Ketika Umat Islam Kehilangan Miliknya

27 November 2006 | Ditulis oleh: |

Ilmu berasal dan milik Allah SWT, betapa dungunya Muslim yang tidak mau belajar ilmu dan teknologi. Ersis Warmansyah Abbas

ESQ Training, I am coming, ‘teriak’ hati saya ketika bus membawa ke hotel Ina Wisata di belakang Hotel Indonesia. Saya kagum dengan Ogi dan kawan-kawan. Perjalanan Banjarbaru ke Jakarta semua serba memudah-kan dengan cara kerja yang rapi. Hebat juga Urang Banua di Batavia.Seperti biasa, begitu sampai di hotel, kawan-kawan di Jakarta dikontak dan segera ‘menghilang’. Harap maklum, tempat kelahiran saya di kaki Gunung Kerinci, Sumatera Barat, baru disahkan menjadi kabupaten Solok Selatan dan bersiap berhalal bi halal. Saya diajak bicara sana-sani soal kabupaten baru itu. Teman-teman sekampung bekerja cepat Ketika pulang kampung Ramadhan 2002, perjuangan serius baru digerakkan.

Pendek kisah, tengah malam saya ke hotel dan langsung menggelar diskusi. Bahkan, sempat berdiskusi cukup keras dengan Soeyono, pejabat Disbun Kalsel, teman sekamar. Saya blong tidur malam itu karena jam 06.00 Jaya menelpon: “Mister, sudah bangun?”. Langsung disemprot: “Lu salah. Seharusnya pertanyaannya, sudah tidur?”.

Gilanya pula, selesai mandi di pagi buta itu, langsung diseret untuk sarapan, ‘gaya hidup’ yang teramat aneh bagi saya. Tapi biar saja, sebab sudah bertekad ikut saja tanpa perbantahan. Selepas itu, bus segera membawa ke Jakarta Convention Centre (JCC) alias Balai Sidang Senayan.

Begitu sampai, kegiatan registrasi segera dilakukan. Dalam hati membatin, hebat juga  komunitas Muslim ber-ESQ-ria. Saya membayangkan sedang berada di Jepang. Harap maklum, ribuan orang sibuk dengan urusan masing-masing.

Mencari Teman Baru
Setelah melakukan registrasi, ketika jarum jam menunjuk angka 07.30, bergantian 1.100 peserta angkatan XXIII memasuki kawah candradimuka ESQ Training. Ditambah alumni sekitar 700 orang dan panitia, hampir 2000 orang ‘beredar’ di arena ESQ Training. “Bismillah”, saya melangkahkan kaki. Selepas pintu lapis kedua, alamak, tatanan ruangnya begitu mempesona. Tidak bisa tidak, saya sungguh-sungguh terkejut dan kagum.

Mata terpaku pada lima layar lebar sebesar layar bioskop mendisplay logo ESQ. Suara jernih nan lembut keluar dari sekitar 20 loudspeaker yang terdistribusi proporsional. Dan, tiba-tiba ada pengumuman: “Assalamulalaikum WW. Para peserta ESQ selamat datang, dan seterusnya …. Silahkan mencari teman sebanyak-banyaknya dan catat di formulir yang telah disediakan”.

Seperti calon mahasiswa baru memulai plonco, serentak peserta mencari ‘mangsa’. Berkenalan, tanya asal, pekerjaan, dari mana dapat informasi tentang ESQ Training sampai pengalaman paling berkesan. Dalam 60 menit dapat teman baru 30 orang. Lucunya, 5 orang justeru dari Kalsel.

E … begitu selesai, Riduan Mukri, asisten Ary, merangking perolehan. Ternyata ada yang hampir 200. Barangkali mulainya lebih awal atau sudah dapat bocoran, he … he … Peringkat teratas mendapat hadiah paket buku.

Penciptaan Alam
Setelah berbagai pengumuman, Ary tampil di mimbar. Mulanya sih biasa-biasa saja prihal apa itu ESQ. Penampilan Ary juga tidak hebat-hebat sangat. Sampai coffe break, selain kekaguman terhadap lembaga pelatihan yang di kelola orang Islam bisa begitu profesional dan mengagumkan, tidak ada hal-hal spektakuler.

Sehabis coffe break, Ary berbicara tentang jagad raya didukung tayangan Bimasakti dengan gambar yang sempurna. Lalu dengan suara bak ilmuwan Antariksa, memberi ‘kuliah’ tentang penciptaan, dimulai dari Big Bang. Kalau pengetahuan cekak, akan kurang paham maksudnya.

Soalnya, digambarkan usaha ‘pemahaman’ penciptaan alam mulai dari Plato, Copernicus, Galileo, Einstein sampai Hawking. Saya teringat kuliah tahun pertama di IKIP Padang tahun 1976. Lalu, tiba-tiba, dengan retorika sempurna dalam tarikan psikologis, Ary sampai pada hentakkan, betapa besar dan luasnya Bimasakti. Betapa akbarnya Sang Pencipta … betapa kecilnya manusia. Kecil dan sangat kecil di hadapan Sang Pencipta. Saya yakin, semua peserta tertunduk dalam keterhentakkan pemikiran.

Dalam hati saya tercenung, nich brainwashing dimulai. Seterusnya, sembari benar-benar menangis, Ary mencecar setengah bertanya setengah memberi bukti logika, berdasarkan Al-Quran, tentang penciptaan yang dikabarkan Nabi Muhammad SAW 13 abad lalu, seorang Nabi Suci yang tidak bisa baca-tulis, mampukah mengatakan tentang penciptaan alam semesta yang dimulai dengan terbelahnya langit-bumi, seperti Big Bang Theory?.

Dalam persekianan detik, saat memori otak tak bekerja karena terhentak, Ary memasukkan ‘penyadaran’, tak diragukan lagi, Allah SWT yang memberi tahu kepada Nabi Muhammad SAW. Saya tidak bisa menggambarkan sepuluh menit terakhir menjelang jam 12.00, 25 Desember 2003 itu. Suara tangis hampir 1000 orang sembari mengucap Allahu Akbar, pastilah mengguncang bathin.

Kritik Saran Buat Ary
Pada hari ke 3, saya sempat bicara sejenak, berjabat tangan dan berfoto dengan Ary. Saya utarakan, ada kritik buatnya. Bagus, kata Ary dengan lapang, tak ada manusia yang sempurna. Kritik itu, tentang beberapa hal sebagai masukan dari saya.

Pertama, paket training yang begitu baik, akan lebih baik kalau bukan didominasi oleh illustrasi gambar dan musik Barat (klasik). Memang  musik-musik berbau Islam dari Hadad Alwi, Raihan, dan sebagainya pada sesi berikut dengan hentakan Salawad Badar sangat menyentuh, tetapi akan lebih afdol kalau didominasi yang Islami. Saatnya ESQ Training Centre membuat illustrasi gambar dan musik Islamis. Tidak susah mencari tenaga profesionalnya di Indonesia. Wong bikin animasi atau film trik seperti Jaka Tingkir saja bisa.

Kedua, seharusnya Ary dapat melaju kepada pertanyaan: Kenapa ‘pembuktian’ penciptaan alam semesta tidak oleh orang Islam, tapi orang Barat? Kalau Ary mengatakan itu, akan lebih menggugah. Peserta kan banyak dari kalangan berpendidikan, dari dosen sampai ahli fisika, dari pimpinan perusahaan sampai ulama, dari remaja yang haus ilmu sampai orang-orang yang haus akan spiritualitas. Bukankah begitu Mas Ary?

Untuk hal yang satu ini, karena saya Magister Pendidikan, sungguh suatu ‘kesempatan’ yang sayang dibuang. Al Quran sarat dengan ilmu pengetahuan. Tidak ada kitab yang begitu lengkap yang pernah ada di dunia yang memuat dari penciptaan alam semesta sampai bubarnya dunia, terciptanya manusia dari segumpal darah sampai bagaimana memandikan orang mati, dari cara berperang sampai melestarikan alam. Pokoknya sangat sempurna.

Ibaratnya, orang Islam itulah pewaris sah ilmu pengetahuan punya Allah SWT. Tapi, realitas menjadi bukti, karena ketertinggalan ilmu dan teknologi, kaum Muslim lebih berposisi pecundang. Padahal Ary sudah mengungkapkan betapa hebatnya umat Islam ketika memuliakan iptek era Andalusia (Spanyol) saat golden age. Bukankah kini umat Islam kehilangan miliknya, ilmu pengetahuan dan teknologi?.

Ketiga, Gaya narasi dua buku Ary, ESQ dan ESQ Power sangat jauh dari kehebatan dan kemampuannya ketika melakukan pelatihan. Sebaiknya, ada suatu tim penulis yang mampu ‘mengikuti’ dengan gaya bahasa yang mendekati kehebatan ketika berorasi. Maaf, buku-buku Ary, kalau dibaca, jauh kalah menarik paparannya dibanding Dale Carnegie atau Napoleon Hill.

Bagaimana menurut sampeyan?.

Post a Comment