4.3 Digugat ‘Tuntas’
27 November 2006 | Ditulis oleh:* Kebenaran paling tinggi terletak pada ‘hati nan bening’, pada selain kebenaran itu sendiri, teguhkan sikap, pada pendapat, dan perbaiki kemampuan, hidup tidak surut ke masa lalu tapi di masa depan.
Suatu kali, pada seminar di Banjarbaru, saya terperangah atas gugatan seseorang atas eksistensi FKIP (Unlam?) sebagai LPTK. Bagi saya hal itu sebagai warning agar FKIP (LPTK) berbenah diri menatap perannya agar lebih bermakna.Keterperangahan saya tulis menjadi artikel. Sambutan ‘pencinta’ FKIP luar biasa. Geger di mana-mana. Ada yang tersinggung dan ‘menuduh’ saya mau membubarkan FKIP Unlam. Ada pula yang berkesimpulam, kalau dibubarkan lalu ‘kita-kita’ mau bekerja dimana? Saya dan beberapa teman ketawa-ketawa prihatin. Kog bisa ada yang berkesimpulan demikian. Setelah dipelajari per kata, tidak ada yang aneh. Simpulannya, saya menganggap diri bodoh menulis, habis perkara.
Cerita tidak berhenti sampai di situ. Berbagai tulisan dalam bentuk artikel berhamburan menghujat sembari memaki dengan gaya luar biasa ‘nikmatnya’. Walau sebagian ada yang netral dan membela, tetap saja ada yang berkesimpulan, Ersis mau membubarkan FKIP Unlam.
Puncaknya Senat Fakultas membentuk panitia ad hock yang terdiri atas Prof. Harun Utuh, Prof. Alex A. Koroh, Prof. A. Rapoganti, Rusli Djinal dan Dr. Sutarto Hadi sebagai sekretaris panitia walaupun dia bukan anggota Senat Fakultas. Saya paparkan asbabum nuzulnya dan mereka maklum. Selesai ‘persidangan luar biasa’ tersebut, terkaget ketika Sutarto Hadi menyodorkan pernyataan yang harus ditandatangani. Wah, mulai ‘paham’ dan menolak mentah-mentah. Pengalaman pertama di mana gagasan —yang disalahpahami— disidang. Atau bahasa lebih lunaknya, minta diklarifikasi.
Apapun jadinya, itulah yang terjadi. Tulisan saya yang menghebohkan tersebut, tanggapan atas tulisan Sutarto Hadi, dan rasional tulisan yang saya bacakan di sidang ad hoc Senat FKIP Unlam, disajikan secara lengkap.
Pesan saya, jangan takut gara-gara batu sandungan. Yang penting pada tataran ide, silahkan saja didebat atau ‘dicincang’. Tapi, kalau bau-bau otoritas mencium, pertanda kurang baik bagi perkembangan pemikiran. Tolong baca per kalimat artikel tersebut. Apa pun jadinya, pengalaman adalah guru terbaik, the experience is the best teacher. Saya tidak menyalahkan siapa pun. Prinsip saya, memaafkan siapa pun perlakuannya … minta maaf kalau salah. Enteng saja.
Siapa Pembubar FKIP Unlam ?
Alhamdulillah, tulisan saya “Bubarkan FKIP Unlam (!)” (RB, 25 April 2005) ditanggapi Sutarto Hadi (SH), “FKIP Unlam dan Gagasan Pembubaran” (RB, 27 April 2005). Saya bangga dengan SH, menjawab tulisan dengan tulisan, bukan dengan parang atau kekuasaan, sekalipun katanya, kecewa dan tersinggung. Inilah contoh hebatnya warga FKIP Unlam secara akademis, berdemokrasi, dalam perbedaan pendapat dan pandangan.
Mudah-mudahan tulisan SH datang dari lubuk hatinya dan pemikirannya sebagai intelektual FKIP Unlam (Unlam). Intelektual sejati berpikir merdeka. Selama ini saya suka dan bangga dengan daya pikir dan prestasi SH. Inilah contoh nyata produk FKIP Unlam berkualitas.
Ngawur dan Ngawur
Sebenarnya, kalau tulisan itu dibaca dengan jernih, tanpa marah dan emosi, tidak satu kalimatpun bermuatan keinginan membubarkan FKIP Unlam. Kalimat saya: “Saya tidak rela FKIP Unlam dibubarkan” di penutup tulisan. Tapi, kalau inovasi-inovasi dalam segala hal dilakukan, dikembangbiakkan di FKIP Unlam, yes.
Harap diingat, Si Nara Sumber, seorang dosen FMIPA yang konon mantan dosen di FKIP Unlam, mengatakan (kalau tidak salah) : Ketika ada testing peneriman guru di suatu tempat, lulusan FKIP tidak ada yang bisa diterima, yang diterima dari non-FKIP untuk menjadi guru di sekolah berkualitas. Lalu, ketika dia mau mendirikan SD Qardhan Hasana dengan lantang mengatakan: Tidak akan menerima tamatan FKIP Unlam.
Anda bayangkan suasana kebathinan saya saat itu dan kegeraman peserta yang mayoritas tamatan FKIP Unlam. Zele-zeleq begini saya warga FKIP Unlam, lho. Seratusan pasang mata menatap seolah minta bantuan: Lawan Si Nara Sumber. Jujur, dalam hati marah luar biasa, tapi sekarang sudah mampu mengendalikan emosi, memenej kekecewaan, mengemukakan daya nalar dan berpikir positif. Yang muncul, biarlah dia berkata demikian. Akan ‘dilawan’ dengan perbuatan nyata. Dia action, saya action. Ini republik demokratis, Bung. Kenyataan dilawan dengan kenyataan, bukan kebencian. Itu dosa, tau.
Bentuk keluhan terpantul dalam kalimat: Sebelum Qhardan Hasana berbentuk … ikut pula kasak kusuk sana sini sembari menolong mencari dana sampai merancang kurikulumnya. E … setelah jadi, kog ditohok sedemikian.
Jadi kalau dikatakan ngawur, lho wong saya tidak pernah mewacanakan membubarkan FKIP Unlam. Kalau “mengirim” warning kepada warga FKIP Unlam: Lembaga kita dikritik, ditohok orang, mari kita perhatikan, ya. Apalagi menggunakan logika, seseorang membuat statemen, lalu mengeneralisasi, … bubarkan Unlam. Apa bukan SH yang berkesimpulan demikian dan dengan provokatif ‘menempatkan’ saya mewacanakan membubarkan Unlam dengan premis yang tidak jelas, he … he ..
Soal ngawur dan ngawur, biarlah pembaca yang menilai. Bagi saya, menjadi catatan di hati. Membela FKIP Unlam dengan cara sendiri. Cuma ke mana gundah gelana hati nan perih mau dilabuhkan? Cara terbaik, menulis. Itu bentuk pembelaaan. Pembelaan itu kini ‘diselewengkan’, saya ‘ditempatkan’ mengagas membubarkan FKIP Unlam. Padahal tidak. Resiko menulis kali ya.
Inovasi di FKIP
Siapa bilang saya mengatakan lulusan FKIP tidak bermutu. Secara individual, bahkan di FKIP itu banyak penggagas, orang yang berani bersuara dan menyuarakan ide-idenya. Apalagi sekaliber SH yang Doktor yang mainnya sudah di tingkat nasional dan internasional, seperti dia contohkan dalam tulisannya. Saya mengakui dan begitu kenyataannya. Saya bangga atas prestasi SH dan (maaf) sering meng kampanyekan di banyak kesempatan.
Sebaliknya, pernah menemukan tamatan FKIP Unlam yang menganggur, menjadi tukang ojek, bekerja di perusahaan kayu sebagai buruh dan excectra. Akan lebih bermakna, kalau SH atau FKIP Unlam, meneliti dari sekian puluh ribu alumninya, kemana saja mereka, bagaimana kinerja mereka dan sebagainya. Untuk kita pergunakan melakukan inovasi. Pernahkan dilakukan penelitian komprehensif?
Soal logika dan premis yang ditimpakan kepada saya pada poin 2 dan 3, tidak kalah serunya. Saya berpikir begini, inovasi di FKIP Unlam kini tengah bergulir, pimpinan FKIP sangat akomodasi, selalu memberi fasilitas, bahkan untuk mengritik FKIP Unlam itu sendiri. Kita sama-sama ‘menikmati’ suasana di mana atmosper akademik sedang menggeliat. Ini fakta dan tidak mungkin didustai.
Barangkali, saya ingin lebih cepat dipacu. Ingin kekurangan di sana-sini dilecut agar lebih cepat bergerak. Agar FKIP Unlam memainkan peran sebagai lembaga akademis lebih membanggakan, khusunya di bidang pendidikan. Akan sangat membanggakan, secara kelembagaan FKIP Unlam dapat menjadi sebagaimana yang kita idamkan. Masyak sih bermimpi saja tidak boleh.
Nah, ketika ada yang membom sembari melecehkan FKIP Unlam, disambungsampaikan agar kita lebih berbenah, agar kita lebih menggiat inovasi-inovasi seperti telah dan sedang kita lakukan. Hidup ini kalau ada yang menantang, apalagi menghina, kalau mampu kita menej dengan baik, dapat dijadikan pemotivasi. Begitu konstruk berpikir saya.
Begitulah, terkadang cara berpikir ingin lebih cepat. Pertanyaan kenapa, kenapa, lalu bagimana-bagaimana selalu menggoda. Godaan-godaan itu biasanya ditulis dan jadilah tulisan yang terkadang, ditafsirkan sesuai dengan ‘kemampuan’ dan pandangan masing-masing orang. Hal itu sangat wajar. Kata orang bijak, perbedaan pendapat adalah hikmah. Kalau berbeda pendapat lalu kekuasaan digunakan, barulah jadi laknat. Selama ini, di FKIP kan perbedaan dihormati.
Kini saya makin sadar, ke depan, mungkin akan memikir ulang tentang pikiran prihal inovasi di FKIP Unlam. Setidaknya akan lebih hati-hati membuat judul atau minimal lebih mengunyah-ngunyah soal judul tulisan yang menurut pakem jurnalistik, harus dibuat sedemikian rupa hingga menarik perhatian. Bisa jadi tidak menulis lagi.
Ada kisah dibalik itu. Pagi-pagi, SH menelpon: “Pak Ersis, Pak Ersis ngawur mewacanakan membubarkan Unlam”. Jawab saya: “Kamu sudah baca?” Belum, katanya, baru judulnya. “Kamu yang ngawur, belum membaca berkomentar”. Ya saya lagi nyetir ke kampus”. Setengah jam kemudian SMS SH masuk: tulisan itu konstruktif provokatif. Makanya surprise juga membaca tulisan SH yang terlalu bersemangat, jauh dari pembicaraan kami di telpon.
Lain lagi Dwi Atmono, wow heboh Bung. Saya tanya lagi, sudah baca apa belum? Baru judulnya, katanya. Konon, ketika di FKIP dipotokopi untuk disebarkan, orang lebih tertarik pada judulnya. Hebat juga dong berarti judulnya. Kalau Bambang dan Syaharuddin, biasa-biasa saja, setelah membaca tuntas. Sekalipun demikian, saya tak hendak membela diri. Saya berterima kasih pada SH yang mengingatkan, pandai-pandai memilih kata, memperhatikan etika, mengganyam gagasan hingga enak dicerna orang. Ini baru teman namanya, baru intelektual. Saya suka itu.
Maaf Deh
Saya minta maaf kalau pimpinan fakultas dan guru besar kurang berkenan ketika menulis: “Sekalipun ‘kuliah umum’ itu tidak dihadiri petingi-petinggi FKIP dan guru besar, kami tersenang respon peserta. Rata-rata terkagum dan meminta agar Pak Fahmi atau sekalibernya didatangkan ke kampus”.
Tidak satu kata pun menulis ketidakhadiran petinggi FKIP Unlam dan tidak memberi vandel sebagai bentuk ketidakpedulian pimpinan Pimpinan FKIP Unlam terhadap kegiatan kreatif-inovatif di fakultasnya. Wong saya angkat bahu sebagai bahasa isyarat, dan bilang … maaf.
Kalau SH atau lainnya menerjemahkannya lain, maaf deh Anda sampai menafsirkan begitu. Lain kali akan lebih cerdas, syukur bisa Anda menasehati dan menuntun. Saya rindu itu. Memang sebuah tulisan bebas dan terbuka untuk ditafsirkan. Mudah-mudahan SH mencapai maksudnya, mendapatkan apa yang diniatkan ketika menanggapi tulisan saya dengan nyamannya.
Kepada Sutarto Hadi dan warga FKIP Unlam, kalau Anda salah tafsir, bukan seperti itu yang saya maksudkan, berbeda dengan penafsiran Sampeyan. Berarti saya harus belajar lebih banyak lagi cara menulis yang baik. Akan saya tunaikan tugas itu. Mana tahu ‘gempuran’ SH makin mematangkan pikiran dan kemampuan menulis dan … Insya Allah akan lebih piawai.
Satu hal yang ingin ditegaskan, tidak sekalimat pun ada ‘niat baik’ untuk membubarkan FKIP Unlam. Yang ada adalah, lebih menggiatkan berbagai inovasi dalam segala bidang demi FKIP Unlam itu sendiri. Itu pun dalam bentuk gagasan. Kita lihat IKIP-IKIP saja menjelma menjadi universitas. Konon, semua itu demi kemajuan.
FKIP Unlam itu, kalau dipikir-pikir, memang dinamis. Semoga makin bergelora demi kemajuan FKIP Unlam sembari berkontribusi lebih besar bagi kemajuan Unlam.
Bagaimana menurut Sampeyan.
Klarifikasi Tulisan
Rasional dan ‘Asbabum Nuzul’ Tulisan: Bubarkan FKP Unlam (?)
Alinia 1: Introdusir
Memapar betapa orang yang tidak terlalu mengerti sangkut paut koneksi masalah pendidikan menjadikan LPTK (FKIP) sebagai sasaran tudingan rendahnya kualitas pendidikan. Mereka berkesimpulan, mutu pendidikan rendah, LPTK (FKIP) yang salah. Berpikir simplistis. Saya tidak setuju orang yang berpendapat demikian.
Alinia 2 dan 3: Seminar Tiga Aspek Kota Banjarbaru
Paparan kejadian pada seminar, dimana seorang nara sumber dengan statemen gagah berani ‘melecehkan’ FKIP Unlam … tidak akan menerima lulusan FKIP Unlam sebagai guru. Saya, seperti juga banyak peserta, sangat terpukul. Hebatnbya, tidak emosional.
Alinea 4 dan 5: Gambaran Perasaan
Kaget sebab ada orang yang begitu berani menuding FKIP, memprovokasi kualitasnya dengan nada melecehkan. Senang, sebagai orang pendidikan, kalau dia sukses (orang non-pendidikan), dapat dijadikan: ‘cermin’ untuk berbenah, menjawab tantangan.
Kekagetan diinternalisisasikan: Tu lembagamu tidak dipandang sebelah mata. Saya tidak dapat menahan rasa pilu, orang dia (sedang)(mau)(akan) mendirikan SD Qardhan Hasana saja menohok. Padahal, sejak Qardhan Hasana belum berbentuk, saya sudah ikut ‘mendirikan’. Ini orang apa-apaan. Saya manpu menahan emosi, menahan marah. Marah dan emosiobal, bukan prilaku intelektual. Saya sedang belajar mengendalikannya. Dia baru action, saya sudah action. Gagasan dibalas gagasan, inovasi dibalas inovasi, bukan emosi atau mengancam. Itu sikap saya.
Alinea 6,7,8, dan 9: Mendukung Inovasi, Tidak Emosional
Saya gambarkan, mempunyai keinginan luar biasa membuat sekolah bagus. Pernah dikatai orang: “Hai Ersis, lu getol soal sekolah bagus, mana contoh yang dibuat FKIP-mu? Tentu saja saya tidak bisa menjawab. FKIP saya memang tidak punya sekolah bagus khusus, tapi saya dan orang-orang FKIP banyak yang membina sekolah bagus. Konkretnya, saya aktif membantu SD Jawa 2 Martapura dan SD Sungai Besar 2 Banjarbaru. Itu nyata, bukan teori atau retorika.
Sebagai pengunci, menyampaikan pesan moral: “Seperti dikuatirkan seorang peserta … kalau begitu bubarkan saja FKIP … jangan begitulah balikan emosional. Kita harus mendukung siapa saja, kelompok mana saja yang mau melakukan inovasi pendidikan demi kualitas pendidikan. Emosional bukan sikap intelektual.
Oh ya, Dr, Krisdianto sampai berkata (tidak saya tulis): “Kita tidak usah resah dengan tudingan orang, memang Unlam (bukan FKIP saja) sedang digugat kualitasnya. Mari sama-sama, dalam bentuk apa pun kita benahi, jangan bertengkar. Mari, kita rapatkan barisan).
Alinea 10-19: Kuliah Ngawur
Sehabis seminar, diajak diskusi oleh sesorang. Saya kesal, saya katakan saya bukan pejabat, bukan birkrat pendidikan atau orang berduit. Saya tidak punya kekuatan apa-apa. Saya hanya punya ide dan terkadang menulisnya. Itu pun sering disalahpahami hingga menulis itu berisiko, bo. Dia tetap mendiskusikan , … saya kuliahi sekalian yang saya istilahkan kuliah ngawur.
Alinea 20-23: Seminar Matematika
Menurut saya seminar berlangsung bagus. Kalimat walaupun tidak dihadiri petinggi dan guru besar, bukan dimaksudkan memojokkan, tetapi gambaran harapan, kalau ke depan (seminar itu terburu-buru, saya hanya menelepon Sutarto Hadi, Dekan dan PD I), kalau dirancang lebih sempurna akan lebih bagus. Itu harapan saya, apalagi kalau ada kenang-kenangan, semacam vandel. Lagi pula, kalau ditulis diberi vandel, padahal tidak, ya tidak faktual namanya.
Emosi terpantik ketika ada yang nyelutuk, banyak proyek nich. Tapi, sungguh, bukan berurusan dengan finansial. Ini yang kedua mendatangkan orang luar ke FKIP Unlam setelah Adam, Fellowship Reseacher Asia Foundation. Nah, ketika seseorang memuji Fahmi Basya, saya katakan kita belum manpu seperti itu sebab menyangkut hardware, software, sistem operasional, dan sebagainya.
Alinea 24: Tidak Rela FKIP Bubar
Sebagai kesimpulan kunci, saya tidak rela FKIP dibubarkan, sebab masih dibutuhkan. Tapi, kalau inovasi-inovasi dalam segala hal dilakukan, dikembangbiakkan di FKIP, yes.
Komentar:
Siapa pun berhak mengambil kesimpulan. Tapi, … kalau hanya membaca judulnya tanpa memahami dan mendalami substansinya, yah … saya dapat berbuat apa tentang pendapat orang. Kalau pun orang salah tafsir, tersinggung, atau apalah namanya, sebagaimana kelaziman di dunia tulis-menulis, ya balas saja dalam bentuk tulisan. Mari diskusi. Itu sudah dilakukan beberapa orang dan saya jawab pula dengan tulisan: Tidak Ada Gagasan Membubarkan FKIP Unlam.
Catatan:
Tulisan di atas dipresentasikan pada sidang panitia ad hock Senat FKIP Unlam yang dibuat khusus Dekan FKIP Unlam menyikapi tulisan saya sebagaimana disajikan pada awal bagian ini. Bagi saya, sungguh memberikan sensasi luar biasa.
Oh ya, atas inisiatif beberapa orang, beberapa bulan kemudian digelar diskusi terbuka di Aula FKIP Unlam bertajuk: FKIP Unlam menjadi IKIP. Suatu gagasan ‘membebaskan’ FKIP Unlam dari Unlam. Tidak ada tanggapan gegap-gempita, berlalu begitu saja. Sekalipun ada yang berkomentar, ini lebih ‘canggih’ dari gagasan Ersis. Luar biasa. Seorang teman berkata: “Coba kalau Ersis yang menggagas bisa ramai”. Entahlah.
Alhamdulillah, tulisan dan buku-buku saya makin mengalir. Saya makin paham arti keintelektualan dan insan intelek. Saya harus belajar lebih gigih untuk berbagai hal. Mohon maaf dan terima kasih.
Bagaimana menurut Sampeyan?












