ESQ: Apa Gerangan Kiranya

27 November 2006 | Ditulis oleh: |

Rahmat dan nimat Allah tidak memandang siapa, dimana, kapan dan sedang mengapa Anda, sebab sebelum Anda mengetahui Dia telah memberinya.
Ersis Warmansyah Abbas

Tidak pelak lagi, Intelegence Quotient (IQ) telah ‘menjajah’ pola pikir kita selama ini. Saking berpengaruhnya, sampai manusia dibagi dua saja, normal dan abnormal. Yang dikategorikan normal, kira-kira seperti saya dan Anda yang membaca buku ini. Kalau abnormal, bila ke bawah terklasifikasi idiot dan seterusnya, kalau ke atas genius. Bisa jadi, itu pulalah sebabnya, di sekolah-sekolah, kalau seorang anak IQ-nya 80 ke bawah atau 120 ke atas, oleh pemerintah harus disediakan sekolah khusus, tidak bisa disamaratakan pendidikannya. Tragisnya, mereka-mereka yang diangggap pintar, ber-IQ tinggi di sekolah, nilai rapornya huebat-huebat, kuliah lulus dengan IP 4, dalam kehidupan nyata, banyak yang kurang berhasil. Prestasinya, ya prestasi belajar itu saja.
 
Jangankan sekarang, Albert Einstein yang menjadi lambang kejeniusan itu, pernah dikatakan ber-IQ ‘Jongkok’.  Terlalu banyak contoh di sekeliling kita, orang hebat IQ, IQ-nya diasah dan dibuktikan dengan prestasi belajar, e … tidak ada apa-apanya. Coba, betapa banyaknya intelektual kita yang terperangkap sebagai ‘pencari’ kerja dibanding ‘menciptakan’ kerja. Maaf, saya punya teman Magister atau Doktor, tapi –sekali lagi maaf– terkadang, gimana gitu. Lalu, apa selain IQ?

Erwin Si Pemimpin Belia
Saya punya seorang sahabat, Erwin Dede Nugroho. Lahir 23 April 1978, kini berusia 26 tahun. Sejak berumur 23 tahun menjadi General Manager dan Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin, surat kabar kelompok Jawa Pos yang sangat prospektif. Dia adalah anak muda yang mencapai kedudukan bisnis dan profesional tinggi di usia belia.
 
Secara umum, kecuali pengetahuan akademis khusus, saya angkat topi padanya, apalagi soal hi-tech, harus belajar banyak. Kami berdiskusi tentang banyak hal. Sementara dengan teman-teman akademisi dan dosen, ada yang bicara soal naik pangkat, kredit rumah atau berbagai keluhan.
 
Anda bayangkan, seorang ‘anak muda’ bisa memimpin sebuah bisnis yang begitu besar. Wibawanya, diantara pegawai yang lebih tua tidak runtuh, bergaul bagus, memperhatikan orang walau tergolong tegas dan keras. Pokoknya, baguslah. Apa yang menyebabkan bisa demikian?
 
Saya bandingkan dengan teman-teman yang bertitel selangit, Erwin cerdas secara emosi. Karena itu, berbekal pengetahuan (IQ?), dia lebih ‘lincah’ berkreasi. Saya mengamati dua kutup teman-teman, cukup intens. Ada yang berkedudukan dan punya jabatan bagus, tapi tidak berusaha dengan jabatan tersebut agar berprestasi lebih, lebih cepat, dan lebih efisien. Apalagi soal membina relasi, network, dan kecakapan interaksi lainnya. Ini pertanda kecerdasan emosi rendah, believe it or not.

Puncak Prestasi
Kecerdasan otak barulah merupakan syarat minimal untuk meraih keberhasilan, kecerdasan emosilah yang sesungguhnya mengantarkan seseorang menuju puncak prestasi, tulis Ary dalam bukunya.
 
Karena itulah orang-orang yang cerdas emosi lebih memaknai visi, integritas, komitmen, kemandirian, dan seterusnya. Bayangkan, orang yang cerdas secara intelektual (IQ) tetapi tidak punya komitmen atau integritas, bagaimana jadinya? Kerusakan bisa lebih besar ditimbulkan dibandingkan oleh orang bodoh.
 
Memang, secara ideal pensinerjian antara IQ dan EQ akan sangat dahsyat untuk kemajuan dan prestasi, tetapi kemudian para pakar (sory, ya … dari Barat lagi) menemukan sandingan baru, Spiritual Quotient. Konon, dalam otak manusia yang komputer serba super tersebut, ada eksistensi Got-Spot yang built-in sebagai pusat spiritual, terletak di antara syaraf dan otak. Jelas ini konsep pemikiran Barat. Nah, disitulah bersemayam fitrah manusia.
 
Tapi, God-Spot sebagai peraduan suara hati, susah diidentifikasi dalam keilmuan dunia (Barat). Sebab, baru pada tataran hardware. Oleh Ary, sekalipun keduanya berbeda, EQ dan SQ memiliki muatan yang sama-sama penting untuk dapat bersinergi yang dilabeli menjadi Emotional and Spiritual Quotient, ESQ. Menurutnya, ESQ Model adalah software (isi) dari God-Spot. Titik pusat kemanusiaan bermula dari ‘Suara Allah’ yang telah ‘dititipkan’ pada manusia, ada dalam diri manusia, melalui Asmaul Husna.
 
Dengan kata lain, kalau saya tidak salah, Ary mengajak kita memaknai ESQ bersandar Rukun Iman dan Rukun Islam yang mana berdasarkan itu kita membangun ‘kepribadian’ sebagai ‘way of life’.
 
Memang, dalam prakteknya tidak mudah, sebab ‘suara hati’ terkadang tidak bisa ‘di dengar’ oleh si empunya hati (manusia). Belenggu-belenggu ‘ilmu dunia’ terkadang lebih keras membalut hingga suara hati tenggelam dan tidak muncul ke perbuatan. Untuk itu diperlukan zero mind process (ZMP), suatu proses pemerdekaan titik pikiran dari belenggu-belenggu,  berdasarkan keyakinan pada Allah SWT.

Mengunci Arti ESQ
Sebagaimana kita ketahui, konsep SQ –dalam lontaran pemikiran Zohar dan Marshall– kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna lebih luas dan lebih kaya, kecerdasan untuk menilai tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna, dimana SQ untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif, dan karenanya SQ merupakan kecerdasan tertinggi, ESQ ‘lebih dahsyat’ dari itu. Masyak iya sih?
 
Betapa tidak. Kecerdasan emosi (EQ) sebagai penemuan ‘baru’ ilmuwan Barat, begitu juga kecerdasan spiritual (lebih baru), ternyata hanyalah ‘barang usang’ bila dibandingkan apa yang  sangat-sangat diyakini Ary, sebagai ‘pembenar’ Rukun Iman dan Rukun Islam.
 
Artinya, kecerdasan intelektual (IQ) itu penting, kecerdasan emosi (EQ) sangat penting, dan digabungkan dengan kecerdasan spiritual (SQ) –sesuatu yang lebih penting– dengan berlandaskan Rukun Iman dan Rukun Islam, sungguh sangat lebih penting untuk mencapai sukses dan prestasi di dunia menuju kehidupan lebih penting, di akhirat.
 
Ary, katanya, telah melakukan perenungan mendalam dalam berusaha menggabungkan ketiganya dalam bentuk konsep emotional spiritual quotient (ESQ). Itulah yang kini tengah Anda kunyah-kunyah, renungkan, untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari agar Islam jangan dijadikan sebagai agama ritual doang, tetapi sebagai anutan yang total (kaffah).
 
ESQ adalah satu tawaran konsep untuk ‘menemukan’ kembali fitrah keislaman yang ‘hilang’ di tangan kita. Dengan ber-ESQ-ria, kita tancapkan di sanubari, prinsip paling mendasar, hidup dan kehidupan, hanya berprinsip kepada Allah.
 
Formulanya: Laa (0), kesucian hati dan pikiran, tulus dan ikhlas, tidak ‘memikirkan’ sandaran apapun, penyerahan diri total, kecuali illaha illallah (1), berprinsip kepada Allah, tidak menuhankan yang lainnya, hingga muncul segala potensi secara tak terhingga ().
 
Kalau demikian, tinggal Anda memperdalam langkah-langkah dalam aplikasi prinsip dasar tersebut untuk dilatih setiap hari, bukan saja untuk manfaat pemberdayaan diri, hingga puncak prestasi lebih dapat diraih, tetapi lebih penting, setiap helaan nafas, pada setiap  etape kehidupan, hanyalah karena dan berdasarkan Allah.
 
Dengan demikian, segala gerak langkah, apa yang diperbuat, berlandaskan prinsip keilahian. Sesuatu yang telah kita punyai, sebagai potensi yang ‘diberikan’ Allah. Tetapi, pada tingkat manifestasi kehidupan, tidak maksimal kita lakukan.
 
Insya Allah, apabila hidup dan kehidupan, hari ke hari, kita rujukan secara total, hanya kepada Allah SWT, kita akan selamat dan mencapai prestasi kehidupan puncak di dunia dan akhirat, nantinya. Amin.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. One Response to “ESQ: Apa Gerangan Kiranya”

  2. By asih boyolali on Dec 11, 2007 | Reply

    diri ternyara masih jauh dan kecil di hadapan NYa….

    ***Yap, Allahu Akbar

Post a Comment