Menulis Kenapa Takut?

27 November 2006 | Ditulis oleh: |

Bab 4 Resiko Menulis

BAB 4 ReSIKO MENULIS   — 147
 4.1 Menulis: Kenapa Takut?   —   149
 4.2 Resiko Menulis   —   155
 4.3 Digugat Tuntas   —   163
4.1 Menulis Kenapa Takut?

* Kalau takut dilanda ombak jangan membuat rumah di pinggir pantai,
kalau takut dicaci, disalahpahami, dibenci atau diancam,
jangan pernah mimpi jadi penulis.
Menulis berisiko? Ya, iyalah. Jangankan menulis, pada dasarnya melakukan apa saja, ada resikonya. Hidup adalah resiko. Tidak ‘melakukan’ apa-apa, tentu tidak ‘mendapatkan’ apa-apa. Bukankah itu juga resiko.
 
Sebagai ‘orang hidup’ kita dibekali pikiran, dibekali perasaan, dibekali naluri. Ketika bekal itu diberdayakan, digunakan atau disambungsampaikan tentu akan mendatangkan respon, bisa positif bisa negatif. Biasanya, kalau direspon positif kita senang, kalau negatif sedih. Itulah resiko berbuat sesuatu. Lalu kenapa takut?
 
Pada dasarnya kita maunya yang enak-enak saja, yang bagus-bagus, yang menyenangkan. Tentu saja hal tersebut sangat lazim. Dalam hidup ini yang dicari hal-hal sedemikian. Tetapi jangan sampai terjerumus ke hedonisme, tentunya.
 
Persoalannya, apakah dalam hidup kita hanya ‘berhak’ mendapatkan yang baik-baik saja? Tidak adakah celah  menerima dan mendapatkan hal-hal yang tidak diinginkan? Jangankan dalam relasi sesama manusia, dengan Allah, Sang Pencipta, kita selalu berdoa, memohon akan hal-hal yang baik. Apa semua permintaan terkabul? Tidak kan? Sekalipun begitu adalah ‘kewajiban’ kita memohon.
 
Artinya, apa yang kita inginkan tidak harus selalu menjadi kenyataan. Bahkan, kalau dibuat statistiknya, bisa jadi lebih banyak keinginan yang jauh dari harapan daripada yang didapat. Itulah kenyataan, itulah kehidupan.
 
Jadi, kalau Sampeyan bermaksud menjadi penulis, sadarilah, apa-apa yang ‘dimaksud’ dalam satu tulisan tidak selalu berbuah kesenangan, kebanggaan, dan atau diterima, apalagi ‘disetujui’ orang lain. Pada satu koin selalu ada dua sisi berbeda, two side in one coin.

Berani Salah
Penyakit penulis pemula, takut tulisannya tidak sempurna, tidak baik, tidak direspon positif pembaca dan tidak-tidak lainnya. Sebenarnya hal tersebut wajar saja. Hanya saja, kalau baru belajar, mana mungkin langsung menjadi bagus. Kecuali, bagi orang-orang tertentu.

Pada tataran ini, logika dibuat terbalik. Jangan takut salah. Tulis saja apa yang hendak ditulis, habis perkara. Kalau salah, perbaiki. Berani menanggung resiko. Berkaca dong, baru belajar menulis kog mimpi tanpa kesalahan. Memangnya Sampeyan Malaikat? Wajar kalau memula sesuatu melakukan kesalahan. Kalau selalu salah, itu baru bodoh atau bebal.
 
Ambil positifnya. Kalau salah, apalagi kesalahan ditunjukkan orang lain dengan kritiknya, syukur Alhamdulillah. Artinya, kita makin mungkin memperbaiki kemampuan. Dari kesalahan-kesalahan belajar untuk tidak salah, introspeksi. Ingat, pengalaman didapat setelah melakukan bukan ‘berpengalaman’ lebih dahulu. Jangan berfantasilah.
 
Dengan demikian kesalahan dimaknai sebagai hal positif agar lebih baik berikutnya. Banyak penemuan di dunia bermula dari kesalahan. Dalam terminologi penelitian disebut trial and error. Pernah ke Roma melihat Menara Pisa atau melihat gambarnya? Pasti arsiteknya tidak merencanakan menara miring. Kemiringan disebabkan  kesalahan. Tapi ingat, Menara Pisa terkenal karena miring dan bertriliun-trilun lira diraup Itali. Kesalahan yang menguntungkan.

Berani Memulai
Sangat banyak orang yang berkehendak menjadi penulis. Pengetahuan cukup, ilmu melebihi takaran, pengalaman seabreg, ide bertimbun-timbun, komparasi antara imajinasi dan realitas sudah dilalui, tapi begitu mau ditulis, layu sebelum berkembang. Ada apa denganmu, kata Peterpan.
 
Kebetulan saya bekerja di kampus (universitas). Sebenarnya mengagumi teman-teman, baik karena gelar yang paripurna, sikap yang menyenangkan, ide-ide cemerlang yang mengagumkan, ceramah dan nasehatnya yang membuai hati. Pokoknya, terkagum-kagum. Tapi, kalau ditanya, kenapa tidak ditulis? Mukanya masam melontar dendam.
 
Tentu saja tidak berhak dan tidak etis ‘menggurui’ sebab saya ini apalah dan tidak ada apa-apanya. Makanya kepada teman-teman seperti Bambang Subiyakto, Daud Pamungkas, Yudha Isharyana, Fatchul Mu’in dan lain-lain saya selalu memotivasi, menulislah kawan. Tulis apa yang Sampeyan rasakan dan ‘bicarakan’. Harap maklum, mereka lebih hebat dari saya. Sekalipun masih Senin-Kamis, baca saja tulisan mereka, terkadang lebih bagus dari tulisan saya.
 
Pada tingkat yang lebih kasar, saya provokasi, jangan takut kedok terbuka, sebab kalau menulis akan ketahuan pikiran sebenarnya. Kalau menuliskan kelihatan langsung isi, struktur, pola dan proses berpikir. Tidak usah takut. Di dunia ini keahlian didapat dari pengalaman, dari belajar, dari melakukan, bukan dari teori saja. Kalau konsisten dan berani salah, berani memulai, lama-lama akan bagus.
 
Jadi, kalau tidak berani memulai, tidak berani salah, kapan lancar menulis. Sampai Profesor emeritus bisa-bisa tidak akan menerbitkan buku yang ilmunya sudah bersemayam di kepala. Tidak berani memulai, akhirnya menjadi bangga tidak menulis. Sampai mati jarang menulis, apalagi buku bermutu. Wong tidak berani memulai, kog.

Berani ‘Menceraikan’ Alasan
 
Sebenarnya, setidaknya begitu pengalaman pribadi, ternyata dalam kehidupan selalu ada alasan. Sembari senyum kecut ketika memaki dan memotivasi diri, saya sampai pada simpulan, alasan selalu tersedia apabila tidak mampu melakukan sesuatu. Jangan-jangan alasan itu iblis.
 
Kalau karir diurus secara normal, saya seharusnya sudah Profesor. Kini baru dibibir golongan IV, Lektor Kepala.  Padahal, dari tiga komponen tugas, pengajaran, penelitian dan pengambdian, tidak kurang-kurang. Tapi, malas mengurus birokrasi naik pangkat. Malas dijadikan alasan, padahal hakikatnya tidak mampu. Suatu kali, Yudha menyentil, malas itu alasan. Dosen yunior ‘asli’ Unlam itu pangkatnya lebih tinggi, dan … besok pagi langsung saya urus. Jangan kaget ya, kalau naik pangkat setelah 11 (sebelas) tahun, he … he …
 
Alasan-alasan itu yang menjadi biang kenapa banyak orang tidak menulis. Karena itu ceraikan alasan dari kehidupan, alasan itu iblis. Memberi ceramahlah, mengerjakan proyek ini-itulah, konsultan untuk banyak hal yang berakibat inti, tulisan jarang-jarang bak ‘bulu’ landak.
 
Dalam pada itu, seorang teman, Jumadi, baru kembali mengambil gelar Doktor dari Malang. Dia memberi buku Pelajaran Bahasa Indonesia yang membuat saya terlongo-longo. Kalau ada yang pulang membawa mobil —Jumadi membawa mobil juga, he … he …— bagi saya biasa-biasa saja. Kalau buku, itu baru kejutan. Mana bukunya diakui Depdiknas sebagai buku standar. Luar biasa.
 
Tanpa banyak pikir saya ajak dia bergabung dalam proyek peningkatan kemampuan guru-guru membuat bahan ajar. Rupanya, Jumadi rajin menerjemahkan dan membuat tugas (makalah). Terjemahan dan makalah tersebut dibuat dalam paket tertentu, lalu dijadikan buku, maka jadilah. Maksud saya, itulah satu kiat menulis buku.
 
Artinya, tidak ada alasan. Kuliahpun bisa menghasilkan buku dan caranya sangat wajar dan sangat mudah. Wong mengerjakan tugas perkuliahan dengan kreatif. Alasan jadi tercerai dan tidak bisa menggoda. Malamnya saya kumpulkan tugas-tugas kuliah dan tinggal diedit agar jadi buku. Begitu mudahnya.
 
Masalah mucul atau alasan akan bergabung kalau semasa kuliah (mudah-mudahan tidak bo), tugas terjemahan diupahkan, makalah diupahkan, bahkan ada yang skripsi, tesis, dan disertasi diupahkan, celaka am. Kalau itu terjadi, cukup alasan untuk tidak mengolahnya. Kalau Skripsi diupahkan dijadikan buku, biarlah alasan menjadi penghalang sebab nanti bisa barabe akibatnya. Pantas saja takut ditegakkan kuat-kuat dan tinggi-tinggi. Kalau mengerjakan tugas kuliah secara wajar jangan dijadikan alasan untuk takut.

Hantu Takut
Menulis berisiko, sekali lagi, pasti itu. Tulisan-tulisan saya sengaja dimuat untuk mereka yang berkehendak menulis —terutama di media cetak— agar resiko itu jangan dijadikan alasan untuk takut. Menulis saja dari prosesnya belajar.
 
Ketakutan memang tidak mungkin dihapuskan dari diri sebab itu pertanda kita masih normal. Tapi, ketakutan-ketakutan adalah ‘penyakit’ untuk berkarya. Jangan menganggap diri jadi Malaikat yang mampu menjalankan peran dan tugas secara sempurna. Justeru karena berpeluang salah dan mempunyai ‘hak’ untuk salah, kita menjadi manusia.
 
Akhirnya, jangan lagilah takut untuk menulis. Menulis itu pekerjaan sangat mudah dan memudahkan dalam kehidupan apabila kita menyelami makna hakikinya. Selamat jadi penulis. Menulis dengan gembira, menulis itu menyenangkan, bukan menakutkan.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?

Post a Comment