Proses Kreatif Menulis Sangat Mudah

27 November 2006 | Ditulis oleh: |

Bab 3 Proses Kreatif Menulis Sangat Mudah

BAB 3 PROSES KREATIF MENULIS SANGAT MUDAH — 55
 3.1 Menulis dengan Gembira   —   57
 3.2 Proses Kreatif: Menulis Sangat Mudah —   65
 3.3 Menulis Pengalaman Mengesankan   —   69
 3.4 Bacaan Menyentuh Qalbu   —   77
 3.5 Merespon Persitiwa Langka   —    85
 3.6 Ide Segar   —   93
 3.7 Memapar Simpati   —   103
 3.8 Mengkuti Pelatihan   —    113
 3.9 Menulis Makalah   —   123
 3.10 Permintaan untuk Dikritik   —   137

3.1 Menulis dengan Gembira

* Setiap orang terlahir dengan potensi tidak terbatas, born to be genius. Gunakan potensi, banyak membaca, tulis apa yang dipikirkan, jadilah tulisan. Begitu nyamannya.

Menulis, tidak usah diperbincangkan dan diperdebatkan lagi, adalah proses kreatif yang bermula dari berpikir. Awalnya bisa jadi dari ‘berpikir’ itu sendiri, atau ketika otak merespon atau terpaksa merespon ‘sesuatu’. Menulis berawal dari ‘kerja’ otak.Sudah dapat dipastikan, setiap saat otak kita bekerja dalam tugasnya sebagai ‘pusat’ kendali aktivitas. Sampai-sampai dikatakan, ketika kita tidurpun otak tetap bekerja. Selama otak bekerja dan atau dipekerjakan Sampeyan pasti bisa menulis. Kenapa?
 
Menulis khusus buat orang yang otaknya masih bisa beroperasi secara benar. Dalam bahasa lain, selama bisa berpikir orang pasti bisa menulis. Kalau pikiran dalam status of, misalnya Sampeyan pingsan, mabuk atau terserang penyakit gila, tidak mungkin menulis. Kalau tidur dan bermimpi, ‘perjalanan’ mimpi masih bisa ditulis. Ringkasnya, selama memori bisa merekam dan kemudian mampu memproses selama itu pula pasti bisa menulis. Itu yang pertama.
 
Yang kedua, apabila berkehendak menjadi penulis, modal berpikir tersebut ‘dituangkan’ menjadi tulisan. Saya mengingatkan, pengertian kita tentang menulis jangan disempitkan ketika tangan menggoreskan pulpen atau jari-jari lincah menari di keyboard komputer. Hal sedemikian tidak lebih tidak kurang, penuangan apa yang ‘dikerjakan’ otak.
 
Menulis pada hakekatnya berpikir. Jari-jari Sampeyan hanya ‘media’ bagi penampakkan berpikir. Dus, kalau mau menjadi penulis, ya berpikir, perbanyak berpikir, aktifkan otak. Makin banyak berpikir makin lebih mungkin melahirkan banyak tulisan.
 
Tetapi Saudara, keberpikiran adalah urusan internal, urusan otak Sampeyan di otak itu sendiri. Kalau apa-apa yang dipikirkan mau ‘dilahirkan’, ya menulis. Bisa saja ‘dikeluarkan’ dengan berbicara atau cara-cara lain, tapi bukan itu yang dimaksudkan dalam rangkaian tulisan ini. Banyak kan orang yang piawai bicara tetapi payah dalam menulis. Saya menganjurkan, kalau berkehendak menjadi penulis, kurangi kadar bicara. Kenapa?
 
Coba perhatikan teman-teman Sampeyan. Kalau berbicara atau berteori ada yang luar biasa fasihnya, soal apa saja seolah-olah dikuasainya, ada kalanya orang lain tidak diberi ruang untuk bicara. Hal sedemikian berlaku bagi orang awan, berpendidikan rendah sampai yang bergelar Master atau Doktor. Untuk yang terakhir dia bisa memberi ceramah ke mana-mana, ‘menvonis’ ini itu. Terkadang ahli ‘kambing’ piawai bicara tentang psikologi. Sampai-sampai ada jokes —tentang Si Ahli Bicara tadi– dia ahli segala hal kecuali bidang keahliannya.  Sebaiknya batasi pertemanan dengan orang-orang semacam ini kalau mau menjadi penulis.
 
Saya berikan tip khusus untuk hal ini. Kalau Sampeyan berkeinginan menjadi penulis, baca apa saja, lalu tulis. Jangan pernah berkonsultasi dengan orang yang tidak pernah menulis, jangan pernah mau diberi ceramah apalagi dibimbing, dilatih atau apapun namanya. Tidak peduli dia Doktor, Rektor, Gubernur atau Presiden sekalipun. Itu tindakan bodoh.
 
Minimal, kita mengurangi ruang untuk orang-orang seperti ini. Sungguh keterlaluan, mana dia tidak punya kemampuan menulis, enaknya menilai, bahkan mencaci-maki, karya kita, betapapun jeleknya. Sudah begitu, diberi honor lagi. Logikanya, antara ‘murid’ dan ‘guru’ sama bodohnya. Enakan bagi ‘Si Guru’, sudah tidak mampu, dibayar pula.
 
Kembali ke konsep menulis sebagai kerja otak, sebaiknya Sampeyan merespon apa-apa yang ada di otak dan di luar otak lalu diproses di otak sendiri. Setelah prosesnya matang tuangkan dalam tulisan. Sampeyan sendiri akan kaget: “Oh ternyata saya bisa menulis”.
 
Lebih mengagetkan lagi, ternyata sangat mudah, sungguh pekerjaan enteng. Saya yakin, kalau serius dilatih cara kerja otak akan terpola sedemikian rupa. Kalau tatanan sistem otak sudah bagus, prosesnya akan bagus, keluarannya akan bagus. Hal-hal seperti itu tidak bisa dipindahkan dari otak orang lain. Jadi, latih otak sendiri.
 
Lagi pula, dari tulisan kita tidak bisa menipu diri dan orang lain, malahan tidak bisa berkelit. Kalau berbicara, begitu selesai, ya dilalap ruang, hilang tidak berbekas. Kalau salah bicara, Sampeyan bisa berkelit, saya tidak berbicara demikian. Kalau menulis, tidak bisa. Kenapa?
 
Ya, apa yang tertulis itu adalah ‘kenyataan’. Bagaimana mau berkelit, wong tertulis. Dus, mendidik untuk gentleman, mengakui kesalahan, memperbaiki atau minta maaf kalau salah. Bagaimana mau berkelit, ada bukti faktualnya. Karena itu, kalau mau jadi penulis ya harus mempunyai seperangkat ilmu, kemampuan olah kata sampai kecermatan dan seterusnya. Tidak ada alasan-alasanan.
 
Punya teman orang pintar atau dosen yang bergelar Doktor atau Profesor? Coba, ada yang puluhan tahun mengajar tidak menerbitkan satu buku pun. Yang dikuliahkan pendapat orang, definisi orang, cuplikan buku orang sementara dia merasa hebat. Kalau hebat, coba apa yang dikluiahkan dituliskan. Pasti lebih yahud. Terkadang kalau kita baca lagi catatan kuliah, ada yang ngawur. Agar orang lain jangan tersinggung, saya sebagai contoh. Saya kan dosen, he … he …

Dari Otak ke Rasa
Inilah rahasia mengapa orang, apakah dia guru, dosen, Doktor yang Profesor atau siapa saja, lebih suka bicara dari menulis buku. Menulis buku, kalau salah, tidak ada ampunnya, karena tertulis, tidak bisa berkelit. Dari tulisan seseorang kita dapat mengetahui ‘isi otak’ seseorang.
 
Oh ya, jangan mau pula dirayu dengan alasan-lasan gombal kelompok orang-orang seperti itu. Saya sibuk, banyak pekerjaan ini itu. Itu gombal. Alasan-alasan pembenaran sekaligus pembelokan agar dia bisa dipahami kenapa tidak menulis. Saya sendiri menemui kesadaran demikian bukan mudah. Kini tengah berjuang menulis buku teks. Tapi, tidak akan mau lagi tertipu dengan alasan-alasan orang-orang semacam tersebut, go to hel with your arguments.
 
Rangkaian kutipan tulisan bab ini saya ambil dari artikel-artikel di media cetak yang ditulis dengan berbagai motif, direspon oleh berbagai sebab, yang intinya memberi kabar gembira, menulis itu sangat mudah. Apa saja, dimana saja, dalam kondisi apa saja, pada dasarnya kita mampu menulis.
 
Maksud saya, dalam menulis dan membiasakan menulis hingga menjadi habit harus disiplin. Contoh yang paling bagus sholat. Kalau Sampeyan orang yang tertib sholat, satu kali ‘meninggalkan’ sholat, perasaan akan terdenda. Begitu juga menulis, sekalipun merupakan kerja otak, kalau sudah menjadi habit akan menyentuh wilayah rasa, perasaan. Bila tidak dipenuhi, mendenda diri. Persis seperti sholat, ada rasa menyesal, berdosa dan seterusnya.
 
Dalam pembahasan ini tidak dipapar keterpilahan, keterpaduan atau saling interkoneksi antara wilayah ‘otak’ dan ‘rasa’, apalagi wilayah refleks. Terlalu tinggi. Contoh-contoh tersaji sengaja dibuat untuk penulis pemula atau mereka yang berkeinginan menjadi penulis.
 
Silahkan nikmati dan ambil ‘pelajaran’ dari masing-masing tulisan. Sajian contoh cukup beragam. Yang penting, muatan pesannya, menulis sangat mudah.  

Bagaimana menurut Sampeyan?

Post a Comment