Proses Kreatif: Menulis Sangat Mudah

27 November 2006 | Ditulis oleh: |

3.2 Proses Kreatif: Menulis Sangat Mudah

Proses kreatif itu ada di diri masing-masing. Apa yang ada di pikiran, di sekeliling kita, dapat dijadikan pemicu proses kreatif. Tulis, tulis, dan tulis. Makin banyak menulis makin kreatiflah Sampeyan.

Buku Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang dieditori Pamusuk Eneste sangat berpengaruh pada sikap saya terhadap menulis. Buku Proses Kreatif I dibeli di Pameran Buku Nasional Jogja, 9-2-1983, seharga Rp2.400 dan Proses Kreatif II Rp3.700,00. Kalau tidak salah, baru menerima honor tulisan ‘Guru Yang Humoris’ dari Sinar Harapan, Rp40.000,00. Honor sebagai guru SMA Marsudi Luhur Jogja ketika itu Rp750 per jam pelajaran.Berpengaruh karena sepanjang ‘belajar’ tidak menjadi lebih kreatif menulis. Dari berbagai diskusi dengan teman-teman dan beberapa tentor, hasil konkretnya tidak ada berupa tulisan. Namanya juga diskusi. Waktu tersedot bersoal tentang aturan, teori, pendapat, interpretasi ‘ahli’ dan berbagai hal yang berakibat ngeri menulis.

Membaca buku Pamusuk, merasakan nikmatnya ‘penjelasan’ STA, Subagyo S., A.A. Navis, Trisnoyuwono, Wildan Yatim, Nh Dini, Budi Darma, Ajip Rosadi, Putu Wijaya, Julius RS, Arswendo A., Sitor S., Nasjah Djamin, Pramoedya AT, Gerson Poyk, Satyagraha H., Sori Siregar, Sapardi DD, Danarto, M. Poppy DHG, Hamsad Rangkuti dan Abdul Hadi WM. Tersadar, setiap penulis punya cara dan gaya sendiri berkreasi.

Setelah memahami, menulis untuk koran Jogja dan Jakarta. Ketika S2 di Bandung menggantungkan hidup dari menulis sembari bekerja di perwakilan HU Pelita Jabar. Puncak prestasi jurnalistik membuat suplemen Lustrum VII IKIP Bandung. Sampai hari ini masih terkagum, begitu besarnya penghargaan untuk penulis, Rp.10 juta bo.

Amati dan Tulis
Saya sangat terkesan dengan sajak “Malam Lebaran” Sitor Situmorang yang sebaris saja: ‘Bulan di atas kuburan’. Sajak itu dibahas J.U. Nasution, Umar Junus, Subagio S dan entah siapa lagi. Ramai. E … begitu Sitor menjelasan, ternyata proses dan pemahaman sederhana dan nyaman dicerna. Sejak itu tidak tergoda lagi analisis pengamat. Baca sendiri dan nikmati sendiri. Bacaan tidak terdistorsi, renyah di otak, nyaman di rasa. Menikmati sastra dengan ‘jiwa’ sendiri bukan dengan pikiran orang lain.

Suatu kali, tahun 1954 (saya belum lahir) Sitor bermaksud berhalalbihalal ke Pramoedya Ananta Tour. Apa lacur, rumah Pram sepi. Kecewa beratlah Sitor. Pulang melalui perkampungan berselokan kotor, bau dan kesasar ke daerah pepohonan bertembok. Dia tergoda, ada apa dibalik tembok? Ternyata kuburan yang tertimpa cahaya bulan, lahirlah … bulan di atas kuburan.

Malam Lebaran menjadi ‘guru berharga’. Akibatnya, malas berguru. Apalagi, kepada analisis atau interpretasi. Jauh sekali apa yang dimaksud penulis dengan apa yang ‘dibahas’. Ketika bertamu ke Mahbub Djunaidi (kolumnis beken Bandung) bertanya langsung. Akhirnya berbulat tekad, mengembangkan cara dan gaya sendiri.

Begitulah, ketika dibawa Hamamy Adaby dan Arsyad Indradi menerbitkan antologi puisi Garunum, langsung OK. Tergugah ‘rayuan’ perlu digalakkan menulis tentang apa saja dalam bahasa Banjar. Mereka penulis puisi, ada karyanya. Saya sadar, bukan sastrawan dan pemula dalam bahasa Banjar. Mereka yang ‘membereskan’ (meluruskan dan membenarkan). Ketika proses itu, menulis ‘puisi-puisian’ tambahan. Heran juga, seratusan halaman. Jurus saya, amati dan tulis.

Ringkasnya, menulis buku Surat Buat Kekasih disela-sela menyelesaikan antologi Garunum. Sangat cepat. Arsyad membelalakkan mata ketika 2 jam sekembali dari rumahnya, menulis Surat Buat Lou Han. Begitu juga sekembali dari rumah Hamamy menulis Surat Buat Sang Sastrawan. Kenapa bisa?

Pengaruh ESQ
Saya sadar, menulis urusan pribadi, diproses di otak sendiri. Saya sering dimintai tolong menulis naskah pidato jam-jaman sebelum dibacakan atau laporan dalam waktu pendek. Setelah mengikuti ESQ Training semakin lancar. Pernah, suatu ketika berbincang dengan Facthul Mu’in di FKIP Unlam dan mendapat inspirasi. Sesampai di Banjarbaru, jam 20.00 menghidupkan komputer, jam 21.00 mengirim lewat email. Alhamdulillah, besoknya dimuat.

Dari ESQ mendapatkan hal sangat berharga, zero mind process (ZMP). Kalau melakukan sesuatu, sebaiknya ‘mengosongkan’ pikiran. Dalam praktek menulis, proses kreatif dimulai sederhana, ambil satu titik … bahan akan terkumpul ke titik tersebut, entah dari mana datangnya.

Misalnya, ingin menulis tentang ‘Belenggu-Belenggu Menulis’. Bahannya datang begitu saja sampai tangan ngak kuat mengikuti. Konon, katanya, otak kanan yang bekerja. Entah iya entah tidak, mana peduli saya. Yang penting menulis, jadilah tulisan.

ZMP memang tidak mudah. Kalau diri terisi kemarahan, iri, dengki atau ‘pesanan’, proses kreatif akan bergulir dengan berbagai tumpangan tersebut. Yang keluar pantulannya, akal sehat pun dimakannya. Jadi, lakukan ZMP kalau menulis.

Suatu kali Darmawan Jaya menelepon. Kebetulan sedang membuka komputer dan pada status ZMP. Gambaran Jaya ‘menari-nari’ di benak. Lalu, menulis apa yang ‘bermain’ di memori tanpa maksud ini-itu. Jadilah Surat Buat Sahabat Muda. Dia menitikan air mata ketika dua jam kemudian membaca. Entah kenapa, saya tidak bertanya juga sampai hari ini.

Sebagian besar tulisan saya terlahir dari hal-hal sedemikian. Kalau melihat sesuatu atau membaca sesuatu yang menjadi perhatian, langsung ditulis. Walaupun menulis dengan ‘cara kuno’, banyak yang suka membacanya. Kalau tulisan tidak nonggol dalam seminggu, banyak yang SMS atau menelepon.
Bangga juga, Rudy Ariffin, Rosehan, Rasmadi atau banyak lagi yang membaca. Profesor Athaillah Mursyid dan timnya, di arena kampanye pemilihan Rektor Unlam mengatakan: Visi-Misinya dipicu oleh tulisan-tulisan saya (jangan-jangan gara-gara itu kalah, he … he …). Padahal tidak pernah meminta mereka membaca. 

Disenangi Guru-Guru
Sabtu 28 Januari 2006 saya bertemu dengan guru-guru SMP/MTs dan SMA/MA se-Banjarbaru. Rupanya mereka pembaca tulisan saya. Ada yang meandaikan saya menjadi Kepala Dinas Pendidikan di depan Kadindik Banjarbaru, Chairuddin HB. Acaranya bersamaan dengan Seminar Penataan Penambangan Kalsel, mohon maaf pada Anang Syahrani, yang sejak perancangan seminar telah membawa berbicara. Maaf juga Pak Rudy Ariffin, dua malam sebelumnya ber-SMS memastikan sidin datang.

Yang ingin saya sampaikan, tulisan mengenai pendidikan banyak diinspirasii guru-guru. Guru-guru itu banyak ide, gagasan, yang hebat-hebat, langsung dari lapangan. Saya mengolahnya dan jadilah tulisan. Guru-guru berjasa memberi bahan.

Akhirnya, proses kreatif itu ada di diri masing-masing. Apa yang di pikiran, di sekeliling kita, dapat dijadikan pemicu proses kreatif. Karena itu jangan takut menulis. Soal orang menilai begini-begitu, bukan hal penting. Lakukan ZMP, jangan berniat jelek, berburuk sangka, Insya Allah, menulis sangat mudah menjadi bagian kehidupan kita.

Kepada peserta Pengenalan Penulisan Kreatif Sanggar Sastra Indonesia (SSI) Banjarmasin, inilah tambahan jawaban atas antusiasi Anda. Terima kasih Zulfaisal Putra, atas kehormatan memberi saya kesempatan memotivasi anak-anak muda kita. Maju terus. Menulis itu sangat mudah.  

Bagaimana menurut sampeyan?

Post a Comment