Ketangguhan Pribadi

26 November 2006 | Ditulis oleh: |

Ketangguhan pribadi yang diaplikasikan dalam kehidupan didasari pada kemerdekaan kekuasaan Allah SWT.
Ersis Warmansyah Abbas

Seseorang berkepribadian tangguh pendiriannya tidak mudah goyah, tidak gampang terpengaruh, mampu menghadapi badai kehidupan, tetap ‘sehat’ berpikir walau menghadapi dilema paling rumit.Hatinya selalu terpelihara dari sakit, kecut, penakut dan tidak labil, sebab pedoman hidupnya jelas, ia bebas dari berbagai belenggu kehidupan, ia manusia merdeka dalam kandungan Allah SWT. Artinya, ia akan takut dan menderita kalau Allah meninggalkannya. Tidak takut kehilangan jabatan, keluarga, harta atau hal-hal keduniaan lainnya. Ia berprinsip, semua terpulang pada Allah.
 
Dalam aplikasi kehidupan, fondasi tangguhnya, bekerja secara cerdik dan keras, demi melaksanakan tugas suci, amanah Allah SWT. Ketangguhan pribadi berdasar prinsip berpikir: Rukun Iman.

Tentang Makrifat
Saya punya seorang teman, Rudy Resnawan namanya. Kebetulan saja dia Walikota Banjarbaru. Awal pertemanan dimulai pada bulan-bulan pertama dia menjabat walikota Banjarbaru. Sebelumnya, mengenal sambil lalu saja. Lalu kenapa bisa jadi akrab?
 
Mula-mula saya bingung juga. Sebab, persepsi saya tentang Rudy jauh berbeda dengan sebelum mengenalnya lebih jauh. Lagi pula, saya tidak suka menyanjung atau “menjilat-jilat”. Apalagi menghamba-hamba pada Rudy, terlepas dia banyak uang atau menjadi Banjarbaru I. Saya adalah pengritiknya sangat keras.
 
Suatu malam Rudy bertanya: “Sampeyan  itu memandang orang seperti apa sih?” Saya jawab: “Biasa-biasa saja tu. Bahwa yang lain itu lebih baik atau berutung dari saya, itu garis tangannya. Saya hidup dengan takdir saya. Saya yakin, Allah yang mengatur kehidupan saya”.
 
Lalu, kami terlibat diskusi tentang hakekat. Tentang manusia, tentang Allah, tentang posisi, peran dan tugas sebagai manusia. Melebar kemana-mana. Sampai-sampai ke hal-hal tasauf semisal Syech Siti Jenar. Kesan saya, pengetahuan agama Rudy cukup dalam dan … ada kesan dia haus tentang pemahaman agama.
 
Sejak itu kami banyak diskusi tentang agama. Saya lebih rajin membeli buku-buku filsafat agama. Kalau ada yang baru dan bagus saya belikan juga untuk Rudy dan dia mengganti berlipat-lipat dari harga buku he … he …
 
Tak dinyanya, Dharmawan Jaya membawa saya ikut ESQ Training. Tentu saja kami diskusikan. Ketika  “ditugaskan” membawa Rudy ESQ Training, tentu saja tugas sangat mudah. Bahkan, ketika kami kekurangan peserta ketika melaksanakan ESQ Training di Banjarmasin, Rudy “membayarkan” banyak peserta.
 
Ketika ada yang bilang Ersis “anak buah” Rudy, saya marah luar biasa. Saya lebih tua darinya, pangkat sebagai PNS tidak kalah apalagi pendidikan. Berteman dengan Rudy karena pemikiran. Lagi pula, saya bukanlah “penasehat” politiknya atau “penentu” arah kebijakan sebagai walikota.
 
Membicarakan orang lain, kami tidak doyan. Saya terkadang merasakan Rudy itu guru dalam bernalar. Cepat menangkap sesuatu, cepat mengerti, berpikir ke depan dan kuat kepribadiannya. Lakukan apa yang baik, sekarang juga. Kesempatan tidak datang dua kali, katanya. Makrifatnya sampai sudah pada kepastian.

Yakin Apa Yang Dilakukan
Penggambaran ketangguhan pribadi ini akan lebih lengkap manakala saya tambahkan illustrasinya. Suatu kali saya dan Jaya berdiskusi dengan Rudy. Ada yang bilang, saya terlalu dekat dengan Rudy. Orang menilai begitu, bisa saja. Bagi saya biasa-biasa saja. Rudy bukan satu-satunya pejabat atau pengusaha teman saya. Apa kata Rudy?
 
Kata Rudy kepada Jaya: “Sampeyan yang lebih mendekatkan Ersis”. Nah, lo. Betapa tidak. “Kalau perlu apa-apa bilang melalui Ersis. Kenapa tidak langsung ke saya. Lama-lama, saya kan jadi “terpaksa” berurusan dengan Ersis. Emangya enak berurusan dengan Ersis?”
 
Mungkin hal sedemikian terkesan biasa saja. Sebenarnya, tidak saudara. Dari Rudy saya belajar untuk tidak memperhatikan apapun kata orang manakala tidak berbuat apa yang dipikirkan orang itu. Itu sikapnya sebagai ketangguhan pribadi yang saya pelajari dan adopsi.
 
Apalagi menyangkut berbagai isu. Kalau tidak lakukan sesuatu, dituduhkan orang, kebenaran pasti menang. Katanya: “Tidak usah takut kalau tidak melakukan sesuatu, kalau melakukan sesuatu lakukan setelah diyakini”. Dan, saya menjadi saksi untuk banyak hal betapa tangguhnya Rudy untuk prinsip sedemikian.
 
Bagi saya, ini menambah amunisi atas sikap. Saya tidak merasa tergadai, apalagi diperlakukan sebagai “anak buah”. Rudy itu tidak pernah memanggil saya pakai Ikam atau Kamu, dia selalu memanggil Pak Ersis. Persis sama dengan Erwin. Saya tidak dilecehkannya. Inilah modal bagi saya berteman.
 
Nah, atas dasar itu banyak hal yang saya sadari. Misalnya, berpakaian mulai agak rapi, rajin pakai sepatu dan bicara mulai tidak ceplas-ceplos. Dasar Rudy dia mengolok-olok pula: “Nah sampeyan mulai memasuki dunia “beradap”, candanya”. Dasar lu.
 
Intinya, ketangguhan pribadi manakala kita yakin melakukan sesuatu berdasarkan referensi yang ada dalam diri. Apapun yang dilakukan, termasuk resiko, adalah buah dari “keputusan” melakukan sesuatu. Jangan sekali-kali  dari pandangan atau pendapat yang tidak jelas asal dan maksudnya.
 
Penetapan Misi
Ketangguhan pribadi akan melekat manakala kita mampu, Pertama, menetapkan misi kehidupan. Kita bisa belajar bagaimana visi ”diproklamirkan” melalui penetapan misi oleh Jerman (duchs ubber alles), Itali (Italia la prima) Jepang (dai nippon) atau Tarik bin Ziad ketika sampai di Andalusia (Spanyol): “Di belakangmu laut, di depan musuh, kapal kita sudah terbakar, tujuan kita menaklukan Tanah Andalus. Allahu Akbar”. Sejarah mencatat, Tariq berhasil menaklukan Spanyol.
 
Kedua, membulatkan tekad. Kalau pada langkah satu, menetapkan misi, tujuan hidup hanya untuk Allah, harus membulatkan tekad, meneguhkan hati, meyakini akan mencapai tujuan hidup dengan optimis, keyakinan penuh akan diberkati Allah.
 
Ketiga, beriman kepada Allah memperkokoh integritas, karena percaya dan bersandar pada Allah sehingga secara utuh memiliki potensi dan kemampuan tangguh. Dalam prilaku dimanifestasikan tanpa ragu, tanpa takut, berani mengambil resiko, dengan tuntunan kepercayaan tunggal kepada Allah.
 
Keempat, beriman kepada Allah menimbulkan kebijaksanaan, melihat segala sesuatu secara seimbang. Merujuk Asmaul Husna, dorongan dan keinginan ditimbang dengan suara hati hingga bersikap adil dan bijaksana, merupakan kesatuan tauhid, prinsip esa, hasil tawaf suara hati.
 
Kelima, beriman kepada Allah membangkitkan motivasi, Allah mempercayai manusia sebagai khalifah di muka bumi. Manusia memiliki sifat-sifat mulia, sebagai modal keberhasilan. Peliharalah cita-cita besar, berpikir hebat-hebat, untuk meraih kesejahteraan dan kemuliaan. Manusia adalah ciptaan Allah yang sempurna, makhluk Allah yang dipercaya dan memiliki fungsi Rahmatan lil Alamin dalam tugas kemanusiaannya.
 
Bagaimana menurut sampeyan?

Post a Comment