Mencari Hidayah Hati Bersih
27 November 2006 | Ditulis oleh:Kejujuran hati bersih ada dalam hatimu sejak Allah meniupkan ruh ke dirimu.
Ersis Warmansya Abbas
Kalau ada guru efisien dan praktis, yang mampu ‘menya-darkan’ cara mengenal hakikat diri secara singkat, dalam pengelanaan saya belajar, baik melalui buku maupun langsung, Ary dengan ESQ Training-nya adalah pilihannya. Secara teoritik, metodenya sederhana. Tapi, dalam memberi stimulus atau tepatnya menyentuh simpul-simpul mata hati, sungguh susah mencari tandingan. Ringkasnya, hidup kita —terutama Muslim— secara hakiki dimulai dari suara hati sebagai medan terdalam (spiritual) yang ‘disalurkan’ melalui pengindai atau radar (emosional) untuk diaplikasikan (intelektual) dalam kehidupan kemanusiaan. Persoalannya, kita memakai pola terbalik. Jangankan menjadikan dimensi spiritual sebagai ‘panglima’, ranah emosi saja sering terlupakan, dan … menempatkan intelektual sebagai segalanya.
Padahal, ranah spiritual adalah sumber energi kehidupan tak terbatas. Secara diagramatis, berdasarkan Prinsip Tauhid (T), sandaran paling utama, dalam prakteknya menjadi Abdi Allah (A) maka Rahmantan lilalamin (00) adalah buahnya. Formulanya, berapapun dibagi 0 (total menyerahkan diri pada Allah) hasilnya tak terhingga.
Tepatnya, apabila kita betul-betul mengakui Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, menjadikan diri sebagai hambanya dengan men’zero’ kan diri hingga tak ada hal-hal lain selain Allah SWT, maka Allah SWT, Tuhan Tak Terhingga akan menjadi penolong, penjaga, dan segala-galanya. Tiada kekuatan lain yang mampu menandingi-Nya. Subhanallah.
God-Spot Sumber Kekuatan
Tentu kalau dibaca saja agak susah mencernanya. Agar lebih meresap, lebih afdol ikut ESQ Training. Bagi saya pada posisi Zero Mind Process (ZMP) inilah bagian terberat yang tidak dapat dilaksanakan gebyah-uyah. Harus hati-hati, step by step dan kontinyu. Kalau digebrak akan mengguncang batin.
Sebab, kita harus sadar, God Spot sebagai sumber pusat kekuatan spiritual, hati nurani, suara hati, ditutupi oleh belenggu-belenggu, yang maaf, kita pelihara dengan amat sayang. Belenggu itu berupa prasangka negatif, prinsip hidup, pengalaman, kepentingan dan prioritas, sudut pandang, pembanding, dan literatur. Secara psikologis, itulah yang ‘membentuk’ diri kita, personality,
Barangkali, dalam pembentukan personality seseorang, dalam pandangan (Muslim) yang baik, yang ‘menyimpang’ itu tidak ‘dimula’ dari prinsip tauhid dan hamba Allah, hingga kita mengabaikan dan tidak mengambil manfaat dari kedahsyatan potensi tak terhingga Sang Khalik.
Buku Banjarbaru ‘Dibantai’
Saya punya contoh teramat menyedihkan dan memilukan. Suatu kali, saya menyusun buku Banjarbaru. Bahannya diambil dari penelitian saya, sumber-sumber terpublikasi, plus tulisan saya di media cetak. Saya berpikir sederhana, buku tentang Banjarbaru harus disusun. Bicara soal mutu, tentulah takkan sempurna. Dalam pikiran, kalau diperbaiki terus-menerus, diperbaharui, nantinya akan jadi buku yang standar. Apa lacur?
Karena dianggap ‘sakit parah’ kali he … he …, oleh beberapa ‘tokoh’ Banjarbaru, digelar acara pembedahan, kayak dokter saja begitu. Sobat-sobat saya, luar biasa marahnya, ketika acara bedah buku menjadi ajang character assanation. Kenapa berteman dengan Walikota dan berkiprah di Banjarbaru padahal orang Unlam, lebih menghujam ketimbang isi buku.
Saya katakan, sabar. Suatu saat kelak, orang akan mengakui kalau ada sedikit saja hal positif dari buku itu. Ikhlas memaafkan. Saya tandaskan pula, ingin memberikan sesuatu yang ‘belum’ disumbangkan orang lain. Kalau uang, mana saya punya. Hobi ya menulis. Memang tentu ada juga unsur kebanggaan (riya?). Tapi, saya betul-betul tulus ingin membuat buku Banjarbaru.
Oh ya, Rudy memberi bantuan Rp.20 juta untuk mencetaknya, Grafika Wangi menagih ongkos cetak Rp.21,5 juta. Kalau dihitung ongkos mengumpulkan bahan, menulis, ngurusnya, anak SD saja tahu, untungnya adalah rugi. Apapun jadinya, saya tulus dan bersedia menerima akibatnya.
Maha besar Allah. Ternyata banyak yang memuji dan meminta. Dicetak 1000 eksemplar laris manis. Di Jakarta, di arena ESQ Training, Nadjmi Adhani seorang pejabat Pemko Banjarbaru, mendatangi sembari bicara: “Bang maaflah. Waktu itu (bedah buku) saya baru pulang S2. Saya ikut-ikutan ‘menyakiti’ Abang. Sudah lama mau minta maaf, bahkan mau menulis surat minta maaf, tapi tidak kesampaian”.
Alhamdulillah, dalam hati saya terenyuh. Pengakuan dari banyak orang makin memperteguh hati untuk menulis. Reaksi sabar ternyata menguatkan batin mengalahkan gundah gulana. Niat tidak bereaksi, ikhlas (walaupun tidak sepenuhnya, he … he …) terbayar tuntas. Kata-katanya begitu jujur dan tulus, mata batin saya tersentuh. Alhamdulilah ya Allah, berilah hamba-Mu selalu keikhlasan.
Mencari Tuhan
Soal prasangka sebagai pembelenggu God-Spot, saya punya contoh lain. Saya memang berteman dengan Rudy Resnawan, Walikota Banjarbaru. Sering mengha-biskan malam sampai pagi hingga ‘wajar’ berbagai prasangka tercuat. Saya tak peduli karena tahu apa yang diperbuat.
Sebelum ESQ Training menggejala, untuk Anda ketahui, walaupun dalam praktek ritual agama kurang bagus, diskusi paling disukai tentang mencari Tuhan dan posisi kita dimata Tuhan yang disimpulkan, mencari dalam diri sendiri. Ini tema berat dan unggulan diskusi.
Banyak prasangka, hal politik menjadi bicaraan hari-hari. Omong kosong soal politik, apalagi mempengaruhi Rudy mengambil keputusan. Anatomi pertemanan bagi saya, secara psikologis semua orang perlu teman. Seseorang perlu orang lain untuk mendengarkan ide-idenya atau memerlukan ‘tong sampah’ untuk hal-hal memuakkan.
Anda jangan heran, Rudy itu adalah ‘teman’ dalam mencari Tuhan. Makrifatnya cukup mantap. Padahal dia mengaku tidak pernah baca Ihya Ullumuddin (Ghazali) atau Insan Kamil (Iqbal). Saya terenyuh kagum ketika dia tampil di TVRI sebagai ‘Kiai’ pada acara Gema Ramadhan 2003. Naskahnya ditulis berdasarkan diskusi. Berteman dengannya bukan dalam kerangka politis. Dia jadi Walikota atau tidak, bukan hal pokok.
Ndilalah, ketika teman-teman ESQmania, membawa ikut ESQ Training, dengan mudah Rudy bilang, daftarkan sebagai peserta, itu pun melalui SMS. Saya paham, sebab hingar bingar dan beratnya beban sebagai Walikota, membuat Rudy makin ‘mengaji’ dan mendekatkan diri pada Allah SWT. Apa yang kami diskusikan malam-malam lebih bermakna. Kata Rudy, luar biasa Ary makin ‘melicinkan’ jalan lebih memantapkan keyakinan.
Saya sempat juga agak mengeluh, katika seorang teman bilang: Ersis ‘pembantu’ Rudy. Ini sesuatu yang tidak saya suka. Saya kan lebih tua darinya, pangkat sebagai PNS tidak kalah, pendidikan pun tidak ketinggalan. Kalau soal jabatan dan uang, Rudy pasti unggul he … he …
Kami berteman karena memerlukan. Persis seperti dengan yang lain. Kalau tidak, besok pagipun bisa bubar. Dan, saya sangat berani mengatakan pendapat, mengkritik atau mengatakan apa yang harus dikatakan. Saya pastikan, dia tabah berteman dengan saya yang suka bicara kasar, karena ‘tukang kritik’ paling berani. Saking sering ‘menggoda’, jangan-jangan Rudy ingin juga diambung. Tapi, saya takkan melakukan hal itu.
Yang paling menarik, ya itu tadi, dia fasih berpikir dan berargumentasi secara filosofis. Dia tidak pernah mengatur bagaimana harus bicara, berpakaian atau bergaul. Independensi saya tidak pernah diganggu gugat seperti saya tidak pernah mencampuri urusan pribadinya. Ada kenikmatan disitu. Kami berteman plong saja, banyak candanya.
Artinya, pelajaran yang dapat saya ambil, manakala kita bisa men-zero-kan semuanya bisa menjadi indah. Itulah ZMP. Dalam bahasa lain, mensucikan hati dari prasangka-prasangka, tidak ada hal yang perlu dijadikan jalan untuk ke hal-hal kurang positif dalam hablumminannash.
Akhirnya, mampukah kita selalu berposisi ZMP dengan acuan tunggal Allah SWT yang telah dipantulkan melalui Asmaul Husna sebagaimana telah ditancapkan di mata batin ketika ruh ditiupkan ke diri kita? Ataukah kita masih saja sayang, tetap bersikukuh memelihara belenggu-belenggu keiblisan? I don’t know. Yang pasti, saya berniat dan berusaha, berharap, mudah-mudahan Allah SWT memberi hidayah ke jantung hati. Amin.
Bagaimana menurut Sampeyan?









