Merespon Peristiwa Langka
27 November 2006 | Ditulis oleh:3.5 Merespon Peristiwa Langka
* Peristiwa langka, biasa membuat banyak orang terpana, tapi kalau Sampeyan bermaksud jadi penulis, ya tulis. Sangat mudah dan menyenangkan, apalagi orang hanya membicarakannya saja.
Suatu peristiwa, apalagi yang istimewa dan langka, kalau direspon dengan baik dan pas, tentu saja lebih baik dibandingkan dibiarkan berlalu begitu saja. Dalam kaitan dengan kreativitas menulis, peristiwa semacam itu adalah lahan yang sangat bagus.Alkisah, pada paroh akhir bulan Ramdahan 1426 H. media cetak dan elektronik di Kalsel ramai memberitakan rencana kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhono ke Kalimantan Selatan (Banjarmasin) dalam rangka peringatan Nuzulul Al-Quran. Dalam perspektif kedaerahan rencana tersebut termasuk istimewa dan langka.
Apatah lagi, konon masyarakat Kalsel sudah lama merindukan peringatan Nuzulul Quran secara nasional dilaksanakan di mesjid Sabilal Muhtadin. Kabarnya, dulu pemerintah pusat sudah setuju tetapi karena sesuatu dan lain hal jadi tertunda-tunda. Setelah sekian lama, Presiden SBY berkenan ke Banjarmasin.
Hal tersebut memantik keinginan untuk meresponnya. Kebetulan saat itu pemerintah berencana menaikkan BBM dalam arti mencabut subsidi yang selama ini dinikmati secara nyaman oleh masyarakat. Protes merebak di seluruh bagian Tanah Air. Akan halnya di Kalsel, beberapa pejabat sedang terancam akan ‘ditangkap’ terkarena illegal mining. Isu tersebut hangat dibicarakan walau proses hukumnya belum jalan. Sebagai orang yang sangat merindukan kemajuan pendidikan, sejak lama saya sudah kampanye agar kekayaan Kalsel diperuntukkan secara nyata untuk memajukan pendidikan.
Dalam suasana sedemikian, Presiden SBY ke Kalsel. Sebagai penulis, tentu saja saya ‘gatal tangan’. Apa yang ada di pikiran langsung ditulis. Saya tidak sempat menghadiri acara istimewa dan langka tersebut sebab sedang menyelesaikan sebuah buku yang telah dijanjikan kepada penerbit di Jogja.
Sungguh, saya tersenang dengan respon banyak pihak. Bayangkan, dari 3 (tiga) juta penduduk Kalsel hanya saya saja yang menyambut Presiden SBY dengan tulisan dan secara umum mendahului mengucapkan Minal Aidin Wal Faizin.
Oleh-Oleh Buat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Kalimantan Selatan (Banjarmasin) hari ini, dalam rangka peringatan Nuzulul Qur’an 1426 H. secara nasional, sungguh sangat mengembirakan. Bukan saja membuat masyarakat Kalsel merasa ‘tersanjung’ tetapi terlebih, bersilaturrahmi di bulan penuh berkah, bulan Ramadhan, disamping menunaikan ikatan agamis sekaligus pertanda makin mengentalnya kebersamaan pemimpin dan rakyat. Mudah-mudahan bermuara saling memamahami dan berkompakria, berbulat tekad membangun negeri tercinta.
Kalaulah ada yang perlu disayangkan, pemerintah dalam posisi ’digugat’ karena kebijakan kenaikan BBM. Terlepas, kalau kebijakan tersebut tidak dilakukan, keuangan negara akan makin runyam. Sebab, subsidi BBM memang sangat menguras keuangan negara. Bayangkan, bila subsidi BBM tembus di atas Rp100 triliun per tahun, bisa-bisa berujung bangsa collaps. Yang pasti, saya tidak dalam posisi mendukung atau menolak. Terserah mana baiknya sajalah.
Dalam pada itu, seminggu menjelang kedatangan Pak SBY, Mabes Polri mengumumkan, enam Kepala Daerah di Kalsel, ‘ditenggarai’ terlibat illegal mining. Berita tersebut sungguh menggegerkan dan seorang Bupati, konon, kini tengah menuju jalan pemeriksaan. Kalaulah pemimpin-pemimpin formal diperiksa dan kemudian dipenjara, apalagi yang dipilih langsung oleh rakyat, karena berbagai sebab, sungguh sangat memilukan dan memalukan.
Sekalipun demikian, demi tegaknya hukum, hal tersebut memang harus dilakukan secara keras. Asal, berlandaskan asas praduga tak bersalah. Tidak bisa dibayangkan, kalau mayoritas pejabat pemerintah (Gubernur, Bupati, Walikota dan level dibawahnya) ditangkapi, tentu secara psikologis, akan mengurangi kepercayaan pada pemimpin. Kalau pemimpin tidak dipercayai, wah … bahaya bo.
Disisi lain, bisa pula menuai berkah manakala jalur hukum ditegakkan dalam proses tersebut. Apatah lagi, kesengsaraan yang kini kita tuai tersebab merebaknya praktek KKN disegala lini yang berlangsung menahun. Satu kata yang mungkin tidak seorangpun tidak setuju: Berantas KKN.
Kira-kira begitulah gambaran umum susana kebatinan masyarakat. Prihatin di satu sisi dan di sisi lain tersenang, sebab hukum diterapkan. Saya hanya berdoa, penegakkan hukum didukung sepenuhnya dan pembangunan dibenahi dan jangan sampai merugikan siapa pun, termasuk mereka yang tengah dibidik jerat hukum. Perlakukan mereka secara adil di depan hukum.
Tulisan berikut tidak mengupas, misalnya, apakah kebijakan kenaikan BBM atau pun tentang ‘pemanggilan’ Kepala Daerah di Kalsel dalam respon masyarakat, tetapi dalam tataran himbauan, agar pemerintah dibawah ‘komando’ Pak SBY makin bergairah ‘menyelamatkan’ bangsa tercinta ini.
Dari Kayu Ke Batubara
Bapak Presiden yang terhormat. Sebagai warga Kalsel, saya ingin Bapak dan rombongan membawa ‘oleh-oleh’ titipan ketika pulang ke Jakarta. Saya juga berdoa, dengan bertubi-tubinya cobaan, bangsa kita akan semakin memperkuat batin, bukan berujung frustasi atau fatalistik. Dalam kerangka Kalsel, bak Si Buta yang tidak bisa melihat dengan pengetahuan kurang, mengusulkan beberapa hal.
Bapak Presiden, maaf kalau saya salah. Dulunya daerah ini adalah ‘lumbung’ kayu. Kini, hutan-hutannya gundul. Nampaknya, siapapun tidak berhak lagi bicara soal penebangan hutan, sekalipun menurut berita media, illegal loging masih berlangsung. Sekedar meniru narasi Kahlil Gibran, hidup tidak tertambat di masa lalu, tetapi tergerai di masa depan. Gundulnya hutan dengan aneka dampaknya, cukuplah jadi pelajaran. Kita pun tidak bijak menyesali. Lebih arif menyelamatkan apa yang dapat diselamatkan untuk masa depan anak cucu. Minimal memberdayakan.
Kini, di hampir seluruh wilayah Kalsel, tengah berlangsung penambangan batubara dan biji besi dengan gelora yang luar biasa gempitanya. Entahlah, apakah cerita pembabatan hutan akan berulang pada kisah penambangan batubara dan biji besi. Mudah-mudahan tidak. Mudah-mudahan manfaat yang terpetik lebih bagus.
Pertama, alangkah eloknya manakala penambangan batubara dan biji besi oleh penambang lokal, nasional dan mancanegara, bilamana untuk setiap tonnya ‘dipajaki’ secara khusus untuk keperluan pendidikan (di daerah).
Saya sampai pada haqul yakin, masa depan bangsa ini, bukan saja ditentukan dari kearifan meeksploitasi sumberdaya alam (SDA) tetapi dari bagaimana menangani dan keberpihakan pada pendidikan saat ini. Suatu saat, kekayaan SDA pasti habis karena tidak terbarui. Kekayaan SDA boleh saja habis, bahkan Singapura yang tanpa SDA bisa berjaya lantaran sumberdaya manusia (SDM) memang mumpuni.
Karena itu, sekali lagi, dimungkinkankah untuk setiap satu ton batubara atau biji besi, daerah memungut pajak untuk dikumpulkan menjadi Dana Abadi Pendidikan? Kalau mungkin, kami nanti akan mengusulkan kepada Pemerintah Daerah melalui DPRD agar di-Perda-kan.
Impian saya, sebenarnya sudah saya tulis dalam beberapa artikel, kalau dimungkinkan, dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan akan terkumpul Dana Abadi Pendidikan bertriliun-triliun. Meniru gagasan Robert T. Kiyosaki, Dana Abadi Pendidikan itu ‘disuruh’ bekerja sebagai passive income pendidikan. Dengan demikian, keberlangsungan dana pendidikan akan lebih terjamin.
Pendukung Dana Pendidikan
Kedua, oh ya obsesi Kalsel mempunyai Dana Abadi Pendidikan dari eksploitasi batubara, menurut saya, merupakan jalan pendukung guna mengenjot pemberian kesempatan pendidikan sekaligus peningkatan kualitas. Bagaimanapun, menangani pendidikan nasional bukanlah perkara gampang. Sudah lebih setengah abad kita merdeka, maaf, pendidikan masih jauh dari memuaskan.
Memang, Pemerintah Daerah (Provinsi, Kabupaten dan Kota) kini mulai tertampak serius menangani pendidikan. Tetapi, dengan kondisi obyektif yang mengemuka akan sangat menguras energi, memerlukan waktu panjang dan akan selalu berbuai berbagai perhitungan yang bukan tidak mungkin rumit. Biarlah hal sedemikian berjalan, namun dengan adanya Dana Abadi Pendidikan akselarasinya bisa lebih dipacu.
Hemat saya, disamping berbagai faktor pembalut lainnya, yang paling menyesakkan adalah kerdilnya dana peruntukan pendidikan, baik dari pemerintah maupun partisipasi masyarakat. Kalau kita punya dana, seperti yang pernah dilakukan Malaysia puluhan tahun lalu, kalau perlu kita ‘minjam’ guru dan tenaga pendidikan ke negara tetangga tersebut.
Sekalipun, dalam pandangan saya, sebenarnya kita tidak terlalu cerdas menangani pendidikan. Betapa tidak. Sekolah-sekolah kita banyak yang jauh dari standar sebuah sekolah, sistem penggajian guru yang tidak memungkinkan guru mengembangkan kompetensinya, birokrasi pendidikan yang rada ruwet dan banyak hal sepadan.
Dalam pada itulah, lihatan pada kreatifitas daerah perlu dikembangkan. Dan, kalau dipunyai Dana Abadi pendidikan, Insya Allah, penanganan pendidikan lebih ringan.
Selamat Idul Fitri
Mengakhiri tulisan ini, saya mohon maaf kalau salah dalam bergagas. Juga, sekalipun masih beberapa hari lagi, mengucapkan Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1426 H. Mudah-mudahan saya orang paling duluan mengucapkannya kepada Bapak Presiden.
Al-akhir, selamat datang ke Kalsel Pak. Mudah-mudahan, kalau Bapak masih didukung rakyat, punya kesempatan lebih luas untuk melihat kondisi sekolah-sekolah dan pendidikan pada umumnya sembari melihat betapa ganasnya ekploitasi SDA di Kalsel.
Yang kita perlukan bukanlah menghentikan penambangan tetapi bagaimana penambangan itu bermanfaat langsung bagi kesejahteraan masyarakat. Dan … bagi saya ini lebih penting … hasilannya mendukung secara langsung bagi pendidikan. Mudah-mudahan usulan saya tidak salah.
Bagaimana menurut Sampeyan?








