Menulis itu Mudah

27 November 2006 | Ditulis oleh: |

2.2 Menulis itu Mudah

* Setiap orang punya pemikiran, karena itu berpotensi menjadi penulis asal dikembangkan tanpa menjadi duplikat siapapun. Menuliskan pikiran sangat mudah kalau mau melakukannya.

Satu pertanyaan yang sering diajukan kepada saya, terutama oleh mahasiswa, pada kuliah-kuliah awal: “Bagaimana cara mudah menulis?” Pertanyaan membosankan itu tetap terulang tiap tahun dan kini malahan makin melebar. Belakangan, diajukan oleh mereka yang bergelar Magister. Kalau untuk yang ini, agak lebih mudah. Setelah dijawab, beberapa tulisan mereka segera muncul.Sebenarnya tidak respek dengan pertanyaan tersebut. Tapi, apa boleh buat, pada kadar tertentu nampaknya harus jadi ‘guru’. Sebaliknya, sering menemui makhluk yang sok. Apa saja tulisan orang, dikritik. Salah inilah, kurang itulah, bahasanya tidak standar atau tidak fokus. Pokoknya tidak ada baiknya. Kalau jengkel disulang: “Sorry, Sampeyan tidak levellah”. Soalnya mengritik terus, tapi menulis payah.

Kalau lagi santai, suka ketawa geli. Disarankan begini, begitu, begana, dan entah apa lagi. Logika saya sederhana saja, bagaimana mungkin orang yang tidak piawai menulis memberi kuliah tentang menulis. Tapi, jujur saja, ‘gembira’ dengan makhluk-makhluk macam begini. Hiburan gratis bernilai paradoksal. Hiburan itu mahal lho.

Maksud saya, aturan pertama ‘Menulis itu Mudah’, jika menemui orang dengan sifat-sifat seperti itu, langsung tinggalkan dia, jadikan musuh setingkat iblis. Sebab, orang-orang seperti itu yang ‘menghalangi’ menjadi penulis. Jangan pernah mau berteman dengan orang yang tidak mampu menulis tetapi selalu mengritik tulisan orang. Mencela karya orang dijadikannya kebanggaan. Itu adalah musuh besar para penulis, apalagi bagi penulis pemula.

Membaca dan Membaca
Aturan kedua, perbanyak membaca. Jadikan membaca sebagai kebutuhan. Kalau tidak mampu membeli buku, surat kabar atau majalah, rajin ke perpustakaan. Akan lebih baik biasakan ‘bersilancar’ di internet. Apa saja informasi dalam waktu sekejab bisa didapat di internet. Prinsipnya, membaca, membaca, dan terus membaca. Makin banyak membaca akan makin banyak ide yang muncul di kepala Sampeyan.

Seiring dengan itu, kemampuan berbicara, apalagi menilai orang atau karya orang lain, hentikan, now. Kalau perlu masuk kamar, hidupkan komputer, lalu isolatip mulut Sampeyan. Dengan demikian tidak mungkin lagi bicara dan apa yang ingin ‘dibicarakan’ ditulis. Ini resep jitu. Pada kadar tertentu, berbicara itu sama dengan menulis sebab sama-sama produk otak.

Kalau di kampus, di kantin, di kantor atau di mana saja, kalau bertemu seseorang atau sekelompok orang, kurangi berbicara, banyak berpikir. Kalau ketemu orang yang maunya bicara terus seharian, tinggalkan dia. Orang-orang semacam itu tidak ada gunanya dalam belajar menulis.

Kalau sudah terbiasa menulis, baru temui dia. Kalau perlu, suruh bicara semalam suntuk. Biarkan bicara sepuasnya, kalau bagus, tinggal modifikasi, tulis, jadilah tulisan. Sekali lagi, ingat aturan dua ini, kalau baru belajar menulis, hindari orang yang suka bicara. Dia tidak berguna sama sekali, mereka garbage, sampah.

Jangan Bertanya
Aturan ketiga, jangan bertanya pada siapa pun tentang menulis. Penulis jadi pasti punya style tertentu dan tidak bisa ditiru. Kalau kurang percaya diri, menulis saja, lalu perlihatkan kepada penulis untuk dikoreksi. Banyak orang yang terlalu banyak bertanya hingga kehilangan waktu untuk menulis.
Jadi, tulis, tulis, dan tulis apa yang ingin ditulis. Jangan diskusikan. Sebab, itu bisa memelencengkan ide kemana-mana. Ingat, setiap orang punya pemikiran sendiri. Peliharalah ketidaksamaan itu sebab di situlah letak ‘kekuatan’ seseorang. Coba saja, kalau penulis kita memakai metode, gaya, dan kalimat yang sama, pasti tidak enak dibaca.

Seorang teman, pernah bercerita, beberapa kali mengikuti pelatihan penulisan. Saya tanya: “Sudah berapa buku yang ditulis?”. Dijawab: “Belum satu pun”. Saya maklum. Manakala kita ‘berguru’ dalam menulis, kita akan diberikan sekian aturan, sekian larangan, sekian ketakutan hingga membuat nyali ciut. Boro-boro akan menulis, sebab jarak antara teori dan kemampuan (bagi penulis pemula) bak langit dan bumi. Akibatnya, bertimbunhimpit ketakutan untuk menulis.

Ada lagi yang super lucu. Seorang teman mengikuti penataran menulis. Gilanya, Si Penatar belum pernah menulis buku. Coba pakai logika paling sederhana, mungkinkah orang yang tidak pernah menulis ‘mengajari’ bagaimana cara menulis? Sama saja bodohnya antara murid dan guru.

Berguru kepada orang yang tidak tahu, dimana yang menjadi guru lebih edan, gara-gara honor, mau-maunya menjadi penatar, padahal tidak punya kemampuan. Tepatnya, kalau ikut penataran menulis apa pun, tanyai dulu penatar, apa karya nyatanya. Kalau tidak ada, lebih baik belajar sendiri sebab sama tidak tahunya dengan Sampeyan. Enak di dia, tidak mampu menulis, memberi penataran, dapat honor, sementara Sampeyan jadi obyek, bak anjing mengencingi pagar.

Pasti Bisa
Aturan keempat, sadarilah bahwa kita terlahir sebagai orang pintar, born to be a genius. Betapa tidak. Siapa pun telah dibekali segenggam otak oleh Allah SWT dengan berat kira-kira 1,5 kg. Otak itu, berisi 1 triliun (baca: satu triliun) sel otak. Setiap satu sel mampu berkoneksi 20.000. Bayangkan berapa triliunan variasi koneksi yang bisa dilakukan dalam sekejab. Otak adalah super komputer tak tertandingi.
Manusia segenius Albert Einstein, konon baru menggunakan 3% kemampuan otaknya. Sampeyan? Kira-kira saja sendiri. Maksud saya, betapa dahsyatnya pemberian Allah SWT kepada kita. Tinggal memanfaatkannya saja. Gratis.

Begitu besarnya potensi yang kita punya. Harap  diingat, selihai apa pun penulis, misalnya mampu menghasilkan ratusan buku, ribuan karya tulis, ditulis dengan hanya memakai 26 huruf, a sampai z dan 10 angka, 0-9. Coba renungkan, 26 huruf. Sekali lagi 26 huruf dan itu pun tidak sampai separuh yang sering digunakan. Jadi, begitu sederhananya menulis. Bagi saya teori relatif Einstein dalam formula E=MC2 dapat dipahami dari kreasi menyusun huruf-huruf atau angka-angka hingga menjadi tak terhingga.

Kini tinggal meyakinkan diri, menguatkan tekad, dan meaplikasikannya dengan semboyan motivatif: ‘Saya Pasti Bisa’. Pengetahuan sudah adesif dengan diri, bahan berhamburan, keterampilan dapat dilatih, apa sulitnya? Sederhana saja, Sampeyen tidak menggunakan dan tidak memanfaatkan potensi. Lakukan, manfaatnya langsung dirasakan. Tidak percaya? Coba saja. Sampeyan pasti  membuktikan kebenaran apa yang saya tulis, menulis itu mudah.

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. 2 Responses to “Menulis itu Mudah”

  2. By IRSAN FINAZLI on Apr 11, 2007 | Reply

    Iya betol banget, jebulane nulis kuwi gampang banget lho…!
    tenan!!!
    Coba aja nek ra ngandel. Matur nuwun pak Ersis.
    Wassalamu’alaikum.wr.wb
    IRSAN perintis Lembaga Psikologi GLOBAL bersama pak Ermanto (bjm)
    Irsan_global@yahoo.co.id

  3. By arif on Feb 27, 2008 | Reply

    saya belum pernah menghasilkan karya yang nyata. tapi saya sangat ingin bisa menjadi seorang penulis. saya sependapat dengan pak ersis, insya allah menulis itu mudah. asalkan kita berusaha, kita pasti bisa.bukankah ada pepatah ‘barang siapa berusaha, maka akan berhasillah ia’.benerkan..
    ayo…semangat…! kita pasti bisa…

    ***Nah … itu kunconya.

Post a Comment