Menulis Sangat Mudah
27 November 2006 | Ditulis oleh:2.3 Menulis Sangat Mudah
* Pernah menulis surat cinta? Coba baca lagi atau ingat-ingat, Sampeyan akan terkagum-kagum betapa hebatnya Sampeyan menulis. Bisa jadi, isteri atau suami Sampeyan berkat surat cinta.
Sekalipun banyak orang, apalagi ‘pakar’ (?) mengatakan, menulis itu tidak mudah, yakinlah sebenarnya menulis itu mudah, sangat mudah malahan. Kenapa? Bukankah Anda terlahir sebagai orang pintar, born to be a genius? Ingat, sekali lagi ingat, dengan mengoperasikan otak, selihai apapun seseorang menulis, menghasilkan ratusan buku atau ribuan karya tulis, hanya memakai 26 huruf, a sampai z. Renungkan, 26 huruf. Sekali lagi 26 huruf. Itupun tidak sampai separuh huruf yang sering digunakan. Logikanya, Sampeyan pasti bisa mengutak-atik huruf 26 itu membuat rangkaian variasi kalimat.
Bahan baku menulis, pasti sudah punya. Banyak hal, dari yang menyejarah sampai aktual diketahui. Kalau keterampilan menulis, toh sejak SD sudah belajar. Kalaulah ada kekurangan pastilah prihal latihan. Akan halnya penalaran, pada hakekatnya sudak menjadi satu dengan perjalanan kehidupan. Sadarilah betapa pintarnya Sampeyan, bisa berbicara, berdiskusi, mengeluarkan ide yang canggih melalui ‘kebiasaan’ ngomong. Tidak percaya?
Coba buka diari. Akan terbukti, betapa pintarnya merangkai kata-kata. Nikmati dalam-dalam setiap kata dalam diari, pastilah bak untaian puisi paling ‘bagus’ di dunia. Itu bukti Sampeyan mampu menulis dengan baik.
Surat Cinta
Coba baca arsip surat-surat cinta yang pernah dibuat. Saya jamin, akan kagum dengan kemampuan menulis, betapa bagusnya kalimat-kalimat Sampeyan. Tapi, saya ingatkan. Kalau dalam menulis surat cinta, surat minta uang kepada orang tua, minta tolong orang lain, Sampeyan telah mematikan potensi, membunuh potensi bawaan.
Apalagi, kalau membuat (tugas) makalah, skripsi, tesis atau disertasi diupahkan, peluang menjadi penulis memang sangat kecil. Kecuali, Anda bertobat (nasuha) untuk dosa-dosa tersebut. Setelah taubat, lalu memulai dari awal. Menulis bukanlah untuk orang-orang yang memunafikkan potensinya. Ingat, tip saya bukanlah untuk koruptor seperti itu. Kalau ada penelitian, bisa jadi dari mereka yang berprilaku sedemikian adalah orangnya.
Masih ingat ketika membuat surat cinta pertama kali? Bisa berlembar-lembar kertas terbuang percuma. Tulis, lalu diremuk-remuk. Tulis lagi, remuk dan sobek. Setelah melalui proses demikian, akhirnya jadi juga surat cinta yang indah. Saya tidak tahu, jangan-jangan isteri atau suami Anda adalah ‘buah’ dari surat-surat cinta. Nah, itulah contoh betapa hebatnya kekuatan menulis.
Surat cinta, sekalipun dibuat bak jihad fisabililah, adalah contoh konkret melahirkan pikiran ke dalam tulisan. Sekaligus sebagai bukti, betapa gigihnya Sampeyan menulis dan mampu menulis. Kini, tinggal mengalihkan dengan tema yang lain. Intinya, apa yang di pikiran ditulis. Begitu mudahnya. Persoalan menjadi rumit ketika punya pikiran, hendak menulis, tetapi tidak pernah menjadi tulisan. Kenapa?
Kesalahan utama adalah diri sendiri, bukan pada orang lain, lingkungan atau belenggu-belenggu lainnya. Belenggu itu sejatinya adalah diri sendiri. Kalau tidak punya pikiran, tidak usah membaca tulisan ini, tidak usah bercita-cita menjadi penulis. Kalau tidak punya pikiran, ya … apa yang mau ditulis.
Seperti Pikiran Anda
Pada contoh lain, ketika membaca tulisan atau artikel yang ditulis seseorang, adakalanya muncul ‘sesuatu’ di pikiran: “Lho kog persis seperti yang saya pikirkan”. Saya pastikan, pikiran seperti itu pernah muncul di pikiran ketika membaca sesuatu yang menarik. Persoalannya, Si Penulis menulisnya, Sampeyan membacanya. Padahal, di pikiran Sampeyan sama saja seperti di pikiran penulis. Kenapa ya?
Karena Anda menurunkan derajat menjadi ‘penikmat’ tidak sebagai ‘pembuat’. Tapi, esensinya sama saja, sama-sama ada di pikiran. Penulis yang dikatakan hebat-hebat itu adalah yang mampu menyamakan frekuensi pikiran (tulisannya) dengan pembaca. Kalau apa yang ditulis tidak nyambung dengan pikiran pembaca, itu bukan penulis yang baik namanya.
Ingat esensinya. Jagalah pikiran pada posisi itu. Jangan sampai terjerumus, begitu ada tulisan yang ‘rasa-rasanya’ sama dengan pikiran Sampeyan, muncul penilaian. Penilaian itu sah-sah saja. Tetapi ingat, dalam penilaian ada dua posisi tersedia, positive thinking atau negative thinking.
Kalau positive thinking, begitu membaca tulisan Ersis, misalnya, akan muncul pikiran: “Apa yang ditulis Ersis seperti yang ada di pikiran saya. Hebat juga tu Ersis, seolah-olah dia bisa membaca pikiran saya”.
Saudara, kalau penganut negative thinking secepat membaca tulisan secepat itu pula muncul di pikiran: “Ah, tulisan Ersis biasa-biasa saja. Tidak ada yang luar biasa”. Lebih mengiblis lagi kalau muncul: “Bahasanya jelek, tidak standar, tidak sesuai kaidah bahasa, kasar, kurang sopan, sampai kog menulis identitas petambak ikan padahal dosen, dan seterusnya”. Pokoknya, penilaian diarahkan ke kekurangan.
Saya ingatkan, kalau negative thingking yang dipelihara, Sampeyan menganiaya diri sendiri. Biasanya penulis tidak terlalu peduli dengan komentar orang lain, terlebih komentar yang tidak berdasar. Ingat, penulis itu telah menulis, Sampeyan membaca, dan menjadi berpikir membacanya. Hayo, siapa yang kalah? Nah, ditambah pula dengan mencaci maki, berapa tingkat kekalahan yang dipelihara. Terserah mau kalah melulu atau mau menjadi penulis?
Memotivasi Diri
Terus terang, serial tulisan saya tentang menulis memang disengaja memberi semangat, memotivasi, mereka yang berkeinginan menjadi penulis. Pengalaman membuktikan, menulis itu memang sangat mudah asal mau belajar, mau melatih diri. Potensi bawaan kita sangat besar untuk itu. Berikut kutipan diari saya.
Minggu, 11 Januari 1992. … Ini paling mengagumkan plus membingungkan serta mengasyikkan. Gugur ‘prinsipku’ untuk melihat ceweq sebagai wanita. Hebat dia. Aku sayang dan … mungkin telah jatuh cinta. Banyak hal manis ku kenang. Sebenarnya aku tak mau semua itu, tapi bila di dekatnya ada magnet menarik … Puasaku terlalu panjang, dan dia hadir, kami bertemu, dan … dalam waktu singkat aku nampaknya jatuh cinta … surprised.
Pernah ku katakan: “… kita adik-kakak saja. Kau cari pacar lain saja”. Dia sendu dan air matanya mengalir. Aku mau memacarinya (mungkin sudah). Aku sayang, teramat sayang. Aku takut kehilangan dia.
Tentu, kurang elok kalau saya salin isi diari untuk Anda. Biarlah menjadi milik saya. Tapi, Saudara, dari diari saya bisa membuat 7 (tujuh) cerpen dan satu novel yang tidak dipublisir karena dianggap kurang macho, he … he … Rasa-rasanya, seorang Ersis menulis melankolis kurang pas. Entah nanti.
Maksud saya, siapapun Sampeyan, pastilah berpotensi menjadi penulis. Terserah mau menulis apa atau tentang apa. Ingat, Allah SWT menurunkan ayat yang pertama adalah membaca. Ingat pula, berpikir sebagai awal menulis, adalah kewajiban Muslim, kelanjutan membaca. Perlu pula diingat, menulis adalah sarana dakwah atau menyebar ilmu yang, mana tahu, bermanfaat. Menulis adalah rangkaian logis membaca dan berpikir.
Karena itu, mari menulis. Soal menulis apa, itu soal pilihan. Mana tahu Sampeyan nanti menjadi penulis yang memberi manfaat. Saya cukup di tepian memberi semangat, menulis itu sangat mudah.
Bagaimana menurut Sampeyan?













4 Responses to “Menulis Sangat Mudah”
By helgeduelbek on Jan 23, 2007 | Reply
Nambah semangat nih.
By IRSAN FINAZLI on Apr 11, 2007 | Reply
Alhamdulillah. ternyata menulis itu gampang banget.
Jazakallahu khairan katsiran, pak Ersis.
IRSAN PKS banjarbaru
By RAHMADONA FITRIA _donna_ on May 16, 2007 | Reply
Terimakasih banyak pak Ersis, saya bisa termotivasi lagi dalam menulis.
Saya ucapkan terimakasih juga pada Suami saya, seorang irsan finazli PKS.
I Was Born to Write..!
Jazakallah.
By Riduan Saidi on Apr 7, 2008 | Reply
Ass…Ewa
Test…apa ada fotonya.