Membangun Visi Misi Kehidupan

26 November 2006 | Ditulis oleh: |

Ketangguhan pribadi adalah refleksi pemahaman atas keyakinan akan tujuan hidup yang pasti.
Ersis Warmansyah Abbas

Ketika ESQ Training baru digelar di Banjarmasin, teman-teman pada ‘bergaya’ meniru-meniru Ary Ginanjar Agustian. Bahkan, sampai dini hari ada yang mencoba marasai berbicara ala Ary pakai mik segala macam sembari menyeting peralatan di Ballroom Restaurant Grand Palace Banjarmasin. Hasilnya? Banyak juga sih yang rada mirip-mirip, misalnya Erwin, Ogi, Dody, Heru, Jaya dan seorang pegawai Grand. Saya tidak mau ikut.Diantara mereka, Heru yang paling tinggi keyakinannya dan memang mantap sebagai ‘assistant trainer’ spesialis games. Adapun Dharmawan Jaya Setiawan (Jaya) lebih slow. Beberapa kali konsultasi dengan saya, nampaknya dia ingin ‘seperti’ Ary. Saya tidak sampai hati mengatakan, Ary belajar sampai S2, khusus trainer. Pengetahuan psikologi, strategi training dikuasainya sempurna plus pengetahuan agama bagus.
 
Kepada Jaya —memberi semangat— saya katakan: “Menjadi trainer itu gampang. Saya bisa lebih hebat dari Ary. Sebagai dosen atau penceramah sering membuat audiens terharu dalam”. Saya tandaskan, “Kamu bisa lebih hebat. Masalahnya pian kada mengkhususkan diri, Ary itu pekerjaannya”.
 
Alhasil, setelah melalui proses, setelah PP ESQ dikomandoi Husin Naparin melakukan ‘pengenalan singkat’ ESQ, ke instansi-instansi, Jaya tampil sebagai ‘trainer’. Sekalipun tidak punya waktu melihat penampilannya, pada penampilan pertama di Bappeda Kalsel, dia mampu menyentuh urat syaraf emosi peserta, tersadar menangis minta ampun pada Allah SWT. Bahkan, di Borneo Swiss-bellhotel membuat peserta semaput saking tersentuh.
 
Introdusir di atas segaja saya buat, bahwa banyak hal dalam kehidupan bermula dari percaya diri karena mempunyai pegangan prinsip, keyakinan, hingga kita mantap melakukan sesuatu. Kalau kita yakin diri, tidak akan ragu, tidak takut, tidak terpengaruh mengaplikasikan keyakinan. Kita merdeka dari belenggu-belenggu persepsi bahwa kita tidak bisa.
 
Kepercayaan diri dengan visi-misi yang mantap dapat dimotivasi dan dilatih. Kasus Jaya yang ‘punya mimpi’ (Visi) ketika ada keraguan, ya dia jadi Hamlet-nya William Shakespiere tetapi begitu dia yakin, ketika dilakukan, menjadi dorongan maha dahsyat. Dia mau dan mampu. Persis seperti keyakinan kita pada Allah SWT. Sekali kita mengucapkan la illaaha illaallah maka Dia-lah segalanya. Sumber pendorong keyakinan abadi di diri kita
.
Mision Statement
Menurut Ary, untuk sampai kepada ketangguhan pribadi kita harus mempunyai keyakinan yang tinggi. Disitulah rasa aman bermula, mempunyai pedoman yang jelas, menikmati kehidupan dalam keyakinan, berpijak pada fondasi tauhid menjadi pekerja keras sebagai tugas suci. Kesemua itu berasal dari internalisasi Rukun Iman dan dengan mantap menetapkan misi kehidupan.
 
Pertama, Membangun Misi Kehidupan. Sebagai Muslim selayaknya kita menetapkan visi kehidupan, akan hidup selama-lamanya di dunia ini atau kehidupan dunia hanya perantara untuk kehidupan abadi di akhirat nantinya. Dari visi itu akan terjelas, kita akan mencari harta dunia atau segalanya kita persiapan untuk pulang ke kampung halaman?
 
Dari situ kita formulasikan penetapan misi (mission statement) yang sesuai dengan kaidah Islam. Jangan sampai meniru gaya Hitler, Mussolini atau Stalin dengan visi dan misi yang begitu kuat, tetapi berakibat kehancuran. Misi kehidupan kita adalah, selamat di dunia dan bahagia di akhirat, “Carilah harta sebanyak-banyaknya seolah-olah kamu hidup selama-lamanya dan carilah pahala seolah besok pagi kamu akan mati”. Tujuan kehidupan kita adalah perjumpaan dengan Allah SWT di akhirat.
 
Kedua, Membulatkan Tekad. Kita mengawali dengan syahadat yang merupakan sebuah kekuatan visi, memulai dengan tujuan akhir, masa depan dengan keyakinan. Keyakinan bersyahadat apabila ditanamkan kuat-kuat akan mendorong jiwa untuk mencapai visi dan menjadi upaya konkret untuk mewujudkan visi.
 
Misi diikrarkan dalam bentuk syahadat sehingga membulatkan tekad dan komitmen yang kuat, berupa perjanjian yang mengikat antara manusia dan Allah SWT. Ini akan memunculkan keberanian, keyakinan, optimisme, dan ketenangan bathin.
 
Ketiga, Membangun Visi. Membangun visi kehidupan dimulai dari dalam diri setiap orang, setiap orang punya impian tentang hidup, yang tinggi, yang hebat, yang wah. Pokoknya ada gantungan harap. Nah, hal sedemikian akan menjadi daya dorong berbuat sesuatu yang hebat. Harap diingat, pada awalnya orang ke bulan hanyalah impian cerita komik tapi didukung ilmu pengetahuan akhirnya manusia sampai juga ke bulan.
 
Dalam pemahaman agama Islam, Dua Kalimat Syahadat, adalah langkah kebenaran dalam membangun wawasan dan persepsi tujuan akhir kehidupan atau visi. Syahadat membangun persepsi tentang Tuhan Yang Maha Tinggi yang ditransformasikan melalui Muhammad SAW.
 
Keempat, Menciptakan Wawasan. Laa ilaaha Illaallah adalah syahadat dalam proklamasi akan mendominasi pikiran, hati dan tindakan manakala selalu dan selalu diucapkan dalam setiap gerak kehidupan, eling. Dengan eling, dalam pengertian ini, kita akan terbebas menghambakan diri kepada apapun dan siapapun; harta, kemewahan, jabatan apalagi hanya pujian manusia, kesemua itu fana belaka.
 
Dengan syahadat, dari dalam sumber keyakinan akan melahirkan ketenangan, percaya diri, integritas, motivasi dan kebijaksanaan karena semua itu berasal dari Allah, Asmaul Husna. Dengan kata lain, dalam berkomunikasi dengan diri sendiri, kita menyentuh energi paling abadi, energi Allah yang ‘dititipkan’ pada kita.
 
Kelima, Transformasi Visi. Syahadat “Aku bersaksi Muhammad utusan Allah”, adalah bentuk transformasi visi untuk membumikan sifat-sifat Allah di permukaan bumi. Asmaul Husna yang dipraktekkan Muhammad SAW merupakan teladan, memudahkan kita mempraktekkan Asmaul Husna dalam kehidupan sehari-hari.
 
Transformasi macam begini jauh lebih penting dari sekedar pengetahuan. Artinya, bisa saja kita menghapal Asmaul Husna atau petunjuk lainnya dalam pemikiran dan ujaran, tapi kalau tidak dipraktekkan dalam kehidupan, ama aja boong. Prakteknya yang menjadi tuntutan ril kehidupan, baik secara pribadi maupun sosial.
 
Keenam, Komitmen Total. Pada tingkat ini, syahadat jangan diartikan dalam bentuk pengucapan tetapi menjadi bagian diri yang mampu menyentuh titik Allah, hati nurani manusia, Asmaul Husna, dan diaplikasikan dalam kehidupan riil. Pemusatan pemikiran dan aktivitas yang terekam di God-Spot akan bersinergi secara dahsyat dalam pengertian dapat didayagunakan menjadi pendorong energi kehidupan sebab dia bersumber dari yang hak, tidak melawan arus kekuatan Sang Pencipta.
 
Dengan kata lain, komitmen menjadikan kita seorang Muslim manakala diaplikasikan sesuai dengan hakekat makna syahadat. Kita sudah mengucapkan dan beraktivitas berdasarkan syahadat, tetapi barangkali perlu ditingkatkan.

Ketangguhan Pribadi
Menurut Ary, menuju ke Ketangguhan Pribadi melalui mission statement, character building, dan self controlling. Yang dikemukakan di atas adalah bagian awal dari tiga serangkai langkah. Ketangguhan pribadi didapat apabila memang keyakinan kita akan eksistensi Allah dipahami secara tepat. Pemahaman akan membuat dorongan untuk yakin, berani, tegas, kuat, arif, santun, dan seterusnya, sesuai tempatnya.
 
Kembali ke introdusir tulisan di atas, ketika seorang ragu-ragu akan apa yang dilakukan adalah cerminan keyakinan. Di dunia itu tidak ada yang susah atau kesusahan tidak ‘diturunkan’ Allah. Yang menjadikan segala sesuatu susah, ya manusia itu sendiri. Sunatullah adalah pelindung abadi manusia manakala mampu dimengerti dan dimaknai.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. One Response to “Membangun Visi Misi Kehidupan”

  2. By ron2000 on Nov 9, 2007 | Reply

    pemahaman yang bijak

    ***Alhamdulillah. Dah baca Nyaman Memahami ESQ ya. Tolong juga dikritik. Trims.

Post a Comment