungannya dengan menulis itu sangat mudah? Teruskan membaca sajian berikut.
Teori Berak
Menulis itu kan ‘menuangkan’ pikiran, melahirkan apa-apa yang ada di pikiran, apa yang dipikir. Kalau banyak membaca akan banyak hal bisa diolah, otak itu ibarat komputer. Apabila ada input akan terjadi process melahirkan output. Bacaan itu agar otak bisa bekerja dan hasilnya lebih bagus. Tidak lucu kalau otak disuruh bekerja sementara raw materials cekak. Bisa-bisa haus itu sel-sel syaraf. Bisa gila, bo.
Atau mau contoh yang sedikit jorok. Kalau kita banyak makan akan menumpuk di lambung. Mesin lambung akan menggilingnya, mana yang baik dijadikan ‘makanan’ tubuh, ampasnya akan menjadi tahi. Dari masukan makanan itu akan terpenuhi kebutuhan tubuh, kita akan sehat. Kalau berlebihan tentu saja sakit. Banyak makan akan banyak berak he … he … Kira-kira begitu contoh gampangnya.
Kalau tidak makan, apa yang mau dikeluarkan dubur? Paling-paling kentut. Kalau lambung tidak ada isinya, akan terjadi gesekan yang berakibat penyakit maag. Begitu kata dokter. Begitu juga menulis. Kalau sampeyan merenung terus-menerus, berpikir, tapi bahannya tidak diraup dengan membaca, bisa gila lho, sebab otak bisa rusak. Pendek kisah, harus banyak membaca.
Jadi, kalau bermaksud menjadi penulis, ya banyak membaca. Harus banyak masukan ke otak. Kalau punya entry behavioure yang cukup pastilah menulis jadi mudah. Ya itu, kalau banyak makan, tidak berak-berak, perut bisa meledak. Pasti ada kelainan. Sampeyan tidak mau kan punya kelainan? Ingat, menulis itu adalah mengeluarkan apa yang ada di otak, yang diolah otak. Punya teman yang suka ngomong sepanjang hari? Dia itu orang cerdas yang tidak paham arti kecerdasan. Kalau dia mau belajar menulis, pasti menjadi penulis hebat. Sebab, cara kerja otaknya cepat.
Tapi, sekali lagi ingat, agama kita tidak menganjurkan orang suka omong banyak. Omongan itu tidak bisa dipegang, begitu keluar, ditelan ruang. Kalau menulis, bisa dilihat betul-salahnya. Mereka yang punya pengetahuan luas, banyak ilmu, tidak mau menulis, jangan-jangan takut kalau menulis bisa terlihat seketika, dia pintar atau tidak. Menulis itu tidak main-main, lho. Contoh, suatu kali sebuah surat kabar nasional menulis tentang Nabi Muhammad SAW. Tidak ada niat menghina Rasulullah. Tapi, apa lacur, redaktur kurang hati-hati. Nabi yang seharusnya ditulis dengan n tertulis b, jadi babi. Datang protes dari mana-mana, didemo kalangan Islam.
Dengan kata lain, kalau pun bahan-bahan untuk ditulis sudah menumpuk di otak, harus pula hati-hati menuliskannya. Kalau tidak, salah menulis satu huruf saja, fatal akibatnya. Itu soal huruf, apalagi soal rangkaian tulisan.
Memotivasi
Rangkaian tulisan ini memang sarat dendang menyamankan, memandang enteng menulis, atau sedikit maulu-ulu, memang sengaja disajikan sedemikian agar dalam membacanya otak Sampeyan sedikit diaduk-aduk. Kalau yang datar-datar, yang sarat teori, ya beli saja buku teori menulis yang banyak beredar.
Tapi, kalau ingin belajar menulis dengan enteng, mudah dan tidak membeban, ambillah manfaat positif rangkaian tulisan saya yang lebih ke arah memberi motivasi dibanding menggurui. Syaratnya pun sederhana, menulis adalah urusan pribadi. Kalau mau menulis, tulis saja, pasti jadi tulisan. Begitu mudahnya. Semoga.
Bagaimana menurut Sampeyan?









2 Responses to “Secuil Tentang Menulis Sangat Mudah”
By Mega on Nov 8, 2007 | Reply
Iyah nih,,terkejut sekali..
Ternyata setelah bisa menulis sedikit,,tak disangka mengasyikan juga yak..
By henny cut on Apr 2, 2008 | Reply
iya juga sih…tapi klao nggak terbiasa nulis…and dipaksa nulis ide2 tuh rasanya susah bgt ngalirnya…gmn nih???