Memakan Uang Haram
26 November 2006 | Ditulis oleh:Sabar adalah nikmat titipan Allah makala kita mampu memaknai Asmaul Husna.
Ersis Warmansyah Abbas
Anda pernah terenyuh lantaran ucapan teman? Beruntunglah kalau jawabannya tidak. Saya pernah sangat ‘menekan dada’ ketika seorang teman yang tingkatnya sudah sahabat, bahkan telah dianggap adik dalam arti sesungguhnya.
Namun, ada hal yang sangat disayangkan, dia agak emosional. Satu sikap yang sebenarnya lama saya idap, tetapi diturunkan setahap demi setahap. Kalau dia lagi emosi, melihat diri saya pada posisi demikian sekian tahun lalu.
Suatu kali, ketika lagi asyik mengurusi ‘sesuatu’, seperti kebiasaan kami, tibalah saatnya makan siang. Saya mengajak makan siang. Apa jawabnya? “Ngak”, katanya, “saya tidak mau makan uang haram”.
Anda bayangkan, betapa ngelansanya perasaan kalau kata-kata itu ditimpakan kepada Anda. Saya tidak mimpi, teman ‘menyiapkan’ jawaban ‘secantik’ itu. Alhamdulillah, saya ingat kata-kata Rudy Resnawan: Saat seperti ini, tensi kita tinggi semua, pandai-pandailah menyiasatinya. Kendalikan emosi masing-masing.
Walhasil, kami tidak jadi makan. Pertanyaan mungkin bersarang di otak masing-masing. Tapi, bagi saya, sungguh luar biasa dampaknya. Perkataan itu, betul-betul melecut menatap diri lebih serius.
Bertanya Pada Bapak
Saya merenung dalam-dalam. Dari dulu, Bapak berpesan:”Jangan makan uang haram”. Memang pernah saya soal, bagaimana kita tahu, uang itu haram atau tidak. Katanya, tanyakan hati nurani. Lagi pula, pernah diancam: ”Kamu saya hidupi, saya sekolahkan, bukan dengan uang haram. Hasil keringat yang mencucur dari bekerja. Jaga itu”.
Ketika peristiwa itu, pikiran melayang ke kampung. Terbayang Bapak yang tua renta, 80-an tahun. Ingin bertanya, apakah yang saya makan selama ini haram? Saya berdoa pada Allah SWT agar diberikan rezki untuk pulang ke Padang. Allah SWT mengabulkan. Karena kecut naik pesawat, isteri, anak dan mertua, naik pesawat sedangkan saya membawa mobil dari Banjarbaru, mengharungi beberapa pulau, puluhan kota, ke Padang.
Dari hasil diskusi, saya ‘akui’ mungkin ada beberapa uang yang didapat ‘terindikasi’ haram. Misalnya, karena menulis atau menulis seseorang di koran, lalu diberi uang –kalau amplopnya, biasanya dibuang, he … he …– mana tahu orangnya tidak rela, terpaksa. Mungkin pula memakan hak-hak orang lain melalui berbagai cara, sengaja atau tidak.
Padahal cukup hati-hati, tidak mau meminta uang bila merilis seseorang. Tapi, kalau untuk majalah atau koran, memang harganya ditetapkan, Anda harus bayar sekian. Kalau cocok, ya dimuatlah. Bagaimanapun koran perlu dana cetak dan operasional. Apakah itu haram? Saya tidak bisa menjawab dan mau bertanya ke siapa?
Minimal, ke depan lebih berhati-hati. Dipesankan, tetaplah bekerja, tapi pandai-pandai memindai, mana yang halal mana yang haram. Jangan sekali-kali mencoba menggunakan peran dan peranan untuk memperkaya diri dengan cara-cara culas. Itu pulalah sebabnya, saya lebih memilih berhutang dari ‘main kompas’. Sejak itu, berusaha mengeluarkan 10% dari penghasilan untuk dipakai orang lain. Walaupun dengan mengajak teman-teman makan-makan atau melalui berbagai cara lainnya.
Hitung-hitung membersihkan mata pencaharian. Jujur pula saya katakan, saya tidak yakin semua penghasilan halalun tayibatun. Bagaimanapun, saya adalah manusia. Lagi pula sadar, anak isteri lebih baik makan uang halal, uang gaji. Nah, gaji itulah yang dipakai untuk kehidupan rumah tangga.
Maaf dan Tolong Ingatkan
Kepada siapa saja, yang membaca tulisan ini, atau yang pernah memberikan uang kepada saya karena ‘bermacam sebab’ dan tidak rela, tolonglah relakan. Saya betul-betul ingin memakan uang yang halal-halal saja. Minimal, ke depan, lebih berhati-hati mencari sumber-sumber penghasilan yang layak dan bersih hingga betul-betul bermanfaat.
Kepada pembaca, yang ingin saya sampaikan, betapapun menyakitkan kata-kata hinaan tiada tara dari seseorang, kalau kita maknai untuk kebaikan, pasti ada manfaatnya. Contoh yang saya ketengahkan adalah hal terbalik dari bagaimana menyikapi dua hal berbeda. Kalau dengan Pak Said, memutus silaturrahmi yang sebenarnya kebenarannya belum tentu sedemikian. Sedangkan dengan Tokoh yang satu ini, saya koreksi diri. Akibat dan dampaknya jauh berbeda.
Yang pertama memupuk ego, ketersinggungan, rasa terhina dengan akibat tidak saja pikiran terganggu, tetapi sekaligus mengganggu hubungan kemanusiaan dan hasilnya mandeg karya dan prestasi. Tidak ada manfaat positifnya sama sekali, kecuali kepuasan rasa kebencian, merasa dilecehkan.
Pada contoh kedua, saya memaafkan dan tetap berteman. Setahun belakangan, banyak pekerjaan ‘besar’ yang kami lakukan. Dalam hati saya malah mendoakan agar dia juga lebih berhati-hati dan dapat sumber-sumber yang halal. Apalagi setelah ESQ, saya makin tidak mau mengurusi urusan pribadi orang lain dan sangat pemaaf.
Lebih Radikal
Ketika Bapak dan Ibu ke Banjarbaru, 3-12 Februari 2004, saya lebih ‘radikal’. Saya anjurkan Bapak-Ibu menghibahkan seluruh harta kepada saudaranya masing-masing. Harta yang berasal dari pihak Ibu, berikan pada adik atau kakak, yang dari pihak Bapak, juga demikian.
Saya ingat betul, ketika pulang dulu, dalam rapat keluarga, parak (semacam kebun) dan sawah-sawah yang didapat karena turunan, dibagi saja. Mula-mula agak keberatan karena memang hak Beliau, tetapi dilakukan. Nah, kemaren itu, harta Bapak-Ibu saya suruh bagi semua. Anak-anak, kan sudah disekolahkan semua. Itu lebih berharga dari harta. Cukup tinggalkan rumah yang ditempati. Saya dan adik-adik bersepakat tidak menerima harta warisan.
Mula-mula, motivasi saya agar Beliau jangan bekerja, tetapi lama-lama berkembang agar lebih bersih dari pengaruh harta. Yang saya tekankan, Bapak sudah 82 tahun, Ibu 76 tahun, diberi umur panjang dengan kesehatan masih prima itu karunia Allah SWT. Jangan lagi mengurusi harta, soal untuk hidup, kini menjadi tanggung jawab anak-anak.
Karena beliau mengikuti ESQ Training, saya lebih mudah meyakinkan, memutuskan ‘hubungan’ dengan harta dunia itu jauh lebih penting untuk ditukar dengan hubungan lebih intens kepada Allah SWT. Ketika jam menunjuk pukul 02.00 Witeng, di rumah RSS saya di Banjarbaru, kami bersepakat. Itulah puncak kegembiraan tiada tara. Ibu-Bapak, mau melepaskan baju dunia’ dan mensyukuri apa yang ada.
Wahai pembaca sekalian. Ketika orang menyentil memakan uang haram, mungkin kita akan marah meriah. Tetapi, ketika dengan sedikit kecerdasan emosi, bila dimaknai sebagai sebuah peringatan, hasilnya justeru untuk lebih baik. Kebaikan itu bisa berpanjang-panjang, melampaui manfaat dari si pencetus, yang mungkin untuk sekedar bercanda atau menyakiti.
Lapang Dada
Pelajaran yang dapat dipetik, apabila kita memaknai sesuatu, kejadian atau peristiwa, yang paling menyakitkan sekalipun, dengan dada lapang dan kesabaran, Insya Allah, akan didapat manfaat. Tidak usah kecewa, orang yang menghina kita barangkali tidak mendapatkan apa-apa kecuali sekedar kebanggaan menghina orang lain.
Lagi pula, saya teringat nasihat Aa Gym. Kata sidin, apabila seseorang berkata kasar, bengis, sumpah serapah, atau marah-marah pada orang lain tanpa sebab, maafkanlah, sebab itulah pantulan potensi dirinya.
Mudah-mudahan kita semua terhindar dari hal-hal yang tidak diridhoi Alllah SWT. Amin.
Bagaimana menurut Sampeyan.












