Mengapa Kita Perlu Menulis?

27 November 2006 | Ditulis oleh: |

Bab 1
Pengantar Dr. Jumadi: Mengapa Kita Perlu Menulis?

Peradaban berkembang karena tulisan, bukan omongan. Bayangkan betapa susahnya kita menelusuri jejak-jejak sejarah manakala para pendahulu tidak menuliskan peradaban mereka. Penyair Rusia, Tutchev, pernah berseloroh segala pemikiran yang diucapkan adalah suatu kebohongan. Sekilas, pernyataan ini bisa memerahkan telinga, terutama bagi Anda yang piawai ngomong, tetapi gagap menulis. Betapa tidak, segala pemikiran yang diucapkan dianggap bohong belaka, padahal hari-hari sudah Anda habiskan untuk ngomong, nihil menulis. Namun, kalau mau sedikit saja menggunakan akal sehat, layakkah Anda merah telinga? Bukankah peradaban ini berkembang karena tulisan, bukan omongan? Bayangkan seandainya Plato, Syafii, Freud, Soekarno, Naisbit hanya bisa ngomong, mungkinkah Anda bisa menelusuri pemikiran mereka?
 
Dalam perspektif antropologi, ternyata penggunaan bahasa tulis berbanding lurus dengan tingkat peradaban suatu masyarakat. Artinya, semakin intensif suatu masyarakat mengungkapkan gagasannya secara tertulis, semakin tinggi pula tingkat peradaban mereka. Nah, sekarang, mari kita ukur tingkat peradaban ‘kita’ sebagai suatu bangsa, komunitas, atau sebagai individu. Jangan-jangan, masih tergolong manusia primitif yang hidup di tengah-tengah peradaban modern. Konon, manusia primitif itu mengandalkan omongan untuk memenuhi hajat hidupnya. Dalam hal yang kurang lebih sama, ternyata Anda piawai ngomong, tetapi tak satu tulisan pun dihasilkan. Lalu, apa bedanya Anda dengan mereka? Kawan saya dari jurusan filsafat berbisik pada hakikatnya Anda sama dengan mereka, yang berbeda hanya celananya. Ha…
 
Masih mau disebut manusia primitif? Anda tentu menolak. Namun, menolak tanpa ada perubahan sama dengan bonek. Bagaimana tidak bonek, kelakuan tidak berubah, tetapi rasa tersinggung makin bertambah. Ternyata, menolak juga harus beradab. Bagaimana caranya? Ubahlah citra diri: jadikan menulis sebagai bagian hidup Anda. Piawai ngomong tidak dilarang sih, tetapi piawai menulis lebih bermanfaat. Jika mampu menjadi penulis, Anda bukan hanya membebaskan diri dari label manusia primitif, tetapi juga mempunyai seabreg tugas yang amat mulia.
 
Pernahkah terpikir seandainya nenek moyang kita tidak meninggalkan tulisan di candi, di prasasti, di lontar, atau yang lain; pernahkah terpikir seandainya para penjajah tidak meninggalkan dokumen tertulis; pernahkah terpikir seandainya penyair negeri ini tidak menuliskan puisinya; pernahkah … ?
 
Betapa susahnya kita menelusuri jejak-jejak sejarah kita. Yang mudah dijadikan bahan sejarah adalah jejak-jejak tulisan itu, bukan omongan mereka. Omongan memang bisa juga menjadi bahan sejarah, tetapi amat susah karena akan cepat musnah ditelan masa. Yang sisa adalah tulisan mereka. Itulah bahan sejarah yang mudah ditelusuri.
 
Jika Anda termasuk penulis sejarah, sejarah apa saja, mulai sejarah sastra hingga sejarah suatu bangsa, akan merasakan betapa sulitnya menulis sejarah tanpa ada jejak tulisan. Pendek kata, penulis itu menciptakan sejarah: sejarah apa saja sesuai dengan bidang garapannya.
 
Selain menciptakan sejarah, penulis juga guru yang dermawan. Ah, masak ada guru dermawan, mempertahankan hidup saja susah bagaimana bisa dermawan?
 
Habis, di negeri ini, guru merupakan suatu profesi yang diperhitungkan menjelang pemilu atau pilkada, tetapi dilupakan menjelang penyusunan APBN atau APBD. Anda benar, tetapi ini persolan lain. Tahukah Anda bahwa guru (sejak guru SD sampai guru besar) di negeri ini banyak yang pelit: pelit berbagi ilmu. Bukan rahasia lagi bila guru di Indonesia senang ngomong, ketimbang nulis. Gagasan atau ilmu yang hendak diwariskan diomongkan di kelas-kelas, tidak dituangkan dalam bentuk diktat apalagi buku. Seandainya omongan itu ditransformasikan dalam tulisan, berapa siswa atau mahasiswa yang bisa mempelajari atau menelaahnya.
 
Noam Chomsky, seorang linguis yang tersohor itu, menulis buku Syntactic Structures pada tahun 1957. Buku itu menjadi bacaan wajib bagi mahasiswa di seluruh dunia yang mengambil kajian linguistik deskriptif. Kita bisa menghitung, sejak tahun terbitnya buku itu hingga sekarang, berapa juta mahasiswa yang sudah membaca buku tersebut. Jauh sebelum itu, sekitar tahun 399 SM Socrates menuliskan pembelaan dirinya dengan judul Apologia, yang kemudian diabadikan oleh muridnya, Plato. Buku itu tentu saja bacaan wajib bagi mahasiswa filsafat atau siapa saja yang tertarik dengan kajian filsafat. Seandainya Chomsky dan Socrates hanya menyampaikan gagasannya melalui omongan, berapa orang yang bisa mengakses pikirannya? Dengan bukunya, Chomsky dan Socrates memilih jadi guru yang dermawan daripada guru yang pelit.
 
Selain menjadi guru yang dermawan, ternyata penulis juga bisa membuat penyadaran. Jika tugas utama pengkutbah adalah memberikan penyadaran, ternyata penulis juga bisa mengemban tugas mulia itu lho. Tidak percaya? Mari kita baca “kutbah” kawan kita dari Kalimantan Timur berikut ini.

Surat untuk Abah

Abah,
Aku rindu pucuk ulin dan rimbun hutan tarap
di belakang rumah kita

Bah,
salahkah
bila punai tak lagi menciap
enggang gunung kaku menari
dan embun tergugu di kegersangan ilalang

Di sini Bah!
Dara Dayak enggan menari
Dan lengking kekasihnya ditelan pabrik sepanjang sungai

Ada yang terenggut
Ada giris
Sesal
Ketika damai luruh bersama terjungkalnya meranti tua
Bumi tergetar
Anak pinak satwa terburai
Ke mana kita pulang Bah!
Ketika kijang gunung sesat
Banteng tunggal kehilangan belukar
Ke mana kita?
Saat Mahakam kalap
dan gunung lipan terbungkuk bersimbah peluh,

Duh,
Aku rindu dara dayak bertelinga panjang
Aku rindu wangi rawa
Aku kangen hutan payau

Ingin aku Bah!
Memilih rotan saga
Mengecup embun belukar
Mencumbu ranting meranti yang tegar di
kesendirian

Bah,
Kealpaan menyiasati sorga kita
Sehingga debu dan arang kita wariskan
Untuk anak cucu kita
Kini yang dini!
Dengan kedua biji mata kita
Sanggupkah memupus harap
Sementara traktor bercumbu dengan ulin
Dan huma kita terkurung pencakar langit
Sanggupkah?
Mematut diri
Bercermin alam
Sementara mereka menuntut miliknya

Duh Abah!
Pulang sajalah kita
Rawa kehilangan wangi
Hutan terjengkal
Dan ranting kurus tak tahan menerima berjuta toreh
Nanti Bah!

Kelak akan kuceritakan
Dongeng tentang rimba pada cucumu
Sebelum mimpi menyelimutinya

Kelak Bah!
Aku  akan ninabobokan cucumu
Dengan tembang satwa yang hilang
Dan kancil kecil pulang kandang

Bah,
Pulang ya …

(Oleh Said Agus Salim – Balikpapan)
Walaupun masih amat belia, melalui tulisannya Agus Salim mampu memberikan penyadaran kepada banyak orang, misalnya pemerintah daerah, pencinta lingkungan, kalangan kampus, atau masyarakat kebanyakan. Betapa tidak, melalui puisinya, Agus Salim menunjukkan bahwa kebijakan pembangunan yang selama ini dilakukan telah salah arah. Akibatnya, pembangunan bukan lagi membawa kemakmuran dan kedamaian, tetapi malah membuat kerusakan. Penggundulan hutan dan pembangunan gedung-gedung bertingkat telah mengganggu keseimbangan ekosistem. Rusaknya margasatwa, bencana banjir, dan kerusakan lingkungan yang lain merupakan dampak dari kebijakan pembangunan yang salah. Kalau gejala itu terus berlangsung, ada giris, jangan-jangan bencana yang akan tiba. Akibat jangka panjang, jangan-jangan hutan dan satwa yang ada hanyalah tinggal kenangan sehingga kelak akan kuceritakan dongeng tentang rimba pada cucumu. Untuk itu, Agus Salim mencoba memberikan impratif, Bah, pulang ya!  Sadarlah dan lakukan kebijakan pembangunan yang tidak merusak lingkungan.
 
Hebat bukan, dengan usianya yang masih amat belia, bukan keturunan orang berdahi, bukan seorang pejabat, bukan pakar amdal, dan juga bukan seorang profesor tata kota, Agus Salim mampu memberikan penyadaran. Mungkinkah maksud mulia itu dapat diwujudkannya melalui omongan? Boro-boro memberikan penyadaran, menemui pejabat pemda saja tidak mudah. Kalau pun bisa menembus barikade birokrasi, jangan-jangan dia dianggap sok tahu, kalau tidak dianggap kalajuan. Namun, dengan bahasa tulis (puisi), sekat itu bisa ditrabas dan maksud kesampaian. Itulah satu sisi keunggulan bahasa tulis. Bagaimana hasilnya? Itu bukan urusan penulis. Penulis sama dengan pengkotbah. Kalau kebatilan sudah diingatkan, gugur dosa dan kewajiban.
 
Seorang penulis juga dapat memberikan katarsis, penyucian jiwa akibat kepenatan urusan dunia. Tahukah Anda sebagian sisi negatif dari manusia modern? Mereka sering terjerembab dalam stres karena menggunakan produktivitas sebagai ukuran keberhasilan. Dalam sepak terjangnya, mereka selalu diburu oleh “hantu” efisiensi dan efektivitas. Sekadar untuk berbelanja saja, manusia modern enggan ke pasar tradisional, mereka lebih suka ke swalayan. Di samping karena alasan tidak bergengsi, pasar tradisional dianggap membangun sistem transaksi yang tidak efisien. Tawar-menawar merupakan pemborosan waktu. Mereka dengan sengaja mengubur dalam-dalam rasa peka kemanusiaan yang didapat dari proses transaksi pasar tradisional. Alhasil, mereka memupuk sifat individual dan amat rentan stres, ya stres.
 
Di tengah-tengah manusia yang rentan stres, seorang penulis dapat menjalankan tugas mulianya: memberikan katarsis. Apakah katarsis hanya bisa diberikan dengan tulisan-tulisan beragam sastra? Tidak selalu. Tulisan ragam sastra, di samping bermanfaat juga memang menyenangkan sehingga mudah sekali memberikan nilai katarsis. Namun, bukan berarti tulisan ragam yang lain tidak mampu memberikannya. Esai, laporan perjalanan, artikel ilmiah, atau buku sekali pun bisa memberikan katarsis. Seorang ayah mungkin akan mendapatkan  katarsis ketika membaca suatu artikel yang membahas cara penyembuhan penyakit aneh yang diderita anaknya selama bertahun-tahun. Sementara itu, seorang siswa mendapatkan katarsis ketika mendapatkan cerita cinta sebagaimana yang dialaminya. Pendek kata, nilai katarsis suatu tulisan sangat bergantung kepada kesesuaian dengan keperluan pembacanya.
 
Masih adakah tugas mulia seorang penulis selain yang dipaparkan di atas? Masih buuanyak mbok. Sekarang justru tugas Anda yang harus menguraikannya. Bagaimana caranya? Tulis saja, salah tidak apa-apa. Menurut penulis buku ini, Anda akan lebih terhormat menulis walaupun hasilnya belum sempurna daripada hanya ngomong saja, apalagi hanya mencaci-maki.

Menimba Pengalaman dari Buku ini
Hingga saat ini mungkin sudah lusinan buku penuntun tulis-menulis yang beredar di pasaran. Bagi calon penulis, bagus juga membaca buku-buku itu. Namun, sekiranya setelah membaca buku-buku itu Anda justru menjadi takut menulis, tinggalkanlah. Buanglah jauh-jauh buku-buku itu dan berpalinglah kepada buku yang membuat Anda berani atau bahkan keranjingan menulis.
 
Buku yang ada di hadapan Anda ini sengaja dirancang untuk membangkitkan keberanian Anda untuk menulis. Menulis itu sangat gampang, tidak repot. Namun, kalau ingin mendapatkan teori menulis dalam buku ini, Anda akan kecewa. Buku ini tidak menyajikan teori menulis secara eksplisit. Yang ada justru pengalaman demi pengalaman. Bukankah pengalaman justru guru yang terbaik? Inilah filosofi yang mendasari penyusunan buku ini.
 
Untuk menimba pengalaman dari buku ini, bawalah peta konsep Anda pada tiga ranah. Ranah pertama, Anda akan diajak merenungi potensi diri: kesimpulannya semua orang dibekali kemampuan menulis. Pada bagian ini, Anda akan menemukan sanjungan dan juga makian. Tujuannya satu: memotivasi Anda untuk berani menulis. Anda akan dilecut dengan enam sajian tulisan: Secuil tentang Menulis Sangat Mudah; Menulis itu Mudah; Menulis Sangat Mudah; Menulis di Otak; Belenggu-belenggu Menulis; dan Pendidikan Menulis untuk Apa? Setelah membaca keenam tulisan tersebut, Anda tidak juga termotivasi, sungguh keterlaluan.
 
Pada ranah kedua, Anda diberi semacam “resep” cara menggali bahan-bahan untuk menulis. Bahan untuk menulis itu bisa berasal dari apa saja, kapan saja, dan di mana saja. Persis seperti iklan coca cola.  Pada bagian ini disajikan sepuluh tulisan, yakni Menulis dengan Gembira; Proses Kreatif Menulis Sangat Mudah; Menulis Pengalaman Mengesankan; Bacaan Menyentuh Qalbu; Merespon Peristiwa Langka; Ide Segar; Memapar Simpati; Mengikuti Pelatihan; Menulis Makalah; dan Permintaan untuk Dikritik.
 
Ranah terakhir dari buku ini memberikan peringatan sekaligus peneguhan tekad Anda untuk tetap menulis. Sajian ini menyadarkan bahwa segala profesi mengandung konsekuensi. Jangankan menulis, makan pun mengandung risiko. Jika terlalu banyak makan, Anda bisa menjadi tambur, menderita tekanan darah tinggi, diabetes, atau ginjal. Ada tiga contoh tulisan yang menunjukkan menulis itu mengandung risiko, yakni Menulis Kenapa Takut; Risiko Menulis; dan Digugat Tuntas. Setelah membaca ketiga tulisan ini hendaknya semakin meneguhkan Anda untuk tetap menulis, bukan tambah loyo.
 
Apalagi, pada bagian akhir penulisnya menutup dengan tulisan yang sangat merangsang: Menulis Nyaman dan Menyamankan.
 
Selamat membaca.
Banjarbaru, 15 November 2006

  1. 9 Responses to “Mengapa Kita Perlu Menulis?”

  2. By jali on Dec 4, 2006 | Reply

    wah jadi pengen nulis juga nih.

  3. By Ridha on Dec 10, 2006 | Reply

    Pengen dech nulis juga! kebanyakan orang tu terbagi dua, orang yang pintar mengemukakan pendapat secara lisan dan ada yang pintar mengemukakan lewat tulisan, tapi terkadang orang tu takut menulis karena dirasa sulit! ajarin donk

  4. By M.Rizky on Dec 11, 2006 | Reply

    Assalammualaikum…
    Menulis merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan dan kita bebas berimajinasi dalam alam pikiran kita. Menulis itu penting, karena secara langsung orang akan menilai kualitas inteligensi kita selain daripada gaya berbicara kita. Tetapi adakalanya setiap orang yang pandai menulis pada kenyataannya hanya bisa mendeskripsikan apa yang dilihatnya saja.Orang bisa saja mengkritik suatu objek atau instansi tertentu hanya dengan menggunakan tulisan. Namun tindak lanjut dari tulisannya tidak pernah ada, atau lebih tepatnya hanya sebagai pengamat saja. Untuk itu diperlukan juga tanggung jawab moril atas setiap tulisan yang kita buat, agar kedepannya tulisan yang kita buat tersebut bermanfaat banyak bagi orang lain dan bukan hanya untuk diri sendiri.
    Jadi, Tulisan yang Bapak kemukakan itu memang benar pada kenyatannya. Untuk itu kita perlu membudayakan budaya menulis dikalangan masyarakat.Oleh sebab itu, Saya berharap nantinya bisa menulis sehebat Bapak, karena masih banyak pemikiran-pemikiran liar Saya yang mesti dimanajemen dengan baik…
    Wassalammualaikum…

  5. By Untung Amin Jaya on Dec 14, 2006 | Reply

    Saya sutuju sekali dengan pendapat Anda. Hasil dari menulis merupakan cerminan dari kepribadian, pemikiran serta kreatifitas seseorang. Dari menulis kita dapat menerima kritik dari kekurangan kita di dalam tulisan tersebut. Saya ingin mencoba sedikit menulis walaupun hanya untuk pribadi dan teman-teman dekat.

  6. By kurt. zainudin on May 1, 2007 | Reply

    Transfer budaya dari generasi ke genarasi tak bisa luput dari tradisi tulis menulis. Karena itu tulis-menulis sangat penting bagi sebuah masyarakat yang ingin maju. Sebab di dalam disiplin menulis ada sebuah ide, hikmah atau apapun namanya yang bisa dibaca orang. bahkan orang penter sekalipun kadang melihat tulisan para pemula mencengangkan. Bukan karena bahasanya tapi karena ide yang dikeluarkannya.

    Pak saya izin untuk mengakrabi tulisan Anda lalu akan saya sebarkan ke pada orang2 sekitarku untuk bisa lebih sadar semangat tulis-menulis. Saya, setuju menulis itu bukan pekerjaan yang rumit, bahkan bukan pekerjaan yang berteori, namun just flow it and do it…. terima kasih atas penyadaran ini…

  7. By mathematicse on Jun 10, 2007 | Reply

    Assalamu’alaikum

    Wow tulisan-tulisan di blog ini enak dibaca, hebat euy…

    Saya jadi kagum….

  8. By Payday Loan on Jan 18, 2008 | Reply

    My girlfriend and I understand your great idea concerned with pa Kita Perlu Menulis? at MENULIS TANPA BERGURU. This commentary can be very useful principally for my mother-in-law of Dell !

  9. By arifr on Feb 26, 2008 | Reply

    “menolak tanpa ada perubahan sama dengan bonek. Bagaimana tidak bonek, kelakuan tidak berubah, tetapi rasa tersinggung makin bertambah”, saya setuju, tapi kalau saya tidak memulai menulis sama saja dengan bonek…ya kan..?

    ***Ya ngaklah …

  10. By Giant on Nov 13, 2008 | Reply

    Bagiku Menulis itu sangat penting, tetapi ngomongpun juga penting perpaduan keduanya akan menjadi pasangan yang serasi, dan keduanya itu bisa kita kemas dalam bentuk file digital itulah sejarah masa depan untuk anak cucu kita. oke,..?

Post a Comment