Permintaan untuk Dikritik

27 November 2006 | Ditulis oleh: |

3.10 Permintaan untuk Dikritik

* Pengalaman mengesankan sangat mudah ditulis dan akan menyentuh tidak saja lubuk hati Sampeyan tetapi terlebih pembaca. Menulisnya begitu mudah.

Suatu kali, tepatnya Kamis 9 Februari  2006, jam 09.28 Witeng, Dr. Wahyu, M.S, dosen FKIP Unlam meng-SMS meminta saya menelaah bukunya bertitel ‘Perubahan Sosial dan Pembangunan’. Permintaan calon guru besar FKIP Unlam tersebut, saya tolak: “Pak Wahyu yang lain saja”. Entah apa sebabnya, Wahyu tetap ngotot. Saya cukup ‘segan’ sebab dia Doktor, saya baru magister, he … he … Lagi pula, berpatner dengan Prof. Dr. Kamrani Busry, Rektor IAIN Antasari Banjarmasin.Wahyu tidak memberi peluang berkelit. Jam 09.42 SMS-nya masuk lagi: “Setelah shalat tahajut, bisikan yang tepat Pak Ersis. Pengalaman dulu, Pak Ersis membahas Pengantar Ilmu-Ilmu Sosial, sungguh serius. Integritas keilmuan Pak Ersis yang selalu saya hormat”.
 
Wah, mulanya ragu juga, Wahyu meledek atau membesarkan hati. Tapi sudahlah, ini permintaan kawan yang saya hormati dan … menganggap permintaan tersebut sebagai penghargaan. Diledek atau apa, terserah dia saja. Positive thinking saja Mas.
 
Memang, tahun 1995 saya pernah diminta membahas bukunya. Tapi itu kan sudah lama. Lagi pula, akhir-akhir lebih suka membaca buku-buku bertema motivasi bisnis dan seri samudera Islam seperti karya Al-Qarni dan sejenisnya. Saya baru mendapat pencerahan keagamaan.
 
Lalu, saya hidupkan  komputer langsung menulis. Kebetulan, walau tidak lengkap, punya pustaka pribadi di ruang kerja. Lagi pula, memang hari-hari kegiatan saya membaca dan menulis. Jadi, jadi gampang saja.
 
Sekitar jam 15.00 naskah selesai. Tidak dalam format makalah, tapi artikel. Pertimbangannya sederhana saja, kalau artikel bisa lebih dahulu dimuat di media cetak. Ketika meminta Bambang Subiyakto membacanya, dia jawab dengan setengah cuek: “Bagus saja. Siiip Bos”.
 
Artikel telaah atas buku ‘Perubahan Sosial dan Pembangunan’ tersebut dimuat Radar Banjarmasin, Senin 27 Februari 2006, persis pada hari acara. Berikut sajiannya.

Perubahan Sosial dan Pembangunan
Oleh Ersis Warmansyah Abbas

FRANCIS Fukuyama, penulis buku The End of History and The Last Man (1992), Trust (1995) dan The Great Disruption: Human Nature and the Reconstitution of Social Order (1999), sungguh merangsang pemikiran dan pemahaman tentang —kalaulah dapat dikatakan demikian— perubahan sosial. Setidaknya dalam fenomena ‘kekinian’ berbau futuris.

Untuk buku terbaru Fukuyama (edisi bahasa Indonesia, 2005), Guncangan Besar, Rizal Malarangeng dengan cantik menulis: Dalam ilmu sosial, perubahan sosial adalah sebuah tema klasik yang selalu menarik untuk dibahas. Setelah menyitir Ferdinand Tonnie, Emile Durkheim dan Max Weber, kata Rizal, Fukuyama mencoba meneruskan tradisi keilmuan semacam itu dengan melihat apa yang terjadi pada paruh kedua Abad 20.

Minat saya terhadap perubahan sosial dimulai pada tahun-tahun pertama kuliah (1976) melalui buku klasik, Pengantar Sosiologi, Soerjono Soekamto. Kemudian berkenalan dengan yang lebih merangsang, Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism … Max Weber. Akarnya didapat dari tesis klasik Arnold Toynbee, Chalange and Response yang kesohor itu. Tersebab itu, mata kuliah sosiologi pendidikan menjadi minat khusus ketika belajar pengembangan kurikulum di S2.

Dari situ, karena masyarakat adalah ‘kumpulan’ individu, mau tidak mau belajar psikologi dan psikokultural. Weber (1958) menggugah dengan ‘calling’, David McCleland (1961) dengan Need for Achievement (nAch), Alex Inkeles dengan Modernitation of Man (Myron Warner, 1966) dan beragam pakar lainnya. Ditambah misalnya Gunnar Myrdal dengan Asian Drama (1968) atau Alvin Toffler dengan buku-buku futurisnya sampai bahasan Macan Asia sebagai the Newly Industrial Countries (NICs), dahaga intelektual bermuara pada Koentjaraningrat dan sebagainya pada pola pembangunan Indonesia.
Sungguh menguncang pemikiran tentang perubahan sosial dan pembangunan. Terakhir ‘terpedaya’ Piotr Sztompka melalui The Sociology of Social Change (1993). Pada kata pengantar bukunya ditulis: Kajian perubahan sosial merupakan inti sosiologi. Hampir semua kajian sosiologi berkaitan dengan perubahan sosial.

Lebih mengagetkan, peletakan kajian yang berbau historis sampai pada puncaknya pada bab terakhir buku sebagai pengunci, Sztompka memapar dengan gamblang, Revolusi: Puncak Perubahan Sosial. Pada suasana ‘kebatinan’ tersebut, Wahyu, Doktor dari universitas Padjajaran yang dosen FKIP Unlam menghadiahi buku Perubahan Sosial dan Pembangunan (2005).

Ramai Rasanya
Sebetulnya, ketika Wahyu, mengeditori buku Pengantar Ilmu-Ilmu Sosial (1995) secara kritis saya bahas dengan beking lebih 50 buku penunjang. Sebelas tahun kemudian (2006) diminta lagi membahas bukunya. Celakanya, buku-buku sosiologi saya banyak yang hilang, dipinjam dan tidak dikembalikan (oleh siluman kali ye, he … he …).  Tapi tak mengapalah.

Pada Pendahuluan Wahyu meintrodusir memuji ‘keberhasilan’ pembangunan nasional era PJPT I dengan membuahkan masalah baru. Diantaranya, persoalan yang dihadapi pada PJPT II, kesenjangan atau ketimpangan antardaerah, antarsektor, antarusaha, dan antargolongan pendapatan dalam masyarakat (p.xiv).

Pada Bagian Teori Perubahan Sosial (I), Pengertian Perubahan Sosial (A) dipapar sangat akademik, enak dibaca dan mudah dipahami. Hal sama pada Teori Perubahan Sosial (B): teori evoluioner, siklus, fungsional dan konflik. Sekalipun bisa saja dipertanyakan, bagaimana dengan teori lainnya. Atau, kalau ada teori evolusioner bagaimana dengan ‘gagasan’ Sztompka tentang puncak perubahan sosial adalah revolusi? Sampai Sumber-Sumber Perubahan Sosial (C), Efek-efek Perubahan Sosial (D) dan Hasil-hasil Penelitian Tentang Poerubahan Sosial (D), masih aman-aman saja.

Memasuki Bagian Dinamika Pembangunan (2), mulai ‘terkecoh’. Menukik ke Menyoal Bangsa Indonesia (A) terus ditancap ke politik lokal, sampai pada Kepemimpinan dalam Masyarakat Multikultural (I). Sangat disayangkan kenapa tidak dihidangkan dasar teoritiknya. Tetapi tergembira, oh … kalau awalnya berpretensi sebagai buku teks kini lebih dihidangkan paparan populer.

Kalaulah lebih tajam dibeking, misalnya, kajian Alvin Toffler, mengsehadapkan dengan reformasi pasca Orde Baru akan sangat menarik. Betapa tidak, dari tiga revolusi kehidupan, perubahan sosial dahsyat dalam bentangan historis, dari masyarakat peramu ke pertanian, dari pertanian ke industri, dari industri ke informasi, dimana sih posisi Indonesia?

Perubahan konkret apa sih sebagai buah reformasi yang dapat dikategorikan perubahan sosial (besar dan mendasar)? Kalaulah misalnya sistem paternalistik masih dominan, ama aja boong. Perlu barangkali disimak tentang apa yang dinamakan ‘modal sosial’. Jangan-jangan, dalam kerangka Tonnies (1955), masyarakat kita masih gesellschalft, baru menyentuh gemeinnschalft, belum menjadikan UU atau peraturan sebagai ‘pegangan’, masih terpaku hubungan kekeluargaan dan pribadi. Mana tahu lho.

Ibarat lari, Wahyu suka melompat-lompat, melompat berirama sekalipun tetap membawa beban untuk dicerna. Kalau beramsal makanan, lidah merasakan kecut, asin, manis, terkadang pedas. Rupa-rupa rasa tercicip. Asyik juga. Tidak lupa dengan canda, ada pengulangan misalnya untuk pilahan B dan C. Belum lagi sajian rada-rada mirip untuk berbagai bahasan. Bak iklan permen nano-nano, ramai rasanya.

Air Mata Darah Pendidikan
Memasuki Bab Pendidikan: Suatu Tinjauan Sosiokultural, jujur saja saya agak kecewa. Tidak ditemukan hal-hal fundamental. Misalnya sajian filosofis, aliran, pemikiran pembaharuan pendidikan dan hal-hal mendasar lainnya. Rupanya Wahyu terkesan hal remeh-remeh. Remeh-remeh yang merangsang berpikir, semisal ikan bushido, anjing buldog, samuel undong, sampai yang agak serius roh pendidikan.

Sebagai orang yang membaca puluhan, kalaulah tidak ratusan, buku pendidikan, sebenarnya salut atas keberanian ungkapannya yang garang. Jangan-jangan tulisannya lebih garang dari ratusan artikel saya di media cetak. Betul-betul panorama pemantik pikiran, bukan paparan akademik tentang pendidikan.
Hal ini perlu diketengahkan karena judul bukunya, Perubahan Sosial dan Pembangunan. Sangat akademik. Tapi, … sajiannya sungguh menakjubkan. Dalam artian, panorama pelangi yang memantik, menggelitik bahkan memaki sikap kita yang kurang cerdas terhadap pendidikan. Dimana-mana, kapan saja, teriak-teriak pendidikan harus diutamakan. Kenyataannya?

Sekalipun UUD meamarkan anggaran pendidikan minimal 20% di APBN/ABPD, eksekutif dan legislataif mana di Indonesia yang mampu mempraktekkan. Kalau disimak lebih jeli, hari-hari kita diteror berita pembelian mobil, kunjungan kerja sampai tunjangan rumah yang tidak ada hubungannya dengan peningkatan kualitas pendidikan.

Saya telah 22 tahun mendosen, bergaji Rp2 juta per bulan. Sampai kiamat pun rasanya sulit pemerintah ‘membelikan’ rumah dinas, apalagi memperjuangkan tunjangan perumahan sampai Rp6 juta segala. Lebih memprihatinkan lagi tentunya nasib para guru. Saya menerima nasib sebagai PNS dengan satu tekad, di manapun, kapanpun akan bersuara lantang, agar sekolah-sekolah diperbaiki dan mutu pendidikan diperhatikan.

Pada posisi demikian, buku Wahyu layak dibaca agar urat malu kemunafikan sikap terhadap pendidikan, banyak sedikit, berbuah kesadaran. Mana tahu nanti ada yang berani meneliti, bagaimana mungkin mempercayakan penanganan pendidikan kepada mereka yang tidak terlihat komitmen nyatanya. Kalau yang mengurus pendidikan punya rumah berbuah-buah, bermobil keren, sementara sekolah-sekolah di wilayah kerjanya hampir ambruk, sungguh isyarat sangat tidak sehat. Selamat buat Wahyu yang berani membeber kenyataan.
 
Pakar ‘Seminaris’
Bab Kepemimpian dan Generasi Muda (4), Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan (5) dan Keluarga dan Masyarakat (6), jelas-sejelasnya bukanlah sebuah sajian yang padu. Artinya, memang memproklamasikan buku ini berasal dari kumpulan karangan yang bertebar di sana-sini. Harap maklum, Wahyu adalah seorang ‘seminaris’ cukup populer di Kalsel. Dia sering didaulat menjadi pembicara dan pemakalah.

Nampaknya, Wahyu berkemauan keras menerbitkan buku dari puluhan karya tulisnya, bukan direncanakan dari awal. Saya juga, kumpulan karangan. Bedanya, saya menghimpun utuh, Wahyu mengedit dan menjadikan ‘baru’. Dari situ sajian menjadi melompat-lompat, berasa nano-nano, dan kadang menggemaskan.

Misalnya hal politik lokal yang disajikan tiga halaman, ketika kami berbincang di STIENAS Banjarmasin, ditantang Bambang Subiyakto, Si Pemikir itu, mampu nggak dijadikan 15 halaman? Kalau Wahyu mampu sungguh sangat berharga.

Maksud saya begini. Pada setiap halaman, ada saja ide hebat tersaji. Semula menghitung, belum separuh buku sudah sampai 100 ide, karena itu tidak usah dihitung. Di situlah kekuatannya. Kalau apa-apa yang tersaji dikembangkan, sungguh bagus.

Hanya saja, mentransfer ide-ide menjadi buku, bukan pekerjaan gampang. Perlu waktu, ketekunan, dan dana. Bagaimanapun, Wahyu menampakkan, menjadi Doktor itu perlu menulis buku. Saya pernah katakan, kalau menjadi Profesor Unlam, terbitkan beberapa buku. Tanda intelektual itu pada karya, apakah buku atau penelitian.

Ke depan, mudahan saja, disertasinya diterbitkan. Saya pernah menganjurkan pada Rasmadi, Rektor Unlam, tolong sediakan dana untuk Doktor-Doktor Unlam menjadikan disertasinya buku. Lebih bagus, pejabat kampus, dari Ketua Program Studi, Dekan dan pembantunya, Rektor dan pembantunya, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian menerbitkan buku agar dicontoh ‘anak-buahnya’, dosen-dosen. Pasti akan menampakkan gengsi Unlam sebagai lembaga intelektual.

Kalau boleh bercanda, dalam materi —kalau ide dan sajian sangat bagus— membaca buku ini ibarat belum ereksi, apalagi ejakulasi dini, sajian sudah berhenti. Salah saya, barangkali ketika menatap judulnya. Tapi, kalau dalam artian panorama ide, sungguh sangat kuat. Dalam bahasa sajian, kalau Wahyu mengambil kuliah saya, tidak segan-segan memberi nilai A.

Akhirnya, buku ini harus disambut positif. Bolehlah kita merindu, Doktor, Profesor dan pejabat birokrasi kampus apabila mampu membuat satu buku dalam setahun, sungguh kontribusi besar bagi pengembangan kepustakaan. Bisa-bisa ratusan buku ‘lahir’ dari rahim intelektual Kalsel. Ngak usah deh bangga tidak menulis buku. Jangan pernah (lagi) memberi alasan untuk tidak menulis buku. Alasan adalah musuh berkarya.

Selamat Wahyu. Mudahan ke depan, intelektual kita mengurangi sedikit waktu diskusi atau seminar, alihkan menulis buku. Tapi ingat, buku akan memperlihatkan kemampuan intelektual sesungguhnya, karena tertulis. Kalau ngomong, begitu selesai, akan ditelan udara, hilang tak berbekas.

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. One Response to “Permintaan untuk Dikritik”

  2. By Qinimain Zain on Jul 23, 2008 | Reply

    (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Senin, 16 Juni 2008)

    Strategi (R)Evolusi Ilmu Sosial Milenium III
    (Kadaluarsa Ilmu: Re-Imagining Sociology)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MULANYA teori baru diserang dikatakan tidak masuk akal. Kemudian teori tersebut itu diakui benar, tetapi dianggap remeh. Akhirnya, ketika teori itu sangat penting, para penentang akan segera mengklaim merekalah yang menemukannya (William James).

    KETIKA Dr Heidi Prozesky – sekretaris South African Sociological Association (SASA) meminta TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000) sebagai materi sesi Higher Education and Science Studies pada Konferensi SASA medio 2008 ini, saya tidak terkejut. Paradigma baru The (R)Evolution of Social Science – The New Paradigm Scientific System of Science ini, memang sudah tersebar pada ribuan ilmuwan pada banyak universitas besar di benua Amerika, Afrika, Asia, Eropa dan Australia. Pembicaraan dan pengakuan pentingnya penemuan juga hangat dan mengalir dari mana-mana.

    Contoh, dari sekian banyak masalah telah dipecahkan paradigma ini adalah menjawab debat sengit hingga kini keraguan ilmuwan sosial akan cabang sosiologi sebagai ilmu pengetahuan di berbagai belahan dunia. Tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008 di Australia, dengan tema Re-imagining Sociology. (Judul tema Re-Imagining Sociology, diambil dari judul yang sama buku Steve Fuller (2004), seorang profesor sosiologi dari Universitas Warwick, Inggris).

    Lalu, apa bukti (dan pemecahan re-imagining sociology dalam paradigma TQZ) masalah sosiologi sampai ilmuwan sosial sendiri meragukannya?

    PARADIGMA (ilmu) sosial masih dalam tahap pre-paradigmatik, sebab pengetahuan mengenai manusia tidaklah semudah dalam ilmu alam (Thomas S. Kuhn).

    Ada cara sederhana untuk menjadi ilmuwan menemukan (masalah) penemuan (dan memecahkannya) di bidang apa pun, yaitu meneliti seluruh informasi yang ada di bidang itu sebelumnya dari lama hingga terbaru. (Sebuah cara yang mudah tetapi sangat susah bagi mereka yang tidak berminat atau malas). Mengenai informasi dari buku, menurut Isadore Gilbert Mudge, dari penggunaan buku dibagi dua, yaitu buku dimaksudkan untuk dibaca seluruhnya guna keterangan, dan buku yang dimaksudkan untuk ditengok atau dirujuk guna suatu butir keterangan pasti. Keduanya punya kelebihan masing-masing. Yang pertama luas menyeluruh, yang kedua dalam terbatas hal tertentu.

    Berkaitan menonjolkan kelebihan pertama, Dadang Supardan (2008: 3-4), menyusun buku Pengantar Ilmu Sosial (Sebuah Kajian Pendekatan Struktural), cetakan pertama, Januari 2008, yang mendapat inspirasi pemikiran ilmuwan sosial Jerome S. Bruner, bahwa mata pelajaran apa pun lebih mudah diajarkan (dan dipahami) secara efektif bila struktur (fakta, konsep, generalisasi, dan teori) disiplin ilmu seluruhnya dipelajari lebih dahulu, yaitu lebih komprehensif, mudah mengingat, mengajarkan, dan mengembangkannya.

    KLAIM sah paling umum dan efektif mengajukan paradigma baru adalah memecahkan masalah yang menyebabkan paradigma lama mengalami krisis (Thomas S. Kuhn).

    Lalu, apa hubungannya buku pengangan universitas yang baik ini dengan debat keraguan sosiologi?

    Dadang Supardan (2008:98), mengutip David Popenoe, menjelaskan jika ilmu sosiologi ingin tetap merupakan sebuah ilmu pengetahuan maka harus merupakan suatu ilmu pengetahuan yang jelas nyata (obvious). Dadang mengungkap, ahli sosiologi sering menyatakan bahwa mereka banyak menghabiskan uang untuk menemukan apa yang sebenarnya hampir semua orang telah mengetahuinya. Sosiologi dihadapkan dengan dunia masyarakat yang sebenarnya tidak begitu aneh, di mana orang-orang yang secara umum sudah akrab ataupun mengenal konsep-konsep yang diperkenalkan dalam bidang sosiologi. Sebaliknya, sebagai pembanding, dalam pokok kajian pada kelompok ilmu kealaman adalah sering berada di luar dunia dari pengalaman sehari-hari. Dalam menjawab permasalahan ilmu pengetahuan alam, temuan kajiannya memberikan ungkapan dalam bahasa dan simbol-simbol di mana kebanyakan orang hampir tidak memahaminya atau benar-benar dibawa dalam pengenalan konsep yang benar-benar baru.

    Lalu, inikah bukti kekurangan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan? Ya (salah satunya).

    Sebenarnya sangat jelas lagi, masalah sosiologi ini sudah diungkap Dadang Supardan (2008: 4) sendiri di awal dengan mengutip Bruner pula. Menurut Bruner, terdapat tiga tahapan berpikir seorang pembelajar, yaitu enactive, iconic dan symbolic. Enactive terfokus pada ingatan, lalu iconic pola pikir tidak terbatas pada ruang dan waktu, tetapi seluruh informasi tertangkap karena adanya stimulan, kemudian tingkat symbolic, dapat dianalogikan masa operasi formal menurut Piaget. Dalam tahapan terakhir, siswa (dan siapapun – QZ) sudah mampu berpikir abstrak secara keilmuan pada tingkat yang dapat diandalkan, mengingat sudah mampu berpikir analisis, sintesis dan evaluatif.

    MENOLAK satu paradigma tanpa sekaligus menggantikannya dengan yang lain adalah menolak ilmu pengetahuan itu sendiri (Thomas S. Kuhn).

    Artinya, sosiologi yang dipelajari di sekolah dan universitas tanpa perangkat simbolik selama ini kadaluarsa dan hanya dapat disebut pengetahuan saja. Dan, untuk membuktikan kekurangan sosiologi tak perlu jauh-jauh (meski boleh agar nampak jelas) dengan ilmu kealaman, cukup dengan ilmu pengetahuan mantap masih golongan (ilmu) pengetahuan sosial juga yaitu ilmu ekonomi. Bukankah ilmu ekonomi dianggap ilmu (ratunya golongan ini) karena mencapai tingkat analogi simbolik bahasa ekonomi? (Karena itulah definisi ilmu pengetahuan dalam paradigma baru TQZ bukan kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur (sistematis), tetapi kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur (sistematis), membentuk kaitan terpadu dari kode (symbolic), satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu. Untuk ilmu pengetahuan sosial paradigma milenium ketiga telah saya tetapkan International Code of Nomenclature TQO Employee fungsinya Operation dengan kode O, TQC Supervisor (Control-C), TQS Manager (Service – S), TQI Senior Manager (Information – I) dan Director (Touch – T)).

    Jadi, para ilmuwan sosial, sebenarnya sudah tahu sosiologi yang dipegang selama ini tidak layak disebut sebagai ilmu pengetahuan, meski belum tahu pemecahannya. Lantas, apa pentingnya solusi re-imagining sociology sekarang? Sangat pasti, salah satu cara memahami masyarakat untuk mengatasi krisis dunia (negara, bangsa, daerah, organisasi, usaha dan pribadi) yang semakin kompleks dan buntu selama ini. Dan, bagi lembaga penelitian dan pendidikan baik organisasi dan pribadi harus proaktif berbenah. Adalah fatal dan picik mengajarkan (ilmu) pengetahuan yang (kalau) sudah diketahui kadaluarsa dan salah, di berbagai universitas dan sekolah. Dunia (di berbagai belahan) sudah berubah.

    KALAU teori saya terbukti benar, Jerman akan mengakui saya sebagai seorang Jerman dan Prancis menyatakan saya sebagai warga negara dunia. Tetapi kalau salah, Prancis akan menyebut saya seorang Jerman, dan Jerman menyatakan saya seorang Yahudi (Albert Einstein).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

Post a Comment