Ide Segar

27 November 2006 | Ditulis oleh: |

3.6 Ide Segar

* Ide untuk menulis bisa datang dari mana saja, kapan saja; apakah ketika membaca sesuatu, melihat sesuatu, mengalami sesuatu, dan sebagainya, asal Sampeyan mampu  meresponnya.

Kalau kita baca sejarah orang-orang ‘ besar’ yang sukses, baik dalam pemerintahan, bisnis, sampai sastra, banyak yang mencapai kuseksesan ketika masih berusia muda. Pada umur 40-an, beberapa kasus dibawah itu, ada mencapai puncak prestasi.Suatu kali, saya membaca artikel Rosihan Anwar tentang pemimpin awal republik Indonesia. Lagi pula lagi kesengsem membaca Robert T. Kiyosaki dengan serial Rich Dan Poor Dad yang ‘mengguncang’ plus termangu-mangu dengan sukses Bill Gates. Di Kalsel pemilihan gubernur, saat itu, diwacanakan di media cetak.
 
Saya amati, kog ‘orang-orang berjenggot’ saja yang digadhang-gadhang. Pada kemana tu orang-orang muda? Bukankah secara psikologis orang-orang muda lebih bergairah melakukan perubahan? Apakah orang-orang muda kita kurang percaya diri muncul ke panggung politik? Entahlah.
 
Setelah dicermati, tidak mungkinlah muncul gubernur dari kalangan orang muda pada kondisi ril saat ini. Karena itu, muncul ide, untuk suksesi tahun 2010-2015 saatnya memulai kampanye agar orang-orang terpantik keinginannya untuk menjadi gubernur. Tentu saja, pesan yang hendak disampaikan bukan saja berkehendak, namun pesan intinya, kalau berkemauan, ya siapkan diri. “Menjual diri’ kepada publik sejak awal, memapar karya, menyiapkan dana dan segala sesuatu agar sukses dalam perjuangan menjadi gubernur.
 
Ide tersebut jelas-jelas ditujukan kepada kalangan muda. Kalau saya sih sudah tidak mungkin sebab usia menanjak ke setengah abad. Lahirlah artikel: Gubernur Kalsel 2010-2015 Orang Muda?
 
Oh ya, artikel tersebut mendapat tanggapan seru. Sebab kebetulah di Kalsel, kalangan muda ‘kalah telak’ ketika berhadapan dengan kalangan tua dalam pemilihan langsung anggota DPD Kalsel. Harap dicatat, saya tidak mempertentangkan kalangan tua dan kalangan tua, lho. Tapi, ingin menggugah, agar kalangan muda bersiap untuk menjadi pemimpin, di bidang apa saja. Silahkan baca artikel berikut.

Gubernur Kalsel 2010-2015 Orang Muda?
Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Sejarah adalah rekaman aktivitas manusia di masa lampau. Dari rekaman tersebut, manusia masa kini dapat mengambil ‘pelajaran’ untuk berbuat lebih baik demi masa depan. Dari sejarah perjuangan bangsa tercinta ini, ada satu hal yang sangat bagus kita teladani. Ternyata, dari catatan sejarah, para pejuang republik ini, pada masa awal, masa peletakkan pondasi, justeru ‘diisi’ orang-orang muda.

Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia, Proklamator, Bapak Bangsa, berjuang dari semasa berstatus mahasiswa dan ketika berumur 44 tahun, menjadi Presiden. Muhammad Hatta, ketika berumur 43, menjadi Wakil Presiden, bersama Soekarno menjadi Dwi Tunggal ‘menegakkan’ republik ini dalam galauan menghadapi berbagai hal, baik dalam kerangka internal maupun eksternal, memperjuangkan dan mempertahankan eksistensi negara yang masih muda belia.

Tentu, bukan mereka berdua saja yang tergolong menjadi pemimpin bangsa di usia muda. Soeharto, yang di masa kejayaannya dinobatkan menjadi Bapak Pembangunan, ketika berumur 47 tahun menjadi presiden. Barangkali, karena Soekarno dan Soeharto terlalu lama menjadi RI 1 hingga kita baru mengenal 8 presiden setelah republik ini berumur lebih setengah abad. Sumitro Djojohadikusumo 33 tahun menjadi menteri, Syahrir 36 tahun menjadi Perdana Menteri dan Idham Chalid 36 tahun menjadi Wakil Perdana Menteri, Sudirman 29 tahun menjadi Panglima besar.

Dari sejarah dunia, ratusan pemimpin nasional berbagai negara, ketika berumur 40-45 tahun telah menjadi pengambil keputusan tertinggi. Bahkan, Muammar Qaddhafi sebelum berumur 30 tahun telah menjadi orang nomor 1 Libya. Setidaknya, hal tersebut “membuktikan” orang-orang muda, apabila diberi kesempatan, sangatlah mungkin membawa kemajuan. Semangat muda, jiwa orang muda adalah jiwa perkasa, penuh gelora dalam mendayung cita-cita.

Gubernur Orang Muda
Dalam pada itu, bukan saya tidak menghormati kalangan tua, apalagi saya sudah beranjak menjadi tua, walaupun semangat, nafsu, dan penampilan masih tujuh belasan, he … he … Tetapi ada satu gelitik hati, kenapa kita di Kalsel tidak “mencoba” mencari pemimpin dari kalangan muda. Ambil contoh, Gubernur Jambi, bukankah dia berhasil mendayung akselerasi pembangunan Jambi? Lagi pula, gelitik hati ini didorong dari cuatan munculnya bakal calon Gubernur yang suni dari kalangan muda.

Coba perhatikan, nama-nama bakal calon Gubernur Kalsel 2005-2010 yang mulai terpublikasi, dari kalangan muda, hanya Rudy Resnawan, Desmon J. Mahesa, M. Faisal atau Rosehan. Terlalu sedikit. Kesan yang muncul, bisa jadi seolah-olah orang-orang muda kita, kurang punya keberanian kurang percaya diri, dan tidak mau mengambil resiko.

Sekali lagi, tulisan ini karena gelitik hati. Dalam diskusi dengan teman-teman di FKIP Unlam, muncul “kesadaran”, bagi yang sudah berumur 45 tahun ke atas, jangan lagi berniat menjadi Ketua Program Studi. Kenapa? Kalau masih saja memupuk ambisi, akan “memotong” peluang yang muda-muda. Masyak sih mau jadi Ketua Jurusan ketika umur sudah tua begini? Gimana logika alih generasinya. Bahkan bermimpi, Rektor Unlam masa datang meniru UIN Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra, menjadi Rektor ketika berumur 40-an tahun.

Bagaimana plus-minus orang-orang muda, akan lebih bagus kalau ditulis para psikolog. Misalnya, Karyono Ibnu Akhmad sangat kompeten membahasnya. Saya hanya ingin menyampaikan gelitik hati, kalaulah pemimpin daerah ke depan berasal dari kalangan muda, tentu irama pembangunan Kalsel akan memberi nuansa tertentu dalam semangat membangun banua.

Cermin Orang Muda
Saya punya seorang teman, General Manager sebuah perusahaan penerbitan yang berkembang pesat. Awalnya, tidak percaya, ketika dia menjadi orang nomor satu baru berumur 23 tahun, kini 26 tahun. Artinya, ketika dia masih ingusan, saya sudah sarjana. Senang berteman karena dia tidak suka menilai orang, tapi suka baca buku, bicara apa adanya, dan menghormati orang. Dia termasuk dari sedikit teman yang tidak maikami saya. Lagi pula, suka menulis. Kebanyakan teman, pintar ngomong doang, menulis payah, tapi kalau menilai tulisan orang, paling jago.

Dalam hal pengetahuan, karena sering sama-sama membeli buku terbaru dan mendiskusikannya, betul-betul mendapat teman diskusi sesungguhnya. Soal IT, saya kalah jauh. Dia banyak ide dan menatap masa depan dengan optimistis plus langkah-langkah strategis. Bayangkan bila pengalaman yang dipupuk, ketika dia berusia 40 tahun, tentu sangat amat berguna bagi perkembangan diri dan bisnisnya.

Maksud saya, kalau seseorang diberi atau punya kesempatan sejak umur muda maka ketika berumur 40 tahun atau ke atasnya, banyak hal yang dapat diperbuat berdasarkan pengetahuan dan pengalaman, the experience the best teacher. Karena itu, saya betul-betul bertekad akan menyuport kawan-kawan muda usia untuk bersiap diri menjadi pemimpin ketika berumur 40 tahun. Kalau sudah bau tanah baru pegang posisi, baik di pemerintahan maupun bisnis, maka hidup dan kehidupan terlalu pendek untuk berbuat lebih banyak.

Cermin Kiyosaki
Suatu kali, kami mendiskusikan serial buku Robert T. Kiyosaki, Rich Dad Poor Dad, Guide to Investing, Cashflow Quadrant, Rich Kid Smart Kid, Retire Young Retire Rich dan Sucses Stories. Kesimpulan buku Kiyosaki sederhana saja, “Jangan bekerja untuk uang, tetapi biarkan uang bekerja untuk Anda”. Untuk itu, berpikir dan bertindaklah bersandarkan passive income, jangan mengandalkan active income.

Kiyosaki mengingatkan, betapa banyak orang bekerja, bekerja, dan bekerja untuk mendapatkan uang hingga waktunya habis (hanya) untuk bekerja. Persoalannya, sekalipun saya membaca buku itu secara intens, umur saya persis sama dengan ketika Kiyosaki pensiun. Dia kini terenak hidup dengan mengandalkan passive income sementara saya baru memulai memangkas liabilitas. Kacian dech gua.
Begitulah, ketika seorang teman akrab ingin “terjun” ke dunia politik, umurnya 36 tahun, langsung saya larang. “Pendidikan, usaha, citra dan semangat kamu sudah cukup, tapi … dari segi uang, jauhlah”, kata saya mematikan sementara keinginannya. “Kamu kembangkan dulu perusahaan, nanti setelah 4 tahun baru terjun ke politik”. Jadilah dulu calon pejuang rakyat yang mapan.

Awalnya dia agak uring-uringan. Tetapi, saya jelaskan, coba, ada politisi yang kurang beruntung secara finansial. Ada yang pekerjaannya kurang jelas. Ada yang ketika menjadi wakil rakyat baru mulai belajar, kursus ini-itu. Mempersiapkan diri ketika sudah jadi “pejuang” rakyat. Mudah-mudahan di banua kita tidak ada yang sedemikian.

Dengan kata lain, ketika mengelola partai, jangan mencari penghasilan melalui partai. Ketika menjadi anggota DPR/DPRD, jangan mengandalkan pendapatan dari gaji DPR/DPRD sebagai satu-satunya sumber penghasilan. Kalau di tempat itu -–katanya sih— mengabdikan diri sepenuhnya untuk memperjuangkan nasib rakyat, ya jangan sampai faktor berjuang mendapatkan penghasilan pribadi menjadi target. Sebab, kalau demikian manalah mungkin memperjuangkan rakyat menjadi prioritas utama.

Saya tidak tahu, apakah hal sedemikian menjadi biang kekisruhan di partai-partai kita, atau penyelewengan keuangan di sementara anggota DPR/DPRD yang kini tengah merebak di Tanah Air dan mulai jadi pesakitan di mahkamah hukum, saya tidak tahu. Begitu juga Kepala Dinas atau Walikota, Bupati, Gubernur atau Pimpro yang korup, apakah karena memerlukan uang sebagai penghasilan atau karena keserakahan hingga dijadikan pesakitan di pengadilan, saya juga tidak tahu. Yang pasti kita harus bangga, di banua pemimpin kita “belum ada” yang diputus menjadi koruptor oleh pengadilan. Kalau ada yang mendanai, saya mau meneliti hal sedemikian, he … he …

Pendek kisah, kepada kawan dimaksud saya tegaskan, mari kita dukung pengembangan bisnismu, bila sumber penghasilan sudah jelas dan hidup mapan, baru terjun ke politik. Artinya, kalau menjadi pengurus partai, ya mengongkosi partai, kalau menjadi anggota Dewan atau Kepala Daerah, bukan mencari sumber penghasilan, tapi mengabdi.

Kata kunci mengabdi berarti sebagian besar potensi, pengetahuan, waktu, inisiatif, karya dan uang untuk “melayani” dan memakmurkan masyarakat. Kalau mencari kaya dari jabatan publik, wah saya tidak tahu apa namanya itu. Yang pasti, kedudukan sedemikian bukanlah profesi, tetapi pengabdian. Anda dengan mudah dapat melihat mereka yang kini menduduki jabatan publik, apakah melayani dirinya atau masyarakat.

Potensi Kaum Muda
Disamping yang saya sebutkan di atas, tidak sedikit kaum muda yang potensial. Sebut saja, Radius Ardanias Hadariah atau Ogi Fajar Nazuli dari kalangan birokrat, Dr. Sutarto Hadi, Dr. Syakriani, Dr. Udiansyah, Dr. (Cand.) Setia Budhi dan banyak lagi dari Unlam. Atau dari pebisnis seperti Doni Witono, Gusti Farid Perdana, Sukhrowardi, Gusti Perdana Kesuma atau Puar Junaidi, Alwi Sahlan, M. Tasriq dari politisi. Bahkan, kalau saya tulis, bisa berhalaman-halaman.

Artinya, kita banyak punya kader-kader pemimpin muda yang apabila “dibimbing” atau dipersiapkan sejak dini, lalu diberi kesempatan selempang-lempangnya, akan sangat bagus memacu akselarasi pembangunan Kalsel. Pada takaran penyiapan kader itulah peran golongan tua diperlukan. Kaum muda, jangan mengeluh, misalnya ketika ada yang berkeinginan, anggota DPD Kalsel sebaiknya dari kalangan muda, e … ternyata popularitas Bapak-Bapak kita kan terbukti unggul. Harus bersiap diri dan memperjuangkan kalau ingin sesuatu. Kini kita hidup di era alam demokrasi, alam kompetisi.

Dengan kata lain, kalaulah pada Pilkada 2005 ini, kita masih memilih dari mereka yang berumur 50 atau 60-an tahun, juga tidak mengapa. Tapi, untuk periode 2010-2015 sudah saatnya sejak sekarang dipersiapkan generasi muda. Dan, kepada generasi muda, satu anjuran saya, disamping “memasarkan diri” dari sekarang, terlebih mempersiapkan finansial.

Finansial memang bukan yang utama dalam banyak hal, tetapi akan sangat membantu dan … ini yang penting … merupakan kartu ampuh untuk menjaga idealisme dan independensi. Mungkinkah Kalsel dipimpin orang-orang muda?. Jawabannya, terletak dari performance orang-orang muda kita. 

Bagaimana menurut Sampeyan?.

  1. One Response to “Ide Segar”

  2. By Lena on Aug 7, 2008 | Reply

    Assalamualaikum pak,salam kenal.Umpat beguru menulis boleh ae lo pak?

Post a Comment