Rahmatullah: ESQ Kembali Ke Jalan Allah

26 November 2006 | Ditulis oleh: |

Rahmat Allah akan datang kepada hamba-Nya tanpa diduga-duga manakala dikehendaki-Nya.
Ersis Warmansyah Abbas

Suatu malam, sepulang dari suatu acara di Banjarmasin, saya, Jaya dan Erwin mampir bersilaturrahmi ke rumah Rahmatullah di bilangan Asdi Karya, Kertak Hanyar. Terus terang, sangat tertarik dengan perjalanan spiritual Rahmatullah yang Direktur Utama PT Giri Jaladhi Wana (GJW) Cabang Banjarmasin. Betapa tidak, sekalipun belum pernah bertemu, apalagi bicara langsung, mendengar ‘sepak terjang’ tokoh muda ini hanya dari kawan-kawan.
 
Lelaki kelahiran Banjarmasin, 30 Agustus 1965 ini memang pantas “diteliti” untuk diambil hikmah dari perjalanan kehidupannya. Lelaki ganteng gempal-gempal agak pendek yang mempersunting gadis manis kelahiran Mekkah, 14 Desember 1981, Sri Jadiah Alnur, menghampar permadani kehidupan berlika-liku. Bermula dari bakat enterpreneure, selepas SMA dia melanglang buana ke Tanah Suci. Ada apa garang?
 
Di Tanah Suci, putera Nawawi dan Asiah ini rutin ‘bermukin’ selama tiga bulan dalam setahun. Lho? Itulah. Rahmat memfasilitasi berbagai travel yang memerlukan jasanya untuk berbagai keperluan. Tidak tanggung-tanggung, hal tersebut dilakoni selama (8) delapan kali. Tidak heran, komunikasinya dalam bahasa Arab sangat memadai. Dari gawean tersebut tentu saja Rahmat mengumpulkan rial cukup banyak.

Tom Cruise
Sebenarnya Rahmat terlahir dari keluarga Muslim yang taat, mendapat pelajaran agama cukup, mana sempat pula bekerja di Mekah. Karena itu, apapun perjalanan hidupnya, tentu tidak akan mampu mampu menghapus iman di dada. Tetapi, yang namanya kehidupan dunia, bisa saja membawa manusia meliuk kemana-mana dalam menjalani kehidupan.
 
Apalagi, selagi umur sangat muda, sukses berbisnis. Prestasinya cukup membanggakan sebagai eksekutif muda yang sukses. Siapa garang yang tidak kenal dengan Rahmat di banua? Orangnya ganteng, penampilan meyakinkan, duit banyak, prestasi bagus, kawan berlimpah sebab ia memang tidak sombong. Tapi sayang sungguh di sayang, kesemua itu setelah direnungkan, bukanlah yang sebenarnya dicari, hidupnya masih terasa ada sesuatu yang hilang.
 
Istilahnya, sebagai eksekutif muda sukses, Rahmat mengenal kehidupan dunia luas. Dunia ‘anak muda’ dijalani tidak tanggung-tanggung. Jangankan mengkonsumsi minuman keras, obat-obatan, atau sekedar berdiskoria, apa yang dilakoni ‘anak muda’ ya dilakukan. Hingga, ‘dinobatkan’ teman-teman pergaulannya sebagai lelaki macho.
 
Tidak heran, sepasang anting menghiasi telinga, gelang dan kalung emas berharga jutaan adalah asesoris yang tidak pernah lepas. Bahkan, saking akrab dengan minuman, Rahmat sampai menjadi sangat ahli meracik minuman. Kira-kira seperti Tom Cruise dalam film Coctail. Dari kocokan ‘bartender’ Rahmat keluarlah adonan minuman sangat pas, disukai teman-temannya.
 
Kehidupan begini dilakoni bertahun-tahun. Sampai pada suatu hari, Rahmat mengantar anaknya mengikuti ESQ Training for Teens. Sekalipun telah banyak mendengar tentang ESQ Training, saat mendengar materi yang disampaikan Ridwan Mukeri, trainer remaja, hatinya tergugah, jiwanya berguncang. Ia merenung.
 
“Bang”, katanya dengan air mata hampir menetes, “saat mengantar anak itu saya pingin ikut, pingin sekali. Tapi, ya sudahlah, saya menerima saran teman-teman, masuk kelas profesional. Saya harus menunggu dua minggu. Lama sekali rasanya, Bang”, kata Rahmat bak menahan nafsu.
 
Akan halnya, kepada anak-anaknya, sejak dini sudah diberikan pendidikan agama. Bahkan, kedua anaknya dimasukkan pesantren di Jawa. Hanya saja, “kelakuan” Rahmat terseret menjauhi bibir laut agama, apalagi inti praktek. Tapi, soal keimanan masih kuat bersemayam di dada.
 
Subhanallah, melalui anak pula saya disadarkan, diberi hidayah, kembali ke jalan Allah, katanya menitikkan air mata. Saya sungguh bersyukur, Allah akhirnya menunjukkan jalan yang sebenarnya, jalan yang diridhoi-Nya. Allahu Akbar.

Perlambang Minumam
Sebenarnya, tidaklah terlalu susah bagi Rahmat untuk memahami materi keislaman. Sebab memang sudah punya dasar agama yang kuat. Tetapi, ya itu tadi. Rahmat tengah berasyik-asyik dengan kehidupan dunia. Rumahnya yang megah sebagai pertanda sukses, bukannya sebagai tempat syiar, tetapi untuk berminum-minum ria. Terkadang, katanya, sekali pesta minum, bisa menghabiskan puluhan juta rupiah.
 
Begitulah, Rahmat mengikuti ESQ Training  Angkatan IV, 12-14 Desember 2004. Tidak mampu dia mengisahkan keterguncangan jiwa melahap dengan rakus sembari membenamkan dalam jiwa dalam-dalam materi training. Apalagi ketika Legisan Sugimin memapar materi Outer Journey, Inner Journey, dan Zero Mind Proses (ZMP). Maha kuasa Allah, mengapa mata hatiku selama ini tertutup?, tanyanya bersedih hati.
 
Tidak habis-habisnya Rahmat merenungi nasib, menyadari apa yang dilakukan selama ini sembari mengucap Astagfirullah, Subhanallah dan Alhamdulillah. “Saya mendapatkan hidayah dari Allah. Saya masih disayangi Allah. Sungguh, selama ini berbuat maksiat, zalim,” katanya memaki diri dalam hati sambil memangis. Minta ampun dan bertobat adalah satu-satunya pilihan tekadnya.
 
Seusai ESQ Training, Rahmat langsung meminta isterinya membuang benda-benda haram dari di rumahnya. Botol-botol miras dihancurkan, anting, gelang, dan kalung emas dienyahkan. Pokoknya apa saja yang menggoda dan pernah dipakai yang tidak sesuai ajaran Islam, langsung dienyahkan.
 
“Abang lihat sendiri”, disini dulunya bersemayam berbagai perlambang itu tertata rapih. Kini, saya menggantung sajadah. Membaca Al-Quran dan buku-buku agama. Ternyata lebih nikmat, ya Bang”, katanya penuh haru. Kami bertiga, terhanyut mendengar kisah Rahmat (Sayangnya Rahmat tidak tahu Erwin belum cukup umur, belum 30 tahun, hingga tidak memenuhi syarat ikut Pilkada he … he … Erwin yang pantas ber Abang pada Rahmat).

Keluarga Agamis
Rupanya, hidayah yang didapat Rahmat langsung berkorelasi dengan kehidupan rumah tangga. Sang Nyonya, Sri, sejak itu memakai jilbab. Tidak cukup, setiap ada kegiatan ESQ atau pengajian dengan gembira diikuti. Anak-anaknya yang sekolah di pesantren menangis haru melihat perubahan laku bapaknya. Mereka makin akrab menuju keluarga sakinah. Amin.
 
Padahal, dapat dipastikan, jangankan keluarganya, teman-teman tidak membayangkan kehidupan Rahmat akan berubah begitu drastis. Bahkan, Rahmat sendiri sampai hari ini tidak membayangkan sama sekali. Tetapi, Saudara, yang namanya hidayah Allah itu datangnya tidak dapat diduga siapapun. Tugas manusia adalah berusaha.
 
Al-akhir, Rahmat tersipu dengan sapaan rahmat Allah dan tidak akan pernah mau melepaskan penemuan kembali dirinya sebagai ciptaan Allah SWT. Sebagai aplikasi, kalau jiwa tersentuh, iman terpantik oleh rahmat Allah, maka kehidupan terasa damai sebab kita tahu posisi kita dimana dan kemana tujuan hidup ini, kata “Kiai Rahmat” mengakhiri pertemuan silaturrahmi kami.
 
Dengan renungan di kepala masing-masing, kami meluncur ke Banjarbaru. Pelajaran dari kehidupan Rahmat sungguh sangat positif untuk dijadikan cermin. Mudah-mudahan, jalan kami dalam aktivitas ESQ selalu di berkati Allah SWT. Amin.
 
Ersis Warmansyah Abbas, Pengurus PP ESQ Kalsel.

Post a Comment