Road to My Self
27 November 2006 | Ditulis oleh:Jika Allah memberi kemudahan, apapun dapat kau peroleh tanpa diduga-duga.
Ersis Warmansyah Abbas
Alhamdulilllah, kata Darmawan Jaya, ketika memulai pembi- caraan di RM President Banjarbaru. “Kita, barangkali terlalu disibukkan oleh pekerjaan tanpa mempedulikan kebutuhan batin, spiritual”. Tentu saja saya tercengang, tidak dapat menangkap arah pembicaraannya. Reaksi refleks, mencandai sembari bertanya: “Sejak kapan sampeyan menjadi Kiai?”.Sebagai sahabat, tentu dia hapal ‘gaya’ saya. “Pak Ersis sudah baca buku ESQ karya Ary Ginanjar Agustian?”, tanyanya. Padahal, sejak berteman, Jaya tidak pernah bicara soal buku. Kami lebih banyak bicara soal bisnis atau perkawanan.
“Belum”, kata saya, “tapi lagi rajin membaca bertema motivasi dan agama berkaitan dengan bisnis. Lagi tergoda serial buku Robert T. Kiyosaki”.
Jaya mencecar dengan ujaran-ujaran esensial tentang siapa, dimana dan hendak kemana kita. Pendek kisah, kami ke toko buku Riyadh. Saya dibelikan buku Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual, ESQ, Ary Ginanjar Agustian. Walaupun nampaknya dia agak kecewa ketika saya juga membeli buku ESQ tersebut, saya katakan: “Hadiah buat seseorang”.
Seperti biasa, bila dapat buku baru langsung dibaca. Lalu mengontak Erwin Dede Nugroho, pemred Radar Banjarmasin. Kami diskusikan alpha-betha-nya, dengan simpulan awal, biasa-biasa saja. Mungkin karena terlalu banyak membaca buku sejenis, terutama karangan ilmuwan dan penulis Barat (Sory, sedikit sombong, ngak pa-pa khan).
Strategi Ogi
Keesokan hari, Ogi Fajar Nuzuli, seperti biasa, tanpa ba bi bu langsung mencecar tentang ESQ. Tak tahan, saya bilang: “Sampeyan baca buku sekelas itu berapa sih?” Tidak ada yang istimewa, kecuali Ary ‘membungkus’ dengan nilai-nilai Islami mengalahkan penulis-penulis Barat. Sangat menyentuh memang, seperti ketika membaca karya Ghazali, Iqbal atau Hamka”.
Rupanya Ogi sengaja memancing dan bercerita tentang ketersentuhan batin, jiwa, mengikuti ESQ Training. Gaya Ogi yang provokatif menyentuh qalbu sungguh menarik. Bahkan, suatu malam, bersama Jaya di rumahnya, kami mendiskusikan lebih serius dan mendalam dengan kata putus seperti dikatakan Jaya: “Pak Ersis harus ikut”.
“Hadangi dulu”, kata saya. “Sebagai wacana sudah baca pemikiran Wahabi sampai Ikwanul Muslimin. Tapi, saya takut, kalau gegap gempita ESQ nanti berujung pada ‘tindakan politis’. Saya, sungguh alergi dengan politik praktis. Secara bercanda bilang: “Jangan-jangan Anda ini terobsesi dengan …”. Mereka tersedak ketawa.
Sejatinya, mata batin ‘mencubit’, lautan bacaan terasa terangkum dalam buku Ary. Tapi, saya kan tidak gampang terpengaruh oleh apa dan siapapun, kecuali kalau ‘nurani’ bilang OK. Sejatinya pula, ketika Erwin Ok berangkat, hati sudah Ok untuk berangkat. Tapi, saya masih takut naik pesawat. Harap maklum, di ujung tahun 2002, pesawat tumpangan ke Jakarta bermasalah, rusak selepas take of, yang berakibat trauma.
Himbauan Teman Kecil
Keberangkatan Erwin bersama sekitar seratus ESQmania Kalimantan Selatan, ternyata tidak membang-kitkan keberanian. Suatu kali, ketika asyik mengetik artikel di suatu sore, Hp berdering. Sebagai penulis, saya agak terganggu. Ternyata yang menelpon Hamdi Djunaid.
“Pak Ersis saya lagi di ESQ Training Jakarta. Ada yang mau bicara”. Oh, ternyata Shabri Achmad, Presiden Direktur PT Esa Putra Primatama, sebuah usaha ekpedisi sukses, teman kecil saya. Intinya, ‘mewajibkan’ ikut.
Sejak itu memperdalam IQ, EQ, dan SQ melalui beragam buku. Balikannya, bagaimanapun ajakan Ogi dan Jaya tak membuat berani naik pesawat. Pada keberangkatan Desember 2003, mereka sudah mendaftarkan.
Saya ingat benar, hari itu Rabu, 24 Desember 2003, jam 09.00, Hp berdering. Lagi-lagi dari Hamdi. Telepon itu tidak saya sahuti dan berjanji dalam hati, kalau bicara bisnis takkan ditanggapi, tapi kalau ESQ berangkat. Ketika menelpon balik, ternyata tentang ESQ.
“Hallo”, kata Ogi, “kami menuju bandara. Jadi kalo berangkat?”.
“Yes”, kata saya. Isteri tergesa-gesa setengah tak percaya memasukkan baju-baju ke koper. Dalam sepuluh menit berangkat diiringi doa dan canda isteri: “Berani naik pesawat nich ye”.
Sejatinya, ada peluang batal berangkat karena ‘jamaah’ kekurangan tiket. Ogi bertindak cepat: “Nadjmi nanti menyusul sore ya. Pak Ersis kalau tidak sekarang, ntar ngak jadi. Ngalih kena”. Lalu, M. Husni, perintis dan Godfather ESQmania Kalsel mendekati: “Pak Ersis. Saya juga pernah mengalami trauma. Memang bukan hal gampang melupakannya. Tapi, kita harus melawannya dan semuanya serahkan pada Allah SWT”.
Keberanian tersentuh. Harap maklum, teman-teman maulu-ulu soal yang satu ini, dan M. Husnilah yang memberi semangat setelah setahun. Kata-katanya menyentuh qalbu. “Ya, Pak Husni, saya berani sekarang”. Dalam hitungan menit pesawat menerbangkan kami ke Betawi.
Puisi Kebesaran Allah
Di angkasa itu saya pandangi awan yang bergumpal-gumpal dengan langit tiada bertepi. Dengan sepenuh jiwa, di dalam pesawat pikiran menerawang dalam komparasi, betapa kecilnya diri ini, membuahkan pemahaman lebih dalam, begitu besarnya Allah SWT.
Saya menikmati betul kebesaran-Nya. Saking serius dalam perenungan, beberapa puisi tentang kekaguman dan kekuasaan Allah SWT segera terpola di otak. Alhamdulillah ya Allah, Kau kembalikan keberanianku. Mudah-mudahan inilah jalan menemukan diriku untuk menunaikan tugasku sebagai ciptaan-Mu.
Saya tak peduli, apa-apa. Betul-betul merasakan ketersentuhan jiwa dengan kebesaran dan keagungan Allah SWT. Mozaik awan dengan aneka formasi sungguh membawakan pertanda dan petunjuk, Allah SWT begitu akbar sementara manusia tak berarti apa-apa dalam hamparan kebesaran dan kekuasaan-Nya.
Ternyata, di ketinggian 20.000 kaki dari permukaan laut, ‘suara’ Allah menyeru batin. Kesadaran muncul, betapa selama ini, mata hati buta melihat kebesaran alam ciptaan Yang Maha Besar, Allah SWT. Keyakinan makin memantap, Allahu Akbar.
Tak terasa, sejam kemudian, kami mendarat di Soekarno Hatta dengan perasaan bergelora mengikuti ESQ Training. Kalau memang pelatihan itu mampu menyentuh qalbuku, bukakan pintu itu, Ya Allah. Bagaimanapun, jalan menemukan diri itu bermacam-macam cara dan godaannya. Nampaknya saya sudah berhasil melawan satu ketakutan, takut naik pesawat.
Bagaimana menurut Sampeyan?








