Pengendalian diri

26 November 2006 | Ditulis oleh: |

Tekad yang bulat melakukan sesuatu adalah garansi kesuksesan.
Ersis Warmansyah Abbas

Menjelang pelaksanaan PORDA VI Kalsel Banjarbaru 2002, 20 Oktober 2002, Saya, Ogi, Shadiqien dan Ma’rupul, sejak Januari 2002 mulai mengutak-atik pelaksanaannya. Karena bekerja bersama tiap hari, jadi akrab dengan Shadiqien, dosen JPOK FKIP Unlam, Doktor Keolahragaan. Kecocokan kami, sama-sama kurang mempedulikan omongan mereka yang pintar ngomong, sebab kami suka kerja dan suka berhasil.Nah, selepas PORDA VI yang sukses itu, bulan Ramadhan, saya sekeluarga ke Padang. Karena trauma naik pesawat, melakukan safari mobil Banjarbaru-Padang, keluarga naik pesawat. Shadiqien saya tanya: “Sampeyan handak oleh-oleh apa, gua mau ke Padang nich?”. Jawabnya sungguh mengejutkan: “Pian kan sakit maag, berpuasa, ya”.
 
Teman-teman lain, pesan macam-macam. Shadiqien rada lain. Mungkin dia tahu, sholat saya belang kambingan, puasa sering lepas. Pada awalnya agak protes permintaannya. “Ini logika apaan”, saya membatin. Hanya saja, kalau seseorang dianggap sahabat, terkadang tidak memakai rasio, ingin menyenangi kawan dan itu salah satu kelemahan bawaan atau bisa jadi keunggulan saya dalam berteman.
 
Begitulah. Sejak menyeberang dengan kapal ke Semarang, terus ke Jakarta, menyampari kakak-adik dan ponakan di Bengkulu, saya tabalkan hati berpuasa. Pokoknya berpuasa, Bismillah. Seperti biasa, mula-mula lambung perih. Tapi, ingat pesan Shadiqien, ‘menjaga puasa’, rasa perih ditahan. Biar saja, toh tak akan mati juga.
 
Maha Suci Allah, Subhanallah, ketika bertemu isteri dan keluarga besar di Padang, pertanyaan: “Tahanlah puasa?”, saya jawab gagah, “Alhamdulillah, tidak bocor sekalipun”. Mereka tercengang tak percaya, tapi begitulah kenyataannya. Padahal, banyak dokter didatangi untuk urusan yang satu ini. Ternyata, Allah melalui Shadiqien, memberi pengobatan amaliah dengan cara sangat sederhana, puasa.
 
Saudaraku seiman, jika kalian menderita maag, cobalah terapi yang satu ini: Yakinkan diri, meminta pada Allah SWT agar sembuh dan berpuasalah dengan total. Insya Allah, pertolongan-Nya akan didapat. Sekarang, keluhan maag hampir tidak ada lagi. Mudah-mudahan pian mendapat berkah sedemikian. Amin.

Kemerdekaan Sejati
Pengantar pengalaman di atas, bagi saya adalah penabal keyakinan, bahwa di atas segala ‘teori kehidupan’, ada hal yang tidak terjangkau kemampuan manusia. Mungkinkah dengan berpuasa, berperut kosong yang secara teoritis kesehatan berakibat terjadi gesekan-gesekan tanpa obyek di usus-lambung akan mengakibatkan pendarahan, justeru menjadi penyembuh?. No way, kawan. Tapi, kenyataan membuktikan lain bilamana percaya ke-Agung-an Allah.
 
Uraian Ary Ginanjar Agustian, bahwa dalam membangun ketangguhan pribadi, setelah kita memahami ‘kekuatan’ syahadat, sholat, ternyata puasa juga sungguh dahsyat. Dengan berpuasa kita mengendalikan diri bermuara pada:
 
Pertama, Meraih Kemerdekaan Sejati. Selama ini, mungkin saja, kita memahami puasa sebagai sarana merasakan betapa ‘menderitanya’ lapar, haus agar kita merasakaan kebersamaan sosial dengan orang kurang beruntung atau sekedar melatih diri menjauhkan diri dari hawa nafsu. Tentu saja hal sedemikian tidak salah, namun lebih banyak lagi hikmah kandungannya.
 
Tujuan puasa menahan diri dari belenggu nafsu dunia, dari nafsu batiniah yang tidak seimbang, pada hakekatnya tujuan akhirnya dari pengendalian diri yang dilatih itu adalah, untuk mencapai keberhasilan, agar mata rantai belenggu diri yang menutup hati nurani, God-Spot, dapat dilakukan. Agar, kejernihan suara hati, Asmaul Husna dapat ‘dioperasikan’ dalam kehidupan.
 
Puasa menempatkan kita pada ‘kemerdekaan hati’, menjaga kesucian hati nurani. Merdeka dari belenggu-belenggu yang menjadikannya hitam, hingga ‘kesucian’ hati berian Allah tidak tertutup. Dengan demikian, pada setiap langkah kehidupan kita dapat melakukan apa saja dengan bimbingan suara hati, sesuatu yang suci, yang diberikan Allah SWT.
 
Kedua, Memelihara God-Spot. Berpuasa tanpa niat (tujuan) adalah kesia-siaan. Sebagai Rukun Islam ke 3, puasa didahului syahadat dan sholat. Tujuan puasa dalam pengendalian diri berarti untuk menjaga fitrah berpikir agar tetap memiliki kejernihan hati sekaligus menjadi pelatihan agar tidak menghambakan diri selain kepada Allah Yang Maha Esa.
 
Dengan berpuasa berarti kita ‘membuang’ segala sifat buruk, marah, dengki, iri, congkak dan saudara plus saudara sepupunya. Menahan diri dan menjauhkan dari hal-hal sedemikian, berarti kita memelihara God-Spot, milik Allah yang dititipkan kepada kita agar kita dituntun oleh suara hati sendiri.
 
Ketiga, Mengendalikan Suara Hati. Tidak usah diperdebatkan lagi, suasana hati ‘berkuasa’ atas wawasan, pikiran dan tindakan seseorang. Kalau sifat marah terpantik, bawaan garang, tersinggung sedikit bisa berakibat fatal. Rasionalitas, kasih sayang, saling memaafkan akan digeser oleh pembenaran-pembenaran kemarahan. Bahkan, kemarahan bisa menjadi segala-galanya, hingga hal-hal kecil bisa menjadi sangat serius. Bila demikian, pikiran jernih akan menjauh. Kita sering mendengar, hal sepele saja bisa berujung pada pembunuhan.
 
Saudara, dengan berpuasa kita sekaligus mengendalikan suasana hati yang dapat ‘membimbing’ pikiran dan tindakan hingga tidak terbawa kepada kelakuan ‘menyimpang’. Kalau hati terkendali, terbimbing kesucian hati, kehidupan ini akan dirasakan damai. Itulah salah satu keutamaan puasa, memelihara kesucian suasana hati.
 
Keempat, Meningkatkan Kecakapan Emosi Secara Fisiologis. Ibadah puasa tidak pelak lagi melatih pengendalian diri dari emosi apa saja. Ibarat ada kemauan atau kesempatan melakukan apa saja, kita akan berpikir dulu sebelum mengambil tindakan, pikir itu pelita hati. Kemampuan menahan diri, berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu, apalagi dilatih sejak kecil, akan menjadikan kita manusia tangguh.
 
Orang yang mampu menahan diri akan tahan menahan tekanan emosi, tekanan kehidupan, tidak mudah meledek-ledek atau memaki orang, melakukan sesuatu berdasarkan perhitungan baik-baik. Artinya, dia mampu menimbang-nimbang hingga hasil kerjanya lebih baik dan lebih sempurna. Dengan kata lain, berpuasa akan meningkatkan kecakapan emosi dan spiritual.
 
Kelima, Pengendalian Prinsip. Dari paparan di atas, berpuasa bukan hanya berarti menahan diri dari nafsu makan, minum dan amarah saja tetapi terlebih pengendalian diri agar selalu di jalur fitrah hingga kita dapat memelihara kecerdasan emosi yang tinggi. Dengan kata lain, kita ini telah dibekali ‘sistem pengendali’ diri yaitu suara hati, suara hati sebagai pedoman pikiran dan tindakan.
 
Dengan demikian kita dapat menjaga dan mengendalikan prinsip iman kepada Allah, kepercayaan, kepemimpinan, pembelajaran, visi, dan keteraturan. Berpuasa menjaga dan menjamin agar kita selalu berada pada orbit yang benar, orbit Ilahiah. 

Metoda Fitrah Diri
Ringkasnya saudara, tulis Ary, puasa adalah suatu metode pelatihan untuk pengendalian diri. Puasa bertujuan untuk meraih kemerdekaan sejati dan pembebasan dari belenggu nafsu yang tak terkendali. Puasa yang baik akan memelihara aset kita yang paling berharga, yaitu fitrah diri. Disamping tujuan puasa yang lainnya adalah untuk meningkatkan kecakapan puasa secara fisiologis dan pelatihan untuk menjaga prinsip-prinsip yang telah dianut berdasarkan Rukun Iman.
 
Dengan demikian, dimana dalam hitungan hari ke depan, rindu kita akan terobati dengan datangnya Ramadhan, marilah kita sambut dengan riang gembira. Mudah-mudahan kualitas berpuasa dengan niat dan tujuan tajam akan membuahkan kualitas iman dan kefitrahan sempurna.
 
Akan sangat membahagiakan dan membanggakan manakala dari Ramadhan ke Ramadhan kita makin dapat menggali dan mengambil manfaat sempurna ibadah Ramadhan, berpuasa. Semoga Allah memberkati kita semua. Amin.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?

Post a Comment