Pemprov Kalsel, Unlam, dan Banjarbaru
27 November 2006 | Ditulis oleh:Perbincangan tentang pemindahan ibukota Kalsel, tidaklah terlalu menarik. Wong pihak Pemprov dan DPRD sudah menyepakati RPJM. Implikasinya dalam kandungan demokrasi, apabila DPRD Kalsel sudah mengesahkan, tertutama yang terkait dengan diktum pemindahan ibukota Kalsel, ya selesai sudah. Kalaupun itu diubah, itu urusan nanti. Mana tahu, rakyat Kalsel lebih banyak yang tidak setuju pindah, ya Pemprov dan DPRD Kalsel, mau apa?Dalam debat publik atas inisiatif Radar Banjarmasin, Sabtu, 25 November 2006, tampaknya kalangan Pemprov (Bappeda) dan DPRD (Syaifullah Tamliha dan Misri Sarkawi) pada dasarnya sepakat saja atas wacana pemindahan tersebut. Yang dipersoalkan hanyalah soal ‘kapan’ dan ‘caranya’. Didengungkan pula, kini ‘kita’ tidak bicara soal pemindahan ibukota, tetapi pemindahan perkantoran.
Kalau sudah begini, rasanya sudah cerdas. Akan lebih cerdas kalau yang dibicarakan, kapan menempati kantor di Banjarbaru? Kenapa demikian? Siapa pun tahu, sejak Banjarbaru dibangun parohan tahun 50-an kantor gubernur, dinas, sampai perumahan pegawai sudah dibangun. Hanya saja, sampai setengah abad kemudian pemindahan itu tidak dilakukan. Minimal berbilang gubernur Kalsel (Kalimantan) berganti lebih memilih berkantor di Banjarmasin.
Kini beberapa kantor dinas Pemprov, dan juga kantor lainnya, masih di Banjarbaru. Beberapa kantor dibiarkan terlantar kurang terawat. Ada yang dipinjamkan kepada yayasan, dan sebagainya. Untung saja Pemko Banjarbaru ‘meminjam’ (atau dihibahkan?). Kalau tidak, perkantoran yang sesuai jamannya dibangun dengan dana yang begitu besar, akan terlantar.
Nah, kini kalau perkantoran dibangun baru, apa tidak akan mengulang sejarah? Setelah dibangun nanti tidak ditempati, kan mubazir. Karena itu, yang perlu dicermati rencana kepindahan itu serius apa tidak? Minimal tidak seperti gagasan tahun 50-an. Mau pindah, kantor dibangun, dan … gubernur tetap saja berkantor di Banjarmasin. Soal alasan tentu gampang saja mencarinya.
Ada usul, kalau Pemprov Kalsel benar-benar mau pindah, ya pindah saja. ‘Besok pagi’ juga bisa. Asal, mau berkantor ‘seadanya’. Cobalah dulu berkantor barang setahun, kalau cocok … persiapkan secara serius untuk pindah. Mana tahu dengan demikian, Pemko Banjarbaru membangun kantor baru. Kalau ‘nyaman’ setahap demi setahap pusat perkantoran dibangun. Sebenarnya langkah yang diambil bagus saja sudah.
Ketika seminggu lalu ke Solok, wilayah yang kini dimekarkan menjadi tiga daerah, Kota Solok, Kabupaten Solok, dan Solok Selatan, dua yang terakhir membangun kantor baru. Yang pasti, tidak mungkinlah mereka membangun hanya dengan APBD masing-masing. Pemerintah pusat tentu tidak lupa membantu. Jadi, kenapa takut membangun kantor baru, wong daerah lain bisa kog.
Putra Jaya
Ketika berkunjung ke Malaysia, sempat juga melihat-lihat kawasan Putra Jaya. Pusat perkantoran tersebut terletak (dan disewa kerajaan Malaysia) di (dari) Negara Bagian Selangor. Ibukota Malaysia tetap Kuala Lumpur. Padanannya, pusat perkantoran pemerintahan saja bisa, apalagi pusat perkantoran provinsi. Kuala Lumpur justeru makin pesat pertkembangannya. Tidak percaya? Buktikan sendiri.
Karena itu, orang-orang Unlam yang ‘berkecimpung (minimal mereka yang diminta Pemprov Kalsel), cobalah mengkaji penyatuan kampus Unlam di Banjarbaru. Apalagi konon mereka mampu melakukan kajian komprehensif. Wow … kalau itu dilakukan untuk Unlam, akan sangat ruar biasa.
Meskipun kalau dipikir-pikir Unlam terkesan ‘mengekor’ inisiatif pihak Pemprov, ya ngak apa-apa. Misalnya, pihak Pemprov mencanangkan good govermance. Nah, kini (begitu kata Rektor Unlam, Rasmadi) Unlam bertekad juga, melakukan transparansi besar-besaran. Kini Unlam bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) seperti Pemko Banjarbaru yang telah lebih dahulu melakukan.
Sebenarnya, alangkah lebih baik Unlam dulu yang melakukan lalu ‘ditiru’ Pemprov. Bukankah inisiatif dan kepeloporan sebaiknya lahir dari rahim kampus? Yang konon konsentrasi para intelektual yang berkemampuan mumpuni. Nah, kerjasama Unlam-KPK nantinya diharapkan diimbangai dengan kajian ilmiah, hingga transparansi mendapatkan pola yang pas dengan kondisi obyektif.
Dengan demikian kita bisa ‘melahirkan’ konsep aktual, komprehensif, dan workable yang nantinya dapat juga digunakan oleh pihak lain. Kalau hal tersebut terlaksana, Insya Allah, Unlam betul-betu dapat dijadikan lihatan contoh nyata praktek kehidupan lebih baik. Amin.
Bersatunya Unlam
Di hari peringatan Unlam kali ini, sebaiknya lebih disemaikan gagas inovatif berbau change in progress. Untuk itu Unlam harus menguatkan peran Lembaga Penelitian (Lemlit). Lemlit ke depan jangan lagi hanya ‘menerima’ penelitian yang ‘dingin’ tetapi ke hal-hal besar yang lengsung menuju kehidupan masa depan.
Ambil misal, soal IT. Lemblit sewajarnya menjadi pelopor. Tidak usah yang canggih-canggih atau setingkat rekayasa. Cukup tahap pemakai. Nah, teliti, apakah Unlam perlu atau tidak menjadi ‘wilayah percontohan’ IT atau akan terjerembab dalam kubangan kejahiliaan IT? Kalau ya, di mana posisi Unlam dalam pemanfaatan IT saat ini, berapa dana yang sudah tersedot. Kalau sudah tahu petanya, apa yang akan dilakukan ke depan. Apa saja yang perlu dilakukan, berapa dana dibutuhkan. Ini baru cerdas menyahuti Renstra Unlam yang memberi amanat Unlam mejadi universitas terkemuka di Indonesia.
Simaklah, betapa luhur cita-cita dan sangat futuristik pemikiran para penggodok Renstra Unlam. Mana tahu dalam 5 atau sepuluh tahun ke depan Unlam mampu menyodok posisi ITB yang hanya berada pada posisi 250 rangking PT di dunia. Bukan tidak mungkin terjadi manakala kita cermati butir-butir Renstra Unlam. Baca, baca, dan bacalah serius. Sungguh menjanjikan. Amin, Amin ya Rabbal Alamin.
Kalau Lemlit mampu, kajian yang langsung ke jantung permasalahan Unlam tersebut, serahkan pada Rektor atau Senat Unlam, minta pertimbangan. Satu hal yang sering dikeluhkan banyak pihak, adalah soal IT Unlam. Selayaknya, sekolah-sekolah belajar pemanfaatan IT ke Unlam, perusahaan-perusahaan mengandeng Unlam dalam penggunaan dan rekayasa IT, pengabdian masyarakat bermuatan contoh-contoh pemanfaat IT untuk memperbaiki kehidupan, dan seterusnya.
Sekadar catatan, suatu kali, seorang teman yang melek IT meminta saya menghitung pembayaran rekening telepon seluruh kantor Unlam. Saya hanya mampu menghitung dari buku telpon dengan perkiraan rata-rata pe jaringan telepon membayar Rp.200.000. Setelah dijumlah, ternyata berlipat-lipat dari tagihan telepon kantor kawan dimaksud yang memakai sistem VoIP. Alamaaak, mereka bebas memakai internet 24 jam di dua kantor, Banjarmasin dan Banjarbatu.
Dalam pada itu, menghayati muatan amanah Renstra Unlam akan lebih kencang aplikasinya manakala Unlam bersatu kampus di Banjarbaru. Banyak hal bisa dihemat dan diefiensikan dalam melajukan kiprah organisasi. Atau, kenapa oleh pihak kajian komprehensif pemindahan ibukota Kalsel tidak terpikirkan memasukkan ‘paket’ kampus baru Unlam di Banjarbaru? Atau, benarkah kata orang, orang-orang Unlam sangat piawai ‘membantu’ pihak luar sementara untuk dirinya, ya slowly but … Entahlah.
Satu hal yang pasti, kalau ada gagasan Unlam bersatu kampus tidak akan seruwet dan seheboh pemindahan ibukota Kalsel. Kosakata kampus berasal dari campus, the building of a university or collage and the land around them (Oxpord Andavanced Learner Dinctionary, 2000: 169). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988: 383): daerah lingkungan bangunan utama pergurunan tinggi (universitas, akademi) tempat seluruh kegiatan belajar mengajar dan administrasi berlangsung. Seorang kawan memaknai, komplek yang terletak khusus, nyaman, asri, dan seterusnya.
Kira-kira dia memaknai kampus itu sebaiknya terletak di daerah khusus yang jauh dari hiruk pikuk keramaian hingga kondusif untuk belajar dan para warganya hidup dan berkehidupan sesuai kultur kampus, kultur akademis. Dalam kaitan ini, kampus lebih bagus terletak pada satu komplek daripada berpencar-pencar di banyak tempat.
Akhirulkalam, mari kita berbicara tentang memajukan pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat, tetapi akan lebih baik manakala kita mulai dari kehidupan kampus tercinta, Kampus Unlam.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Ersis Warmansyah Abbas adalah warga Unlam.










3 Responses to “Pemprov Kalsel, Unlam, dan Banjarbaru”
By Mashuri on Nov 28, 2006 | Reply
Yang terhormat, Pak Ersis.
Saya setuju sekali konsep ‘Satu Unlam’. Sedangkan masalah lokasinya tergantung pada kajian yang mendalam (tidak latah), bisa tetap di Banjarmasin atau di Banjarbaru. Untuk kasus Fakultas Kedokteran agak berbeda. FK dengan Rumah Sakit itu seperti ’soulmate’. RSUD Ulin telah ditetapkan sebagai RS yang menjadi lahan pendidikan bagi mahasiswa FK Unlam. Oleh sebab itu, FK harus mempunyai kampus di Banjarmasin (sangat ideal dekat RS). Tentu memudahkan bagi tenaga pengajar mata kuliah klinik (pasti mereka ini dokter) yang hampir semuanya berdomisili di Banjarmasin, dan meringankan kocek mahasiswa tentunya. Sampai saat ini khan, kampus yang betul-betul “terbagi dua” itu hanya FK Unlam.
By Ridha Nurilhami on Sep 15, 2007 | Reply
bos ,,,, kayapa neh kita belajaran buhan sejarah diruang 6 bau banar WC manggangu buhan sejarah haja balajaran,,,, itu aja bos ae….
By Edi Bustami A on Sep 15, 2007 | Reply
sore pak,,, ini nah kayapa kita nih jadwal prodi sejarah banyak yang tabrakan jamnya,,, bos ae,,, itu haja gen dulu