ESQ: Untuk Kalangan The Haves?
26 November 2006 | Ditulis oleh:Berdakwah di jalan Allah dapat dilakukan dengan berbagai cara, apakah yang telah Anda lakukan selama ini?
Ersis Warmansyah Abbas
Serial enam tulisan saya di Radar Banjarmasin tentang ESQ Training, 12-17 Januari 2004, mendapat sambutan luar biasa. Sangat banyak SMS, telepon, ataupun yang langsung mengatakan keterharuan dan terkesan membacanya, tanpa seorang pun yang mengritik. Kritikan baru muncul setelah pelaksanaan ESQ Reguler Basic Training di Grand Mitra Plaza Restaurant, 17-18 Januari 2004. Untuk sekedar dicatat, kerjasama PP ESQ Kalsel dengan TP PKK adalah awal bermulanya pelaksanaan ESQ Training di Banjarmasin. TP PKK Kalsel yang ‘dikomandoi’ Herlina Sjachriel Darham, melalui Ibu Sony Pratono, sungguh memberi supor. Keseriusan mereka menjadi pemicu keberanian kami untuk melaksanaan. Terima kasih kepada seluruh jajaran TP PKK Kalsel.
Oh ya, kembali ke soal kritikan tentang ESQ Training, ketika Educational Policy Wacth melakukan diskusi rutin di FKIP Unlam, 23 Januari 2004. Seorang ‘calon petinggi’ FKIP mengatakan: “Pak Ersis, ESQ itu untuk orang-orang berduit sajakah?”. Sorenya seorang teman, Kabiro di Pemrov Kalsel, sembari bercanda menelpon: “Ternyata untuk menangis, orang perlu membayar mahal, ya”.
Mahal dan Bermanfaat
Awalnya berpendapat demikian. Kalau mengikuti ESQ Training di Jakarta, tentu perlu dana cukup banyak. Pendaftaran Rp.2,5 juta, transportasi dan akomodasi sekitar Rp.1,5 juta, total akan terogoh kocek Rp.4 juta. Tapi, saya tidak terganggu ‘hiruk pikuk’ ESQ Training.
Bagi saya, baik-baik dan sah-sah saja. Malahan sangat respek. Makin banyak ‘kita’ punya lembaga untuk lebih memahami dan memperdalam agama kita, agama Islam, makin baik. Ada ESQ, ada Manajemen Qolbu, ada Zikrullah. Kalau perlu ada ribuan hal sedemikian di Bumi Pertiwi yang sedang dirundung multi krisis.
Lagi pula, kalau bermanfaat dan banyak orang berkehendak, why not? Justeru, harus bersyukur, dakwah untuk orang-orang berpunya yang selama ini sedikit yang ‘menggarap’ dan ‘melayani’, dengan adanya ESQ Training bukankah makin menyentuh kalangan menengah ke atas?
Kenyataan menunjukkan, kedahsyatan manfaatnya telah banyak membelokkan pola pikir dan pola tindakan ke arah lebih baik, lebih Islamis. Logikanya, apa pula pentingnya digugat. Bukankah makin marak pendalaman agamis untuk kalangan berpunya, berkedudukan, dan berduit makin bagus? Dimana salahnya sih?
Persoalannya mungkin, bagaimana untuk kalangan yang kurang beruntung? Ya, selama ini memangnya bagaimana? ESQ Training memperbanyak, memperkaya, dan lebih memarakkan pemahaman dan pendalaman untuk berbagai kalangan (termasuk non-Muslim), bukan satu-satunya ‘lembaga’ dakwah.
Ibarat memilih sarana dakwah, ya silahkan berjalan seperti biasa dan jangan sekali-kali ‘terganggu’, sebab ESQ Training adalah ‘tambahan’. Kalau kalangan berpunya kurang tersentuh, kini ada pilihan tambahan. Makin banyak pilihan, makin baik. Kenapa harus digugat?. Rasa-rasanya, lebih produktif, berupaya ‘menciptakan’ untuk kalangan yang kurang berpunya, misalnya. Kenapa sih kalau ada hal-hal positif dalam ‘gerakan’ ke-Islaman, ada saja yang resah, bukannya bersyukur. Aneh.
Tapi, kalau menyimpang dari ajaran Islam, mari bersama-sama kita ganyang. Jangankan menyimpang, dimanfaatkan untuk tujuan politis saja, misalnya, saya akan protes, tidak respek lagi, dan Say good bye ESQ Training. Sampai saat ini, adanya ESQ Training, Manajemen Qolbu, atau Zikrullah yang sangat fenomenal, mari disyukuri. Kalau perlu ada berjuta-juta bentuk pendalamam Islam di Persada tercinta ini agar syiar Islam makin marak.
Muslim Bisa Juga
Kepergian saya ke Jakarta bukanlah persoalan mudah dalam takaran pribadi. Banyak pertimbangan dan pengganjal. Faktanya, berangkat dan mendapatkan manfaat. Hal paling sederhana, misalnya, terkaget-kaget dan terkagum, ESQ Traning Center mampu membangkitkan semangat, kebanggaan, bahwa komunitas Muslim bisa dan mampu memanfaatkan teknologi.
Sebagai pendidik, sampai ‘termimpi’, kalaulah di Unlam tersedia dan dapat memanfaatkan teknologi secanggih milik ESQ Training Center, tak pelak lagi, bisa memaknai pendidikan lebih berarti dan bermanfaat.
Untuk semua itu memang biayanya tidak sedikit. Ketika mengambil magister, saya belajar berbagai media pembelajaran, dari A sampai Z, tetapi begitu pulang ke kampus, ya kembali ke ‘kenyataan lagi’, berarti kapur doang.
Anda bayangkan, tatanan ruangan yang disetting sedemikian rupa, dengan perangkat audio dan visual nyaris sempurna, semua pancaindera kita diberi stimulus untuk meraup dan memaknai materi. Di kampus, psikologi dikaji, di ESQ Training didayagunakan.
Komunitas Muslim yang selama ini terkesan ‘kampungan’, tidak menguasai teknologi, kini terbukti, kita tidak gatek (gagap teknologi). Kita juga bisa. Saya sedih, masih ada rekan yang jahiliyah komputer, tidak mampu memanfaatkan internet, email, apalagi e-learning, yang di negara orang sudah usang barangkali. Padahal, anak didik kita akan hidup di era hi-tech, hidup serba komputeris.
Di kantor-kantor ‘petinggi’ terpajang komputer canggih, untuk sekedar pajangan (Mudah-mudahan saya salah dan mohon maaf). Seorang teman, Magister Komputer —kini S3 di Malaysia memperdalam teknologi komputer— ‘menemukan’ komputer rusak karena tidak pernah disentuh. Belum lagi hal-hal sepele, menggunakan white board, tanpa bisa membedakan spidol permanen dan yang bisa dihapus. Menyedihkan.
Dakwah di Titik Edar
Kembali ke kalangan yang kurang beruntung, hal paling baik dilakukan, manfaatkan saja sarana dan prasarana dakwah sebagaimana selama ini. Bagaimana kalau mau ikut ESQ Training?. Yakin saja, selama ada kemauan, di situ ada jalan. Alhamdulillah, tanpa mengeluarkan biaya, saya dapat mengikuti ESQ Training. Mana ‘dipaksa-paksa’ lagi he … he …
Nah, pada posisi ini, Pusat Pengembangan ESQ Kalsel mengambil langkah cantik. Di banua, diadakan training dengan biaya relatif murah, Rp.1.150 ribu. Namun harap disadari, ESQ Training ‘patennya’ milik ESQ Training Center Jakarta. Ada aturan main dan standar acuan.
Mudah-mudahan PP ESQ Kalsel dapat menekan biaya lebih murah. Atau, mana tahu diberi “lisensi” melakukan training hingga dapat menjangkau kalangan bawah sampai atas. Kalaulah dapat lisenssi, tentu bisa dilakukan modifikasi dan meminimalisir berbagai hal hingga secara signifikans berdampak terhadap biaya. Mana tahu lho.
Tapi, hal itu belum waktunya diwacanakan. Harapan kita, agar PP ESQ Kalsel selalu mencari terobosan agar keinginan semua pihak terakomodir. Namun, kalau bukan hal-hal esensial, tolonglah biarkan dulu pelaksanaan ESQ Training di banua berjalan sebagaimana adanya.
Pihak PP ESQ Kalsel, sejak pelaksanaan pelatihan pertama, langsung melakukan evaluasi. Mudah-mudahan dengan berbagai masukan, kritikan, ataupun ‘caci-maki’, didapat format ideal untuk ukuran kita. Insya Allah.
Bagaimana menurut Sampeyan?












