Mari Bersenang-senaaang

27 November 2006 | Ditulis oleh: |

Kesadaran mencintai Allah ada di dalam diri, pada nurani kita, jangan mencari kemana-kemana, sebab telah ada sejak ruh ditiupkan.
Ersis Warmansya Abbas

Barangkali, bagi mereka yang belum mengikuti ESQ Training, bayangannya akan bermuatan hal-hal ‘besar’ dan ‘berat’ melulu, hal-hal hakiki melulu. Tapi, justeru saya tertarik hal-hal kecil yang langsung menyentuh keseharian. Dari hal-hal kecil itulah ‘mata hati’ kita disentuh secara nyaman.Semula, saya yang tidak pernah membawa pulpen apalagi buku catatan, betul-betul ingin berperan sebagai pewarta. Teman-teman kan mengundang sebagai wartawan. Ada baiknya pula ‘belajar’ mencatat apa yang dilihat dan dengar, bak wartawan baru belajar.

Rupanya Ary ‘menyadarkan’. Begitu selesai sesi pertama, dikatakan, siapa bilang ESQ Training bicara yang hebat-hebat, yang berat-berat melulu. Dengan mimik teramat lucu, lebih hebat dari Mr. Bean, dia bilang: “Kita ke sini untuk bersenaang-senaaaaaang”, sembari membadut. Dan, itu dibuktikannya, hingga saya mendapatkan bak paduan tawa ria dengan tangis kesadaran.

Tidak Ada Catatan
Karena kita mau bersenang-senang, tidak perlulah mencatat. Singkirkan segala peralatan, mari bernyanyi, ketawa-kawa. Abrakadabrah, inilah untuk pertama kali saya ‘belajar’ lagu India, lagu yang dibawakan Syahruk Khan, kali ya. Tangan dijulurkan, dilipat-lipat, kepala ke kiri-kanan, dan berbagai variasi meliuk-liukan tubuh. Aduhai mak.

Belum lagi lagu-lagu disko, dangdut, dan tentu lebih banyak yang bernafaskan agama, terutama Salawat Badar. Saya ingat betul, seorang pejabat Pemko Banjarbaru yang naik ke panggung berdiskoria (kebiasaan di banua kali ya, he … he …) dalam tataran kegembiraan.

Tentu saja, semua itu agar ada rehat dan pelatihan tidak menjemukan, selingan agar suasana tetap segar. Bahkan, tidak jarang dengan olahraga di tempat. Berbagai game menjadi bagian tersendiri dalam ESQ Training. Sungguh Ary itu bukan sekedar Kiai, tidak hanya dosen, bukan pula hanya guru pengajian, dia juga seorang pelawak dan entertainer.

Sekalipun demikian, intinya mengajak trainer ‘sadar diri’. Sungguh tak terbayangkan selama ini bagaimana mungkin mau minta maaf pada anak dan isteri. Kalau isteri masih lazimlah, tapi pada anak? Ary justru mengajak kita minta maaf pada anak-anak. Kenapa? Karena kita punya kewajiban mendidik. Benar, selama ini terlalu terpaku mendidiknya secara intelektual. Tapi, secara agamis? Makanya, banyak manusia Indonesia secara IQ hebat-hebat tapi moral dipertanyakan. Karena itulah bangsa ini dilanda multi krisis berkepanjangan.

Saya tak mencerna soal-soal besar dalam kaitan itu tapi betul-betul ingin minta maaf pada anak-anak. Walau mendidiknya secara intelektual, mengajarkan silat, karate sampai komputer sejak kelas satu SD, terlebih basik ilmu, saya adalah pendosa, tidak mendidik secara agama. Belum lagi, ketika bangun tidur dia telah di sekolah, ketika pulang dia sudah tidur, sangat sedikit waktu untuknya. Adakah dosa tanggungjawab yang lebih besar dari itu? Sibuk sendiri, sementara kewajiban pokok terabai?

Lagi pula, belasan tahun menikah, tidak pernah meminta maaf pada isteri. Ego terlalu besar untuk itu, untuk tulang rusuk sendiri. Saya pastikan, tidak berani minta maaf sesampai di rumah. Satu-satunya cara, berniat membawa  ESQ Training, disitulah minta maaf, saat keberanian di puncaknya. Akan kesampaiankah? Allah SWT yang tahu.

Saya peringatkan pada pembaca sekalian, merenung saja tidak cukup. Nasehat orang lain kadang tak diperlukan, apalagi ancaman ketakutan. Yang penting itu adalah dari relung hati kita, kesadaran hakiki ada di qalbu.

Saya betul-betul bersenang-senang dalam arti lain. Bergembira ria dalam tangis bathin mencibir diri, mengaku bodoh, melawan ego, menyalahkan diri sepuas-puasnya. Kalau selama ini dinista orang-orang sirik, tetap tahan banting. Kini, oleh diri sendiri, membuat perenungan makin dalam. Ternyata, mempermalukan diri sendiri dalam hati juga bagian dari bersenang-senang.

Zero Mind Process
Secara teoritik, Ary memudahkan kita ‘melihat’ dalam diri kita tentang God Spot yang terbelenggu. Resep jitunya, dilakukan zero mind process (ZMP). Yang satu ini memang bukan hal mudah. Mungkinkah Anda mampu menghilangkan landasan referensi hidup yang tertanam bertahun-tahun hingga menjadikan personality Anda?

Susah jawabnya. Tapi, saya adalah saksi hidup, betapa sedikit demi sedikit kita mampu mendeteksi tentang hal-hal itu dan kemudian entah kenapa, seolah jalan ke luar terlihat begitu lempang. Bahwa praktek ZMP itu tak mudah, sudah jelas dengan sendirinya.

Namun, pernahkah terpikirkan dengan mengingat, membaca, memahami, dan mengaplikasikan Asmaul Husna, semuanya bisa terselesaikan secara step by step? Tentu, pemahamannya adalah jalan, intinya aplikasi. Nah, aplikasi itu yang jadi sasaran dan dilatih. ESQ Training segalanya? Tidak kawan.
Kitalah yang melatihnya. Di akhir acara Ary bilang: “Pelatihan bahkan belum dimulai. Pelatihan sesungguhnya ketika Anda melakukan sendiri mulai malam ini, sendirian”. Bukankah ini membangkitkan potensi diri yang terpendam?

Hal paling penting, bagi saya, kalau biasanya para Da’i banyak berbicara tentang ‘ancaman’, ini haram, itu tidak boleh, awas masuk neraka, yang membuat jiwa kecut, saya melihat Ary justeru sangat moderat dan memberi kenikmatan. Cara dakwah perbaikan dirinya selalu membawa kita berpikir, menempatkan Allah SWT di atas segala-galanya sembari semuanya terserah pada diri itu sendiri.

Artinya, kepada inti diri seseorang itulah diserahkan segala sesuatunya. Pada tataran ini, kata-kata hidayah menjadi bermakna. Dan, kalau ingin mendapat hidayah, ya jangan sekali-kali melupakan Allah SWT.

Meminta Melulu
Dalam contoh paling menyekak, kita terlalu loba meminta segala hal kepada Allah SWT tanpa seimbang dengan mengingatnya. Tiap hari meminta, dari bangun tidur sampai mau tidur: “Ya Allah berilah aku umur panjang, beri rezki” … dan seterusnya. Doa-doa tentu tidak salah, tapi seimbangkah dengan mengingat Nama-Nya saja misalnya? Jangankan aplikasinya, 99 Nama Allah, jangankan hapal makna hakikinya, menyebut saja tidak becus.

Padahal, Nama-Nama Allah mencerminkan sifatnya. Itu adalah hal yang sangat penting bila kita aplikasikan dalam kehidupan. Suatu sore, mungkin saja Anda melihat seorang berpakaian compang-camping memilukan hati hingga nurani tergerak. Nah, bukankah itu pantulan Ar-Rahman?

Kita berkoak-koak tentang kejujuran, keberanian, ketulusan, dan sebagainya, bukankan itu sifat Allah yang telah ‘dititipkan’ di qalbu kita. Coba bayangkan, manakala sifat-sifat itu diaplikasikan tiap hari, hidup dan kehidupan begitu indah, begitu nikmat.

Tetapi, kenapa yang kita ‘pelihara’’ dan banggakan, sifat egois, pongah, riya, dan sejenisnya? Sedikit melihat orang, marah, tersinggung, iri, dan dengki. Sementara kita mempraktekkan hal itu di waktu yang bersamaan kita selalu dan selalu meminta hal-hal yang baik pada Allah SWT. Inilah kenyataan kelakuan kita sebagai manusia.

Untuk itu mari bersenang-senang menikmati keindahan anugerah Allah SWT dan bersenang-senang pula, memaki sifat-sifat durjana yang masih membalut jiwa.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Post a Comment