Penjernihan Emosi

26 November 2006 | Ditulis oleh: |

Dimanapun, kapanpun, diingat atau dilupakan, suara hati selalu bersamamu, sebab Dia ada dalam dirimu.
Ersis Warmansyah Abbas

Banjarbaru, suatu siang, pertengahan  Februari 2004. Hujan  turun lebat. Saya menjemput, Ma’ruful Kahri, ke rumahnya di bilangan Amaco Banjarbaru. Air melimpah kemana-mana, memba-wa aneka sampah, tersebab parit (got) tidak berfungsi. Kebersihan lingkungan, rupanya tinggal kenangan. Padahal, sebagian besar penghuni kompleks berpendidikan dan pegawai negeri. Hal serupa dengan mudah dapat ditemui di lingkungan Anda masing-masing. Solusinya mudah, ramai-ramai ambil cangkul, bersihkan, pasti air mengalir dengan lancar.
 
Tetapi, kenapa tidak kita lakukan? Kita lebih senang berkhabar pada koran, ‘memaki’ Dinas Tata Kota atau Kimprasko, tidak becus mengurus sarana dan prasarana kota. Sampai-sampai ada yang melaporkan ke Walikota. Pertanyaannya: Kenapa tangan kita tidak tergerak membersihkan?
 
Padahal, ya padahal, hati nurani, suara hati, ‘berkata’, kebersihan itu penting, air mampet dan sampah berserakan tidak elok. Pada tingkat tertentu malahan ada dorongan hati untuk turun dari kendaraan, berkehendak menghentikan kejorokan tersebut. Namun, tidak kesampaian. Ada apa dengan hati dan kemauan?

Mata Hati Tertutup    
Itulah dia, wahai saudaraku, ketertutupan ‘mata hati’, suara hati yang jujur, yang bersih bening, yang tahu mana yang baik mana yang jorok, tidak menggerakkan otak, tidak memaksa tangan, tetapi justeru menghentikan langkah, mematikan ide untuk membawa orang se kompleks membersihkan parit, hingga masalah selesai.
   
Lebih sadis lagi, lalu melemparkan tanggung-jawab kepada Dinas Tata Kota, Kimprasko, Walikota, sembari me-maki, tidak becus mengurus kota. Padahal, apabila satu sampai dua jam gotong-royong maka masalah selesai.
 
Renungkan pula ketika melihat seorang papa berjalan tertatih-tatih, pakaiannya kumal, matanya menerawang, badannya menggambarkan orang kurang makan, sementara kita berpestapora dengan teman-teman berpacu melahap makanan paling mahal. Hati pasti tergerak, rasa iba muncul, diundang atau dienyahkan, walaupun kita tidak melakukan apapun. Kita tidak mempedulikan milik kita sendiri, suara hati kita. Pertanda apa itu?
 
Dimanapun kita, sedang apapun kita, suara hati selalu bersama, sebab dia ada dalam jiwa, pada diri kita. Allah SWT  telah ‘menitipkan’ bersamaan dengan ditiupkannya ruh ke diri kita. Masalahnya, sering kita berlaku cuek, bersikap EGP, emang gue pikirin. Mata hati tertutup rapat-rapat. Itulah belenggu.
 
Mata hati, suara hati, ‘ditutupi’ —pada contoh di atas— bahwa kita berpendapat, membersihkan got adalah urusan Dinas Tata Kota, Kimprasko, Walikota. Kita memilih Walikota kan untuk mengurusi kota kita, lalu, kenapa mengurus got saja tidak mampu? Tanpa mau melihat diri sendiri, kewajiban diri dan tanggung jawab bersama. Kewajiban dan tanggung jawab dilemparkan menjadi tanggung jawab orang lain. Bukankah kalau begitu demikian parahnya peran kita sebagai manusia? Auzubillahi min zaliq.

Suara Hati Universal
Agar kita berpikir dan bertidak tepat, tak salah lagi, harus dimulai dari prinsip yang tepat, yaitu prinsip dasar laa illaha illallah. Dengan prinsip dasar tersebut kita akan mendapat kekuatan prinsip sesungguhnya, yang tak lekang karena panas dan tak akan lapuk karena hujan.
 
Berdasarkan itu kita dapat menentukan mana ‘jalan kiri’ mana ‘jalan kanan’, memastikan jalan fitrah, melakukan tindakan positif, yaitu jalan suara hati, pantulan dari God-Spot. Harap diingat, suara hati kebaikan, dipunyai manusia tanpa memandang siapa, dimana, dan mengapa dia, yang berlaku universal, sebab berasal dari Allah SWT.
 
Suara maha jernih itulah yang biasanya tertutup atau ditutupi oleh manusia itu. Ary, mengindentifikasi sebagai tujuh pembelenggu, yaitu: prasangka, prinsip-prinsip hidup, pengalaman, kepentingan dan prioritas, sudut pandang, pembanding, dan literatur.

Membebaskan Belenggu
Dalam kehidupan, prasangka —apalagi prasangka buruk— sungguh banyak berakibat runyam. Banyak contoh yang telah saya tulis pada bagian lain buku ini. Intinya, janganlah berprasangka buruk terhadap sesuatu atau seseorang, tetapi dahulukan berprasangka baik.
 
Dengan demikian, kita dapat  ‘memulai’ sesuatu dari titik nol, ‘melihat’ sesuatu dari sumber kejernihan. Pikiran dan emosi jadi jernih, tanpa embel-embel prasangka. Aturannya, jangan berprasangka buruk, dahulukan prasangka baik.
  
Apabila kita bisa membersihkan pikiran dan hati dari prasangka, berarti ‘mata hati’ bebas dari segala hal, kecuali suara hati. Ini berarti kita bebas  ‘menimbang’ prinsip-prinsip hidup kita. Artinya kita menafikan, misalnya saya pejabat, orang lain rakyat biasa, saya pedagang kaya yang dihadapi seorang miskin, saya dosen yang pintar yang datang buruh yang tak sekolah, saya orang Islam berurusan dengan seorang komunis, saya orang Indonesia dia kan keturunan Cina, dan seterusnya.
 
Inga’ Inga’ Inga’. Prinsip tunggal kita hanya satu, Allah SWT. Kita ‘membumikan’ Allah ‘memperlakukan’ manusia dengan sifat Ar-Rahman-Ar-Rahim, misalnya. Prinsip hidup selain berprinsip pada Allah, harap ditinggalkan.
 
Sejalan dengan itu, tinggalkan pula pengalaman-pengalaman kehidupan, terutama yang buruk. Merdekakan diri hingga bisa bebas berpikir dan berkreasi. Pengalaman sosial memang guru kehidupan, the experience is best teacher. Tapi, kita harus pandai memindai dan memilah, jangan sampai pengalaman membekukan mata hati.
 
Sifat alam dan manusia berubah, yang buruk bukan tidak mungkin jadi baik atau sebaliknya. Kalau sudah begitu, kita ‘bebas’ berpikir, muncul kreativitas hingga proaktif melakukan sesuatu, tidak dibelenggu pengalaman.
 
Dalam kehidupan kita, tidak pelak lagi, kepentingan selalu jadi nomor satu. Apa perlunya buat saya, apa gunanya, apa manfaatnya. Kepentingan itu, dalam berbagai bentuk dan tingkat, cenderung menenggelamkan prioritas, kepentingan yang lebih luas, lebih bermakna.
 
Dengan berprinsip hanya kepada Allah, akan melahirkan kepentingan yang akan menentukan prioritas hingga tidak berfokus pada diri sendiri, tidak egois. Pola prioritas sedemikian akan menjadi pendayaguna suara hati untuk menentukan prioritas.
 
Tentu pula, sebagai manusia kita mempunyai pandangan tertentu untuk berbagai hal. Wajar saja karena pengetahuan dan pengalaman. Kalau kita berpegang pada pandangan-pandangan keduniaan saja maka bisa tergelincir dengan sendirinya. Pandangan tertinggi harus dibangun secara bijaksana berdasar suara hati, Asmaul Husna.
 
Yang tidak kalah pentingnya, subyektivitas adalah ‘kebiasaan’ yang ‘mengatur’ kehidupan. Kita jarang mau ‘melihat’ sesuatu berdasarkan obyek apa adanya, obyektif. Ukuran-ukuran sesuatu berdasarkan pandangan, pikiran kita, bukan berdasar sesuatu itu. Padahal, sesuatu yang ada berasal dari Allah bukan dari pikiran kita. Mari kosongkan pikiran dari ukuran-ukuran yang dibuat sendiri, dilandaskan pada obyek sebagaimana ‘ditentukan’ Allah.
 
Akhirnya kita harus menyadari, selama hidup  tidak luput dari apa yang kita dapat dari literatur, rujukan ‘pembentuk’ pola pikir. Kita harus memaknai, kesemua referensi, apalagi menyangkut keilmuan, selalu mengalami perubahan, sesuai dengan kemajuan ilmu dan pengetahuan.
 
Betapa indahnya, karena kita sadar semua ilmu bersumber dari Allah SWT, kita kembalikan ke sumbernya. Tentu bukan berarti rujukan tidak berguna. Bukan. Rujukan itu penting. Namun, rujukan paling sah pada setiap langkah kehidupan adalah Allah SWT. Inilah rujukan abadi, tidak berubah-rubah hingga suara hati terbebas dari segala hal selain itu. Minimal, sebagai pemerjelas ilmu yang berasal Allah SWT.

Jernihkan pikiran, Kreatiflah
Dari untaian paparan sederhana tersebut, tibalah kita kepada aksi sikap, dimana kita menjernihkan pikiran, membebaskan God-Spot dari berbagai belenggu hingga kecemerlangan memancar dan dengan itu kita melakukan sesuatu, berkreasi dengan pikiran merdeka. Insya Allah, kita dapat dengan nikmat mengembangkan potensi kita tanpa ada lagi penghambat-penghambat.
 
Dengan bismillahirrahmanirrahim, kita melakukan apa saja atas nama Allah. Suara hati akan menuntun menuju tujuan yang benar dengan cara yang benar dan dengan hasil yang benar. Amin.

Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. One Response to “Penjernihan Emosi”

  2. By pakrete on Jun 25, 2008 | Reply

    Pak Ersis..
    artikelnya bagus-bagus mohon ijinnya untuk mng copy artikel2 ini terutama ttg ESQ ini.Terima kasih sebelumnya..

    ***Yoi dengan senang hati. Saya bangga Sampeyan berkunjung ke blog saya. Salam.

Post a Comment