Resiko Menulis

27 November 2006 | Ditulis oleh: |

4.2 Risiko Menulis

* Hidup ini adalah risiko, tidur pun mengandung risiko, apalagi menulis. Kalau mau menjadi penulis siap-siap menjawab risiko, apapun bentuknya Jangan pernah takut, tapi minimalisir risiko dalam menulis dan kehidupan.

Suatu kali, seorang teman geleng-geleng kepala tersebab seorang teman disidang pengadilan dan dijatuhi hukuman karena artikelnya dikategorikan menghujat. Terpenjaralah kawan tersebut. Saya memotivasi, tetaplah menulis.
 
Pengalaman pahit kawan tersebut bukanlah hal baru. Ada yang karena salah dalam menulis, ada pula karena belum dipahami oleh manusia sejamannya atau ide-idenya mendahului jamannya. Belum lagi tulisan yang tidak disenangi berbagai pihak. Sangat banyak kasus.Hal-hal sedemikian dapat kita simak dari periode mana saja kehidupan manusia. Tinggal bagaimana merakit kiat agar terlolos dari kondisi yang kurang kondusif bagi penulis. Menyitir kata seorang kawan, kalau salah dalam menulis, ya akui saja. Kalau berakibat tidak bagus dalam kehidupan sosial, sampai dipenjara, yah itulah resiko menulis.
 
Jangankan menulis, tidur pun beresiko. Tinggal bagaimana memenej kemungkinan resiko tersebut hingga bisa diminimalisasi. Menulis, tidak ada kamusnya dapat memuaskan semua pihak. Itu sesuatu yang pasti. Di balik semua itu, kita hidup dan berkehidupan, apa pun alasannya, ‘tercipta’ tidak sama, tidak sama rata dan tidak sama rasa. Rambut boleh sama-sama hitam, tapi dibalik rambut itu beragam isinya.
 
Dengan kata lain, menulis memang mengandung beban resiko. Sekalipun begitu, tidak mengurangi semangat banyak orang untuk menulis dan menjadi penulis. Bagi saya, hal tersebut dijadikan ‘rambu-rambu’ agar lebih hati-hati. Kalau tetap tertimpa hal-hal tidak mengenakkan, apa boleh buat, itulah resiko sebagai penulis.
 
Yang penting, jangan gara-gara takut resiko, takut menulis. Resikonya lebih parah lagi, sebab kita dilahirkan dengan fitrah berpikir dan punya naluri untuk menyampaikan pikiran atau bertukar pikiran. Menulis adalah satu medianya. Apa pun jadinya, pilahan terserah Sampeyan, the life is choice. Saya hanya berkampanye, makin banyak orang menjadi penulis akan makin berakibat positif bagi kehidupan. Mana tahu demikian. 

Risiko Menulis

Serial tulisan ‘Menulis Itu Mudah’, mendapat respon cukup positif dari banyak pembaca. Ada yang menyampaikan langsung, melalui SMS, telepon, atau pun e-mail. Tulisan-tulisan dimaksud disengaja untuk memotivasi sembari memberi pemahaman bahwa menulis itu mudah, sangat mudah malahan.

Sekadar diketahui, beberapa penulis yang artikelnya sekarang sering muncul di media cetak, pada awalnya ada yang ‘dipaksa’ menulis. “Lu jangan omong doang (omdo), tapi tulis ide-idemu yang bagus itu”. Banyak tulisan mereka yang diedit, bahkan membantu mengirimkan ke media cetak. Alhamdulillah, sekarang ada yang menulis sangat bagus.

Jujur saja, sebagai ‘guru’ atau ‘konsultan’ sangat bangga. Ada kualitasnya yang lebih bagus dari tulisan saya. Ada kebanggaan menyelinap di relung hati. Setidaknya, tesis menulis itu mudah, mulai mendapat pembenaran. Saya mungkin mengidap ‘penyakit’, bangga orang lain lebih hebat. Apalagi ‘murid’ atau anak buah sendiri. Hemat saya, dengan begitu kemajuan akan bergulir.

Hal-hal positif buah nyata sebagai penulis, lain kali akan ditulis secara khusus. Tulisan berikut, memapar gambaran bahwa menulis itu mempunyai sisi yang katakanlah, menyeramkan, menakutkan, bahkan bisa membuat jiwa kecut. Pada kadar paling mengerikan, jiwa taruhannya. Begitu membahayakan? Yes.
Copernicus dan Galileo

Socrates, filsuf Junani ‘Kuno’, yang pikiran dan hasil karyanya sampai sekarang dipelajari banyak orang, setelah 20 abad berlalu, adalah contoh betapa berbahayanya berpikir dan menulis, atau katakanlah memapar ide yang susah dipahami manusia sejamannya. Socrates terpaksa menerima ‘hukuman’ minum racun. Socrates adalah gambaran pemikir teguh pendirian sekaligus contoh korban, kejamnya ‘kekuasaan’ yang tidak mampu memamah buah pikirnya.

Lebih spektakuler apa yang dialami Copernicus dan Galileo ketika ‘melawan’ pola pikir kaum agamawan saat itu. Berabad-abad anutan paham bahwa matahari mengelilingi bumi dibaliknya, bumilah yang mengitari matahari, bukan matahari yang mengitari bumi. Teori itu terkenal dengan heliosentris.
Tapi sungguh malang. Kekuasaan memang tidak selalu berpihak kebenaran. cenderung berpihak kepada pemegang kekuasaan. Sejarah mencatat, sekalipun Copernicus dan Galileo benar, kebenaran pemegang kekuasaan ‘lebih benar’ dan nyawa mereka adalah taruhannya.

Di zaman modern ini, ketika pemikiran, ide dan gagasan sangat dihormati, terkadang masih saja hal-hal sedemikian terulang. Banyak kejadian dimana para pemikir dan penulis mendapat buah pahit dari kreativitasnya. Itu adalah resiko. Kalau Anda takut dilanda ombak jangan pernah membuat rumah di pinggir pantai. Kalau takut dicaci, disalahpahami, dibenci atau diancam, jangan pernah mimpi jadi penulis.
Seorang rekan dosen muda pernah mengeluh: “Bang, aku dibilang kalajuan”. Saya tanya: “Yang bilang pernah nulis apa tidak?”. “Tidak”, jawabnya. “Kalau begitu, jangan dengar ocehannya. Saya pastikan, mereka ingin menulis, tapi tidak mampu. Anda dicemburui tu. Jangan pedulikan”.

Yang penting yakini, gagasan dan ide, sedikit atau banyak, mampu memotivasi dan atau mempengaruhi pemikiran kolektif ke arah yang lebih baik. Jangan pernah takut jadi pemikir dan penulis. Menulis memang beresiko. Hidup Anda bukan ditentukan oleh manusia atau penguasa tapi oleh Allah SWT.

Kisah Aa Gym
Aa Gym (kalau ngak salah nih), berkeinginan menjadi manusia pemilik ilmu secara akademis hingga kuliah di ITB dan seabreg keinginan lainnya. Tetapi, kehidupan berbuah kenyataan lain. Ia ‘terdampar’ menjadi dai. Maksudnya, kegagalan bukan untuk ditangisi. Allah SWT lebih tahu apa yang terbaik untuk masing-masing umatnya. Ternyata Aa Gym kini mendapat ‘tempat’ yang lebih bermakna bagi kiprahnya sebagai manusia. Menjadi manusia yang menentramkan qalbu banyak orang. Saya adalah penggemar dan ‘muridnya’ secara tidak langsung.

Jujur pula diakui, apa yang dilakukan masih sangat jauh sebagai seorang Muslim. Jauh dan masih jauh. Namanya saja belajar dan baru mampu menyadari kebesaran Islam. Bak kata pepatah, keinginan untuk itu luar biasa kuatnya tapi diri ini masih mampu ‘dirayu’ hal-hal buruk. Tapi yakin, Allah SWT akan mencatat, perjuangan memahami Islam untuk diri sendiri akan berbuah baik. Berbahagialah Anda, sebagai pemeluk Islam telah paripurna berprilaku Muslim, perbuatan sesuai dengan tuntunan agama. Saya masih dalam taraf belajar.
  
Anda jangan pernah takut ketika ide atau gagasan jauh dari kenyataan. Namanya saja ide, mana mungkin sama sebangun dengan kenyataan. Misalnya, Anda menginginkan praktek demokrasi sesuai dengan konsepnya tetapi kenyataan menampak lain, praktek demokrasi dipraktekkan sesuai pemahaman sesorang atau kelompok berkuasa. Antara teori dan praktek tidak harus sama persis. Kalau begitu adanya, dunia ini tidak seruwet ini.

Apalagi kalau Anda mempunyai ide tentang kehidupan yang baik, harmoni, dan hal-hal baik lainya. Bahwa seharusnya tercermin atau tertampak dari diri sendiri, begitulah idealnya. Tetapi ingat, Anda menulis dalam tataran ide, bahkan dari ‘dunia bayangan’, dunia impian. Persisnya tidak perlu sama dan jangan takut dicibir orang.

IKIP Bandung
Ketika kuliah di Pascasarjana IKIP Bandung, suatu kali menulis artikel bertitel “Agama dan Ilmu Pengetahuan’. Artikel yang dimuat HU Pelita itu mendapat tanggapan banyak kalangan. Berbulan-bulan menjadi polemik tingkat nasional. Secara intelektual ditanggapi ‘kiri-kanan’. Pokoknya ramai, memuaskan kehausan intelektualitas.

Tetapi Saudara, bukan tidak mungkin, sekalipun di kalangan intelektual, gagasan bisa pula dianggap sebuah aib. Bisa-bisa diminta pertanggunganjawaban. Pada tahun 1991, bersama Bambang Subiyakto dan Daud Pamungkas, mendiskusikan artikel Masri Singarimbun —guru saya ketika belajar Antropologi di UGM— ‘Perpustakaan Jantung Universitas’ yang dimuat majalah Prisma. Kami mendirikan Kelompok Studi Milleautheraphie. Sempat melakukan survey ke perpustakaan di Kalsel dan mempublikasikannya di media cetak.

Ternyata, mendapat tanggapan cukup bagus. Artikel itu oleh banyak kalangan dianggap briliyan namun bagi pengelola perpustakaan, ‘dijawab’ dengan keluhan. Nah, belasan tahun kemudian, kondisinya masih jauh dari yang diharapkan. Dan, saya tetap mengkritisi. Konon, kini perpustakaan Unlam sedang dibenahi dengan sistem komputerisasi. Tentu saja warga Unlam, terutama mahasiswa, akan tersenang. Saya kasihan mahasiswa. Kalau untuk keperluan pribadi membeli sendiri. Hingga pada dasarnya tidak membutuhkan perpustakaan. Enak membaca di ruang pustaka pribadi.

Sekedar untuk dicatat, isteri sampai hari ini tidak pernah saya belikan baju. Tapi kalau dia dan anak-anak mau membeli buku atau majalah, langsung dioke. Yang paling menjengkelkan, kalau teman-teman datang ke rumah lalu meudak-udak buku dan dengan rayuan gombal meminjam buku. Padahal, pakaiannya lebih gaya.

Yang ingin saya sampaikan, kalau mau menjadi penulis, harus banyak membaca dan membeli buku. Hidup seadanya adalah akibatnya. Investasi informasi itu mahal. Bagian dari resiko menjadi penulis.    

Ngeri, Ih … Takuuuuut
Kembali ke hal tulis-menulis, pengalaman menunjukkan, terkadang apa yang kita maksudkan dalam suatu tulisan, tidak dipahami sebagaimana kita maksudkan. Tidak usah takut, hal tersebut lazim saja dalam dunia tulis-menulis, dunia intelektual. Pro-kontra, berbeda pendapat adalah hal wajar dalam kehidupan.

Bukan tidak mungkin pula ‘dijawab’ dengan emosional. Kalau Anda mengalami hal sedemikian, hadapi dengan santai, dengan cool. Anda juga harus paham ‘kepala orang’ isinya tidak sama. Makanya, menyamakan persepsi sering didengungkan di mana-mana dan kapan saja.

Adalah utopis manakala berharap apa yang digagas langsung dipahami orang. Contoh terbaru, misalnya, dulunya UUD itu tidak perlu diutak-atik. Nyatanya? UUD diamandemen. Begitu pula statuta Unlam, siapa bilang tidak bisa diubah. Sekarang mungkin dianggap tabu, tapi coba saja beberapa tahun ke depan. Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri, yang abadi adalah ketidakabadian. Kehidupan manusia tentatif.

Kembali ke konteks tulisan ini, salah paham, salah tafsir, salah persepsi sampai menimbulkan marah dan amarah, terpantiknya emosi, diancam atau akan ‘dihabisi’ adalah bagian tersendiri dari resiko menulis. Nasehat saya jangan pernah takut tapi juga harus berjiwa besar, kalau salah jangan malu-malu mengoreksi. Contohnya artikel saya tentang Nabi Yusuf, dibetulkan oleh anak SMP.

Nah, jangan sampai takut mengutarakan ide, pikiran, gagasan dan menulisnya. Tulisan tidak perlu dibela-bela, sebab ia akan membela dirinya sendiri. Apalagi kalau hanya soal emosional, sebab emosi adalah respon sesaat. Kalau emosi sampai menjadi abadi, itu bahaya. Intelektualitas tidak pernah bisa dihapus dari memori otak seseorang, ia hanya bisa dimanfaatkan atau ditidurkan.

Meminjam istilah seorang teman: “Menulis? Ngeri, Ih … takuuuuuut”.  Jangan, sekali-kali jangan. Mimpi saya, siapa saja yang punya kemauan atau semangat menulis, harus didukung, jangan dimatikan. Itu tidak mendidik. Suatu saat kelak, akan datang masanya, para penulis akan diberi reward. Saya janji, kalau terpilih menjadi rektor atau gubernur, akan memberi hadiah dan penghargaan bagi para penulis. Masalahnya, mungkinkah Ersis terpilih jadi rektor atau gubernur, he … he …

Bagi calon penulis atau penulis, jangan malu-malu melakukan perbaikan. Menulis dan menulislah, sebab dengan pengalaman itulah nantinya tulisan akan lebih bermakna. Hidup ini terlalu indah untuk ditakuti.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Post a Comment