Ketangguhan Sosial
26 November 2006 | Ditulis oleh:Ketika memberi dengan ikhlas kita akan merasakan kelegaan dan kenikmatan
karena melakukan sifat Allah Arrahman-Arrahim.
Ersis Warmansyah Abbas
Dalam kehidupan sosial, terkadang kita merasa kekurangan. Tetangga merehab rumah, membeli mobil baru —apalagi mempunyai isteri baru he… he… — ada gelitik hati, rasa cemburu. Kalau dalam batas kewajaran, itu pertanda Anda masih waras, masih manusia. Tetapi, kalau berlebihan sampai kepala pusing, tidak lupa menjelek-jelekkan tetangga yang sedang beruntung, sebaiknya ada berinisiatif ke psikiater. Why?Apabila di hati selalu muncul rasa cemburu, iri, dengki dan saudara-saudaranya, memang tidak serta merta dapat digolongkan sakit jiwa. Namun, setidaknya sudah ada bibit-bibit sakit jiwa yang kalau dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin nanti menjadi orang gila benaran. Hati-hati lho.
Maksudnya, apabila lebih memperhatikan orang lain lebih besar dari diri sendiri pada kadar kesuksesan, orang lain maju kita duduk manis di tempat saja, kan seharusnya yang “dipertanyakan” diri sendiri. Kenapa kesuksesan orang lain yang diributkan, dicemburui atau diirii? Karena sebenarnya kita tahu diri kita lemah, lalu mencari kelemahan pada orang lain. Itu penyakit hati namanya.
Memberi Itu Indah
Sudah dapat dipastikan, selama hidup Anda pasti pernah memberikan sesuatu kepada seseorang. Ambil misal, ketika anak meminta dibelikan baju baru menjelang hari raya, Idul Fitri, kita membawanya ke plaza. Dengan sabar menemani memilih baju kesukaannya. Dicoba ini-itu sampai akhirnya ia selesai memilih. Kita bayarkan dan ketika ditenteng pulang dengan wajah sumringah, kita terpuas.
Kenang-kenang pula, ketika lebaran tiba dia memakai baju itu dengan bangga. Dia riang gembira kemana-kemana berjalan sekeliling kampung. Semua kelelahan dari mencari uang, mengantarnya memilih baju, kog hilang entah kemana, berganti rasa puas, bangga. Kenapa?
Saudaraku. Itu bukan perkara sederhana. Ingat hadis Nabi Muhammad SAW: Tangan yang di atas lebih mulia dari tangan yang di bawah. Bahkan, kalau kita sadar, tingkah laku sedemikian sebenarnya lebih dahsyat lagi sebab pada hakekatnya kita sedang “mempraktekkan” Asmaul Husna. Bukankah memberi dan melayani itu aplikasi dari sifat Allah, Arrahman, Arrahim?
Artinya, titipan Allah di qolbu potensinya kita salurkan dalam praktek kehidupan. Coba bayangkan, aplikasi tersebut dipraktekkan pada relasi sosial, apa bukan kebahagiaan, ketentraman, kedamaian sebagai buahnya? Jadi, salurkan potensi Arrahman dan Arrahim itu dalam kehidupan nyata, dalam keseharian.
Kembali ke introdusir tulisan ini, apabila hal-hal sebaliknya yang dibina, dipelihara, tunggulah kehancuran pertama pada diri sendiri. Mungkin, bagi si ahli iri, akan terpuaskan nafsu irinya. Tapi, siapa yang rugi? Apa untungnya menjelek-jelekkan, menimpakan kesalahan kepada orang lain yang memikirkan saja tidak? Ketahuilah, siapa yang berkawan dengan cemburu, iri dan dengki, sengaja atau tidak, dia sedang dibelenggu oleh iblis.
Ingat, orang sedemikian jiwanya resah, hatinya panas, emosi mudah terpantik dan kadang membabi buta dalam bertindak. Dia tidak senang orang lain maju, sukses atau mengalahkan dirinya. Padahal, setiap kesuksesan adalah buah jerih payah tak terperikan. Semoga kita terhindar dari hal-hal sedemikian.
Memaafkan Memberi
Saya punya seorang teman, Soeyono namanya. Umur sidin 60-an tahun, pengusaha dan kini Ketua Umum PDIP Kota Banjarbaru. Tiap bertemu, apapun peristiwa yang dialaminya, hanya satu sikapnya: optimis dan selalu riang gembira.
Awal perkawanan dimulai dari bisnis kecil-kecilan, he … he … Saya punya majalah dia perlu publikasi. Awal ketertarikan, ketika membawa anak-anak, dia menganggap sebagai cucunya. Pintar dia “menembak” melalui buah hati. Lalu saya perhatikan, dia memberi “zakat” buat semua anak-anak. Kalau memberi uang “zakat” pada petinggi atau orang-orang penting, saya tidak tertarik. Bosan melihat pola tersebut. Pak Yono lain.
Sejak itu, kami sering diskusi. Terkadang pagi, terkadang malam. Apalagi, dia sering “dikerjain” orang katanya. Sudah tahu, malahan dimaafkan dengan tuntas. Untuk hal yang satu ini, saya terkadang berpikir, Pak Yono berhati malaikat. Yang tidak mau saya masuki soal politik. Dia orang politik, saya bukan.
Saya ingin mengatakan, apa yang dipahami Ary Ginanjar Agustian lalu ditulisnya dalam bab social strengt dipraktekkan Suyono pada kadar tertentu. Saya agak berani mengatakan, ini sikap hidupnya. Sebab, dia mempraktekkan sebelum kami terlibat ESQ Training.
Dalam buku ESQ Ary menulis: zakat adalah langkah nyata membangun suatu landasan yang kokoh guna membangun sebuah sinergi yang kuat, yaitu berlandaskan sikap empati, kepercayaan, sikap kooperatif, keterbukaan, serta kredibilitas.
Jadi, strategic collaboration: zakat, memang lebih mudah dipahami dalam pilahan makna seperti: investasi kepercayaan, investasi komitmen, membangun landasan kooperatif, investasi kredibilitas, dan investasi keterbukaan, empati dan kompromi.
Zakat Sebagai Kekuatan
Akan halnya zakat sebagai potensi kekuatan sosial, rasa-rasanya tidak perlu lagi didiskusikan. Yang perlu dipertanyakan, justeru kemauan dan kemampuan kita berzakat. Hampir 200 juta penduduk Indonesia Muslim, namun coba perhatikan realitas sosial umat Islam, bukankah tergolong memprihatinkan?
Ambil contoh sekolah berlabel Islam. Kemanapun pergi ke pelosok negeri, hampir bisa dipastikan, jauh dari yang diharapkan. Bandingkan dengan yang dikelola kelompok lain. Lucunya, para orang-orang Muslim berduit — tidak semua tentu— termasuk para pejabat, ada kesan koler memperhatikannya. Banyak yang mengambil jalan pintas, menyekolahkan anak mereka disitu. Padahal, kalau berkeinginan, pasti tercipta sekolah-sekolah bagus.
Tapi, coba didata berapa zakat, infaq dan shodaqoh yang kita berikan kepada lembaga-lembaga pendidikan? Atau begini. Anda tamatan SD, SMP, SMU atau PT Anu. Setelah “menjadi orang” berapa sih kontribusi yang diberikan, apakah itu berbentuk zakat, infaq atau shodaqah? Jangan tanyakan orang, tanyakan diri sendiri. Jangan-jangan gurunya sendiri, guru yang membuat pintar, tidak ingat siapa gerangan sidin, apalagi mau membantu.
Jadi orang, sekolah yang membuatnya pintar atapnya bocor, mau roboh, emangnya gue pikiran, EGP. Kalau untuk sekolah yang membuat pintar saja demikian, bagaimana mungkin membangun ketangguhan sosial umat Islam.
Saya berharap, Anda yang membaca tulisan ini tidak termasuk yang demikian. Pesan yang ingin saya sampaikan, mari kita membangun ketangguhan sosial dengan menyalurkan potensi zakat. Hemat saya, hal ini termasuk yang kurang disadari selama ini.
Sekalipun demikian, belakangan ini muncul kesadaran baru dalam gelombang kehidupan sosial umat Islam, dimana makin menyadari potensi zakat. Mudah-mudahan trends ini tetap berlanjut dan pada waktunya nanti ketangguhan sosial itu menyampai. Amin.
Bagaimana menurut Sampeyan?









