ESQ: Pengalaman Pelaksanaan
26 November 2006 | Ditulis oleh:Jika Allah memberi kemudahan, apapun dapat kau peroleh tanpa diduga-duga.
Ersis Warmansyah Abbas
Ketika wacana ESQ Training mau dilaksanakan di Banjarmasin, reaksi saya biasa-biasa saja. Gembira memuncak tidak, terlalu pesimis pun bukan. Banyak “pergelaran” yang sudah dicemplungi sebagai “pekerja”. Ketika pada hari kedua mengikuti ESQ Training di Jakarta, 26 Desember 2003, H.M. Husni, bilang: “Gimana Pak Ersis, wanilah kita laksanakan di banua?”. Jawab saya: Why not?Dalam pesawat, ketika kembali dari Jakarta, Ogi dan Jaya, memapar kehendak itu. Lalu, pembicaraan sampai tengah malam bersama Erwin, di rumah Ogi, makin mematangkan. Apalagi Ogi, kemampuan emotional quentiont-nya makin yahud. Betapa tidak, Acil Urut ada di rumahnya. Rapat berlangsung, yang capek baurut. Hebat tu pang kawal.
Harap pula diingat, saya dalam posisi dibawai. Mereka bertiga itulah, bersama H.M.Husni, H. Hakim, atau siapa lagi —saya tidak tahu— yang telah bersiap sedia. Lagi pula, bagian saya hanya soal kesekretariatan, name tag, sertifikat, dan sejenisnya. Teramat ringan.
Mungkin mereka menilai kemampuan saya cukup untuk hal-hal begituan, he … he … Para “pemegang saham” (istilah terbatas kami bermuatan balalucuan) dalam dua pertemuan, langsung saja bicara tehnis pelaksanaan.
Persiapan Seminggu
Seperti biasa —tuntutan saya— panitia kada usah banyak, lima orang lebih dari cukup. Bagaimanapun, ESQ Training tidak “seberat” PORDA VI atau sesulit Banjarbaru Vision Forum yang mendatangkan Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos.
Sampai disitu, tidak ada hal-hal yang menjadi tantangan serius. Begitu juga setelah pertemuan di rumah H.M. Husni di Sekumpul atau yang lebih luas di Borneo Swiss-belhotel Banjarmasin. Paling-paling memberi semangat dan “nasehat” (he… he …), kita pasti bisa. Ketika Erwin bilang: “Jangan diundur-undur”, saya sempat menegur Ogi: “Lu jangan ragu, go. Kamu itu tidak seradikal ketika mengadakan PORDA. Yang berani dong”. Dia marah atau tidak, pokoknya acara kami OK. Efektif mempersiapkan dalam hitungan minggu.
Ketika orang ESQ Pusat, Om Sas meninjau persiapan, baru muncul masalah sedikit menantang. Katanya, Borneo Swiss-belhotel tidak mampu untuk screen yang tingginya saja 3 meter. Wow, padahal negosiasi tempat telah sip.
Sebelum Tim Jakarta datang, Dody (Audio visual), Nadjmi (Perlengkapan) dan sebagainya meyakinkan: “Bang, tolonglah tempatnya dipindahkan. Kita cari yang lebih sesuai”. Mereka saya suruh berdoa, bila Allah SWT menghendaki, pasti bisa. Soal Ogi, Jaya, dan Erwin, itu urusan saya. Kalian harus yakin, mereka pasti menginginkan yang terbaik untuk acara ini. Yang penting kita bawa dulu mereka ke Plaza Mitra.
Aduh, kalau doa ikhlas, Allah SWT rupanya mengabulkan. Tengah malam, 24 Januari Nadjmi saya khabari, acara di Grand Restauran. Dia terharu dan, syukur Alhamdulillah, kini di tanah suci. Dia berjanji mau mendoakan saya, agar juga naik haji. Mudah-mudahan terkabul. Soalnya sudah punya niat. Amin.
Bekerja Ganda
Yang pasti, semua teman-teman bekerja ful tiga hari tiga malam. Tentu bagian lain, sangat repot dan berperan dengan berbagai cara. Saya dan kru Bandjarbaroe Post, punya tantangan tersendiri.
Inilah pertama kali kita menurunkan seluruh personel. Manapula BBP terbit bersamaan dengan pelatihan, dua nomor digabung jadi satu, 32 halaman. Pekerjaan ganda tersebut, bukannya bikin pusing, tapi menjadi motivasi tersendiri. Kami mengurus BBP dan urusan kesekretariatan, tak tahu menahu lagi urusan bagian lain. Alhamdulillah, dalam dua hari, rupanya semua lini OK disiapkan kawan-kawan, walaupun tanpa tidur.
Entah kenapa —makin cengeng kali ya— kami berpelukan dalam haru: Kita Bisa. Anda bayangkan screen, LCD, dan segala peralatan didatangkan dari Jakarta. Untung saja sound system Grand bagus. Kalau tidak? Bisa semaput deh kite-kite.
Memperpanjang Tak Tidur
Begitu pelatihan dimulai, jujur saja, ada kebanggaan tersembul di lubuk hati (mudah-mudahan tidak riya). Rupanya teman-teman bekerja profesional sesuai bidangnya. Wajah-wajah ceria dibayangan kelelahan adalah penampilan kami sesungguhnya pada hari-hari pelatihan. Campur aduk.
Saya yang tidak doyan mengurusi orang lain sampai bilang sama Dody: “Dod, kamu tidurlah dulu. Capek banget dan matamu merah, nanti sakit”.
“Biar saja Bang”, katanya membuat keharuan penuh, “Saya masih tahan. Percayalah. Pokoknya, sampai selesai urusan ini harus beres”. Anda bayangkan saja suasana sedemikian dan itu meliputi seluruh panita.
Memang diakui, disana-sini masih banyak kekurangan. Kita-kita jujur saja, “pergelaran” itu jauh dari sempurna, tapi pada tataran tertentu jauh lebih dari yang dibayangkan.
Banyak acungan salut, pelatihan dianggap sukses. Bahkan orang-orang ESQ Training Center, memuji. Mereka SMS-an atas kepuasan. Bahkan, saya dapat SMS terima kasih dari Ary Ginanjar Agustian.
Sebagaimana layaknya, sebuah acara, tentu pengalaman dijadikan masukan bagi perbaikan masa datang agar tercipta changge in progress.
Sekalipun demikian, saya tidak dapat menjamin, pelatihan kedua, 6-7 Februari 2004, akan lebih bagus. Walaupun kita bertekad demikian, toh nanti kenyataan juga yang “bicara”. Yang penting kita berniat dan berusaha, soal hasil, yah banyak faktor penyertanya.
Mendapatkan Aset
Lalu acara “besar” berbiaya cukup mahal tersebut, apakah mendapatkan keuntungan finansial? Saya dalam kapasitas tidak untuk menjawab. Yang pasti, panitia dapat membeli peralatan mulai dari komputer, telepon, sampai kertas yang tidak terpakai habis. Tentunya menjadi aset.
Dengan kata lain, kita punya peralatan pendukung yang nantinya tidak perlu dibeli lagi, kita dapat pengalaman, web makin meluas, dan berbagai hal-hal non-material dan non-finansial yang susah diukur. Semua itu akan sangat bermanfaat untuk pengembangan ESQ di Kalsel pada masa mendatang.
Lagi pula, saya tidak tertarik soal-soal keuangan. Ketika rapat, panitia surplus beberapa juta, itu sudah bagus. Soalnya, proyeksi awalnya tidak untung, dan untuk dananya telah disediakan oleh 10 orang penginden … eh maaf “investor” sebanyak Rp.100 juta sebagai modal awal. Kalau rugi, penginden … eh maaf lagi … investor yang tanggung.
Alhasil, untuk pelatihan kedua, tidak banyak yang dapat saya tulis. Tolong saja dengan doa atau berbagai bentuk kontribusi agar sukses. Yang penting, apabila berniat baik, cenderung hasilnya baik. Amin.
Bagaimana menurut sampeyan?












