Menitikkan Air Mata Rindu Allah

27 November 2006 | Ditulis oleh: |

Secara agamis, pemahaman dan prakteknya, mungkin saya tidak baik-baik amat. Belajar agama dari kecil di surau sampai masuk PGAN, kemudian kuliah ke IKIP Padang, IKIP Yogya, UGM, dan UPI (IKIP) Bandung, akhirnya lebih tertarik ke tataran filsafat agama. Pengetahuan agama adalah, tapi ‘keresahan batin’ tak terpungkiri.Ada pertanyaan dasar yang susah dijawab, tentang Allah itu sendiri, siapa dan dimana gerangan Dia, kenapa dan mengapa, dan untuk apa mencipta, dan hal hakiki lainnya. Memang dari kecil sudah dipasok, Allah dan Islam itu keyakinan, tapi saya terlalu banyak belajar logika, sampai bertahun-tahun mengajar logika di Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin. Hidup dan kehidupan seolah terbelenggu logika, rasionalitas.Alhamdulillah, mengikuti ESQ Training, kembali mendapatkan apa yang telah dipunyai tetapi diabaikan. Mendapatkan kepastian, kemantapan itu bukan dengan otak, tetapi keyakinan. Itulah ‘inti’ ajaran Islam yang saya perdebatkan di otak, dan ternyata tidak membawa kedamaian batin, terlarut dalam belenggunya. Secara batiniah, saya tidak ‘menemukan’ Allah SWT dimana-mana, padahal selalu mencari, dimana gerangan Dia?

Takkan Menangis
Promosi yang dilakukan teman-teman luar biasa, tidak seorangpun yang takkan tersentuh. Apa iya sih?. Sebagai seorang perantau, saya sangat tidak respek dengan tangis-tangisan. Saya benci sinetron Indonesia karena mempertontonkan rumah mewah, makanan berlimpah di meja,  lengkap dengan segala aroma kemewahan keduniaan. Dan, … berbuah tangis menangis melulu.  Menjijikkan. Tidak menjadikan jiwa kuat.

Nah, begitu sesi ke dua di hari pertama, setelah lautan hikmah, dengan wacana aduhai, Ary sampai pada penyadaran diri: Kita ini siapa, sedang dimana, dan hendak kemana? Lalu, katanya sangat mendalam, tenangkan diri dan berdoalah.

Bayangkan Ibu-Bapak Anda. Seketika Bapak dan Ibu yang tua segera di benak. Terbayang wajahnya yang keriput dimakan usia, 82 tahun. Ibu yang menyusui dan membelai sedari kecil, tabah mengasuh, kini 76 tahun. Apakah mereka masih sekokoh dan setangguh dulu? Masih sehatkah?

Bayangan kehidupan ketika kecil, di kampung, hadir sejelas-jelasnya. Ketika kelas 5 SD, saya pernah melawan Ibu. “Lakum dinnukum” kata saya ketika sehabis magrib pulang bermain Ibu menyuruh sholat. Ibu menangis berurai air mata sembari berkata: “Nak, Ibu punya kewajiban menyuruhmu sholat”. Adakah perkataan yang paling menyakitkan selain itu, Ibu?. Durhakakah sudah anakmu ini?

Bapak yang tangguh, dengan pendidikan demokrasi, tidak melarang merokok sejak kecil, memberi apa yang diminta asal untuk sekolah, membelikan buku, majalah, dan buku cerita —dari Si Kecil sampai Old Shuterhand dan Winnetouw— dengan catatan: jangan bohong, jangan makan uang haram, jangan punya niat mencelakakan orang lain.

Kini masih kokoh dan tegarkah nun jauh di kaki Gunung Kerinci sana? Setahun tidak bertemu. Anakmu rindu, Mak. Aku rindu Mak. Maafkan salah anakmu. Batin betul-betul terguncang, merasa sendirian di tengah keramaian.

“Bayangkan, Ibu Anda yang tengah mengandung tertatih-tatih berjalan membawa perutnya yang ‘menggelembung”, kata Ary makin melecut mata batin.
Lalu, Ibu digolekkan di ranjang. Dibantu dukun kampung bertaruh nyawa melahirkan, bersimbah darah. Lalu, keluarlah tangis kegembiraan ketika kita lahir. Diambil dengan menitikkan air mata kegembiraan, digendongnya, disusui, penuh kasih sayang seorang Ibu, sayang sebagai karunia Allah SWT.

Lalu, dimandikan, dibesarkan, dirawatnya, dengan tabah tanpa mengeluh, sekalipun nakal tak terkirakan. Sayangnya tidak berkurang sedikitpun. Lalu, disekolahkan, sampai ‘menjadi orang’, dengan mengorbankan segala keperluannya. Bahkan, segala kebutuhan kita menjadi hal utama dan pertama, sementara Ibu-Bapak tidak memikirkan dirinya sendiri. Kasih sayang sempurna orang tua.
Lalu, ketika sudah besar, dia memanggil: “Nak, pulanglah, Ibu rindu, Ibu sakit. Ibu rindu kamu, Ibu ingin kamu disisi Ibu. Ibu mencintamu nak, ibu sayang, sayang sama kamu nak. Pulanglah, nak. Temani Ibu”. Apa jawab kita?

Saya sibuk Bu. Pekerjaan harus diselesaikan. Atasan saya akan marah besar kalau pekerjaan tidak diselesaikan, bisa-bisa dia memecat saya. Begitukah balasan kasih sayang seorang anak?
Saya tidak sanggup menuliskan drama batin ini untuk Anda semua. Tangis tidak dapat ditahan lagi. Anda mau mengetawakan atau mencibir, silahkan. Inilah, setelah 40 tahun menangis tak terbendung. Selesai? Ternyata belum.

Cinta Kepada Allah
Tak pelak lagi, inilah pengalaman pertama dimana seribuan orang serempak menangis, meraung bersamaan di satu ruangan. Lima menit kemudian, Ary membawa ke penyadaran berikutnya. Mencintai orang tua adalah sesuai amanah Allah. Ketika penyadaran itu singgah lebih mantap di otak, Ary melanjutkan kepada yang lebih tinggi, Allah SWT.

Adalah tidak benar, kalau hanya mencintai orang-tua. Kita wajib lebih mencintai Allah, sebab Dia-lah pencipta segalanya. Minta ampunlah atas kekeliruan mengabaikan-Nya. Dia-lah pemilik semua yang ada di langit dan di bumi. Minta ampunlah, bertobat, bersujud. Gema Allahu Akbar, ampuni ya  Allah, bercampurbaur dengan tangisan yang lebih keras dari suara adzan.

Setelah semua tertunduk menyadari diri dalam kecintaan pada Allah SWT, Ary terus melanjutkan: “Apakah kalian betul-betul mencintai Allah SWT? Tidak. Tidak. Kamu bohong. Kalau kamu mencintai Allah SWT kenapa kamu melakukan dosa. Kenapa kamu berani meninggalkan sholat, mengambil hal yang bukan milikmu, sampai melakukan perbuatan tercela. Itukah bukti cinta pada Allah SWT?”.
Tak terperikan, raungan keinsyafan adalah suasana ruangan pelatihan. “Bertobatlah, minta ampunlah pada Allah SWT”, kata Ary lebih tenang. Dan, maaf saja, saya tidak bisa menggambarkan suasana pada Anda sekalian. Saya yakin, semua peserta pelatihan, makin tahu posisi diri dan perbuatan masing-masing.

Pada hari pertama, hal-hal mendasar segera termantapkan. Manusia itu ciptaan Allah dan akan kembali kepadanya. Mencintai orang-tua kewajiban mulia tetapi hak cinta lebih besar kepada Allah SWT. Kita lebih paham siapa kita. Tidak Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi. Allahu Akbar.
Training dahsyat mengguncang jiwa itu, sungguh menyadarkan akan siapa, dimana, dan hendak kemana kita sebagai manusia. Sayangnya, selama ini, apa yang dikatakan Ary dengan God-Spot telah dibelenggu oleh banyak hal hingga tertutup, menjadi keras bak batu.

Hemat saya, hal-hal ini yang susah didapatkan dengan pengalaman selama ini. Artinya, Ary menyadarkan kita, apa-apa yang menutup qalbu yang tidak dihanguskan selama ini. Untuk itu, mari kita sebut Asma-Nya, Asmaul Husna. Luar biasa. Puji Syukur ya Allah.

Kenapa Harus Bersujud
Pada hari kedua, bersama K.H. Muchyar Usman, Ketua MUI Banjarbaru, kami mendiskusikan beberapa hal. Termasuk ‘perintah’ Ary agar bersujud. Berbagai pendapat, disodorkan, tetapi kita sepakat, ikut saja dahulu tanpa berbantah-bantahan.

Iseng, saya sengaja satu kelompok di depan Muchyar Usman. Ternyata dia juga bersujud. Dan, otomotis —mudahan-mudahan terlaksana— “Kiai”, kata saya, “nanti tolong ajarkan bagaimana sholat yang benar”. Dengan mata berbinar, dijawab: “Silahkan. Saya tunggu di rumah”.

Kami baragapan. Harap maklum, sejak kenal saya selalu berdiskusi dengannya dengan keras. Maaf Pak Kiai kalau selama ini cara saya kurang santun. Padahal saya merasakan bagaimana sayang batinnya. Subhanallah. 

Jujur saja, saya sangat menjadi lega. Sehabis bersujud dan menangis membangkitkan kesadaran, dada menjadi plong. Batin lempang dan beban di pikiran berkurang. Disitulah hebatnya Ary, dia tidak memaksa atau memaki kita, tapi menolong menyadarkan diri sendiri oleh diri kita. Saya betul-betul makin mantap dengan keyakinan selama ini, diri kitalah yang menentukan siapa kita. Apalagi Ary mengutip ayat: Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai kaum itu merubahnya sendiri.

Di lubuk hati yang paling dalam, saya kagum pada Ary. Saya sudah mempelajari psikologi dari banyak buku dan pakar. Dari Sigmund Freud, Carl de Jung sampai Sarlito Wirawan Sarwono. Ary merangkumnya dalam penyadaran. Saya jadi ingat, psikolog Savitri dari Unpad Bandung, sekalipun dia perempuan, cara bertuturnya sama-sama ‘membangkitkan’ kekuatan diri di dasar ‘diri’ kita.

Logika saya mengamini, betapa dahsyatnya setelah empat hari, secara sadar saya mengaku pada diri sendiri betapa ‘tololnya’ diri itu selama ini. Bukankah secara psikologi ini praktek dari katarsis, pembersihan diri? Lebih dahsyat lagi, semua itu dipulangkan Ary dalam kandungan agama, kuala rahmat Allah SWT, sesuatu yang memang telah diberikan Allah SWT kepada kita. Luar biasa.

Bagaimana menurut Sampeyan?.

  1. 2 Responses to “Menitikkan Air Mata Rindu Allah”

  2. By Sofyan on Sep 19, 2007 | Reply

    Alhamdulillah…. bagus sekali tulisannya saya menangis tak henti ketika membaca tulisan bapak…Teringat Allah & Nabi Muhammad

  3. By unai on Dec 21, 2007 | Reply

    Semakin merasa diri bak setitik debu di kaca jendela…tak ada artinya..

    ***Begitulah adanya … tetapi … kita sangat berarti, ada artinya. Kalau tidak ngapain Dia mencipta kita, ya khan? E … jadi sharing? Bakalan tahan banting? Serius nich?

Post a Comment