Kecewa dan Mengecewakan Pak Said

26 November 2006 | Ditulis oleh: |

Kesimpulan berdasarkan prasangka,  merugikan hablumminannash, peluang dan kesempatan berprestasi.
Ersis Warmansyah Abbas

Alkisah,  beberapa tahun lalu,  ketika Muhammad Said, mantan Gubernur Kalsel, berseteru dengan seseorang prihal ijazah palsu, saya mempelajari pribadi dan perannya dalam konteks Kalimantan Selatan (Kalsel). Apalagi, dikirimi berbagai dokumen tentang ‘sepak terjang’ lengkap dengan daftar kekayaannya yang tersebar di banyak tempat. Hasilnya justeru jadi lain. Saya bukannya tertarik pada hal-hal bermuatan ‘negatif’ tersebut tetapi pada perannya membuka ‘isolasi’ Kalsel melalui pembukaan jalan raya. Suchrowardi, seorang teman, mendorong-dorong mendatangi sembari memotivasi membuat otobiografi Pak Said. Lagi pula, karena dia rajin menulis di media cetak, dengan mudah mempelajari pikirannya. Ketika kami datang ke rumahnya, tanpa ragu-ragu, sidin Ok-Ok saja. Karena senang, ditambah bahan-bahan darinya, plus wawancara beberapa kali, termasuk dengan Ibu Latifah Said, dalam dua minggu draf awal selesai dikerjakan.
 
Sebagai bahan ‘pengunci’, bersama Suchro dan Faisal (anaknya), kami napak tilas ke rumah kelahiran Pak Said di Kandangan, lalu berziarah ke kuburan orang tuanya dan ke Loksado meninjau pesanggrahan yang digagasnya. Dia sempat singah ke rumah saya di Martapura. Sampai disitu, berjalan normal-normal saja.
 
Ndilalah, tiba-tiba Indonesia dilanda krisis moneter. Sebagai ‘orang miskin’, saya tidak mampu membeli tonner printer. Kalau biasanya seharga Rp.300.000,00 karena gonjang-ganjing krismon menjadi Rp.1.200.000,00.
 
Saya harus memprint draft otobiografi untuk dikoreksi. Kalau sebelumnya tidak mau menerima uang, kini saya minta, karena memang perlu. Uang tersebut, saya berikan pada Suchro Rp.200.000,00 selebihnya dibelikan tonner yang mesti saya tombok sendiri.

Dukungan Obar Sobari
E … begitu ke Tanjung, karena saya membuat majalah GAGAH, Kiswanul Arifin, Kabag Humas Pemkab Tabalong, mengatakan bahwa saya ‘diberitakan’ sebuah mingguan sebagai orang yang berlagak wartawan (padahal jelas-jelas Pemimpin Redaksi majalah GIGIH dan memberhentikan diri sendiri). Walaupun Kiswanul melapor kepada Obar Sobari, Bupati Tabalong, rupanya Obar lebih mempercayai saya. Majalah GAGAH nomor 1 terbit dan Obar membantu Rp,10. juta. Apa hubungannya dengan otobiografi Pak Said?. Ada dong. Begini kisahnya.
 
Dalam berita tersebut, dikatakan saya menerima, atau dalam bahasa kasarnya ‘memalak’ Pak Said, banyak uang. Saya kan tahu persis, minta seharga tonner, itupun saya berikan Suchro Rp.200.000. Pak Said menawarkan uang operasional, saya tidak mau. Kalau otobiografi selesai, jelas akan dengan senang hati menerima ‘imbalan’.
 
Saya tanya pada Suchro, kenapa jadi ada berita yang begitu bengis?. Dia jawab tidak tahu. Yang tahu saya meminta uang untuk membeli tonner, kan kami bertiga, Said, Ersis, dan Suchro. Saya mengambil kesimpulan, ada yang tidak beres. Jangankan melanjutkan penulisan, mendatangi Pak Said saja saya tidak mau lagi. Naskahnya saya obrak abrik, emosional sendirian.
 
Untung saja pikiran jernih masih ada hingga dokumen, foto waktu kecil sampai ‘hasil’ wawancara masih tersimpan di otak  sampai hari ini. Memang, sikap saya selama ini, bila merasa dipecundangi, hantupun takkan ‘dimaafkan’. Terkadang pikiran jernih menegur, tapi begitulah saya. Bapak saya mendidik sejak kecil, mengerjakan sesuatu bukan karena uang, tapi karena memang ingin mengerjakan.

Said Hapus dari Memori
Alhasil, yang namanya Pak Said itu saya hapus dari memori. Memang, Soenarso, Mantan Danrem Antasari, Wagub dan  Ketua DPRD Kalsel, menasehati, jangan emosional. Tidak mungkinlah Pak Said sekejam itu.
 
Nasehat-nasehat Pak Narso, tidak dipungkiri menyentil titik kesadaran dan emosi, namun saya terlanjur patah arang. Bahkan, lelaki arif yang saya jadikan Bapak, sahabat, dan teman diskusi, agak dikarasi: “Bapak kan berjanji tidak mengganggu-gugat apa yang saya putuskan tentang hidup saya. Nasehat OK, tapi jangan memaksakan pandangan”.
 
Untuk sekedar diketahui, saya hari-hari di rumahnya, anak-anak saya bahkan menganggap dia adalah kakeknya. Hidupnya yang sederhana, tidak ‘menuhankan’ kekayaan, cocok dengan prinsip saya. Kami sering sampai dini hari berdiskusi tentang banyak hal sampai Pak Narso pindah ke Malang. Banyak orang cemburu (he … he …) kenapa begitu akrab.
 
Tetapi, jujur saja, apalagi setelah mengikuti ESQ Training di Jakarta, mulai mengoreksi sikap-sikap. Saya sadar, kecerdasan emosional itu perlu. Seandainya, menemui Pak Said, walau dengan kemarahan besar, akan lain ceritanya. Kini terbayang kembali betapa asyiknya, sholat diimaminya di rumahnya, di jamu makan, dibawa ke ruang kerja, diceritai berbagai pengalaman, baik sebagai seorang tokoh sampai ke dunia spiritual dan supranatural.
 
Kalau saya ingat sidin datang ke RSU Ulin ketika anak kedua saya yang berumur seminggu tubuhnya ‘digerayangi’ alat-alat kesehatan karena billurubin darahnya terganggu, lalu berdoa di depan box perawatan, air mata menitik. Saya bukan merasa terutang dibantu segepok uang tapi perhatiannya itu. Saya jadi menyesal. Hati kecil makin tahu siapa dia, prinsipnya, dan kemauannya membangun banua. Tidak salah kiranya simpulan saya: Said Godfather Kalsel.

Tidak Cerdas Emosional
Setelah Pak Narso pensiun, saya punya hobi baru, ‘memperdalam’ psikologi. Itulah yang makin memantapkan pendirian atas sikap diri, saya tetap merajakan diri saya atas diri sendiri. Pindah ke Martapura lalu ke Banjarbaru dan mengikuti ESQ Training, akhirnya merasakan dan mengakui dalam hati, ada yang ‘kurang beres’ dengan emosi. Artinya, kecerdasan emosional perlu ditingkatkan, bukan memfasilitasi sikap emosional.
 
Tidak mudah memang, tetapi saya berusaha. Kini makin dapat memahami apa-apa yang ‘di luar’ diri. Terkadang, semalaman saya merenung beberapa kerugian besar, hilangnya kesempatan, lantaran tidak mau menegosiasikan prinsip anutan hidup dan kehidupan yang justeru cenderung menjadi penghalang pengembangan diri.

Emosi Menutup Peluang
Sering saya menolak ‘proyek’ atau pekerjaan hanya karena tidak suka ‘digurui’. Bagi saya pekerjaan harus diserahkan sepenuhnya, kalau mau ditarik-ulur, serahkan saja pada orang lain, jangan serahkan ke saya. Padahal, menurut Ary Ginanjar Agustian, memahami posisi orang itu penting manakala secara emosional kita cerdas.
 
Seperti contoh sikap saya pada Pak Said dalam major tulisan ini, seandainya mau datang saja, buku itu sudah jadi dan bukan tidak mungkin saya lebih populer dan banyak uang (he … he ..). Bukankah peperangan saja diakhiri dengan perdamaian? Atas nama prinsip –bisa jadi ego, kali ya– kesempatan untuk berbuat baik dan meraih prestasi jadi hilang. Lebih celaka lagi,  ‘memutus’ silaturrahmi dengan seorang tokoh sekaliber M. Said.
 
Sekalipun demikian, saya tidak menyesal dengan apa yang telah saya perbuat. Hidup ini ibarat perjalanan. Di setiap terminal, di setiap etape, tersedia pelajaran-pelajaran dan hikmah manakala kita mampu memahaminya. Sikap, kepribadian, prinsip atau apalah namanya, tidak bisa berubah serta merta —dan terkadang tidak perlu dirubah— namun dalam hablumminanash ada hal mendasar sesuai petunjuk Allah SWT melalui Al-Quran atau keteladanan Nabi Muhammad SAW.
 
Kini, tinggal bagaimana memperbaiki diri, terutama menyangkut kecerdasan emosional yang terkadang terabaikan. Padahal, kecerdasan emosional pada situasi dan kondisi tertentu, bisa jadi lebih penting dari kecerdasan intelektual, apalagi kalau ditabalkan berdasarkan kecerdasan spiritual.
 
Melalui tulisan ini, bukan saja kepada Pak Said, tetapi juga pada teman-teman lainnya, saya mohon maaf. Khusus kepada pembaca, sengaja contoh tersebut saya kemukakan agar lebih memahami, yang namanya prasangka atau praduga, bukannya menjadi pendorong kita berbuat baik, berprestasi, tetapi lebih cenderung mematahkannya.
 
Sekalipun demikian, yang harus diingat, apa yang terjadi itu adalah buah dari kehidupan. Menyesal tidak ada gunanya, tapi memperbaiki untuk kesempatan ke depan, pastilah hal positif. Mari kita pecedas kecerdasan emosional.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?

Post a Comment