Menulis di Otak
27 November 2006 | Ditulis oleh:2.4 Menulis di Otak
* Setiap orang terlahir dengan potensi tidak terbatas, born to be genius. Gunakan potensi, banyak membaca, tulis apa yang dipikirkan, jadilah tulisan. Begitu mudahnya.
Allah Maha Pengasih Maha Penyayang. Sadarilah, sejak seseorang ‘diciptakan’ sebagai manusia, sejak dalam proses di kandungan, Allah SWT ‘menitipkan’ 1 triliun (baca: satu triliun) sel otak di batok kepalanya. Dari 1 triliun itu, 100 miliar berupa sel otak aktif dan 900 miliar sel otak pendukung. Sehingga, pada dasarnya setiap manusia yang lahir itu genius, born to be a genius.Sadarilah, setiap satu sel otak dapat berkoneksi 20.000. Bayangkan, betapa besar koneksi yang bisa dirangkai bilamana 100 miliar sel otak ‘dihidupkan’. Konon, Albert Einstein yang dikatakan Si Genius itu, barulah memakai 3% kapasitas otaknya. Kalau tidak merasa lebih pintar dari Einstein, kira-kira berapa % kapasitas otak Sampeyan yang telah digunakan?
Sekedar untuk direnung. Mengapa kita bisa membedakan suara Michel Jackson dengan Duran Duran, Madona dengan Umi Kalsum, nyanyian Queen dengan Debu, bebek dengan ayam, kodok dengan cecak. Membedakan penampakkan bukit, gunung, laut, awan, hujan, air dan jutaan lainnya. Ingat, semua itu terekam di memori yang dapat dikenali dengan begitu cepat. Kenapa?
Daya tangkap, daya rekam, daya proses, dan daya panggil otak begitu cepat, rapih dan teratur. Tidak akan pernah ada komputer yang bisa menandingi. Harap diingat, secanggih apa pun komputer adalah hasil daya cipta otak. Dus, tidak ada istilah bodoh atau pintar, yang ada adalah mereka yang mengaktifkan atau menidurkan otak, yang terkadang lebih dininabobokan ketimbang dipakai. Karena itu, bangunkanlah the sleeping giant, Si Raksasa Tidur itu.
Tulisan berikut tidak memfokus pada apa itu otak, bagaimana kemampuan, dan atau cara menggunakannya, tetapi bahasan relasi dalam kaitan dengan menulis. Menulis adalah pekerjaan otak yang sangat ringan. Sebab, menulis tidak lebih dari duplikasi apa yang dilakukan di otak.
InstaI Otak
Saya ingatkan, otak sebagai ‘kuala’ berpikir, pada dasarnya barulah berbentuk potensi bawaan lahir. Bilamana diinstal dengan software tertentu lalu input data dilakukan akan terjadi process yang akan menghasilkan output.
Sederhananya begini. Ketika kecil orang tua kita menginstal keyakinan kepada Allah SWT. Sebagai software paten siap dikembangkan, tetapi ketika perjalanan hidup tidak diinput dengan hal-hal agamis, maka software itu tidak bekerja dalam aplikasi yang menampakkan sebagai seorang Muslim.
Lebih sederhananya begini. Setiap orang built-in dititipi Allah dengan sifat-sifat keilahian, Asmaul Husna. Kita memiliki sifat-sifat Allah. Contohnya Ar Rasyiid, Maha Pandai. Allah menurunkan ayat pertama, bukanlah memerintahkan sholat, tapi iqra’ iqra iqra’ … Wah, kan tidak lucu orang yang tidak bisa membaca menunaikan sholat. Bagaimana akan sholat, kalau tidak bisa membaca. Membaca bermakna luas bak samudera.
Membaca, dalam pengertian sederhana, pada dasarnya memasukan data untuk diproses. Bila kapasitas otak diisi dengan data ‘sifat’ penyayang dan saudara-saudaranya, maka itulah yang berkembang, saling berkoneksi dengan cepat di tataran otak. Kenapa orang yang bila berbicara enak di telinga dan bermakna makin lama makin menyamankan?
Jawabannya, hal-hal sedemikian yang makin matang. Istilahnya, tua-tua keladi, makin tua makin menjadi. Nabi Muhammad SAW adalah contoh paling sempurna. Nah apa-apa yang berproses di otak itulah —dalam terminologi Islam dipahami ‘dikomandoi’ oleh Qolbu— yang menampak dalam perilaku kehidupan.
Jadi, orang penyayang, kalau bicara enak di telinga, adalah pantulan dari dalam dirinya. Saya punya dua sahabat sebagai contoh, Legisan Sugimin dan Dharmawan Jaya. Coba berkomunikasi dengan mereka. Seingat saya, mereka belum pernah membeban di pikiran. Tidak percaya, buktikan sendiri. Entah kalau mereka menginstal software baru.
Itu pulalah sebabnya, orang yang jadi perampok dan pendusta agama yang begitu hebat, suatu ketika bisa berubah menjadi alim. Kenapa? Karena software diganti dengan yang pas. Sederhana kan? Lalu apa kaitannya dengan menulis?
Tulisan di Otak
Saya banyak ditanya tentang kiat menulis, banyak pula jawaban yang telah dituliskan. Tetapi ada rahasia dasar yang ingin disampaikan. Entah kenapa, sedari kecil sangat suka mendengar ceramah di surau, dongeng Nenek, cerita Bapak dan Ibu. Ketika kelas V SD membaca buku-buku Bapak sekelas Winnetou, Raja Minyak, Tariq bin Ziad. Ketika PGA (SMP-SMA) terasyik-asyik dengan Kho Phing Ho.
Lalu, perasaan terbuai dengan karya Hamka, Abdullah Harahap sampai Eny Arraw. Ketika kuliah, bacaan berkelana ke mana-mana. Pokoknya, hidup itu ya membaca. Nah, dalam pada itu, setiap membaca ada ‘sesuatu’ yang berproses di otak. Membaca tentang A, bagaimana kalau A itu B atau C. Kenapa D tidak F, kalau digabung N, kira-kira bagaimana.
Begitu belajar metode penelitian makin ramai. Kalau melihat sesuatu muncul formula-formula baru, baik tentang yang dilihat apalagi kalau diformulasikan dengan entry behaviour. Ramai di otak. Pikir-pikir, kenapa yang bergolak di otak itu tidak ditulis, tidak dituangkan dalam bentuk tulisan?
Awalnya ditulis di diari, dibaca e… ternyata bagus-bagus. Timbul kepercayaan diri, wah bagus ya tulisan Ersis? Lalu muncul ide, kenapa tulisan di otak itu tidak dialihkan ke kertas memakai jasa mesin tik. Muncul keberanian dan dikirim ke media cetak. Alaamak, setelah dimuat, dikirimi wesel. Menulis lagi, dikirimi lagi, dan … hasilnya menakjubkan.
Sekedar bandingan, ketika menjadi guru honor di SMA Marsudi Luhur Jogjakarta (1978), satu jam pelajaran dihargai Rp.750. Satu tulisan dibayar Sinar Harapan Rp.40.000. Saya pernah mau pingsan menerima honor Kompas ketika menulis tentang seorang teman tunanetra yang S2.
Konstruksi di Otak
Yang ingin saya tandaskan, manakala berpikir berarti kita sedang menulis di otak. Saya ingatkan, sepengetahuan saya, satu-satunya binatang yang isi otaknya tahi, hanya udang. Jadi, hati-hati kalau makan kepala udang. Termasuk acan kalau dibuat dari kepala udang he … he … Artinya, selama Anda berpikir pada dasarnya juga menulis. Tinggal melatih membuat konstruksi yang benar di otak.
Melamun dan merenung itu adalah bagian dari pekerjaan otak. Ikuti alirannya dan buat konstruksi yang benar hingga ketika diluncurkan ‘berbentuk’ dan bermakna. Saya jamin, bila Sampeyan bisa bicara, apalagi raja omong, pelamun dan pemimpi, itu pertanda punya bakat menulis. Saya sedang mencari formula melatih anak menjadi penghayal, tepatnya menfasilitasi fantasinya.
Dari raja penghayal, mereka yang punya fantasai luas atau raja omong itulah biang penulis berbakat muncul. Asal direkonstruksi secara baik dan benar. Menulis adalah penampakkan dari proses kerja otak. Dipastikan, orang yang bicara terstruktur, pertanda kerja otaknya bagus dan … tulisannya bagus.
Jadi, tip saya sederhana saja. Banyak membaca, biasakan membuat pola pikir kerja otak terstruktur, lalu tuangkan dengan memainkan keyboard komputer. Pastilah Sampeyan bisa menjadi penulis.
Oh ya sekedar saran, biasakan jangan membawa buku catatan atau pulpen. Gunakan dan latih kerja otak. Alhamdulillah, walaupun berprofesi wartawan, hampir tidak pernah membawa pulpen. Cukup banyak kampus tempat menuntut ilmu, saya tidak doyan membawa pulpen. Wong sudah diberi modal besar oleh Allah SWT. Entah nanti kalau umur makin menua.
Yang pasti, menulis itu memang mudah sebab merupakan rangkaian kerja paling ringan dari kerja otak. Kalau Anda sadar dan mau sadar tentunya.
Bagaimana menurut Sampeyan?









7 Responses to “Menulis di Otak”
By edi bustami arifin on Dec 12, 2006 | Reply
saya setuju dengan sodara EWA…….otak di ciptakan ALLAH untuk berfikir,tapi kadang-kadang manusia salah dalam menggunakannya, untuk itu gunakanlah otak sebaik-baiknya, iya kada???….
By Risma Yunyta on Dec 14, 2006 | Reply
Saya sangat setuju dengan pendapat anda mengenai otak. Kita sebagai manasuia yang diberi oleh Allah kelebihan berupa otak yang dapat digunakan untuk berfikir jadi otak itu semestinya bisa digunakan sebaik mungkin untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.
By m. muhtadin nur on Dec 25, 2006 | Reply
saya sependapat dengan bung EWA, bener apa yang anda katakan bahwasanya otak tersebut haruslah di latih dari kecil, membaca..!!!, itu lah intinya dan sebagai guru yang paling baik, itu ja gen bos’ai comment nya, good luck,….mudahan saya bisa jadi penerus EWA…..ha3…
By alam on Jan 22, 2007 | Reply
saya sehh setuju ma bang ewa. tapi sungguh ironi masih banyak orang2 yang notabenenya memiliki pendidikan yang tinggi dan mendapatkan posisi di lembaga kenegaraan kurang mengoptimalkan fungsi spiritualnya apa dia ngak pernah baca tentang balasan orang yang menzolimi rakyat, ato dia emang ngak tau membaca, saya sbg orag yg mungkin masih trlalu muda u/ berkomentar pun prihatin atas keadaan negeri kita, emang om om ngak takut masuk neraka… disana panas lho…klo orang normal dan punya mata hati kayak saya seh takut bgt. coba tanya kenapa !!!!!!
alam
smp athirah makasar ^_*
By Helgeduelbek on Jan 25, 2007 | Reply
Begitu mudahnya menulis…
By clukindahose on Feb 24, 2007 | Reply
masalahnya bagaimana dengan orang yang pelupa seperti saya pa? *huks..*
By m_kharis on Feb 27, 2007 | Reply
saya setubuh aja dech……
otak untuk berfikir, tapi bagaimana caranya membersikan otak yang banyak virus kayak saya……..