Menulis Nyaman dan Menyamankan

27 November 2006 | Ditulis oleh: |

Bab 5 Menulis Nyaman dan Menyamankan

BAB 5 MENULIS NYAMAN DAN MENYAMANKAN  —  181
5.1 Menulis Nyaman dan Menyamankan —  183

5.1 Menulis Nyaman dan Menyamankan

* Menulis dalam pemahaman mencurahkan’ apa-apa yang ada di otak adalah proses katarsis sekaligus berkomunikasi, berkunjung ke benak jutaan orang.

Bukan hendak pamer, tapi bagi saya, atas rahmat dan hidayah Allah SWT, menulis dipahami mudah. Entahlah. Sejak kecil, setiap bangun tidur, dimana ada kesempatan, dan terutama menjelang tidur, berusaha membaca. Bahkan, kalau lagi terasyik sering memilih tidak tidur. Kebiasaan tersebut, ternyata menumpukkan sesuatu di otak. Karena bacaan, otak bekerja tanpa henti. Tidur pun terbawa mimpi.
 
Lalu, disalurkan melalui diari atau coretan-coretan. Rasanya otak terasa fresh. Saya kurang suka bicara huibat-huibat. Terkadang berkhayal, alangkah nyamannya bisa bicara bak orator atau agar orang terperangah ketika diskusi. Tidak pernah berhasil. Saya cenderung bicara to the point, bahkan kata teman-teman, cenderung kasar.
 
Ketika kuliah di Jogja, mulailah ‘mencari’ uang dari menulis. E … otak lebih fresh, ini betul-betul katarsis. Dan, ini lebih penting, saya dikirimi wesel. Honor satu tulisan bisa berpuluh kali gaji sebagai guru honorer. Alhamdulillah, jarang terserang jenuh menulis. Kalau mengirim tulisan ke media, ya. Tapi, tetap menulis walaupun sekedar untuk disimpan di files komputer.

Menulis Buku
Sebenarnya, banyak hal yang mendorong menulis, atau dalam bahasa untuk diri sendiri, menulis cepat. Saya sering diminta bantuan, apakah oleh pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, atau pengusaha membuat pidato, laporan dan sebagainya. Tugas-tugas sedemikian memicu dan memacu untuk menulis (cepat). Kalau ‘pesan-pesan’ tersebut selesai, saya merasa melayang, puas. Apalagi, biasanya mereka memberi honor lumayan banyak he … he …
 
Ketika diskusi dengan teman-teman, rata-rata mengeluh honor menulis kecil (tentu untuk ukuran lokal, Kalimantan Selatan), bahkan tidak dibayar. Bagi saya aneh, kalau mau honor besar ya menulis dong untuk level nasional atau internasional agar dapat honor besar. Apakah itu tidak sekedar ungkapan ketidakmampuan, mengeluh melulu?
 
Dari fenomena tersebut muncullah motivasi untuk ‘membuktikan’ menulis itu bisa menghasilkan uang. Saya bertekad menembus belenggu tersebut. Moment yang diambil selesai mengikuti ESQ Training di Jakarta.
 
Sehabis ESQ Training, 25-28 Desember 2003, saya menulis kesan-kesannya secara berseri, enam tulisan, di harian Radar Banjarmasin. Sungguh mengejutkan, respon positif datang bertubi-tubi. Sungguh tidak menyangka, ada yang sampai menititkan air mata karena terharu. Padahal, ketika menulis, biasa-biasa saja tu.
 
Atas dorong teman-teman, saya menulis puluhan artikel tentang ESQ Training dengan bahasa sederhana, enak dibaca, nyaman dan menyamankan. Setelah puluhan tulisan ada yang menganjurkan agar dibukukan. Sesuai dengan niat, he … he ketika memulai tulisan tersebut. Dan, saya kan ingin menumbangkan mitos, menulis tidak menghasilkan uang.

Batin dan Finansial
Kalau menulis tentang bagaimana secara batin kita puas menulis, mungkin sudah banyak ditulis orang. Ada bangga menyelinap. Pernahkan Sampeyan membeli pakaian, lalu ketika membayar kasir bilang: “Pak telah dibayarkan seseorang”. Itu sensasi tersendiri, lho.
 
Apalagi kalau makan, sampai bosan dibayarkan pembaca tulisan saya. Coba, kalau bertemu orang: “Saya sudah lama pingin bertemu Pak Ersis, saya pembaca tulisan Bapak”. Pokoknya, susahlah menuliskan perihal betapa menulis itu membuka jalinan silaturrahmi, memudahkan urusan, dan seterusnya. Bahwa ada pula orang yang tidak suka, so pasti. Biarkan saja. Mereka sebenarnya ingin juga menulis, tapi tidak mampu. Iri yang dipelihara. Biar saja. Kasian kan!
 
Pernah baca buku saya Nyaman memahami ESQ? Buku itu laris manis. Sebelum menulis mendatangi teman-teman berkhabar akan menulis buku dengan memperlihatkan naskah buku. Mau tahu reaksi teman-teman baik tersebut?
 
Rudy Resnawan, membantu Rp.10 juta, Hermani Abdurrahman, Rp.10 juta, Asep Kartiwan,  Rp.10 juta, Ramadifta Rp.5 juta, Darmawan Jaya, Rp.2,5 juta, Rahmatullah Rp.2,5, Achmad Norsidi Rp.2,5 juta, Harun, Rp.2,5 juta, M. Said Rp.1,5 juta,  Soeyono Rp.1,5 juta, Hamdi Djunaid Rp.1,5 juta. Wah … wah ditambah dengan yang lain-lain, setelah buku terbit, kalau dihitung-hitung, satu city car. Apalagi, ketika menghadiahkan buku, ada yang membayar Rp.100-Rp.500 ribu. Sungguh pengalaman mengesankan dan mengasyikkan.
 
Dengan demikian, siapa bilang menulis di koran (lokal) honornya kecil. Kiat saya, tulis di koran lalu jadikan buku dan ternyata banyak yang bersimpati, lagi pula bukunya cukup laris, Rp.30 ribu per eksemplar.
 
Tapi, tentu tidak semudah yang dibayangkan. Untuk semua itu tentu dituntut network dan karya Sampeyan tidak hanya bagus menurut diri sendiri tetapi terlebih menurut konsumen. Menerbitkan buku juga sekaligus uji langsung keberterimaan di publik.
 
Yang ingin saya sampaikan, sejauh pengalaman  menulis lebih banyak manfaat, lebih mendatangkan manfaat dari mudharat. Bahwa ada yang tersinggung, orang-orang tidak senang, dan sejenisnya, hal itu sangat lumrah. Jangan pernah mimpi, semua orang terpuaskan.
Berani Memulai
 
Melalui tulisan dalam buku ini, kehendak saya terfokus pada satu hal: Ajakan menulis. Menulis itu sangat mudah. Maka dari itu, mari mulai. Lupakan pengalaman buruk tentang menulis, mari semaikan dan suburkan di otak hal-hal positif yang kalau terbentuk akan menuntun pemikiran ke arah hal-hal positif.
 
Sekali lagi, mari menulis. Menulis itu sangat mudah. Mudah-mudahan Sampeyan mengambil manfaat positifnya. Boleh pula menghubungi saya melalui alamat atau telepon berikut. Anjuran saya, ketika berkenalan SMS terlebih dahulu. Saya punya kebiasaan jelek, tidak menerima telepon manakala di HP nama Sampeyan tidak tercatat. Salam dan maaf.
 
Ersis Warmansah Abbas, Lembaga Pengkajian Kebudayaan dan Pembangunan Kalimantan (LPKPK), GREEN HOUSE. Lt. 1. Jl. STM No. 3 Banjarbaru Kalimantan  Selatan, 70714. Rumah: Komplek Kelapa Gading Permai Jl. Tunjung Maya E.1 Telp. 0511-4782404, Facs.: 0511-4782761. HP. 0811510427 Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 70714. Website: blogersis.com, Email: ersis_wa@yahoo.com. dan ersis@unlamview.com.

Post a Comment