Membangun Mental
26 November 2006 | Ditulis oleh:Mampu mendengar suara hati, berkomunikasi dan menyamakan frekuensi suara hati adalah jalan menuju mental hanif.
Ersis Warmansyah Abbas
Tahapan penjernihan emosi (zero mind process), membersihkan belenggu-belenggu pikiran, bermu-ara pada ‘mendapatkan’ kembali suara hati, suara hati yang jernih, pantulan keyakinan, semua hal ke rujukan paling afdol, prinsip dasar abadi, prinsip keesaan, laa illaha Illallah. Dipraktekkan Harun, dalam berusaha, dalam perjalanan hidup demi berjalan di garis ridho Allah.Inilah yang akan membawa kita berpikir ‘merdeka’ hingga bebas berkreasi dalam tuntunan dan bimbingan suara hati, suara keilahian. Pengembangan berpikir, bukan dirujukkan pada hal apapun, kecuali keyakinan kepada Allah Yang Ahaad.
Apabila kejernihan hati sudah digenggam, kita melangkah ke hal aplikatif untuk diri, membangun mental. Membangun mental berarti proses aktif kreatif ‘membangun diri’ melalui enam prinsip berdasar Rukun Iman, mental hanif, hingga mampu mendengarkan bisikan suara hati iliahiah.
Prinsip Bintang
Prinsip Bintang (Star Principle) sebagai pegangan hidup dalam kandungan Iman Kepada Allah, sekaligus menjadi penangkal belenggu-belenggu suara hati, adalah ‘radar hati’ yang mampu ‘membaca’ suara hati yang juga dipunyai orang lain. Hal itu mungkin terjadi manakala kita mampu memahami sifat-sifat Allah sebagai suara hati.
Pertama, beriman Kepada Allah Yang Ahaad, akan menancapkan rasa aman hakiki. Rasa aman bukan digantungkan pada hal-hal keduniaan; harta, jabatan, pangkat, kesehatan, orang tua, anak isteri atau teman. Kita tidak akan terlambung senang karena yang baik, tidak mati terpuruk karena kejelekan; tidak berhasil, tidak kaya, tidak dihargai orang, dan seterusnya. Rasa aman, bergantung pada Allah SWT, yang menentukan keselamatan manusia.
Kedua, beriman Kepada Allah akan menimbulkan kepercayaan diri prima. Sesungguhnya manusia –dan apapun– hanya ‘ditentukan’ oleh Allah SWT. Manusia, sehebat apapun, tidak akan mencapai prestasi apapun, atau tidak terjerumus apapun, tanpa ikut ‘campur tangan’ Allah.
Kepercayaan diri yang muncul dari diri, melihat manusia sebagai manusia, karena prinsip keesaan Allah. Allah pusat kepercayaan diri. Kita tidak akan tergoda menghamba-hamba pada Walikota, Gubernur, Presiden, Ilmuwan, Orang Kaya, atau apapun, kecuali kepada Allah. Kita percaya, bahwa kita diberi potensi, kemampuan, pikiran dan segala hal yang dipunyai manusia sebagai ‘pinjaman’ dan amanah Allah. Karena itu, tidak sombong sesama manusia. Allah memang melebihkan sebagian dari yang lain. Menghormati manusia dalam hubungan sosial bukan berarti ‘menuhankan’ manusia.
Ketiga, beriman kepada Allah memperkokoh integritas, karena percaya dan bersandar pada Allah sehingga secara utuh memiliki potensi dan kemampuan tangguh. Dalam perilaku dimanifestasikan tanpa ragu, tanpa takut, berani mengambil resiko, dengan tuntunan kepercayaan tunggal kepada Allah.
Keempat, beriman kepada Allah menimbulkan kebijaksanaan, melihat segala sesuatu secara seimbang. Merujuk Asmaul Husna, dorongan dan keinginan ditimbang dengan suara hati hingga bersikap adil dan bijaksana, merupakan kesatuan tauhid, prinsip esa, hasil tawaf suara hati.
Kelima, beriman kepada Allah membangkitkan motivasi. Allah mempercayai manusia sebagai khalifah di muka bumi. Manusia memiliki sifat-sifat mulia, sebagai modal keberhasilan. Peliharalah cita-cita besar, berpikir hebat, untuk meraih kesejahteraan dan kemuliaan. Manusia adalah ciptaan Allah yang sempurna, memiliki fungsi Rahmatan lil Alamin.
Prinsip Malaikat
Prinsip Malaikat (Angel Principle) berdasarkan Iman Kepada Malaikat dengan mencontoh ‘prilaku Malaikat’. Prinsip Malaikat, dengan modal kepercayaan sebagai makhluk Allah yang melakukan pekerjaan sebaik-baiknya dengan sepenuh hati, setia, tuntas, berhasil bagus, memuaskan, dijalankan dengan disiplin tinggi, dengan prinsip tunggal, berpegang kepada Allah SWT.
Pertama, Malaikat memiliki integritas dan loyalitas sempurna, juga barangkali, diciptakan sebagai ‘contoh’ bagi manusia dalam hubungan vertikal dengan Allah. ‘Perilaku’ Malaikat itu yang harus dicontoh, terutama dalam membangun mental. Meniru loyalitas Malaikat, yaitu kesetiaan pada prinsip, mengabdi pada Allah. Loyalitas digandengkan dengan integritas yang muncul dari kesadaran diri terdalam. Integritas tidak menipu, tidak berbohong, tidak pamrih, hanya bersahabat dengan suara hati, suara Allah. Meniru sikap malaikat berarti memiliki tingkat loyalitas tinggi.
Kedua, kita belajar pula tentang selalu punya komitmen, misalnya, bila berjanji, janji dipenuhi. Menepati janji adalah langkah emas meraih kepercayaan, bahkan janji kecil yang ditepati bermuara pada kredibilitas, sebaliknya tidak menepati janji berarti memupus kredibilitas.
Berjanji berarti menarik suara hati orang lain menjadi sebuah harapan. Kalau janji sudah dikatakan, tidak ditepati, tidak sesuai komitmen, kita menarik energi orang lain tanpa mengembalikannya, merugikan energi orang lain dan berbuah runtuhnya kredibilitas diri, tidak punya komitmen. Kalau hal itu terjadi, bisa menjadi manusia yang punya komitmen yang kuat.
Ketiga, biasakan memberi kepada orang lain, memberi penghargaan, perhatian tulus, mendengarkan orang bicara, membuatnya jadi penting, minta maaf bila salah, berterima kasih, memuji, mengerti perasaannya, dan mengucapkan salam.
Kebiasaan sedemikian, memiliki kebiasaan untuk mengawali dan memberi, sungguh akan berbuah simpati, yang akan berbalik membuat orang akan berbaik hati, memperhatikan, dan memberikan apa yang kita harap, bahkan yang tidak kita duga-duga.
Keempat, menolong orang yang dalam kesusahan, membantu yang sedang memerlukan pertolongan, memberi suport yang membutuhkan nasehat, memberikan solusi bagi yang dilanda masalah adalah sikap mulia yang perlu ditegakkan.
Jangan kita justeru ketawa ketika orang ditimpa musibah, bersyukur manakala saudara dalam kesusahan, tidak mau berbaik ketika orang memerlukan kebaikan. Adalah sebuah kekeliruan besar manakala kita berprinsip, dapat hidup sendiri tanpa pertolongan orang lain, karena itu tidak perlu menolong. Menolong adalah investasi kemanusiaan yang buahnya akan dipetik tanpa kita ketahui.
Kelima, sikap saling percaya. Manusia memerlukan manusia lainnya, saling memberikan kepercayaan, bukan saja agar dapat melakukan sesuatu dengan kepercayaan tinggi tetapi kepercayaan adalah modal psikologis seseorang berprestasi.
Bayangkan kalau seseorang isteri, suami, bapak, anak, saudara, teman, rekan bisnis, pemimpin, bawahan, atau apalah namanya, tidak saling percaya, bagaimana kita melakukan sesuatu?. Akan ada rasa was-wasa, ragu-ragu, merasa akan bersalah yang pada akhirnya mengakibatkan tidak dapat bekerja dengan tenang, dan … tidak akan mencapai prestasi yang baik. Saling percaya adalah modal kesuksesan hubungan manusia dengan manusia.
Prinsip Kepemimpinan
Prinsip Kepemimpinan (Leadership Principle) aplikasi Iman Kepada Nabi dan Rasul. Setiap manusia adalah pemimpin, ‘status’ yang harus dipertanggungjawabkan. Sebagai pemimpin, baik dalam skala kecil (rumah tangga) apalagi yang lebih luas (masyarakat), tentu saja dituntut adanya (memiliki) prinsip kepemimpinan, yang memungkinkan menjadi pemimpin besar, pemimpin yang berpengaruh.
Pemimpin yang baik, dalam pandangan Muslim, yang telah dibuktikan secara ilmiah dan kajian psikologi kepemimpinan, sebagaimana dilaksanakan Nabi Muhammad SAW, adalah contoh kepemimpinan yang sempurna.
Pertama, pemimpin yang baik, berarti menjadi pemimpin yang dicintai. Internalisasi Ar-Rahman dan Ar-Rahim, membawa pada sikap mengerti dan menghargai orang lain. Teknik memberi senyum, mengangguk, memberi pujian, tidak lebih sekedar pelengkap. Dengan mencontoh Nabi Muhammad SAW kita menuju kepemimpinan yang abadi.
Pemimpin yang tidak hanya mengandalkan wibawa atau ditakuti, tidak pula hanya berlandaskan prestasi, kekayaan, atau SK. Tapi, karena memang dicintai, dicintai oleh yang dipimpin, pantulan saling memberi, mencintai dan dicintai.
Kedua, menjadi yang dicintai karena dipercaya. Dipercaya karena punya integritas, komitmen, yang melahirkan kepercayaan, karena jujur, melakukan apa yang diucapkan, bukan mengucapkan apa yang dipikirkan. Pemimpin dicintai bukan yang hanya mampu memerintah tetapi mampu membuat orang bekerja karena dia yakin untuk kebaikan, untuk yang dicintai. Sesuatu yang dipercayai, untuk orang yang dipercaya.
Ketiga, menjadi pemimpin bukan saja berarti berkuasa, dengan kekuasaan memerintah orang lain. Tetapi, dengan kekuasaan mampu memberi dorongan, motivasi, tauladan, mengarahkan, pembimbing. Pancaran integritas, komitmen dan konsistensi yang dilandasi kejernihan hati, mampu ‘menempatkan’ diri pada orang yang dipimpin, mampu merasakan apa yang dirasakan, kegalauan dan kesenangan orang lain, menjadi satu dalam artian perasaan dan pemikiran. Pemimpin bukanlah terasing dengan kelebihan sendiri, pemimpin berarti pembimbing yang dicontoh.
Keempat, tentu saja, menjadi pemimpin, omong kosong tanpa kepribadian yang baik dan tangguh. Pemimpin yang baik bukanlah yang egois, tetapi demokratis. Mampu dan mau mendengar dan menerima masukan, kritik dan kebaikan dari manapun datangnya, mencegah yang mungkar, melawan kebathilan.
Pemimpin paripurna adalah orang yang mampu melawan dirinya sendiri, sebab dengan demikian dia akan mengenal dan memahami orang lain. Kepemimpinan berati mampu menyatukan hati dan perasaan bersama, menyatukan visi dan perbuatan. Tepatnya, pemimpin yang berkepribadian.
Kelima, pada tingkat lanjutan, pemimpin –seperti dicontohkan Nabi Muhammad SAW– adalah pemimpin yang gabungan intelektual dan spiritual, dengan prinsip mengarahkan pada kebenaran, kebaikan, kemajuan dan keberhasilan. Pemimpin yang dituntun suara hati keabadian, suara Allah, menjadi pemimpin yang abadi.
Prinsip Pembelajaran
Prinsip pembelajaran (Learning Principle) adalah aplikasi Iman Kepada Al-Quran. Menyadari prinsip pembelajaran mendorong kepada kemajuan. Pembelajaran, baik untuk diri sendiri, ataupun lainnya adalah garansi kesuksesan bersama, modal mencapai tujuan, changge in progress.
Pertama, Kebiasaan membaca literatur dan situasi, membuka peluang untuk mendapatkan ilmu, mencari ‘kebenaran’ yang bersumber dari Allah. Adalah orang-orang yang biasa berpikir keras atau mempelajari situasi dan kondisi dengan cermat dan ‘mendalam’ akan mendapatkan ilmu dan kearifan. Kebiasaan membaca, tidak saja mengenal diri, lingkungan, tetapi terlebih dapat membaca tanda-tanda kebesaran Allah hingga keimanan makin kuat dalam tataran pengabdian kepada Allah. Itu pulalah kiranya, Allah menurunkan ayat pertama, Iqra’ iqra’ iqra bis Mirabbika.
Kedua, dengan membaca apa saja yang ada di alam, baik yang tersurat maupun yang tersirat, memungkinkan orang cerdas secara intelektual tentang banyak hal, ekonomi, kimia, fisika, piskologi, antariksa, dan sebagainya. Kesemua itu menjadikan berpikir kritis, tidak terjerumus takliq buta.
Orang-orang yang membaca, orang-orang berilmu, kritis dan menggunakan akal, merenung, adalah orang-orang yang diridhoi Allah, asalkan didasarkan pada keyakinan pada Allah demi mencapai kemaslahan di dunia dan di akhirat.
Ketiga, apabila tangkas membaca, mempunyai bacaan luas, selalu membelajarkan diri, menguatkan kemampuan evaluasi, analisis hingga berbagai kemajuan di segala bidang lebih mungkin dicapai. Apapun pemikiran dan pekerjaan, apabila dievaluasi secara tepat, kita dapat melakukan perbaikan dengan cara yang tepat pula. Pekerjaan tanpa evalusi sangat sulit untuk mencapai hasil sempurna.
Keempat, kesempurnaan pemikiran, hasil berpikir, pekerjaan, kreativitas, untuk mencapai prestasi dengan pembelajaran dilakukan pada setiap tingkat dan jenjang. Artinya, menyempurnakan sesuatu melalui kebiasaan, kebiasaan menyempurnakan. Apabila sudah terbiasa, dengan mengakui segala kekurangan dan kelemahan, kita melakukan penyempurnaan bersamaan dengan pekerjaan.
Kelima, akhirnya –ini yang paling penting– dengan berpedoman tunggal kepada Al-Quran kita memiliki literatur sesungguhnya yang tidak mungkin keliru pada tingkat apapun. Dengan demikian kita mempunyai pedoman yang abadi.
Prinsip Masa Depan
Prinsip Masa Depan (Vision Principle) adalah pemahaman Iman Kepada Hari Kemudian. Dengan memiliki prinsip masa depan berarti memiliki visi yang jelas, clear and distringtly, tidak campur baur, visi tunggal, kepada Allah SWT.
Seperti telah diintrodusir pada bagian terdahulu, pembangunan visi harus didukung prinsip Bintang, Malaikat, Kepemimpinan, dan Pembelajaran. Apabila sudah berangkat dari kekokohan prinsip-prinsip dimaksud, maka kita akan mudah membangun visi yang benar.
Pertama, berorientasi pada tujuan akhir. Tujuan-tujuan jangka pendek dan menengah untuk mencapai tujuan akhir. Orang-orang yang cepat kalah, mentok sana-sini, frustasi, apalagi hanya untuk mengatasi masalah atau pekerjaan sehari-hari, adalah pertanda tidak kuat bersandar pada tujuan yang jelas. Suara hati sebagai energi mencapai tujuan menjadi mati.
Kembangkan dan pergunakan energi suara hati, direncanakan, ditelaah, diperbaiki setiap pekerjaan hingga ‘harapan’ sukses demi mencapai tujuan menjadi manusia melakukan sesuatu.
Kedua, optimalisasi upaya dalam arti memahami mencapai tujuan akhir tak lepas dari apa yang dikerjakan hari-hari. Dalam hal ini fokuskan upaya untuk melakukan sesuatu dengan sempurna penuh keyakinan, optimistis. Dengan keyakinan penuh, apalagi dikonsep dalam bentuk harapan, orientasi pencapaian tujuan akan lebih fokus.
Ketiga, kendali diri dan sosial berdasarkan kesadaran akan hari kemudian adalah pendorong untuk berbuat sebaik-baik agar ‘tiket’ hari kemudian didapat. Dengan demikian, apa yang dilakukan bukan berhenti pada ‘terminal’ dunia tetapi nanti untuk hari kemudian.
Keempat, beriman pada hari kemudian berarti kita memahami tahap-tahap kehidupan, alam Dzuriah, alam nyata, alam akhirat. Keyakinan sedemikian dan berbuat sebaik dan sekuatnya untuk hal-hal baik di dunia, membawa kita kepada rasa jaminan masa depan, hari kemudian.
Kelima, dengan demikian kita mendapatkan ketenangan batiniah, tiada lagi keraguan ke tujuan akhir. Pikiran mantan, perasaan aman, batin tenang, hingga dapat menjalani kehidupan dunia dengan ‘riang gembira’ tanpa keraguan, tanpa ketakutan, yang berbuah ketenangan batiniah.
Prinsip Keteraturan
Prinsip Keteraturan (well organized principle) menciptakan sistem dalam kesatuan tauhid, prinsip esa dalam berpikir dan bertindak berarti Iman Kepada Ketentuan Allah.
Pertama, memiliki kesadaran, ketenangan dan keyakinan dalam kehidupan karena memahami akan kepastian hukum alam, sunnatullah. Hukum alam bukanlah terjadi dengan sendirinya tetapi telah diatur Allah SWT.
Ketentuan hukum Allah adalah mutlak adanya, kita memahami dengan nalar dan keyakinan hingga dalam kehidupan ‘meniru’ serba keteraturan dalam suatu sistem, berpedoman kepada ketentuan Allah berdasarkan keyakinan Allah Yang Maha Mengatur.
Kedua, kepastian hukum sosial dalam hubungan manusia yang terlihat dari gejala-gejala sosial, baik penjelasan dan solusinya telah ada formulanya dalam Al-Quran. Alangkah tepatnya, jika dalam mensolusii masalah sosial dengan bijaksana, bukankah itu dari suara hati, Asmaul Husna, Allah Yang Maha Bijaksana?.
Dengan demikian, pendekatan ilmu pasti (sunnatullah) untuk ilmu sosial, keyakinan bahwa kepastian masa depan manusia berdasarkan ketetapan-ketetapan sosial yang telah ditentukan Allah membimbing rencana atau tujuan secara jelas, tepat, dan pasti?
Ketiga, pemahaman arti proses ketentuan yang dipelajari dari sunnatullah, keteraturan, seluruh unsur alam bergerak sesuai keteraturan. Tidak ada sesuatu yang terjadi karena memang terjadi, tetapi sesuatu melalui proses. Manusia bukanlah punya kuasa seperti Allah SWT, kun fayakun.
Keempat, orientasi pembentukan sistem-prinsip sinerji adalah ‘hasil’ pembelajaran atas sistem alam, keteraturan, dari yang terkecil (atom) sampai bagaimana planet berputar, bukankah diciptakan agar manusia dimudahkan dalam mengelola dan memelihara ‘alam’ sebagai petunjuk misi khalifah mencapai rahmatan lil alamin?.
Kelima, orientasi pemeliharaan sistem-menjaga sinergi dalam arti sistem alam adalah pelajaran bagi manusia dalam hidup dan kehidupan, sistem-sistem yang dibentuk berdasarkan pencontohan, dipelihara agar bergulir menuju tujuan. Amsal Allah menjaga sistem alam raya berdasarkan sunnatullah adalah teladan mutlak manusia menjaga sistem yang benar, berdasarkan hukum-hukum Allah.
Bagaiman menurut Sampeyan?.








