Membangun Karakter Islamis

26 November 2006 | Ditulis oleh: |

Sholat adalah pengalaman fisik dan bathin yang bermakna bak lautan tak bertepi.
Ersis Warmansyah Abbas

Pelaksanaan ESQ Training di Banjarmasin, merupakan penga-laman berharga —terlepas ada beberapa hal yang tidak disukai. Makin banyak teman atau bertemu teman lama yang ‘hilang’. Sebagai perantau, saya menempatkan teman sebagai ‘kekayaan’ dan banyak belajar dari rupa-rupa orang.Begitulah. Trainer pertama bernama Legisan Sugimin. Bukan apa-apa, jujur saja, saya terkagum. Ketika Legisan membaca atau menerjemahkan Al-Quran, kesan saya, sangat ‘berisi’. Setelah bicara panjang lebar, baru hooh … dia tamatan IAIN dan telah S2. Saya jadi ingat Prof. DR. A. Sanusi, MPA, pembimbing di pascasarjana. Kalau bicara dengannya, kesemrautan pikiran, tekanan emosi, hilang begitu saja. Nyaman rasanya.
 
Dalam pergaulan, kita sering ketemu orang yang kalau bicara membeban, membuat pikiran ruwet, membicarakan dan menilai orang lain, mengeluh atau protes melulu. Padahal, yang kita butuhkan suasana relaks yang membuat rindu bertemu. Teman yang baik adalah teman yang menyederhanakan masalah bukan mengeksport masalah ke benak temannya.
 
Adalah Achmad Norsidi, pegusaha populer, pemilik Mawar Taylor, yang mempraktekkan prinsip-prinsip Islam dalam bisnisnya. Seluruh karyawan wajib menunaikan sholat, mengadakan pengajian secara teratur sampai memfasilitasi karyawan naik haji. Hidup ini harus disandarkan pada ridho Allah SWT, katanya. Tidak heran penampilan atau kebersuaan dengannya tidak membeban. Santun, familiar dan suka menolong sesama.

Relaksasi
Ketika membaca buku Ary, saya mengamini ketika dia menempatkan relaksasi sebagai bagian pertama pembangunan karakter (character building). Hidup ini, bisa jadi, semakin sumpek dan membuat stress. Sebagai PNS gaji tidak memadai, kebutuhan makin banyak. Sebagai pengusaha ada saja kendala menghadang, jauh dari yang diimpikan. Kemunafikan dimana-mana, antara yang diharapkan makin menganga dengan kenyataan. Para pemimpin berpidato dan janjinya bagus-bagus, tetapi kondisi kehidupan makin ruwet.
 
Celakanya, irama kehidupan makin sarat. Keinginan melangit yang didapat keminusan. Tekanan pikiran makin menjadi, emosi jadi terpantik. Kesal, lesu, sampai frustasi merupakan ‘penyakit’ modern yang kejam dari kanker. Tidak jarang kita temui orang emosional, sampai cenderung psikopat. Kenapa?
 
Kita lupa memanfaatkan waktu untuk rileks, melakukan relaksasi. Padahal saat rileks pikiran bagus muncul, menghilangkan ketegangan. Saya pernah kesal pada seseorang ketika memaki main bilyar (saya sampai membeli meja bilyar, untuk menghibur diri). Orang pemarah tidak bisa membedakan antara relaks dengan berbuat dosa. Apa hubungan bilyar dengan dosa atau tidak pantas?
 
Sekalipun begitu, ada cara releks paling utama, yaitu sholat, apalagi sholat malam atau tafakur. Dengan sholat malam, relaksasi berjalan sangat sempurna. Tidak saja dapat membebaskan pikiran dan emosi dari tekanan, tetapi terlebih menjaganya secara jernih, sesuai fitrah dari Allah SWT. Dengan relaksasi memadai, kita bisa dan mampu mengenali suara hati kita, Asmaul Husna.
 
Nah, saya ingin menyampaikan, kalau bertemu atau bicara dengan orang seperti Legisan, suasana rileks itu yang didapat. Tapi orang seperti dia kan tidak mayoritas. Dari situ saya punya ide, relaksasi yang menyembuhkan dan menguatkan kepribadian itu ada dua, yaitu: sholat dan amal ibadah dalam hablumminallah dan bersenang-senang dengan keluarga dan teman-teman, apapun bentuknya, dalam hablumminannash.

Kekuatan Afirmasi
Dalam membangun ketangguhan pribadi, setelah kita memantapkan visi-misi kehidupan, dalam membangun karakter, memulai dengan relaksasi dalam arti luas, lalu membangun kekuatan afirmasi. Dilakukan terus menerus dengan sholat guna menyelaraskan prinsip keimanan dengan kenyataan kehidupan.

Sholat Membangun Kekuatan Afirmasi (penegasan). Dalam bahasa Ary, kekuatan afirmasi sholat adalah sangat membahagiakan dan menentramkan (emosi) bahwa saya (pribadi) berespon (masa sekarang) dengan sikap rahman dan rahim, adil dan bijaksana (Asmaul Husna) dan melaksanakan sunah-sunah Rasul dengan mengendalikan diri melalui puasa (positif).
 
Langkah ketiga, Meningkatkan Kecerdasan ESQ. Kecerdasan intelektual penting, lebih penting lagi kecerdasan emosi. Dengan kecerdasan emosi kita bisa merasakan, memamahi dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi dan pengaruh manusia hingga kita tidak terjerumus pada perhitungan logis atau tidak, menguntungkan atau bukan secara materi.
 
Dalam Islam kecerdasan emosi dan spiritual seperti istiqamah, tawadlu, tawakal, ikhlas, kaffah, tawazun, ihsan sebagai Akhlakul Karimah. Kesemua itu bersumber dari suara hati. Sholat berisi pokok-pokok pikiran dan bacaan suara hati itu seperti bacaan, “Maha Suci Allah, Maha Besar Allah, dan seterusnya”. Dengan sholat berarti kita ‘menghidupkan’ kecerdasan emosi dan spiritual secara otomatis, dan akan menjadi dokrin kehidupan, menjadi karakter.
 
Langkah keempat, Membangun Pengalaman Positif. Kehidupan kita ‘diisi’ ragam pengalaman tiap hari yang dapat mempengaruhi pola pikir dan karakter seseorang. Adakalanya pengalaman buruk lebih menghantui dan selalu diingat. Untuk menyeimbangkan, perlu pengalaman positif. Sholat adalah obat utama.
 
Sholat secara rutin menciptakan pengalaman batiniah sekaligus fisiknya, memberikan reinforcement, membangun paradigma positif kehidupan. Sesuatu yang membekas di pikiran, menciptakan kebiasaan, dan membentuk karakter. Jadi metode sholat adalah metode paling tepat membentuk karakter.
 
Langkah kelima, Pembangkit dan Penyeimbang Energi Batiniah. Sholat adalah pembangkit energi penawar kungkungan lingkungan yang terkadang negatif. Sholat penyeimbang pemikiran dan alam nyata, menyelaraskan pikiran dan pelaksanaan, dan dengan sholat berarti kita menabung energi yang akan menjadi daya dorong dahsyat untuk beribadah dan mengaplikasikan ke alam nyata. Dengan demikian akan didapat keseimbangan hidup sesungguhnya, antara hati dan pikiran, pikiran dan tindakan. Sholat meningkatkan dorongan dan energi dari waktu ke waktu.
 
Langkah kelima, Pengasahan Prinsip. Sholat adalah sekaligus pelatihan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas kejernihan hati. Dengan sholat kita melatih untuk menabalkan penjernihan emosi, melatih prinsip bintang, prinsip kepercayaan, prinsip kepemimpinan, learning principle, vision principle dan well organized principle sebagaimana telah diuraikan pada bagian terdahulu rangkaian tulisan tentang ESQ.

Melatih Kebiasaan Diri
Pada prinsipnya, dalam pembentukan karakter, kita berpegang pada hal paling dasar, membangun keyakinan diri sebagai penganut Islam yang kaffah. Karakter Islami dibentuk dengan mengerjakan sholat secara totalitas sebab dengan mengerjakan sholat fondasi-fondasi dibangun dan diasah secara terus-menerus sehingga menjadi diri itu sendiri.
 
Bersamaan dengan itu, karena pengaruh dan pengalaman kehidupan keseharian begitu beragam dan tak jarang bermuatan negatif, kita juga harus pandai-pandai memilih ‘tempat’. Bisa saja secara keimanan mantap tetapi kalau berada pada lingkungan salah, banyak sedikitnya akan berpengaruh.
 
Kalaulah setiap hari kita bertemu dengan orang-orang yang tidak membeban, membicarakan hal-hal positif, selalu di suasana hati nurani, yang ditabalkan dengan sholat yang full bersuasana sedemikian, tentulah kehidupan dapat dijalankan secara indah dan tidak membeban.
 
Jadi, tataplah secara mendalam siapa Anda, apa yang Anda lakukan, dimana dan dengan siapa Anda bergaul akrab, cermatilah teladan-teladan kehidupan. Insya Allah, kedamaian dan kenikmatan kehidupan menjadi milik utama Anda. Harta dan impian itu adalah bagian kecil saja dari kenikmatan hidup sesungguhnya. Lebih cantik membangun karakter Islamis.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?

Post a Comment